Spouse
Dua Jam Tersisa
Gedung asrama yang beberapa saat lalu masih berdiri mewah kini hanya menyisakan puing-puing berasap. Gelombang kejut telah melemparkan para penghuni ke berbagai arah, lalu fondasi yang kehilangan penopang menyeret lantai, dinding, dan atap runtuh bersama-sama.
Setelah bunyi keruntuhan terakhir mereda, keheningan menyelimuti kompleks.
Beberapa layar yang masih bertahan di antara reruntuhan berkedip. Layar lain menyala pada gedung-gedung di sekitar yang belum ikut roboh. Tidak ada suara Danton. Sistem hanya menampilkan satu arahan baru dalam huruf-huruf besar.
ASET BERNILAI TINGGI HARUS DIAMANKAN.
SELAMAT BERTAHAN HIDUP.
Jeda enam jam yang diumumkan sebelumnya belum berakhir. Dua jam masih tersisa sebelum isolasi dimulai. Namun, sebagai respons terhadap kekacauan, Sistem kembali memproses data kompatibilitas dan mengubah penilaian terhadap para subjek.
Luxya Parhelion, Belladonna de Valois, dan Soraya Marenishchka kini diklasifikasikan sebagai aset bernilai tinggi yang harus dilindungi. Sebaliknya, Zion, Fushigi Mikado, Cynthia Talia, Cassius Pygmy, Caroline, dan Antares ditandai sebagai aset yang dapat dikorbankan—nama-nama yang tidak dipermasalahkan apabila lenyap dalam sebuah “kecelakaan”.
Pada layar-layar di gedung yang masih berdiri, daftar pasangan wajib ikut diperbarui.
PASANGAN WAJIB — DATA DAPAT BERUBAH
1. Sonata Acerbi dan Riven Kael
2. Romance Zhigalkovich dan Cassius Pygmy
3. Althea Grace Celestia dan Leah Pereshati
4. Ken dan Vespera
5. Fushigi Mikado dan Cynthia Talia
6. Leon Walker dan Luxya Parhelion
7. Lucerix Vayne dan Xandara
8. Axel Morfain dan Belladonna de Valois
9. Soraya Marenishchka dan Belze
10. Zion dan Caroline Astrarea
Daftar tersebut tidak menjelaskan siapa Riven Kael, mengapa beberapa pasangan berubah, atau apa yang akan dilakukan Sistem terhadap mereka yang baru saja dianggap tidak lagi bernilai.
Pusat Reruntuhan
Percikan listrik menjalar di kulit Zion. Kedua matanya berpendar di tengah debu yang bergulung setelah ia mengubah tubuhnya menjadi petir dan menyeret Xandara menjauh dari pusat ledakan. Ia mengambang rendah di atas reruntuhan sebelum mendarat pada sebongkah beton yang hangus.
Ada sesuatu yang terasa berbeda dalam dirinya.
Zion memandangi telapak tangannya. Tindakan menyelamatkan Xandara tadi bukan semata-mata lahir dari naluri bertahan hidup. Ada keterikatan yang mendorongnya—sesuatu yang nyaris menyerupai keluarga.
Apakah ini efek dari perasaanku terhadapnya?
“Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan itu terlontar tanpa sempat dipikirkan. Zion menyibak kepulan debu dan menatap sosok raksasa di hadapannya. Ancaman masih mungkin datang dari mana saja. Setelah perubahan perilaku Xandara di asrama, bahkan perempuan itu sendiri sempat menjadi sesuatu yang harus ia waspadai.
Siapa yang melancarkan ledakan sebesar tadi? Pemberontak? Atau pihak fasilitas yang ingin menegaskan kembali kendali mereka? Apa pun jawabannya, seseorang baru saja mencoba membunuh semua penghuni asrama sekaligus.
Xandara turun perlahan setelah situasi mereda. Pecahan beton dan logam masih mengorbit stabil di sekelilingnya seperti satelit. Medan gravitasi yang ia bangun—Event Horizon—telah membelokkan materi dan energi menjauh dari tubuhnya. Tak satu pun puing menyentuhnya.
Warna-warna pada penampilannya kembali pulih seiring memudarnya naluri bertarung. Sorot matanya teduh dan suaranya kembali tenang.
“Niat jahatnya... tidak terasa lagi,” gumamnya.
Namun, pikirannya terus berputar. Kebencian sedalam itu tak mungkin lahir begitu saja. Ia pernah menjelaskan kepada Antares bahwa Enigmatron mampu membaca niat jahat. Pemuda penuh perhitungan itu bahkan mampu menghindari serangannya, tetapi tetap memperlihatkan niat tersebut secara terbuka meski tahu Xandara dapat merasakannya.
Sebuah ironi—atau kesengajaan?
Ujung kaki Xandara menyentuh reruntuhan, meskipun tubuhnya masih ia biarkan ringan. Ia menoleh kepada Zion.
“Ya,” jawabnya singkat. Seluruh pecahan yang mengorbit di sekelilingnya luruh ke tanah. “Kau juga selamat.”
Zion mengusap belakang lehernya. “Tentu saja kau baik-baik saja—salahku sudah repot-repot nanya.”
Ia terkadang lupa bahwa Xandara jauh lebih kompeten daripada dirinya.
Sebuah hologram mencuat dari layar yang retak. Zion membaca perubahan pasangan dan klasifikasi aset. Soraya termasuk dalam daftar yang harus dilindungi, sedangkan namanya sendiri berada di kelompok yang boleh dilenyapkan.
Itu bukan hal baru. Ia sudah terbiasa dianggap tidak berharga. Namun, Sistem masih bersikeras memisahkannya dari Xandara meski menurutnya mereka telah serasi. Keraguan terhadap tujuan utama fasilitas itu semakin mengeras. Sekarang ia hanya perlu mencari celah untuk keluar dari permainan mereka.
Zion menyapu sekeliling, memastikan yang tersisa bukan hanya puing dan mayat. “Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Bagi Zion, Xandara selalu terlihat seolah memiliki rencana dalam setiap keadaan. Kali ini ia berusaha tidak mengambil keputusan yang sepenuhnya dikendalikan egonya.
Xandara tidak segera menjawab. Dua jam masih tersisa sebelum isolasi, tetapi ia sendiri tidak lagi tahu apa yang perlu dilakukan. Dari tubuhnya yang menjulang seperti menara, pandangannya menelusuri pusat ledakan.
“Entahlah...”
Di sana, Antares tergeletak dalam keadaan mengenaskan. Luxya terkurung dalam bongkahan es yang mulai retak. Ada pula sosok lain yang bergerak di antara reruntuhan.
“Tampaknya ini belum selesai begitu saja.”
Beberapa detik sebelum gedung ambruk, Antares telah merasakan lonjakan energi elektromagnetik melesat ke arahnya melalui kabut air berion yang ia sebarkan. Nalurinya memerintahkan untuk menghindar, tetapi pandangannya jatuh kepada Luxya yang tergeletak akibat rencananya sendiri.
Ia tidak memiliki banyak waktu.
Air membungkus tubuh Luxya dan membeku menjadi es padat, membentuk perlindungan terhadap gelombang ekstrem yang akan datang. Pada sisa sepersekian detik, Antares mendorong tubuhnya ke samping dengan seluruh kecepatan yang dimiliki.
Ia tetap terlambat.
Titik ketiadaan yang dibawa Windham menyerempet sisi kiri tubuhnya. Antares tidak sempat merasakan sakit. Materi, kulit, dan otot di perutnya lenyap dalam robekan hening. Gesekan kehampaan dengan dunia nyata kemudian melepaskan energi kinetik yang merobohkan asrama dan melemparkan tubuhnya ke tengah hujan puing.
Kini sebuah lubang menembus tubuh Antares hingga ke sisi lain. Darah mengalir deras di bawahnya. Kesadarannya memudar, tetapi ia memaksa pikirannya tetap jernih.
Di arah berlawanan, bongkahan es yang membungkus Luxya pecah perlahan dari dalam.
Kemewahan seorang Angelic tidak banyak berarti di bawah tumpukan bangunan. Sejak lahir, bangsa Luxya menempati puncak hierarki: wajah rupawan, tubuh bercahaya, kekayaan berlimpah, dan kekuatan luar biasa. Kecemburuan, kedengkian, serta kemarahan dari bangsa lain menjadi bayang-bayang yang selalu menyertai hak istimewa tersebut.
Namun, pengetahuan mereka tetap terbatas dan dunia terlalu luas. Di kamar tadi, Luxya tidak memiliki kendali untuk melawan. Antares menyudutkannya melalui rencana yang disusun sejak awal.
Meski napasnya berat, pandangannya kabur, dan kedua kaki tak lagi sanggup menyangga tubuh, Luxya terus berusaha berpikir jernih. Ia mempertahankan sorot matanya hingga penglihatan itu akhirnya menghitam.
Tidak ada mimpi.
Tidak ada nostalgia.
Hanya ada dirinya sendiri.
Tubuhnya kini terbaring di antara reruntuhan. Luka lecet memenuhi kulitnya, napasnya pendek, dan cahaya tubuh yang selama ini dibanggakan tampak lebih lemah daripada biasanya—seperti pertanda buruk yang muncul dari kehidupannya sendiri.
Di bagian lain puing, Leon menyingkirkan sisa tembok dengan kekuatan tak kasatmata. Ia duduk santai di atas bongkahan beton, kedua kaki menyilang, sambil menyapu debu dari seragam putihnya.
Ganggu.
Ledakan tadi baginya tak lebih daripada gangguan yang tidak diinginkan. Ia memang tidak tertimpa puing secara langsung, tetapi potongan kecil tetap mengotori pakaiannya.
Yang lebih menjengkelkan adalah hilangnya Soraya.
Bisa-bisanya mereka terpisah pada saat seperti ini. Tidak satu pun petugas fasilitas menampakkan diri untuk menangani kerusakan. Ketika membaca instruksi mengenai aset bernilai tinggi, Leon hanya memicingkan mata. Pihak yang menculik mereka bahkan menyuruh para peserta melindungi aset milik mereka sendiri.
Iris heterokromnya menangkap Zion dan seorang perempuan asing yang terlalu tinggi untuk ukuran manusia di dunianya. Leon tidak mendekat. Ia turun dari puing dan mulai mengitari kawasan, mencari Soraya.
Zion lebih dahulu mencapai pusat reruntuhan. Ia menemukan seorang pria berpedang yang sedang menyingkirkan puing, lalu tubuh Antares di dekat es yang retak.
“Dia... mati?” gumamnya, separuh tidak percaya.
Zion memang tidak menyukai bajingan itu. Namun, jika Antares benar-benar mati sebelum sempat ia tonjok, rasanya tidak adil. Petir meninggalkan jejak ketika ia berpindah dalam sepersekian detik dan berhenti di samping tubuh Antares.
Luka menganga di perut pemuda itu membuat darah menggenang di sekitarnya. Ujung sepatu Zion menyenggol wajah Antares untuk memastikan.
Tidak ada respons.
Perhatiannya beralih kepada perempuan berkuncir dua yang baru terlepas dari balok es. Wajah Luxya pucat dan bibirnya membiru. Zion berjongkok, mengguncang bahunya, lalu mencari denyut nadi.
Lemah. Tubuhnya nyaris kaku.
Jika ini akibat hasutan Antares, Zion merasa kematian pria itu memang pantas. Cewek seseksi ini hendak dibunuh—benar-benar gila.
Ia melepas jaket dan menyelimuti Luxya. Telapak tangannya menyala, menyebarkan panas untuk memaksa kehangatan kembali ke tubuh perempuan itu. Namun, warna biru pada kulit Luxya justru semakin jelas. Ia masih tidak bernapas.
Zion menoleh kepada Xandara dan siapa pun yang berada cukup dekat. Wajahnya menegang. Medis bukan bidangnya.
“Dia kehabisan napas! Apa yang harus kulakukan?”
Pusat ledakan berada dekat asrama Ken. Kepekaan terhadap suara membuatnya menyadari bahaya lebih awal.
Kukorbankan ingatanku tentang rasa teh yang kuminum sebelumnya.
Harga itu dibayar tanpa keraguan. Melalui teknik ninjanya, Ken mengendalikan serpihan-serpihan yang melesat ke arahnya, lalu bergerak tanpa suara menuju sumber ledakan.
Ia menemukan Antares bersimbah darah, Luxya sekarat, dan seorang asing berambut putih yang berjalan di antara materi yang terus membusuk.
“Kau itu... apa?”
Ken berhenti pada jarak aman. Tidak ada emosi jelas pada wajahnya, bahkan ketika melihat Luxya—seseorang yang pernah terhubung dengannya—dalam keadaan kritis.
Kukorbankan ingatanku tentang gunung di Prefektur A.
Fenomena di sekitar Luxya berubah. Udara bersih terkumpul agar perempuan itu memperoleh oksigen, sementara lingkungan di sekitarnya disterilkan. Selembar kain yang telah dibersihkan bergerak menekan luka-luka dan menghentikan pendarahan yang masih bisa dijangkau.
Itu belum cukup untuk menciptakan keajaiban, tetapi napas Luxya mulai memiliki kesempatan untuk kembali.
Windham berdiri di tengah lautan beton yang hancur tanpa bergerak. Mekanisme di dalam tubuhnya memaksa materi di sekitar terurai. Udara dekat dirinya terasa dingin, seakan menolak disentuh.
Setiap langkah meninggalkan jejak. Beton yang dipijak semakin retak, menggelap, lalu terkikis menjadi debu. Korosi menjalar cepat pada baja yang bengkok. Genangan air dari pipa pecah berubah menjadi hitam dan kental. Penguraian pasif itu mengikuti pergerakannya; materi yang tidak menghasilkan energi tak dapat melekat pada tubuhnya.
Windham mendekati Antares. Hembusan serak keluar dari balik maskernya. Ia jengkel sekaligus kecewa karena semuanya berakhir terlalu cepat. Untuk anomali sekecil ini, Malver telah mengirimkan Avatar yang membawa dewa pemakan semesta. Sedikit pelepasan kekuatannya saja cukup untuk menghancurkan gedung. Memilih dirinya terasa seperti pemborosan.
Ia mencengkeram rambut Antares tanpa perasaan dan menyeret tubuh itu seperti karung. Suara gesekan kasar berpadu dengan derak materi yang membusuk di sekelilingnya.
Xandara mendekat tanpa banyak langkah. Wajah-wajah yang dikenal bermunculan—Ken dan Cassius. Cassius lebih dahulu memeriksa situasi, sedangkan Zion serta Ken berusaha menjaga Luxya tetap bernapas.
Xandara hanya memperhatikan dari jarak tertentu. Pada saat seperti ini, ia tahu tidak banyak yang bisa dilakukan. Tubuhnya terlalu besar untuk menyentuh sesuatu yang rapuh, dan pengertiannya terlalu asing untuk menenangkan yang terluka.
Matanya kemudian bertemu dengan tatapan Antares yang semakin menyerupai cangkang kosong. Pemuda itu diseret secara kasar dan tidak manusiawi. Xandara tidak merasakan benci ataupun simpati. Yang terjadi, biarlah terjadi. Antares telah terlepas dari siklus ini, dengan harga yang harus dibayar.
Perhatiannya tertuju kepada sosok yang menyeretnya—sebuah kiamat berjalan yang menguraikan segala sesuatu di sekeliling.
“Kau bukan bagian dari orang yang ‘dibeli’, kan?” Xandara melemparkan tebakan kepada Windham. “Apa yang terjadi?”
Cassius pun terpaku pada pemandangan itu. Eksistensi pria berambut putih tersebut saja cukup membuat tubuhnya bergetar waspada. Jiwa pejuangnya mengatakan bahwa sosok itu terlalu berbahaya untuk didekati, tetapi sisi lain dalam dirinya menolak membiarkan seorang terluka diseret begitu saja.
Ia menarik katana. Bilahnya menghitam saat dialiri kekuatan.
“Glowing of Crescent Moon.”
Satu tebasan membentuk gelombang bulan sabit yang melesat menuju Windham.
“Lepaskan dia!”
Langkah Windham berhenti. Tubuh Antares di belakangnya ikut berhenti terseret, sementara materi di sekeliling mereka terus lenyap.
“...Konsekuensi,” jawabnya kepada Ken dengan suara rendah dan serak.
Tanpa benar-benar berpaling, ia menanggapi Xandara, “Berbanggalah karena masih mempunyai harga.”
Energi dari tebasan Cassius mendekat. Windham mengerutkan kening di balik masker. Gumpalan ketiadaan tercipta di belakangnya tanpa perlu ia perintah. Serangan itu lenyap ditelan kehampaan—terhapus dari eksistensi tanpa suara dan tanpa jejak.
“Tunggu beberapa saat. Kalian akan bertemu yang lainnya,” katanya. “Kalau ingin musnah, bunuh diri lebih baik.”
Robekan gelap tanpa cahaya terbuka dua meter di hadapannya. Windham kembali menyeret Antares, menekan rasa lapar The God-Maw agar tidak melahap semua yang berada di dekatnya, lalu masuk ke dalam celah dimensi itu. Tubuh Antares ikut menghilang setelahnya.
Baru ketika retakan tertutup, Zion mengembuskan napas panjang. Orang-orang bermuka datar di sekitarnya terlalu berani menantang otoritas, seolah tidak menyadari bahwa statusnya sebagai subjek tak layak dapat membuat dirinya ikut dikorbankan. Ia memang sepengecut itu.
Zion berdiri dan berseru kepada kehampaan, “Kalau mau memaksaku berhubungan seks, minimal ngotak, dong! Aku bahkan nggak tahu mana yang namanya Caroline!”
Ia menggertakkan gigi. Dipandang sebagai komoditas bukan masalah terbesar baginya—Zion selalu menemukan sesuatu untuk dinikmati. Yang membuatnya marah adalah tidak pernah diberi kebebasan memilih dengan siapa ia harus tidur.
“Gaya bicaranya mirip denganmu. Singkat, padat, nggak jelas.” Ia menoleh kepada Xandara sambil cemberut. “Jangan-jangan dia yang namanya baru muncul di daftar itu—si Riven-Riven itu.”
Di dalam kegelapan kesadarannya, suara-suara masa lalu mendatangi Luxya.
Setiap saat pasti akan begini.
Kau lagi. Heh, tidak mengherankan.
Kenapa repot-repot di sini? Siapa yang peduli?
Luxya memandangi telapak tangannya. Renungan dari waktu-waktu yang menyesakkan seolah menamparnya.
Apa yang berubah?
Apa yang telah kulakukan?
Apa sebenarnya yang kucoba?
Kerutan terbentuk di wajahnya dan giginya menggigit bibir bawah. Ia keras kepala. Ia menolak menyerah. Kemilau realitas yang selalu dibanggakan telah membawanya sampai ke tempat ini, tetapi ketidakberdayaan hanyalah batas yang selama ini ia buat sendiri.
Garis takdir telah ditarik, dan Luxya akan melawannya.
Napas kasar lolos dari tenggorokan. Cahaya samar kembali tertangkap penglihatannya. Ketika kesadaran pulih, beberapa wajah di sekeliling masih dapat ia kenali.
“Kalian—”
Suaranya tertahan tajam. Tubuhnya masih mati rasa dan napasnya belum stabil.
Pria bermasker telah pergi. Xandara memiringkan kepala ketika Zion menyamakannya dengan sosok tersebut.
“Dia berbeda denganku,” ujarnya datar.
Ia menatap layar yang masih hidup. “Entah setelah kedatangannya, atau setelah sesuatu terjadi pada seseorang—terutama pada mereka yang disebut aset penting—susunan nama telah berubah.”
Xandara tidak yakin kedua kejadian itu benar-benar berkaitan. Tidak ada bukti yang dapat menahan Sistem yang terus mengejar waktu.
Pergerakan lemah Luxya menarik perhatiannya. Xandara menurunkan tubuh hingga satu lutut menyentuh permukaan. Jemarinya yang besar menyingkap rambut depan Luxya agar wajahnya terlihat lebih jelas. Napas yang keluar masih berat dan sangat lemah.
“Dia masih hidup.” Xandara menatap gedung dekat reruntuhan yang masih utuh. “Jika memang ada pengelompokan baru dari Sistem, dia mungkin akan menjadi incaran lagi.”
Tatapannya berpindah kepada Zion dan Cassius—dua sosok yang sama-sama telah diklasifikasikan sebagai tidak berharga.
“Mungkin kalian berdua juga bisa berada dalam bahaya.”
“Aku cuma asal bicara,” kata Zion sambil menyeringai. Menggoda Xandara telah menjadi kebiasaan barunya.
Ia melirik Luxya yang baru sadar sambil terengah. “Oh, jadi dia salah satu cewek yang dianggap penting itu? Bella? Luxya? Kalau Soraya jelas bukan.”
Pikiran licik mulai bergerak. Jika tindakan Antares terhadap aset penting mampu mengubah susunan pasangan, apakah daftar itu akan berubah lagi apabila Zion melenyapkan ketiga aset berharga? Ia tidak mungkin tahu tanpa mencoba.
“Asal kau tahu saja, hidupku nggak pernah jauh dari namanya bahaya.”
Tatapan Zion menajam kepada Xandara. Percikan listrik kembali mengaliri tubuhnya.
“Kau pernah bilang kau nggak peduli pada apa pun yang disiapkan takdir untukmu, kan? Tapi aku nggak sudi pasrah. Nggak untuk saat ini.”
Dipikir-pikir, dirinya dan Antares tidak terlalu berbeda.
“Aku nggak mau menjadi satu di antara sekian banyak pilihan yang bisa kaupilih. Aku mau jadi satu-satunya. Aku ingin menjadi tujuan utamamu—hal yang kaupertaruhkan untuk bertahan hidup. Sama seperti aku, yang akan melakukan apa pun demi itu.”
Zion menarik napas panjang. Ia memahami risiko dari langkah yang hendak diambil, tetapi ekspresinya tidak lagi goyah.
Tanpa menunggu jawaban Xandara, ia meraih tubuh Luxya dan membawanya menjauh dalam gerakan secepat kilat. Ia memilih lari tanpa arah pasti. Melawan Xandara hanya akan menjadi pilihan terakhir; Zion kalah jumlah dan kalah kekuatan.
Yang ia perlukan sekarang hanyalah waktu untuk membuktikan bahwa takdir dapat dipaksa berubah.
Belakang Reruntuhan
Di sisi lain gedung, Belladonna terjepit di bawah puing-puing.
Sial sekali. Ia bukan hanya terancam mati sekali, melainkan dua kali dalam waktu yang hampir bersamaan. Pria yang berada bersamanya sebelum ledakan—seseorang yang bahkan belum sempat ia kenali namanya—langsung melarikan diri begitu suara kehancuran terdengar, meninggalkannya sendiri.
Wajar. Mereka tidak saling mengenal dan tidak memiliki ikatan emosional apa pun. Bella sendiri selalu menutup diri apabila urusannya menyentuh hati.
Ia mencoba memikirkan sesuatu yang masih menunggunya. Kembali ke rumah? Sebagai seorang Helden, ia masih memiliki tugas yang semestinya dijalankan, tetapi dirinya telah menghilang begitu lama sehingga mungkin sudah dianggap mati. Kariernya sebagai Diva pun telah ia tinggalkan. Sebagian besar uang dari panggung selama ini digunakan untuk membantu panti asuhan tempatnya dahulu tinggal.
Secara garis besar, seluruh mimpi dan keinginannya telah tercapai—setidaknya di dunianya.
Di tempat ini, Bella hanya ingin mengetahui keberadaan Marin. Namun, selain para peserta, ia tidak pernah melihat petugas yang dapat dimintai penjelasan. Sekarang jangankan mencari, sekadar bertanya pun terasa mustahil.
Ia tidak sempat memahami bagaimana dinding terhempas, lantai runtuh, lalu atap menimpa tubuhnya. Sosok terakhir yang dilihatnya telah menghilang—mungkin melarikan diri dengan kekuatannya—sebelum Bella ikut terlempar bersama puing-puing.
Kini napasnya memendek. Beban beton menekan tubuh dan pandangannya perlahan kabur.
“Apa permintaan dari rute reward masih berlaku, ya...?”
Melalui ekor mata, ia melihat layar yang sama berantakannya dengan ruangan. Beberapa nama masih terbaca, termasuk namanya dan pasangan yang baru ditentukan.
“Aku ingin menggunakannya...”
Suara Bella nyaris hilang di antara debu.
“Aku ingin bertemu Marin, lalu tinggal bersamanya lagi di tepi pantai. Marin tidak suka tempat tertutup karena itu sempit... Jangan kurung dia...”
Kelopak matanya menutup perlahan ketika kesadaran mulai meninggalkannya.
Tidak jauh dari sana, Axel memunculkan gitar secara refleks begitu ledakan terjadi. Satu petikan mengaktifkan kekuatannya. Tornado terbentuk di sekeliling dirinya dan Sonata, menerbangkan serpihan bangunan yang mengarah kepada mereka jauh ke udara.
Setelah gelombang kehancuran reda, Axel menghentikan petikan. Putaran angin melemah dan menghilang.
“Orang gila mana yang meledakkan tempat ini?” serunya. Ia menoleh kepada Sonata. “Kau tidak terluka, kan?”
Sonata telah lebih dahulu masuk ke dalam keadaan bertahan. Pedang ditarik dari punggungnya dan diperpanjang untuk membelah reruntuhan kecil yang lolos dari tornado. Ketika situasi mereda, ia mengembalikan senjata itu ke tubuhnya lalu berdiri tegak.
“Aku baik.”
Pada gedung yang masih berdiri, pengumuman dan perubahan pasangan terlihat. Axel mencari namanya sendiri, kemudian nama Sonata.
“Sistem ini lebih random dari dugaanku. Kau mengenal siapa Kael yang menjadi pasangan terbarumu? Aku tidak melihat nama orang ini sebelumnya.”
“Tidak sama sekali. Nama-nama lain setidaknya pernah kulihat, tapi bukan yang ini.” Mata Sonata memicing. “Entah apa maksudnya, tetapi mereka seperti menantangku.”
Ia menatap klasifikasi aset yang baru.
“Tapi kesimpulannya, Sistem ini tidak random. Mereka memperhatikan kita. Siapa pun pasangan kita, mereka memakai penilaian sendiri. Awalnya aku tidak tahu tujuannya, tapi ‘aset berharga’ ini...”
Sonata mengernyit.
“Mereka mungkin memakai ukuran siapa yang paling besar manfaatnya untuk mereka.”
Axel mengikuti arah pandangannya. “Hee, aku tidak menyangka kau tipe orang yang langsung memikirkan orang lain.”
“Aku hanya tidak suka repot.”
“Kalau yang disebut aset berharga, aku mengenal semuanya. Tapi pergerakan Sistem tetap sulit ditebak.”
Entah kebetulan atau bukan, ketiga aset penting itu memang pernah Axel temui. Ia masih bertanya-tanya mengapa pasangannya berubah menjadi Bella, padahal selama jeda justru Sonata yang berada bersamanya.
Sonata menoleh ke sekeliling. “Lupakan dulu itu. Mustahil ledakan sebesar ini tidak memakan korban. Kita periksa tempat ini.”
Ia memanjat tumpukan puing. Di balik bongkahan besar, sedikit warna merah muda terlihat—dan jelas bukan darah. Sonata mengangkat serta memindahkan beton itu seorang diri, memperlihatkan perempuan yang terbaring tak berdaya di bawahnya.
“Hey, kalau mau menyerah, jangan di sini.”
Nada Sonata tetap datar, tetapi ia menarik tubuh perempuan itu keluar.
“Kalau dibiarkan, dia benar-benar bisa mati. Hey!”
Axel bergegas menghampiri. “Bella?”
Ia mengenali perempuan tersebut. Sonata membaringkannya di tanah agar kondisi tubuhnya dapat dilihat lebih jelas.
“Benturan keras. Tidak ada yang melindunginya,” gumam Sonata. “CPR justru bisa membebani tubuhnya.”
“Kau kenal?”
“Iya.” Axel berjongkok di samping mereka. Tentu saja ia mengenal Bella. Mereka bahkan pernah terkurung bersama—meski bagian itu tidak perlu dilanjutkan. “Aku tidak tahu banyak soal medis. Kekuatanmu berkaitan dengan biologi, kan? Bisa dipakai untuk menolongnya?”
Sonata menatap Axel seolah pertanyaan itu merupakan penghinaan terhadap akal sehat.
“Oh, ya, tentu. Dengan kekuatanku menarik pedang dari tulang belakang, aku bisa menolongnya dengan membawanya langsung ke kehidupan selanjutnya. Kau pikir sendiri!”
“Uh, kukira kau bisa menutup lukanya seperti kau memanipulasi tubuhmu.”
Salahkah Axel menduga demikian? Sonata dapat mengeluarkan dan memasukkan tulang tanpa terlihat terluka.
“Sayangnya, kekuatanku terbatas untuk tubuhku sendiri.” Sonata melirik layar. “Dia termasuk aset berharga. Apa Sistem bisa mendeteksi kondisinya? Mereka tidak mungkin membiarkan aset penting mati begitu saja, kan?”
Beban menyelamatkan nyawa orang lain terasa terlalu berat bagi Sonata. Ia memijat kening.
“Kita tidak punya banyak waktu. Brengsek, orang gila mana yang menaruh banyak makhluk berbahaya dalam satu tempat tanpa fasilitas medis? Mereka bisa merencanakan tempat atau tidak, sih?”
Axel mendongak dan berteriak ke arah bangunan di sekitar.
“Oi, petugas! Seharusnya dia aset penting, kan? Kalian akan membiarkannya begini?”
Tidak ada jawaban.
Suara ledakan tadi juga teregistrasi di telinga Soraya ketika ia masih berada di kamar bersama Leon. Mereka sedang membicarakan hitung mundur dan berbagai hal aneh—Leon yang agak aneh, tetapi lucu—saat kegaduhan terdengar dari beberapa kamar lain.
Soraya berdiri untuk memeriksa. Leon sempat berusaha menarik tangannya agar tetap di dalam.
Keputusan keluar ternyata sebuah kesalahan besar.
Ledakan menghempaskan Soraya bersama puing-puing. Ia sempat membentuk dinding es di depan kamar Leon, kemudian membungkus dirinya dalam lingkaran es agar batu dan logam tidak menghantam tubuhnya. Setelah guncangan berhenti, ia bergerak di dalam pelindung itu, menggelinding ke tempat yang lebih aman, lalu memecahkan permukaannya dari dalam.
Soraya keluar tanpa luka.
“Ah—”
Di hadapannya, beberapa orang berkumpul mengelilingi perempuan yang tidak sadarkan diri. Salah satu wajah terasa familier dari mimpi panjang yang pernah dialaminya.
“Axel?”
Ia hanya terpaku sesaat sebelum kembali memusatkan perhatian kepada korban.
“Ada apa dengannya?” Soraya ikut berjongkok. “Apa dia terluka? Ada yang bisa kubantu?”
Axel tampak lega melihat seseorang lain datang. “Ah, Soraya. Tentu saja kami perlu bantuan. Kau mengerti medis atau punya kekuatan penyembuhan?”
Sonata melirik Axel yang menyapa perempuan itu. “Kenalanmu lagi? Kau kenal banyak cewek. Tak disangka kau playboy.”
“Hee, kalau mengenal banyak perempuan disebut playboy, mungkin aku berada di kelas kakap.”
Axel sama sekali tidak terganggu oleh sindiran tersebut.
Sonata beralih kepada Soraya. “Tapi ucapannya benar. Sedikit ilmu medis pun mungkin bisa menolong. Petugas di sini rupanya hanya bisa memberi label berharga tanpa mau merawat asetnya.”
Sebelum Soraya sempat menjawab, cahaya keperakan melintas di antara debu dan aroma ozon.
Althea bergerak di udara dengan tongkatnya. Saat ledakan terjadi, dentuman awal telah membangunkannya dari lamunan. Ia menciptakan perlindungan cahaya, membelah setiap puing yang mendekat, lalu mengikuti aliran gelombang kejut secara terkendali sampai berhasil keluar dari reruntuhan.
Sepasang iris amethyst memindai kemungkinan korban. Ketika melihat kerumunan dan perempuan yang terbaring di tengahnya, Althea segera terbang mendekat.
Jantungnya yang biasanya setenang danau pada pagi hari berdesir.
“Bella...”
Nama itu lolos seperti hembusan napas.
Untuk sesaat, Althea membeku. Wajah tenangnya mengeras dan seluruh emosi dikunci rapat di balik mata yang mulai bersinar lembut.
Panik adalah kemewahan yang tidak ia miliki. Perfeksionisme menuntut kendali penuh. Kepedulian menuntut tindakan tanpa cela.
Ia mendarat di antara Axel dan dua perempuan yang belum dikenalnya, lalu berlutut di samping Bella tanpa banyak bicara.
Cahaya keperakan mengalir dari telapak tangannya, menyelimuti tubuh Bella seperti kain sutra. Pemindaian fotonik itu menembus kulit, otot, dan tulang, memetakan kerusakan di dalam tubuh dengan presisi. Gambaran tiga dimensi terbentuk di benak Althea: pendarahan besar akibat limpa yang robek; tiga tulang rusuk patah dengan ujung tajam mengancam paru-paru; retakan di tulang belakang leher; serta memar yang menyebar pada otak.
Althea menarik satu napas panjang.
Tenang. Fokus.
Cahaya di tangannya pecah menjadi ratusan benang setipis jarum. Dengan kendali yang dibangun melalui ribuan jam latihan dalam kesendirian, ia mengarahkan setiap benang ke tubuh Bella. Seperti seorang ahli bedah, Althea menemukan pembuluh darah yang pecah dan arteri yang sobek, lalu menutupnya dengan denyut energi terkonsentrasi.
Pendarahan internal itu berhenti.
Cahaya keemasan kemudian difokuskan sepanjang tulang belakang Bella, terutama di bagian leher. Denyut hangat meresap ke celah retakan dan merangsang penyatuan tulang. Pada saat yang sama, cahaya menyelimuti sumsum tulang belakang, memberi energi pada selubung saraf yang memar agar kerusakan permanen dapat dicegah.
Kau tidak akan lumpuh. Tidak di bawah pengawasanku.
Terakhir, Althea melebarkan telapak tangan. Cahaya merah delima membanjiri tubuh Bella hingga tingkat sel. Energi kehidupan dialirkan ke organ-organ yang mengalami syok dan mengisi ulang mitokondria yang nyaris berhenti bekerja. Pada saat bersamaan, lapisan ultraviolet tipis menyapu luka gores dan lecet di permukaan, membakar bakteri serta kotoran yang menempel.
Pekerjaan itu selesai—setidaknya untuk saat ini.
Napas Bella yang semula dangkal mulai menjadi lebih dalam dan teratur. Warna pucat pada pipinya perlahan digantikan rona kehidupan.
Althea menarik kedua tangan. Wajahnya tetap tenang, tetapi butiran keringat membasahi pelipis. Punggung jarinya menyentuh pipi Bella dengan kelembutan yang nyaris tak terasa. Hubungan mereka mungkin rumit, tetapi saat ini hanya satu hal yang penting.
“Bella? Ini sudah pagi,” bisiknya. “Saatnya bangun.”
Sonata membelalak menyaksikan seluruh proses. Ia terbiasa melihat dokter melakukan operasi, tetapi penyembuhan seperti itu merupakan sesuatu yang sama sekali baru.
“...Wow.”
Axel mengembuskan napas lega. “Kau datang pada waktu yang tepat. Tapi sepertinya kau masih perlu memberi kecupan ajaib untuk membangunkan putri yang tertidur, Althea.”
“Ah, aku juga baru mau bilang mungkin kau harus menciumnya,” kata Sonata sambil menunjuk Axel. “Tapi dia sudah mendahuluiku.”
Ketenangan itu tidak bertahan lama.
“BRENGSEK! BEDEBAH! BAJINGAN! CEPAT KELUAR, MALVER SIALAN!”
Suara Zion meledak dari antara reruntuhan sebelum tubuhnya terlihat.
Ia datang sambil menggendong Luxya. Menculik perempuan yang masih lemas seperti itu membuatnya tampak seperti pecundang, tetapi Zion tidak sudi dipisahkan dari Xandara setelah bersusah payah mendapatkan perhatian perempuan tersebut.
“Aku nggak berniat macam-macam, jadi diam saja, oke?” katanya kepada Luxya—setengah berbohong.
Ia mengguncang tubuh dalam gendongannya untuk memastikan Luxya tidak kembali kehilangan kesadaran. Kedua lengannya mulai pegal. Untung saja Xandara berukuran terlalu besar untuk diwajibkan ia gendong juga.
Zion berhenti tidak terlalu jauh dari kerumunan. Ia yakin tidak ada yang mengejarnya, tetapi Malver belum juga muncul. Bagaimana jika satu aset penting tidak cukup untuk memancing reaksi? Ia sudah telanjur bertindak dan tidak menyukai pekerjaan setengah-setengah.
Sekelebat rambut putih menarik perhatiannya. Ada dua sosok yang dikenalnya: Leon dan Soraya.
Kalau Luxya belum cukup untuk mengusik Malver, bagaimana dengan Soraya?
“Pejamkan matamu. Bisa-bisa kepalamu pusing,” ujar Zion kepada Luxya sambil mengeratkan pegangan.
Selagi yang lain sibuk mengurusi Bella, ia bergerak secepat kilat menuju belakang Soraya dan melepaskan tendangan dengan kekuatan penuh. Pijakan di bawah kakinya retak. Gelombang kejut menyebar, cukup kuat untuk menyetrum dan melempar Soraya apabila serangan itu mengenai sasaran.
Zion tidak menahan diri. Ia tahu lawannya tidak boleh diremehkan dan orang lain mungkin ikut menghalangi.
Toh, ia tidak berutang apa pun kepada Leon.
“Rise and shine, motherfuckers!”
Tangan-tangan tak kasatmata lebih dahulu menarik Soraya menjauh. Dari luar, tubuhnya tampak terpelanting oleh gelombang kejut, padahal ia justru berakhir di dalam pelukan Leon.
Leon memandangnya seolah tidak terjadi sesuatu yang luar biasa.
“Eh? Tadi itu serangan?”
Althea pun bereaksi dalam sekejap. Ia menyelipkan kedua tangan ke bawah pundak dan lutut Bella, melompat ke belakang, lalu mendarat di atas tongkat yang sudah menunggu. Sambil menggendong Bella erat-erat, ia naik beberapa meter ke udara agar tubuh yang baru dipulihkan tidak terkena benturan.
“Apa maksud semua ini?”
Nada Althea tenang, tetapi alisnya berkerut dan tidak ada senyum pada wajahnya. Zion jelas tidak berada dalam sudut pandang yang baik baginya.
Sonata menyentuh punggung dan menarik pedang ketika melihat Zion mendekat.
“Jangan coba-coba—”
Namun, Leon telah menggagalkan serangan itu terlebih dahulu. Sonata menutup mulut, menahan tawa.
“Pft—”
Zion terdiam. Kakinya masih menggantung setelah tendangannya meleset, dan tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Wajahnya memerah ketika mendengar komentar Leon serta tawa Sonata.
“Brengsek! Tentu saja itu serangan! Kau kira aku main-main, hah?”
Ia menatap tajam orang-orang yang kini waspada. Padahal ia memegang Luxya sebagai sandera dan, menurut pikirannya, keputusan hidup-mati perempuan itu semestinya memberinya posisi lebih kuat.
Axel masih sempat tersenyum. “Oh, tidak. Konflik romansa?”
Zion mengernyit.
“Atau kau mengambil langkah ekstrem untuk mengubah takdirmu?” Nada Axel menjadi sedikit lebih tajam. “Tapi kau sudah melampaui batas, Doe. Bagaimana kalau kita tidak memperpanjang masalah ini dan memilih cara yang lebih damai?”
Ia tidak terdengar marah. Berbeda dari Zion, Axel tidak membiarkan hatinya terikat sampai kehilangan kendali. Ia dapat mencandai Althea untuk mencium Bella dan tidak merasa terganggu oleh kedekatan Leon dengan Soraya. Namun, Axel tetap memiliki batas moral: persetujuan dan keselamatan orang lain. Selama bukan pengorbanan diri yang dipilih dengan sadar, ia tidak akan membiarkan orang tidak bersalah mati di hadapannya.
“Aku nggak akan menempuh jalan damai,” jawab Zion. “Aku melihat satu nyawa hilang di depanku, dan selanjutnya bisa saja giliranku. Di tempat asalku maupun di sini, aku nggak pernah dianggap penting. Aku terus dipermainkan begitu saja. Kau masih mau aku bersantai seperti kalian?”
Emosi meledak pada setiap penekanan. Setidaknya Zion masih dapat menyeret tiga aset Malver untuk mati bersamanya. Percikan listrik menyala semakin terang saat ia melangkah mendekat.
“Minggir, Leon. Atau kau...” Suaranya menggantung. “Mau mati berdua biar makin romantis?”
Leon melepaskan Soraya setelah yakin perempuan itu aman, kemudian maju dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Baru beberapa hari berlalu, tetapi melihat wajah sebal si ubi ungu kembali terasa menyegarkan. Sayangnya, ini bukan waktu untuk reuni—terutama jika Soraya menjadi sasaran.
Leon melirik Luxya yang masih dibopong. Apakah perempuan itu masih hidup?
“Ehh, responsmu masam sekali.” Ia menelengkan kepala, memasang ekspresi kecewa yang dibuat-buat. “Kupikir hubungan kita istimewa. Apa cuma aku yang berpikir begitu?”
Sudut bibirnya perlahan terangkat. Leon menarik topi sedikit lebih rendah dan terkekeh.
“Ah... sebegitunya mau tetap relevan, ya?”
Ia melangkah tanpa menunjukkan sedikit pun gentar.
“Bukankah justru karena tidak tahu kapan akan mati, kau seharusnya bersantai dan menikmati hidup sampai puas? Apa perlu berlagak seperti penjahat dan memperpendek umurmu?”
Leon terus mendekat.
“Sedikit banyak aku paham rasanya dianggap tidak penting—bahkan dianggap tidak ada. Aku juga pernah melihat lebih dari satu atau dua nyawa melayang di depan mata. Jadi, coba katakan...”
Ia berhenti hanya setengah meter dari Zion. Tangan kirinya menangkup dagu pria itu, lalu tubuhnya condong hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
“...Apa aku juga harus tantrum dan ikut rencana pembunuhanmu karena nasib kita cukup sama? Atau kau cuma butuh pelukan untuk menenangkan diri?”
“Huh? Kenalanmu?” Axel bertanya kepada Sonata setelah melihat kewaspadaannya terhadap Zion.
“Ya, kurang lebih.”
Axel kembali menatap Zion. “Iya, iya. Pasti sangat menyakitkan menjadi dirimu. Tapi itu tidak membenarkan kenapa kau harus melibatkan gadis itu.”
Ia tidak memahami hubungan antara satu korban yang telah mati, perasaan dipermainkan, dan keputusan menyerang Soraya.
“Katakanlah kau berhasil membunuh Soraya. Lalu apa? Kau mendapat kebebasan atau kepastian untuk bersama orang yang kauinginkan? Tidak juga, kan?”
Pada akhirnya, semua tetap bergantung kepada Sistem. Mengubah Sistem tidak harus melalui pembunuhan.
“Dari yang kaukatakan, sudah ada satu orang yang mati. Seharusnya jumlah pasangan menjadi ganjil. Tapi lihat sendiri.” Axel menunjuk daftar pada gedung yang masih berdiri. “Sistem tidak mengalami kesalahan.”
Nama baru tetap tertera di sana.
“Raven Kael~” Axel melantunkan nama itu dengan nada main-main. “Ada yang pernah mendengarnya? Kalau tidak, berarti keberadaan kita di tempat ini dapat diganti dengan mudah. Or so it says.”
Membunuh Soraya hanya akan menambahkan nama baru—itu pun jika Zion berhasil. Tidak ada masalah yang benar-benar selesai.
“Terima saja tawaran pelukannya, Doe. Mari kita akhiri episode kali ini dengan happy ending.”
Sonata menepukkan kedua tangan cukup keras agar semua orang memandangnya.
“Oke, sudah cukup drama picisannya. Kalau memang ada yang mati, kondisi kita jauh lebih parah dan harus ditangani dengan apa pun yang bukan hal yang sedang kalian lakukan sekarang.”
Ia menatap satu per satu, kemudian mengarahkan pandangan kepada Zion.
“Dan kau. Kalau mau menyandera orang, setidaknya lakukan dengan benar. Sandera tidak berguna kalau langsung mati. Akan lebih menguntungkan menjaganya hidup, lalu mengeksploitasi lawanmu.”
Tidak ada yang bertanya dari mana Sonata mengetahui hal semacam itu.
“Kalau sudah ada yang mati dan kau mau menambah korban, yang rugi justru dirimu sendiri. Memang ada jaminan kau diberi jalan mudah untuk mati kalau itu tujuanmu?”
Ia melirik Leon yang masih memegang dagu Zion, lalu Axel.
“Dia sudah jelas menggoda. Menurut definisimu, disentuh begitu harusnya sudah cukup.”
Punggung Soraya masih terasa panas. Sengatan setajam tadi semestinya mampu membuat manusia biasa lumpuh sementara. Ia beruntung Leon hadir—dan orang-orang lain berada di sana.
Soraya memperhatikan perdebatan aneh di antara para pria. Ketegangan belum benar-benar turun. Pernyataan bahwa seseorang telah mati membuatnya terhenyak. Ia jarang meninggalkan kamar dan tidak mengetahui banyak hal yang terjadi di luar.
“Apa kau... takut, Zion?”
Pertanyaan itu terlepas dengan campuran kebingungan, pengertian, dan sedikit rasa kasihan.
“Takut mati?”
Seseorang yang takut mati berarti masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, bukan? Mungkin ia dapat membantu.
“Kalau ingin selamat dari sini, lebih baik kita bekerja sama.” Soraya memandang orang-orang di sekeliling. “Jika lawan kita hanya beberapa orang, bukankah kesempatan bertahan akan lebih besar kalau kita bergerak dalam kelompok?”
Ia memiringkan kepala.
“Tuan Zion, kamu bilang ingin hidup, tapi kenapa tindakanmu seperti orang yang mau mati duluan?”
Listrik di tubuh Zion meredup ketika Leon menyentuh dagunya. Ia sebenarnya dapat memanfaatkan jarak dekat itu untuk menghantam pria tersebut dengan arus listrik. Namun, tatapan-tatapan yang mengelilinginya terasa menuding—seolah semua orang mampu membaca pikirannya dan bersikap peduli.
Zion menggertakkan gigi. Ia tahu dirinya tidak pandai mengambil keputusan. Malver mungkin sudah membaca rencananya. Hasil dapat mengkhianati usaha.
Namun, apakah ia benar-benar lebih takut mati daripada kehilangan Xandara?
Keraguan itu membuat niatnya goyah.
Zion melangkah mundur dan menarik diri dari sentuhan Leon, meski tawaran pelukan terus dijadikan bahan olok-olok. Ia menatap Soraya yang justru mengasihaninya.
“Aku nggak tahu caranya bekerja sama.”
Selama ini orang-orang selalu mengharapkannya menjadi laki-laki yang mampu menyelesaikan segala masalah seorang diri. Ia terperangkap dalam citra yang dipaksa untuk terus dipertahankan. Zion bahkan menyimpan daftar hitam nama-nama yang pernah memperlakukannya buruk. Ketika orang-orang itu kembali seolah tidak terjadi apa-apa, dirinya justru dianggap terlalu berlebihan.
Semua yang ia lakukan dan rasakan selalu dianggap berlebihan.
Zion menarik napas, lalu menelan egonya.
“Kalau di antara kalian ada yang cukup pintar mencari jalan keluar, silakan saja.”
“Nah, ributnya selesai, kan?” Leon menarik diri dan berbalik. “Kalau kau tidak bisa bekerja sama, cobalah belajar. Kalau kesulitan, cobalah minta bantuan. Tidak ada yang akan menyalahkanmu karena meminta tolong, daripada mencoba membunuh orang yang jelas tidak berpengaruh apa-apa bagi pemilik tempat ini. Sejak awal mereka hanya menganggap kita aset, bukan orang.”
Ia berjalan mendekati Althea yang masih mengambang bersama Bella, lalu mendongak sambil mengulurkan kedua tangan.
“Lady, biarkan aku yang memegang Bella. Coba bantu perempuan di sana juga. Sepertinya dia sudah sekarat.”
Althea selama ini hanya mengamati dari udara dan menjaga jarak aman. Begitu Zion mulai tenang, napas yang tanpa sadar ia tahan akhirnya terlepas.
Ia menurunkan tongkat ke tanah.
“Kalau begitu, tolong, ya.”
Kondisi Bella sudah cukup stabil. Althea menyerahkannya kepada Leon, kemudian menyelimuti tubuh sendiri dengan cahaya. Ia menghirup napas dalam-dalam dan berusaha mempertahankan ketenangan.
Saat kewaspadaan Zion turun, Althea bergerak secepat cahaya.
Satu kedipan cukup untuk merebut Luxya dari gendongannya.
Althea membawa perempuan itu menjauh dari jangkauan orang lain, membaringkannya di atas puing yang datar, lalu memulai proses pemulihan yang sama seperti pada Bella.
“Bertahanlah,” bisiknya.
* * *
Empat kaki mekanik Lucerix berderit setiap kali menapak di aspal. Tubuhnya yang menjulang hampir tiga meter telah lebih dahulu menjauh dari asrama yang hancur. Tiga lengan mekanik di punggung berubah menjadi tempurung logam, membentuk perisai melengkung untuk menahan hujan puing.
Napasnya berat. Setiap tarikan terasa menyayat luka di bahu. Potongan pakaian yang digunakan untuk membendung pendarahan kini telah basah oleh darah.
Di antara gedung-gedung pencakar langit, Lucerix berhenti dan mendongak ke langit kelabu. Kota itu sunyi, seolah hanya dirinya yang masih hidup. Keheningan tersebut menenangkan sekaligus menjadi pengingat yang menyakitkan.
Sudah berapa lama berlalu?
Sensor di rongga mata kanannya menyala merah dan memindai radius terdekat. Tidak ada tanda kehidupan. Jejak Belze dan Cynthia telah menghilang.
Lucerix membuang napas. Bahunya turun, dan wajah yang biasanya datar berubah suram.
Apakah sudah terlambat untuk meminta maaf?
Darah yang terus mengalir melemahkan sendi-sendinya. Waktu yang dimiliki mungkin tidak banyak. Cakar logamnya menggores tembok setiap gedung yang dilewati, meninggalkan jejak panjang di sepanjang perburuan.
Adarra—nama yang pernah disebut mampu meretas Sistem Malver. Mungkin sosok itulah yang dicari Belze dan Cynthia.
Tiga lengan mekanik di punggung Lucerix memanas. Sinar radiasi ditembakkan ke fondasi gedung di depan. Bangunan tinggi itu ambruk seperti menara pasir, menumpahkan asap dan debu ke jalan.
Lucerix berdiri tegak di balik kehancuran tersebut.
Pada saat hampir bersamaan, Fushigi Mikado dimuntahkan keluar dari Sistem.
Begitu getaran ledakan menjalar ke kamarnya, naluri Mikado mendorong tubuhnya masuk ke jaringan digital untuk melarikan diri. Pikirannya masih sempat dipenuhi oleh perempuan aneh yang menyerahkan diri kepadanya, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas.
Sayangnya, sejumlah jalur telah mati akibat ledakan. Aksesnya terblokir dan tubuh fisiknya dilemparkan ke sebuah gedung asing tanpa persiapan.
“Wah—whoa!”
Mikado menghantam permukaan keras dan mengaduh. “Adudududuh...”
Suara cakar mekanik yang menggores dinding membuatnya berbalik. Ia memicingkan mata ke arah sosok di balik asap yang semakin jelas.
“Loh, orang aneh waktu pesta?” Mikado terkekeh. “Kita diapakan lagi, sih?”
Ia menoleh ke luar gedung. Hening. Kosong. Seolah tidak ada kehidupan lain selain mereka. Dipikir-pikir, suasananya cukup romantis juga.
“Yang lain mana? Mati?” tanyanya santai.
Lucerix menoleh cepat. Sensor di tubuhnya sama sekali tidak mendeteksi kemunculan anomali tersebut. Kecolongan itu membuat napasnya tercekat.
Cakar logam bergerak seketika, memojokkan Mikado ke dinding dan menekannya sampai permukaan di belakang retak.
Aura membunuh mencuat dari tubuh Lucerix. Ia mengingat kembali aula pesta. Zhigalkovich pernah menyebut pria vulgar itu sebagai Mikado. Nama Fushigi Mikado juga sempat muncul pada layar fasilitas, seolah sengaja ditinggalkan sebagai petunjuk.
“Sejak kapan kau berada di sini?”
Suara Lucerix berat dan penuh kecaman. Tidak ada ruang untuk gurauan. Meski terluka, keberadaannya tetap mengintimidasi. Ia tahu Mikado tidak sungguh-sungguh peduli apakah orang lain hidup atau mati.
Lucerix membandingkan pria itu dengan Leah yang pernah membocorkan motivasi pemberontakannya, lalu Cynthia dan Belze yang polanya masih dapat ditebak. Mikado berbeda. Ia acuh, larut dalam segala keadaan, dan sulit diprediksi.
“Kau yang melakukannya?”
Lucerix menuding kehancuran asrama, meskipun beberapa menit lalu ia sendiri merobohkan gedung seakan tindakan itu tidak berarti apa-apa.
Tubuh Mikado membusur sedikit untuk menahan tekanan pada dinding.
Sial. Harus berapa kali aku dibanting?
Orang di hadapannya bahkan tidak memberi kesempatan menjelaskan. Bukannya takut, Mikado justru menyeringai.
“Aahhnn... lebih kasar lagiihh...”
Ia terkekeh dan menelengkan kepala.
“Hey, hey. Fitnah saja kau ini. Kalau aku yang melakukannya, untuk apa aku masih tinggal di sini? Harusnya aku sudah kabur supaya mereka tidak menemukanku.”
Lucerix terpaku oleh kelancangan itu. Cengkeramannya sempat mengendur ketika Mikado malah mendesah menikmati rasa sakit. Ia kemudian mencengkeram lebih keras, seperti hendak meremukkan tulang-tulang pria tersebut.
“Apa tujuanmu?”
Lucerix menuntut alasan mengapa seseorang masih mampu tertawa di tengah kehancuran. Namun, sebelum Mikado menjawab, tubuhnya sendiri kembali menolak.
Batuk keras mematahkan tenaganya. Cengkeraman terlepas. Lucerix jatuh berlutut saat darah menyembur dari bibir. Tangannya menutup mulut untuk menahan erangan. Wajahnya memerah, urat-urat pada leher menonjol, dan air mata terpompa keluar tanpa bisa dicegah.
Serat logam di bawah kulit mulai menusuk paru-paru. Parasit yang merayap bersama augmentasi belum sempurna terus mengikis kesadarannya—bahkan tanpa perlu ia melukai diri sendiri. Seolah semesta telah menetapkan tempat hina ini sebagai kuburannya.
“Pergi.”
Perintah itu keluar bersama napas tersengal dan tubuh gemetar. Suaranya serak serta lirih—lebih menyerupai permintaan yang dipaksakan menjadi ancaman. Martabat Lucerix menolak belas kasihan. Ia membenci harus terlihat rapuh di depan orang asing.
“Hmm? Setelah dibanting malah diusir?” Mikado memasang gaya dramatis. “Tragis sekali nasibku.”
Ia masih tertawa, seakan kondisi Lucerix bukan urusannya.
“Ya sudah, kalau kau mau aku pergi. Padahal mungkin aku bisa menunjukkan jalan keluar atau pertolongan.”
Mikado berbalik. Perkataan itu hanya gertakan. Namun, jika menemukan layar yang menyala, ia mungkin dapat menggeledah kamera keamanan atau bagian lain dari Sistem. Tentu saja ia tidak akan mengatakannya kepada Lucerix.
“Aku tidak butuh,” kata Lucerix.
Ia menghapus darah dan liur dari sudut bibir, menyingkirkan bukti kelemahan. Lucerix duduk sambil menunggu sakit di dada mereda. Jalan keluar dan janji keselamatan tidak pernah menarik baginya. Semua itu terasa seperti pengkhianatan terhadap penderitaan yang sudah mengakar di dalam daging. Kehancuran telah menjadi bagian dari identitasnya.
Namun, keberadaan Belze menumbuhkan alasan egois untuk menunda ketiadaan. Koneksi itu mungkin sepihak, tetapi Lucerix masih ingin memastikan Belze memiliki kendali atas hidupnya—sesuatu yang tidak pernah ia miliki sendiri.
“Tunggu.”
Mikado menoleh.
Lucerix mengamatinya dari belakang dengan mata yang masih basah. Pertanyaan pria itu menunjukkan pola yang ia kenali dari Cynthia dan Belze: usaha bertahan dengan menumpang arus, pemberontakan halus demi mencari celah dari Sistem Malver. Insting seorang tahanan mungkin dapat dimanfaatkan.
“Cynthia Talia dan Belze. Kau akan membawaku kepada mereka.”
Lucerix berdiri kembali. Ketiga lengan mekanik di punggungnya menyala dan memanas, siap digunakan untuk melenyapkan sasaran.
“Atau aku tidak akan mengizinkanmu bicara sembarangan lagi untuk selamanya.”
Senyum iseng tetap melekat pada wajah Mikado.
“Hmm? Siapa itu?” Nama-nama tersebut terasa asing sekaligus tidak asing. “Kalau kau bisa kasih tahu mereka seperti apa, mungkin aku bisa bantu. Ah, tidak janji, sih.”
“Kau akan langsung tahu yang mana,” jawab Lucerix singkat.
Ia tertawa.
“Lagi pula, aku juga lupa. Kalaupun aku bisa kabur, kau belum tentu bisa ikut denganku. Ahahahaha!”
Mikado menemukan sebuah mesin akses yang masih hidup. Tangannya menyentuh permukaan alat itu dan tubuh fisiknya segera menghilang, tersedot ke dalam jaringan.
Beberapa saat kemudian, mesin tersebut membunyikan peringatan keras. Tanda kesalahan memenuhi layar. Mikado dimuntahkan dari pintu akses lain sekitar tiga puluh meter di belakang Lucerix.
“Aduh, aduh, aduh!” Ia mengusap tubuhnya. “Jadi Sistem di sini sudah diperbaiki, ya? Kukira karena gedung runtuh, malah akan lebih mudah...”
“Hanya itu yang bisa kaulakukan?” tanya Lucerix.
Kedua kakinya yang panjang dengan mudah mencapai lokasi Mikado terlempar. Ia mengernyit tidak puas. Ekspektasi yang dipertaruhkan pada pria itu tidak serendah hasil barusan.
Tatapan Lucerix kemudian beralih kepada gedung di samping. Bentuknya berbeda dari deretan bangunan tinggi lain. Pintu depan tampak dibuka secara paksa, dan sensor Lucerix menangkap jejak darah yang dikenalnya.
Ia melirik Mikado dengan curiga—memastikan apakah kegagalan barusan hanya pura-pura untuk menyembunyikan sesuatu. Ketiga lengan di punggung berderit, lalu memuntahkan gelombang radiasi ke pintu masuk. Sebuah lubang besar terbuka agar tubuh Lucerix dapat lewat dengan leluasa.
Ia masuk tanpa meminta Mikado mengikuti. Pilihan itu dibiarkan sepenuhnya kepada pria tersebut.
“Eemm... gimana, ya? Tehe!” Mikado terkekeh. “Kalau bisa begitu, kenapa tadi lagaknya seperti damsel in distress?”
Ia tetap menyusul. Siapa tahu ada sesuatu yang seru di dalam.
* * *
Beberapa puluh menit setelah ledakan, Cynthia dan Belze tiba di depan gedung karantina yang ditunjukkan oleh informasi Adarra.
Perjalanan sejauh kira-kira empat kilometer telah menguras tenaga mereka. Cynthia sempat mencabut pedang yang tertancap di perut wujud Primalis Belze. Dengan sangat hati-hati, ia menggunakan darahnya sendiri untuk menutup luka tanpa membiarkannya bercampur dengan darah Belze, lalu memadatkannya sampai pendarahan berhenti.
Semua itu ia lakukan karena Belze telah membawanya sejauh ini.
Setelah turun dari punggung monster tersebut, Cynthia mengelus tubuhnya sebagai ungkapan terima kasih.
“Terima kasih, Belze. Sekarang kau tidak perlu memaksakan diri lagi.”
Ia sebenarnya masih membutuhkan bantuan Belze, tetapi memasuki gedung dalam kondisi seperti itu akan terlalu berbahaya.
Belze kembali ke wujud Terra setelah menurunkan Cynthia. Napasnya terengah dan keringat disapu dengan lengan. Pedang memang telah dicabut dan pendarahan berhenti, tetapi seluruh otot masih menegang oleh rasa nyeri.
Ia bersandar pada sisi luar gedung, lalu perlahan merosot karena kehilangan tenaga. Ketika melihat Cynthia menunggu, Belze menggerakkan kepala ke arah pintu, menyuruhnya pergi lebih dahulu.
Mungkin ia akan menyusul setelah pulih—atau apabila Cynthia menemui bahaya di dalam. Itu pun jika waktu mereka masih cukup.
Dari pantulan jendela, Belze melihat hologram yang menampilkan perubahan pasangan. Namanya kini dipasangkan dengan Soraya, perempuan yang juga diklasifikasikan sebagai aset penting. Sistem rupanya tetap memaksakan rencananya berjalan, apa pun kehancuran yang baru terjadi.
Dua jam tersisa sebelum isolasi.
Cynthia melukai ujung jarinya. Darah yang keluar memadat menjadi duri, lalu berputar seperti mata bor dan menghantam pintu depan sampai terbuka.
Ia memasuki lorong dengan langkah santai. Sejak pertama terbangun di dunia ini, Cynthia telah menduga Malver tidak akan menaruh penjaga di sekitar barang-barang yang sudah dibelinya. Lorong demi lorong dilewati hingga ia menemukan sebuah ruangan tempat Adarra dikurung.
Kondisi pria itu menunjukkan perlakuan yang berbeda dari subjek lain. Ia duduk di lantai dengan punggung menghadap pintu, tubuh lebih kurus, rambut acak-acakan dan semakin panjang. Hanya seragam pasien tipis yang menutupi tubuhnya.
“Cukup menyedihkan bagimu karena tidak bisa menikmati pesta sampai akhir,” kata Cynthia.
Darah kembali membentuk duri berputar untuk menghancurkan bagian ruang yang mengurung Adarra.
“Cynthia, ya?” Adarra menyapanya seperti kenalan lama. “Kau butuh tiga puluh hari. Lama sekali.”
Tatapannya hanya singgah sesaat pada wajah Cynthia. Dalam beberapa detik, Adarra memindai debu dan pola percikan darah pada tubuh perempuan itu, lalu membaca jejak pertarungan jarak dekat serta napas yang belum sepenuhnya stabil.
“Kau mau menceritakan apa yang terjadi?”
Ia langsung membatalkan pertanyaan sebelum Cynthia menjawab.
“Tidak jadi. Merepotkan kalau kau menerobos ke sini hanya untuk melaporkan keadaan di luar.”
Adarra bangkit perlahan. “Aku hanya bisa memberi spekulasi terbatas. Waktu kalian sedikit. Pertanyaan spesifik apa yang kaupunya?”
“Setidaknya berterima kasihlah. Seorang perempuan bersusah payah menyelamatkan seorang pria itu cukup langka.”
Menurut Cynthia, keadaan tersebut layak diapresiasi. Biasanya kisah-kisah justru menempatkan pria sebagai penyelamat perempuan.
“Dua jam,” lanjutnya. “Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, tetapi yang paling penting: apa ada cara untuk menghancurkan rencana Malver?”
Semua aturan Malver merampas kebebasannya. Namun, Cynthia sadar tindakan kasar tidak akan cukup untuk menghadapi penculik yang mampu bepergian antarsemesta. Tidak ada akhir yang baik selama seluruh keputusan masih berada di tangan sosok itu.
“Dengan kekuatan kita sekarang?” Adarra menjawab tanpa jeda. “Nol.”
Ia mendorong tubuh sampai berdiri. Persendiannya kaku karena terlalu lama tidak aktif.
“Aku sudah menjalankan 1.328 simulasi pertempuran di kepala selama berada di sini. Semua variabel kekuatan kalian yang kuketahui sudah dipertimbangkan. Hasilnya selalu sama: kalian kalah.”
Adarra berjalan menuju dinding.
“Tapi pertanyaanmu bukan tentang pertempuran. Kau menanyakan rencananya, ya?”
Pada permukaan itu terdapat massa organik yang berdenyut—sesuatu yang hanya dapat dilihat Adarra dengan jelas.
“Aku menciptakan fragmen otak, kemudian menanamkannya pada setiap benda di sel ini. Kuberi mereka kemampuan berpikir, berharap mereka dapat mengumpulkan informasi untukku.”
Massa tersebut melayang ke telapak tangannya, lalu menyatu kembali melalui pelipis.
“Rencana besar Malver dinamakan Konvergensi Alami Terarah—K.A.T. Dia ingin kalian melakukannya sendiri secara alami. Rekayasa genetika langsung selalu gagal karena terlalu banyak penolakan. Kalian semua terlalu berbeda.”
Adarra menatap Cynthia.
“Kata kuncinya adalah ‘Terarah’. Malver mengarahkan—lebih tepatnya mendorong—nafsu kalian melalui stimulus di sekitar. Ia membentuk keadaan seolah semua itu berasal dari keinginan kalian sendiri. Sistem sudah mulai menggunakan paksaan secara terang-terangan di luar sana?”
Cynthia tidak segera menjawab. Adarra menutup mata sejenak ketika seluruh informasi dari fragmen otak kembali menyatu.
“Ini terdengar seperti omong kosong, tetapi ada satu cara untuk mengalahkan sistem yang terarah. Perkenalkan diri kalian sebagai sosok yang tidak bisa diarahkan. Lakukan sesuatu yang murni berasal dari diri sendiri, tanpa dibentuk oleh stimulus lingkungan.”
Ia membuka mata.
“Satu-satunya cara agar pilihan kalian tidak dapat diarahkan Malver adalah memilih berdasarkan keinginan sendiri—sepenuhnya. Kalian mungkin punya nama yang lebih sederhana untuk itu.”
Adarra memberi jeda singkat.
“Cinta sejati.”
Belze melangkah masuk setelah berhasil memulihkan cukup tenaga untuk berjalan. Cynthia telah menjelaskan sebagian keadaan selama perjalanan, tetapi ia masih tidak menyangka ada seseorang lain di dunia itu—sosok yang sengaja diasingkan dari Sistem.
Jadi, inikah Adarra yang terus disebut-sebut?
Penjelasan tentang dorongan untuk membentuk hubungan menarik perhatiannya. Namun, solusi yang ditawarkan justru membuat kening Belze semakin berkerut.
Cinta sejati? Hal sesederhana itu?
“Obsesi bukan cinta sejati,” gumam Adarra, seakan membaca arah pikiran mereka. “Itu tidak sederhana. Ikatan yang lahir dari persinggahan sementara tidak cukup untuk disebut sejati.”
Sebelum Cynthia merespons, suara logam menggema dari lorong.
Lucerix mempercepat langkah ketika sensornya mendeteksi tiga kehidupan di salah satu ruangan. Wajahnya sempat diliputi kelegaan saat menemukan Belze yang terluka, Cynthia, dan seorang sosok asing.
Lalu rasa sakit kembali menghujam.
Dunia di sekeliling Lucerix mendadak buram dan senyap. Sebagai reaksi defensif untuk mematikan saraf, tulang-tulang logam tajam mencuat dan merobek dagingnya seperti duri. Tubuhnya yang menjulang kehilangan penopang.
Ia masih mencoba merentangkan tangan ke arah Belze.
“Syukurlah...” Napasnya menipis. “Kau baik-baik saja...”
Lucerix gagal membawa Belze pergi. Kini ia menerima perpisahan sebagai sisa terakhir dari sisi manusianya—menjauhkan Belze dari dirinya sendiri. Tubuhnya nyaris tidak bergerak, sementara kabel dan logam yang mengakar meliuk liar. Bahkan ungkapan yang tersimpan di lubuk hati tidak sempat keluar.
“Wah, ada banyak orang?” Mikado menelengkan kepala ketika mengikuti dari belakang.
Lucerix ambruk sebelum mencapai Belze.
“Whoa, whoa. Tuan Putri ternyata memang sakit-sakitan.”
Mikado menahan tubuhnya agar tidak langsung menghantam lantai, kemudian memandang orang-orang di ruangan.
“Yoo! Ini ada apa, sih?”
Belze spontan menegang. Ia menempatkan Cynthia dan Adarra di belakang, bersiap apabila Lucerix kembali menyerang. Dengan mempertahankan wujud Terra, ia masih dapat menggunakan Sigil.
Namun, kelopak matanya melebar ketika melihat Lucerix tidak menunjukkan agresi. Sosok itu tampak rapuh dan runtuh—kebalikan dari dirinya yang selama ini penuh kendali.
Kewaspadaan Belze perlahan turun. Ia membuka telapak tangan dan memusatkan energi.
“Open the seal.”
Sinar Sigil mekar di atas tangannya. Otot-otot menegang dengan daya tambahan dan tubuhnya memperoleh perlindungan dari serangan fisik maupun radiasi.
Belze mendekat, menepis kabel liar yang mencoba meraih, lalu menopang leher Lucerix dari belakang. Ia membantu Mikado menjaga tubuh pria itu agar tidak jatuh. Tenaganya cukup untuk membopong, tetapi gerakannya berhati-hati agar tidak memperparah luka.
Sebagian kekuatan dialirkan ke tubuh Lucerix, memberi daya tambahan supaya ia mampu bertahan lebih lama.
Belze tidak menyimpan dendam meski pernah diperlakukan buruk olehnya. Mungkin itu hanya bagian dari sisi naif yang tidak mampu membiarkan seseorang mati di depan mata. Mereka bahkan belum pernah benar-benar berbicara; Belze tidak pernah mengetahui alasan Lucerix melakukan semua hal tersebut.
Pertanyaan Mikado dibiarkan dijawab oleh Cynthia atau Adarra.
Adarra mendekat. Kabel serta implan logam Lucerix bergerak liar, menyerang apa pun di sekitarnya—termasuk tubuh inangnya sendiri.
“Ini bukan malfungsi biasa.”
Beberapa sulur tajam melesat ke arahnya. Adarra menunduk dan bergeser ke samping, menghindari semuanya dengan mudah. Begitu berada dalam jangkauan, ia menyentuh Lucerix.
Banjir informasi menerobos otaknya: amukan parasit yang kesadarannya telah menyatu dengan inang dan mesin. Tujuan parasit itu sederhana sekaligus ironis. Ia tidak diciptakan untuk memperkuat Lucerix, melainkan menghancurkannya perlahan dari dalam.
Adarra menarik tangannya.
“Aku bisa mematikannya,” katanya. “Tapi kerusakan pada sistem saraf pusat sudah permanen.”
Tatapannya menyapu tubuh Lucerix.
“Dia akan cacat total.”
Adarra berhenti sesaat.
“Atau mungkin... memang itu tujuan akhirnya.”
Ruangan mendadak lebih sunyi.
“Kalian tidak punya banyak waktu untuk memutuskan. Isolasi berikutnya mungkin merupakan tahap akhir Konvergensi Alami Terarah. Setelah itu, bagian ‘alami’-nya selesai.”
Ia memandang mereka satu per satu.
“Malver akan berhenti mengarahkan secara halus dan mulai memaksa. Semua ditentukan secara buatan—mungkin kembali pada rekayasa genetika. Artinya, kita akan dipisahkan secara permanen. Ini kesempatan terakhir untuk bertindak bersama.”
Keringat mengucur dari tubuh Lucerix. Tenggorokannya kering dan seluruh tubuh bergetar. Ia telah kehilangan kendali atas mesin maupun dagingnya sendiri.
Lucerix tidak menyangkal ejekan Mikado. Ketidakberdayaan itu merupakan kenyataan yang terlalu lama ia peluk.
Dahulu, hidupnya seolah berakhir di atas ranjang. Ia bahkan tidak mampu menggerakkan kursi roda sendiri. Dunia menyebut keadaan tersebut sebagai pendisiplinan—hukuman untuk seorang anak “cacat” yang dituduh membantai keluarganya dengan keji. Tidak ada yang meminta penjelasan dari sudut pandangnya. Mereka hanya ingin dirinya lenyap, dihapus, dan dipangkas dari kehidupan mereka.
Rehabilitasi hanyalah nama sopan untuk siksaan. Selang ditanam ke tubuhnya agar Lucerix tetap hidup cukup lama untuk terus menderita. Bahkan harapan untuk mati dirampas oleh orang-orang yang merasa memiliki hak atas tubuhnya. Kekerasan dan pelecehan ditelan dalam diam sampai dirinya berhenti mampu merasakan apa pun.
Ketika cukup dewasa, Lucerix menyadari bahwa ia dijadikan proyek eksperimen augmentasi. Mereka menyebut hasilnya keberhasilan, kebangkitan kembali, lalu memberinya gelar dan pujian. Mereka menyuruhnya menegakkan kepala seolah tubuh yang tidak lagi menjadi miliknya merupakan sesuatu yang patut dibanggakan.
Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Terkadang ia menggaruk kepala sampai kulitnya mengelupas, berharap dapat mengeluarkan penderitaan dari dalam daging.
Berapa banyak nyawa telah direnggutnya hanya untuk melampiaskan dendam? Kehampaan tetap menganga. Dunia tidak pernah sungguh-sungguh ingin menyelamatkannya. Mereka hanya ingin Lucerix takluk.
Pernyataan Adarra memiliki arti yang sangat jelas baginya. Hanya kematian yang mampu menawarkan kedamaian. Keputusan itu seharusnya telah final.
Namun, energi Belze terus mengalir dan memaksa jiwanya bertahan.
Lucerix menoleh. Tatapannya yang terluka menampung seribu pertanyaan yang tidak sanggup diucapkan sekaligus.
“Ini keinginanmu, Belze?”
Suaranya serak. Setiap suku kata seperti duri yang dipaksa melewati tenggorokan.
“Apa pun rencana tempat ini, kau ingin aku terus bertahan? Menanggung dosaku sampai akhir, ketika aku hanya ingin mencurangi takdir?”
Ia menarik napas dan menatap wajah Belze, seolah mencari sesuatu yang tidak mampu ia jelaskan.
“Kau... berbeda. Kau lebih daripada semua hal yang selama ini kutekankan tentang dirimu.”
Tubuh Lucerix bersandar pada sisi Belze tanpa ragu, seakan tempat itu satu-satunya bagian dunia yang terasa aman.
“Aku hanya mencari berbagai alasan agar kau tetap berada bersamaku.”
Pengakuan itu berat. Di balik harga diri yang dipertahankan, sisi paling rapuh dalam dirinya terlalu takut memejamkan mata. Kenangan lama kembali: tubuh kecil yang dikunci sang ibu di gudang pengap; tangisan, pukulan pada pintu, dan kedua tangan yang membiru; malam panjang dalam kegelapan yang tidak pernah dijawab siapa pun.
Bahu Lucerix gemetar. Isak yang selama ini dibendung akhirnya lolos.
Untuk pertama kalinya, ia melepaskan harga diri yang selalu dijadikan perisai.
“Selamatkan aku...”
Mikado melepaskan Lucerix ke pangkuan Belze. Adegan dramatis di antara kedua pria itu tidak banyak mengubah ekspresinya.
“Hmm, orang ini tahu banyak.” Ia menunjuk Adarra, lalu Lucerix. “Tunggu, jadi intinya dia sudah di batas kematian?”
Mikado tertawa.
“Sudah begitu, tapi kau masih minta dia bertahan? Wahahaha! Apa ini cinta terlarang? Sadis juga, masih disuruh hidup!”
Ia menepuk—lebih tepatnya memukul—bahu Belze.
“Mukamu datar, tapi dalam hati jahat juga, Bang. Seru!”
Mikado lalu beralih kepada Adarra.
“Rekayasa genetika? Mengarahkan secara halus? Oh, maksudmu selama ini ketika kami disuruh...”
Ia sengaja mengganti kelanjutan kalimat dengan bunyi panjang.
“...piiiip itu? Terus buat apa?”
Pertanyaan lain sudah menumpuk di kepalanya, tetapi situasi orang-orang di hadapan memang terlihat genting.
“Ah, aku banyak pertanyaan. Nanti saja, deh.”
Belze tidak terguncang oleh komentar Mikado. Lucerix bersandar lemah di sisinya dan terisak seperti anak kecil—begitu berbeda dari sosok penuh kendali yang selama ini dihadapinya.
Di balik tindakan Lucerix, Belze melihat bayangan masa lalunya sendiri: seseorang yang pernah merenggut nyawa tanpa niat, kemudian melarikan diri dari dosa yang tidak pernah benar-benar lenyap. Ia selalu terlambat menyadari ketika segala sesuatu telah hancur.
Kini kesempatan itu datang lagi. Untuk pertama kalinya, Belze tidak ingin lari.
Ia mungkin hanya “berpura-pura” menjadi makhluk berakal, tetapi akal yang dipertahankan sekarang menolak membiarkan siapa pun mati di hadapannya. Terra dan Primalis adalah dua wajah dari dirinya sendiri. Belze telah memilih hidup sambil membawa dosa yang tidak akan pernah ditebus.
Mungkin Mikado benar. Memaksa Lucerix bertahan agar Belze dapat menebus dirinya sendiri merupakan bentuk kekejaman.
“Teruskan hidup,” katanya akhirnya.
Suara pemuda pendiam itu keluar setelah lama tertahan.
“Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi kau sudah terlepas dari duniamu sebelumnya. Kau tidak perlu lagi menjadi ‘monster’ seperti yang mereka katakan.”
Perkataan itu ditujukan kepada Lucerix, tetapi Belze tahu ia sebenarnya sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
“Dan aku tidak membencimu.”
Ia menatap Lucerix tanpa dendam.
“Tubuh asliku memang seperti itu, tetapi aku bukan monster ideal yang kaubayangkan. Meski begitu, aku menghargai cara pandangmu.”
Baginya, semua seharusnya dapat diselesaikan melalui kata-kata—selama mereka masih memiliki waktu untuk berbicara.
Sesaat kemudian, aliran energi Belze terputus. Napasnya menjadi berat dan patah-patah. Wajahnya menunjukkan kelelahan akibat menyalurkan kekuatan kepada dua orang dalam waktu berdekatan. Ia hanya dapat mempertahankan daya hidup Lucerix untuk sementara.
Jika Adarra benar-benar mampu menghentikan kerusakan, sisanya harus diserahkan kepadanya.
Belze menatap Adarra. “Apa tidak ada cara lain untuk menghentikan perintah itu? Seperti... memalsukan Sistem?”
Cynthia sejak tadi diam sambil memegang dagu. Penjelasan mengenai cinta sejati terdengar ganjil. Perasaan itu berbeda dari suka, nafsu, kagum, maupun obsesi; tidak ada ukuran pasti yang dapat menjelaskannya.
Ia melihat kegigihan Lucerix dan sempat bertanya apakah itu cinta. Namun, obsesi terasa lebih tepat untuk menggambarkan tindakannya.
“Sepertinya ada banyak hal yang kaulewatkan dan tidak kausadari selama ini,” kata Cynthia kepada Mikado.
Mimpi, simulasi, dan tiga puluh hari dalam satu ruangan seharusnya cukup menjelaskan sebagian pertanyaan pria tersebut.
“Aku tidak memahami apa itu cinta sejati. Tapi kalau harus mengartikannya, mungkin kita cukup bekerja sama dengan satu tujuan untuk menggagalkan rencana Malver.”
Cynthia kemudian menanggapi Belze. Teknologi atau kekuatan Malver mampu membawa mereka menyeberangi semesta—sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Memalsukan Sistem kemungkinan jauh di luar jangkauan.
“Itu mustahil... kecuali ada seseorang dari pihak mereka yang berkhianat.”
“...Tapi aku tidak akan melakukan itu,” kata Adarra.
Ia mundur beberapa langkah, menegaskan penolakan untuk mematikan parasit Lucerix.
“Aku bilang ini kesempatan terakhir kita bertindak bersama. Kondisi cacat total akan menjadikannya beban. Siapa yang akan merawat dan memperbaiki sistem pendukung hidupnya? Malver?”
Adarra mendengus pelan.
“Dan benar, memalsukan Sistem mustahil. Ini bukan sekadar mesin dan listrik yang dapat diakali. Kita menghadapi pola pikir penguasa yang bisa melihat semua kemungkinan. Persoalannya berada pada kreativitas otak dan psikologi.”
Ia berbalik menuju pintu karantina yang telah hancur, kemudian berhenti di ambang.
“Cinta sejati yang kusebut sebagai satu-satunya solusi...” Adarra menoleh ke belakang. “Mungkin tidak dapat diciptakan dalam skenario yang sudah dirancang Malver di sini.”
Tatapannya seakan melihat hubungan di antara banyak variabel.
“Semuanya sudah terarah. Konvergensi Alami Terarah. Kalian bertemu, berinteraksi, dan membentuk ikatan, tetapi mungkin semua itu bukan kebetulan. Kalian hanya mengikuti jalur untuk bertemu orang-orang yang sudah ditentukan, bukan orang yang benar-benar acak.”
Adarra mengabsen mereka satu per satu dengan pandangan—Cynthia, Belze, Lucerix, lalu Mikado.
“Kalian memang diarahkan untuk bertemu.”
Ia mengepalkan tangan.
“Cara membalik rencana ‘terarah’ Malver adalah memilih sepenuhnya berdasarkan keinginan sendiri. Sedangkan di sini, kalian sudah ditetapkan untuk bersama siapa. Seharusnya cinta sejati tidak lahir dari lingkungan ini.”
Adarra memandang koridor di luar.
“Tindakan bersama yang mungkin dilakukan adalah menelusuri semesta ini dan mencari orang lain—mereka yang tidak diarahkan untuk kalian. Tetapi kalian tidak bisa membawa seseorang yang cacat total ke mana-mana dengan mudah. Apa itu cukup jelas?”
Mikado melihat Belze yang mulai kehilangan tenaga dan langsung menjauh sedikit.
“Whoa, kenapa kau? Kau benar-benar berusaha membuat dia tetap hidup?”
Ia terkekeh dan memasukkan kedua tangan ke saku.
“Yang tidak kuketahui? Aku tahu lumayan banyak, ya. Bedanya, aku melakukan apa yang kumau, kapan pun aku mau. Sejauh ini aku baik-baik saja.”
Mikado menunjuk Adarra.
“Ah, abang ini bisa mikir. Jadi maksud Sistem itu cara kerja tempat ini, ya?”
Ia menunjuk layar di luar gedung.
“Sampai sebelum ledakan, masuk ke sistem surveillance di sini mudah sekali. Setelah ledakan aku malah dilempar keluar seperti virus.”
Memang, keberadaannya di dalam jaringan tidak jauh berbeda dari virus.
Mikado menoleh kepada Lucerix.
“Hee, jadi kau mau meninggalkan dia? Hahaha! Sudah susah-susah dibuat hidup.”
Ia mengangkat bahu.
“Maaf, aku tidak begitu paham cinta sejati atau apa pun itu. Tapi kalau disuruh menentukan pilihan sendiri, aku jagonya.”
Belze mengangkat telapak tangan ke arah Mikado, menandakan dirinya baik-baik saja tanpa menegakkan tubuh. Namun, frustrasi tidak dapat disembunyikan dari wajahnya.
Ia tahu Adarra berhak menolak. Belze hanya dapat memberi bantuan sementara. Tetapi mengapa mereka harus meninggalkan seseorang tepat ketika semua dituntut bertindak bersama?
Penjelasan mengenai cinta sejati semakin dipikirkan justru semakin kabur. Jika itu satu-satunya solusi, bagaimana mungkin ia menemukannya di tempat yang tidak memberinya kesempatan mengenal siapa pun secara bebas? Bahkan sebelum cinta, di mana ia harus mencari seseorang yang tidak diarahkan Malver untuknya? Apakah mereka harus mengitari seluruh semesta?
Belze melirik Cynthia, menunggu keputusan perempuan vampir tersebut. Menemukan cinta atau tidak, mereka harus bergerak sebelum waktu di ruang karantina habis. Kesempatan berikutnya mungkin tidak akan pernah datang.
Tubuh Belze tiba-tiba mendistorsi seperti siaran yang kehilangan sinyal. Perubahannya sulit diikuti mata. Beberapa detik kemudian, ia kembali menjadi Primalis. Tidak ada tanda agresi, tetapi wujud tersebut membuatnya mustahil mengikuti percakapan seperti sebelumnya.
Cynthia memandang semua yang berkumpul di ruangan.
Benar. Hampir setiap kejadian terasa telah direncanakan: dirinya dipertemukan dengan Adarra dalam rute punishment, lalu dipancing untuk mencarinya; Belze muncul dalam mimpi dan kemudian menjadi penolong terbesarnya; Lucerix datang membawa konflik seolah menambah drama bagi seseorang yang sedang menonton.
Hanya Mikado yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Apakah pria itu bagian dari rencana lain, atau kebetulan yang lolos dari perkiraan Malver?
“Rencana yang seakan sempurna...” gumam Cynthia.
Apakah peserta lain juga menyadari takdir mereka sedang diatur? Apakah kondisi kritis Lucerix pun bagian dari rancangan? Ia tidak dapat memastikan.
“Jujur saja, saranmu mustahil untuk dilakukan sekarang,” katanya kepada Adarra. “Kita tetap diawasi, dan waktu sebelum isolasi terlalu singkat.”
Perjalanan serta segala kejadian sebelumnya telah memakan berjam-jam. Mungkin hanya sedikit waktu yang tersisa.
Cynthia kemudian menunjuk Adarra.
“Namun, mungkin kuncinya ada padamu. Kau diisolasi dari korban lain, dan sejauh yang kutahu, Malver tidak memberimu pasangan wajib seperti kami.”
Daftar yang Berubah Lagi
Pada layar-layar di gedung lain yang masih dapat berfungsi, data kompatibilitas kembali bergerak. Nama-nama berpindah, sejumlah pasangan menghilang, lalu susunan baru ditetapkan.
PASANGAN WAJIB — PEMBARUAN TERBARU
1. Leon Walker dan Soraya Marenishchka
2. Zion dan Xandara
3. Ken dan Luxya Parhelion
4. Cassius Pygmy dan Vespera Moonveil
5. Fushigi Mikado dan Romance Zhigalkovich
6. Axel Morfain dan Sonata Acerbi
7. Althea Grace Celestia dan Belladonna de Valois
8. Belze dan Cynthia Talia
CAROLINE DIKELUARKAN DARI DAFTAR.
LUCERIX VAYNE DIKELUARKAN DARI DAFTAR.
LEAH PERESHATI DIKELUARKAN DARI DAFTAR.
Sistem tidak memberikan alasan atas tiga nama yang disingkirkan. Tidak ada pula penjelasan apakah perubahan itu bersifat final selama hitung mundur belum mencapai akhir.
Waktu telah berlalu sejak Zion menjauh dari hadapan Xandara sambil membawa Luxya yang terluka. Kalimat terakhir yang ditinggalkannya adalah janji untuk melakukan apa pun demi mengubah takdir.
Kini Xandara berada di sebuah gedung yang masih berdiri, jauh dari pusat ledakan. Dentuman sempat terdengar dari kejauhan sebelum semuanya kembali hening.
Ia telah merasakan niat Zion dan mengetahui potensi kekuatannya. Namun, niat itu belum cukup menjadi pemicu baginya. Kebencian yang dipaksakan timbul dengan tergesa tidak akan bertahan lama. Tindakan Zion murni gegabah, didorong oleh keinginan yang terlalu kuat.
Tetapi apabila sesuatu terjadi kepada Zion dan Luxya, Xandara akan...
Pikiran itu tidak diselesaikan.
Suasana di sekitar kembali tenang. Ia tidak lagi mendeteksi eksistensi sekuat pria bermasker. Sesuatu di dalam tubuhnya bahkan terasa lebih longgar, seolah sebuah beban terlepas tanpa ia sadari.
Hologram Sistem muncul di dalam gedung. Xandara menatap daftar baru. Lucerix—pasangan yang sebelumnya ditetapkan untuknya—telah disingkirkan. Nama Zion kini berada tepat di samping namanya.
Sebelum pergi, pria itu berkata ingin menjadi satu-satunya pilihan Xandara.
Apakah ia benar-benar berhasil mengubah arah “takdir”?
“Apa ini sesuai dengan keinginanmu?”
Gumaman Xandara hampir tidak terdengar dalam kekosongan gedung.
* * *
Antares membuka mata di dalam sebuah pod.
Kesadarannya langsung bekerja. Ia menghafal material dinding, letak mesin, jarak antarbenda, serta setiap jalur yang mungkin digunakan untuk keluar. Cairan hangat merendam tubuhnya, sementara lusinan kabel tebal tertanam pada kulit dan menghantarkan listrik.
Perut kiri yang sebelumnya berlubang kini kembali utuh. Sistem telah memaksakan regenerasi.
Rencana daruratnya berhasil.
Ketika tergeletak di puing, Antares merekayasa keadaan “sekarat” agar kerusakannya terlihat lebih parah daripada kondisi sebenarnya. Melalui Water-Form, ia mengambil alih sistem peredaran darah sendiri, menyempitkan pembuluh di sekitar luka, menahan pendarahan, dan memastikan darah tetap terpompa ke bagian vital.
Pada saat bersamaan, ia menciptakan air dengan warna, kekentalan, serta suhu menyerupai darah. Genangan merah yang mengalir deras di bawah tubuhnya sebagian merupakan hasil kekuatannya sendiri.
Antares membuat dirinya terlihat seperti aset yang telah rusak agar tidak lagi diidentifikasi sebagai ancaman. Ia memang terluka berat, tetapi jumlah darah yang terlihat sengaja dibesar-besarkan. Yang tidak diperhitungkannya hanyalah kekuatan pengawas Malver yang mampu melukai secara instan.
Terlalu berbahaya untuk dihadapi langsung.
Antares menciptakan partikel di udara dan membengkokkan cahaya di seluruh ruangan. Citra di dalam pod terdistorsi. Bagi kamera dan siapa pun yang mengamati, tubuhnya masih tampak mengambang pada posisi semula dengan seluruh kabel terpasang.
Di balik ilusi itu, Antares melepaskan kabel satu per satu. Sambungan terlepas tanpa suara. Ia kemudian keluar dari kubus yang mengurungnya.
Ruangan di luar jauh lebih luas daripada perkiraannya. Barisan pod memancarkan cahaya biru. Di dalam masing-masing tabung, wujud manusia mengambang dan terhubung pada rangkaian kabel serupa.
Antares berjalan perlahan menuju panel kendali terdekat. Sebuah judul tertera jelas pada layar.
FASILITAS KALIBRASI ULANG
Ia membaca penjelasan fungsi ruang tersebut. Tempat ini dirancang untuk mengotak-atik para subjek. Pada bagian bawah terdapat uraian singkat mengenai sebuah prosedur baru.
PROGRAM PENGGABUNGAN PAKSA
Malver tidak merencanakan reproduksi bagi orang-orang di dalam ruangan itu. Ia menginginkan fusi.
Dua pod akan dipilih. Subjek di dalamnya dipecah menjadi bahan biologis mentah—daging, tulang, dan saraf—lalu dilebur serta ditenun kembali sebagai satu wujud baru. Dua kesadaran dan dua jiwa dipaksa hidup dalam satu tengkorak.
Penyatuan biologis tersebut dimaksudkan untuk menciptakan ras baru secara paksa. Jauh lebih murah daripada menuntun semua subjek menjalani reproduksi alami.
Antares menatap barisan tubuh yang tidak berdaya.
Mereka bukan lagi individu bebas yang dimanfaatkan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Mereka sendirilah yang akan dijadikan ciptaan baru itu.
Antares harus mencari jalan lain. Bukan melawan secara langsung.
Namun, apa yang dapat dilakukan dengan kemampuannya yang kecil?