Diablo Voids
Chapter 8

Air

12,422 words · ~57 min read

Pagi setelah pesta, para penghuni fasilitas terbangun di asrama masing-masing.

Hampir bersamaan, setiap layar di dalam gedung menyala. Suara yang belum pernah menyapa mereka secara langsung mengambil alih Sistem. Tidak ada lagi perbedaan tingkat informasi di antara para subjek. Semua orang kini diberi penjelasan yang sama.

Mereka disebut sebagai benih terbaik: potensi luar biasa yang tersia-siakan di semesta asal. Peran dan takdir mereka telah “dibeli” untuk tujuan yang dianggap mulia di Diablo Voids. Di balik pilihan kata yang terdengar seperti penghormatan, terdapat kesimpulan yang sulit disangkal. Keberadaan mereka di rumah telah ditiadakan. Tidak ada tempat yang menunggu kepulangan mereka. Diablo Voids kini menjadi satu-satunya realitas yang tersisa.

Suara itu kemudian menyebut Proyek Keabadian—upaya menciptakan ras baru yang akan menjadi warisan para subjek.

Sebagai bentuk penghormatan, Sistem memberikan sebuah hadiah. Kilas balik yang selama ini samar menerobos kesadaran mereka: potongan kejadian yang menjelaskan mengapa masing-masing telah dilupakan, dianggap tidak penting, atau dihapus dari semesta asal. Ingatan itu berbeda bagi setiap orang, tetapi penegasan dari suara tersebut sama bagi semuanya.

Mereka tidak lagi memiliki harapan di dunia lama.

Setelah menyamakan pemahaman seluruh subjek, Sistem mengumumkan fase berikutnya. Inilah tahap yang disebut sebagai tahap sesungguhnya. Pada layar muncul daftar pasangan berdasarkan data kompatibilitas tertinggi—data yang masih mungkin berubah selama jeda berlangsung, tetapi akan menjadi wajib dan tidak dapat diganti begitu waktu habis.

PASANGAN WAJIB

1. Xandara dan Antares

2. Luxya Parhelion dan Cassius Pygmy

3. Althea Grace Celestia dan Caroline Astrarea

4. Ken dan Vespera

5. Fushigi Mikado dan Belladonna de Valois

6. Leon Walker dan Sonata Acerbi

7. Belze dan Romance Zhigalkovich

8. Axel Morfain dan Cynthia Talia

9. Soraya Marenishchka dan Lucerix Vayne

10. Zion dan Leah Pereshati

 

Seperempat hari diberikan untuk persiapan—enam jam terakhir sebelum kebebasan mereka kembali direnggut. Setelah itu, masing-masing akan dikunci bersama pasangan yang telah ditetapkan di sebuah institusi yang lebih privat untuk waktu yang sangat lama.

Enam jam tersebut menjadi kesempatan terakhir untuk bergerak tanpa pasangan wajib, memilih siapa yang hendak ditemui, atau melakukan sesuatu sebelum isolasi dimulai.

Di salah satu kamar, Fushigi Mikado hanya menggoyangkan kaki sambil menatap layar.

“Hmmmm...”

Hadiah yang diberikan kepadanya adalah kenyataan bahwa ia telah dihapus dari dunia asal—dunia luas tempat dirinya dahulu dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah, dari satu perangkat ke perangkat lain.

“Tapi itu berarti secara gak sadar aku memang ‘gak nyata’, gak sih? Eh? Bukan, ya? Buahahaha!”

Tawanya pecah keras. Ah, sudahlah. Terakhir kali yang ia ingat, polisi memanggilnya. Bukankah justru bagus apabila dunia melupakannya?

“Aah, bosen gila.”

Ia agak berharap Luxya, gadis kaya raya yang pernah menemaninya, berada di sana. Zhigalkovich pun tidak masalah; setidaknya Mikado tidak akan mati bosan.

“Belladonna ini kayak nama orang terkenal. Jangan-jangan memang mantan artis atau sultan lagi?” Mikado terkekeh. “Aah, nasibku gak seburuk itu rupanya.”

Ia turun dari ranjang dan mengangkat bahu.

“Ini ‘asrama’, kan? Dan gak ada larangan aku gak boleh ke mana-mana.”

Dengan santai, Mikado meninggalkan kamarnya dan mulai menjelajahi koridor.

 

* * *

 

Lucerix menatap layar dengan pandangan kosong ketika ingatan yang tadinya buram berubah semakin jelas.

Ia terseret kembali ke penjara anak-anak, pada malam-malam panjang di sebuah institusi dengan kursi roda manual, dan rangkaian eksperimen yang memakan korban. Situasinya dahulu tidak jauh berbeda dari yang ia jalani sekarang: menjadi bagian proyek eksperimen yang disebut mulia oleh orang-orang yang tidak menanggung akibatnya.

Tangannya yang kurus terangkat. Gangguan makan yang tidak pernah benar-benar hilang merupakan sisa trauma ketika ia menyadari sebagian tubuhnya tidak dapat digerakkan. Keenam lengan di punggungnya bukan sekadar augmentasi yang dirancang khusus. Benda-benda itu terasa seperti parasit yang mengikis empati dan memintal agresi setiap kali tubuhnya menolak keberadaan mereka.

Jika ia diciptakan untuk mengeliminasi dan dianggap berhasil, mengapa kemudian ia dibuang ke tempat ini?

Wajah-wajah penuh teror, laboratorium yang terbakar, darah yang menodai tangannya, janji manis yang berakhir sebagai pengkhianatan—semuanya kembali tanpa diminta. Mereka yang bertindak karena ambisi harus membayar dosanya. Pada saat itu juga, Lucerix memutuskan kutukan tersebut akan berhenti pada dirinya. Tidak akan ada keturunan yang meneruskannya.

Lengan-lengan logamnya memanas lalu berubah menjadi moncong meriam. Gelombang radiasi dimuntahkan ke arah layar dan dinding di belakangnya. Ledakan energi merobek struktur kamar, meninggalkan lubang menganga, asap hangus, dan bau listrik terbakar.

Leah refleks menutupi wajah. Surainya diterpa angin kuat, sedangkan debu serta serpihan beterbangan di sekelilingnya. Ketika ia kembali membuka mata, Lucerix telah berdiri di tepi reruntuhan.

“Kenapa kita tidak pergi menyapa pasangan kita?” Pupil Lucerix menyempit. “Aku tidak sabar.”

Tanpa menunggu jawaban, lengan-lengan mekaniknya merayap pada dinding dan membawa tubuhnya keluar melalui lubang yang baru saja dibuat.

“Orang gila.”

Leah menurunkan kedua tangannya. Ia tidak sepenuhnya menganggap tindakan agresif itu salah. Apabila disebut pemberontakan, setidaknya Lucerix telah mengambil langkah nyata. Namun, menghadapi seseorang yang setiap saat dapat mengubah ruangan menjadi puing bukan perkara sederhana.

Leah segera menyusul dengan berlari kecil.

“Apa kau mau menyapa pasangan kita dengan cara seperti ini?”

Lucerix terus berjalan. Leah mempercepat langkah, kemudian menangkap pergelangan tangannya.

“...Tunggu. Kau mau menyapa atau membunuh mereka?”

Lucerix menepis genggaman itu tanpa memperlambat langkah. Dari salah satu kamar terdengar raungan yang familier. Ia langsung membuka pintu yang tidak memiliki kunci, lalu menggunakan empat lengan logam untuk merobek bagian dinding di sekitarnya agar tubuhnya dapat menerobos masuk.

Namun, sebelum ia tiba di sana, kamar tersebut telah lebih dahulu berubah menjadi kekacauan.

Perlengkapan dasar berserakan. Kerajinan keramik yang dibuat Belze pecah berkeping-keping. Duri-duri menjalar di ruangan yang remang, sementara sosok Primalis berkepala tengkorak kerbau mengibaskan ekor dan menghancurkan figur kecil terakhir yang masih utuh.

Ingatan Belze datang sebagai luapan yang tidak dapat ditahan. Ia pernah hidup seorang diri, berpindah-pindah tanpa tempat bernaung tetap. Kerajinan keramik menjadi alat penyambung hidup sampai suatu hari ia melihat monster pada pantulan cermin—lalu menjadi monster itu sendiri.

Ia telah menghancurkan sekelilingnya dan menyebabkan korban jiwa. Setelah itu, Belze melarikan diri ke dalam kegelapan dan kesendirian. Tidak ada yang mengingat dirinya sebagai Terra, dan tidak ada pula yang menyimpan namanya sebagai bencana.

Panik, takut, serta kebingungan bercampur menjadi satu. Belze meraung, seolah seluruh masa lalu kembali hidup di dalam tubuhnya.

Dari kamar sebelah, irama biola terdengar.

Cynthia tidak terpengaruh oleh pengumuman seperti kebanyakan penghuni lain. Ia telah mengetahui lebih dahulu sebagian informasi mengenai tujuan penculikan mereka. Masa lalu kini hanya ia anggap sebagai hiburan yang tidak layak menyeretnya mundur. Melangkah maju merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan.

Sambil memainkan biola, ia memasuki kamar Belze. Duri-duri bereaksi seakan hendak menyambar, tetapi langkah Cynthia tidak melambat.

“Kau pasti takut.”

Ia menghentikan permainan, melukai tangan kirinya, lalu membiarkan darah mengalir. Untaian merah itu bergerak menuju kepala Belze dan membelainya dengan halus.

“Tenanglah. Tak ada yang perlu ditakutkan. Itu hanyalah masa lalu.”

Cynthia hanya menebak apa yang sedang dialami Belze, tetapi ia tahu pria itu juga baru saja dipaksa mengingat sesuatu yang selama ini terkubur.

Belze meraung keras seolah tidak mengenal siapa pun di hadapannya. Namun, ketika darah Cynthia menyentuh sisi terlemahnya, otot-ototnya perlahan melemas. Suara perempuan itu terdengar sayup, menuntun detak jantungnya kembali stabil. Duri-duri menyusut, ekornya menghilang ke dalam kulit, dan kedua tangan yang semula berupa belulang kembali menjadi jemari pucat.

Dalam bentuk Terra, Belze mencengkeram kedua bahu Cynthia agar tidak jatuh. Napas berat keluar dari mulutnya. Bibirnya bergerak membentuk dua kata tanpa suara.

Terima kasih.

Sesudah itu, ia memandang Cynthia dengan heran. Mengapa perempuan itu masih berada di sana, bukannya mempersiapkan diri untuk menemui pasangan yang telah ditentukan?

Cynthia memastikan kondisi Belze benar-benar stabil sebelum menghentikan belaiannya.

“Kau pasti akan semakin menderita bila tetap di sini.”

Senyum muncul di wajahnya, tetapi pandangannya seakan tertuju pada sesuatu yang jauh dari ruangan tersebut.

“Untuk mengatasi hal itu, aku perlu bantuanmu menemukan seseorang. Adarra.”

Nama itu merujuk pada seseorang yang memiliki banyak informasi, kecerdasan tinggi, dan sama-sama terkekang di Diablo Voids.

“Apa kau mau membantuku mencarinya?”

Saat nama Adarra disebut, sesuatu pada dinding dekat pintu kamar Cynthia aktif. Sinapsis yang sebelumnya tertidur—ditanam oleh Adarra—menangkap gelombang suara tersebut. Informasi mentah menerobos kesadaran Cynthia: dinding putih menyilaukan, kasur logam, bau antiseptik, lalu sebuah kompas yang menunjuk ke utara.

Empat kilometer. Gedung lain. Ruang Karantina.

Dalam sekejap, Cynthia mengetahui letak Adarra.

Belze masih mencurigai nama asing itu, tetapi sorot mata Cynthia menunjukkan keyakinan. Di dunia yang tidak dikenalnya, perempuan tersebut merupakan salah satu dari sedikit orang yang dapat ia percayai. Daripada menunggu enam jam tanpa kepastian, ia akhirnya mengangguk.

Tangannya menepuk pundak Cynthia.

“Kupercayakan padamu.”

Beberapa menit kemudian, Belze kembali berubah menjadi Primalis. Kali ini gerakannya jauh lebih tenang dan terkendali. Duri melingkari pinggang Cynthia, mengangkatnya ke atas punggung. Dalam wujud itu, Belze dapat membawa mereka bergerak lebih cepat serta menghadapi ancaman yang mungkin menunggu di luar.

Ketika itulah dinding kamar terkoyak.

Puing beterbangan saat Lucerix menerobos masuk, disusul Leah beberapa langkah di belakangnya. Sudut bibir Lucerix terangkat.

“Ketemu.”

Pandangannya jatuh pada Belze yang kini lebih stabil dan lebih terkendali daripada selama tiga puluh hari di ruang reward. Ingatan mengenai setiap momen yang mereka lewati menyeruak bersamaan.

“Kita bertemu lagi, Talia... Belze.” Lucerix mengulurkan tangan seakan menyambut mereka, meski jelas dirinya tamu yang tidak diundang. Ia melirik Leah. “Kalian pasti sudah mengenalnya. Pereshati juga sudah memberitahuku semua yang terjadi...”

Leah belum sempat menanggapi ketika salah satu tangan mekanik Lucerix melesat dan menghantam Cynthia hingga tubuhnya terhempas ke dinding. Biola yang terlepas segera diraih Lucerix dan disangkutkan di bahu.

Irama bertempo cepat memenuhi ruangan. Tubuh Lucerix berputar mengitari Belze, menyibak kebohongan lama: bahwa dirinya tidak memahami kualitas musik, bahwa ia tidak bisa berdansa, dan bahwa ia merupakan pria yang menepati janji. Lengan-lengan logamnya bergerak luwes seolah tidak memiliki tulang.

Ia berhenti di hadapan Belze, menyayat ibu jari pada senar, lalu menjatuhkan biola. Darah segar dilumurkan ke dahi tengkorak kerbau itu hingga mengalir ke moncong—ejekan yang sengaja meniru tindakan Cynthia.

“Apa kau sudah melupakan jati dirimu, Belze? Apa rasa aman sementara seperti ini yang kau cari? Apa kau tak pernah merasa tempat ini terlalu sesak untuk menjadi kandangmu?”

Lucerix mengikis jarak di antara wajah mereka.

“Neraka sudah menanti kita kembali.”

Ia mengecup kepala Belze. Pada saat yang sama, bilah dari lengan mekaniknya menembus bahu Belze dan tubuhnya sendiri. Tusukan itu meleset dari bagian vital, tetapi cukup membuat Lucerix terbatuk darah.

“...Apa kau begitu membenciku, Belze?”

Ledakan kemunculannya serta serangan kepada Cynthia membuat Belze kembali berada di ambang kehilangan kendali. Gesekan biola yang dimainkan sembarangan memutus fokusnya. Raungan liar keluar dari tenggorokan, sedangkan darah menetes dari tengkoraknya.

Bisikan-bisikan Lucerix menyesakkan dada.

Beda.

Kau tidak bisa menjadi sepertinya.

Pikiran Belze terombang-ambing, kesulitan membedakan kawan dan lawan. Baru saja Cynthia membuatnya stabil; kini Lucerix datang untuk meruntuhkan semuanya.

Peduli setan.

Kebetulan setelah ini aku memang ada urusan denganmu.

Duri-durinya menebal lalu melilit leher Lucerix. Belze mendorong bilah yang menembus bahunya semakin dalam, sekalipun tindakan itu juga memperparah lukanya sendiri. Ia bangkit dengan dua kaki, menjulang di atas Lucerix yang masih tergantung pada senjatanya.

Kau menginginkanku, sialan?

Sekarang kau mendapatkannya.

Moncong Belze menancap pada bahu Lucerix. Kedua tangannya mencengkeram dua lengan logam dan mematahkannya sampai ke pangkal seperti ranting.

Lucerix justru tersenyum lebar. Rasa sakit sudah terlalu akrab baginya. Lengan-lengan yang tersisa merangkul tubuh Belze agar mereka tetap menyatu, sementara tusukan di antara keduanya semakin dalam.

Di sisi lain, Cynthia bangkit. Darah dari luka di tangannya menyelimuti tubuh, lalu mengubahnya menjadi sosok monster berwarna merah—wujud yang melambangkan kekuatannya sekaligus membawa risiko dirinya jatuh menjadi Carians sepenuhnya.

“Sepertinya aku mendapat gambaran mengenai tiga puluh hari yang kalian jalani di ruang reward itu,” katanya dengan napas terkendali. “Namun, kali ini akan kuganggu, karena aku membutuhkan Belze.”

Darah memadat dan melilit tubuh Lucerix. Dengan satu gerakan tangan, Cynthia menariknya dari Belze lalu melemparkannya menembus beberapa dinding sampai keluar dari gedung.

Ia kembali ke wujud manusia dengan napas terengah-engah. Tangannya menyentuh punggung Belze.

“Walaupun aku tahu kau kesakitan, kita tak punya banyak waktu.”

Belze hampir lupa tujuan awal mereka. Dengan bilah yang masih menembus pundaknya, ia berlari menggunakan empat kaki dan membawa Cynthia menjauh. Setiap langkah meninggalkan tetesan darah.

Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Lucerix—tentang persamaan dan perbedaan mereka, tentang boneka keramik yang ingin ia berikan, karya tidak sempurna yang justru membuatnya sempurna, serta hal-hal yang perlu diketahui Lucerix.

Namun, belum sekarang.

Lucerix terhempas melalui jendela. Selama sesaat, ia menatap langit biru yang mirip dengan langit dunianya dan merasakan angin menerpa tubuh. Lengan-lengan yang tersisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Ia masuk kembali ke kamar yang telah kosong. Belze dan Cynthia pergi. Hanya Leah serta reruntuhan yang tertinggal. Lucerix terhuyung dan roboh di lantai, tergenang darah sendiri. Pot-pot bunga, susunan keramik, serta sisa suasana domestik membuatnya iri. Mereka telah bekerja sama menyingkirkannya. Ia tidak pernah melihat Belze dalam kesadaran penuh melindungi seseorang seperti itu.

Siapa sebenarnya yang monster sekarang?

Lengan-lengan yang tersisa tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Logam baru tumbuh seperti akar dari pangkal yang patah, merobek setiap serat kewarasan. Bersamaan dengan itu, kedua kaki lumpuhnya terputus. Tubuhnya selalu memilih jalan terburuk untuk bertahan.

Ketika Lucerix kembali berdiri, wujudnya semakin jauh dari manusia. Kaki-kaki logam menggores ubin dan menghasilkan gesekan tajam. Ia memungut boneka beruang usang miliknya, menarik sisa kedua kaki yang hampir putus, lalu melirik kamera pengawas.

Setelah itu, ia bergerak menyusul Belze dan Cynthia. Darah menandai jejaknya.

 

* * *

 

Vespera menatap daftar pasangan dengan terkejut. Rencana pembuahan ternyata belum berakhir. Ketika Cassius muncul di ambang pintu kamarnya, telinga kudanya bergerak-gerak.

“Rupanya kita bertemu kembali,” kata Vespera.

Apakah pertemuan itu takdir, atau sekadar akal-akalan Sistem?

Cassius sendiri masih mencoba menampung seluruh informasi yang baru diterimanya.

Beda dunia? Diculik hanya untuk reproduksi?

Ia terpaku selama beberapa menit. Hanya satu bagian yang tidak benar-benar mengejutkannya: dianggap tidak ada di dunianya. Hampir seluruh hidup Cassius dihabiskan berdua dengan sang kakek, kecuali ketika ia berpatroli pada malam hari di luar wilayah sukunya.

Dengan pedang yang selalu dibawa, ia meninggalkan kamar dan berjalan melalui lorong. Pikirannya tertuju pada gadis yang pernah ia jumpai. Ketika mengingat telinga Vespera, satu kesadaran terlambat melintas.

Jadi itu bukan gaya rambut.

Cassius mengetuk lalu membuka pintu kamarnya. Vespera seakan sudah memperkirakan kedatangannya dan langsung menyapa.

“Iya, lama tak jumpa.”

Gadis itu tampak cukup tenang menghadapi keadaan, tetapi Cassius tahu pihak perempuan akan menanggung beban terbesar dari rencana tersebut.

“...Apa kau tak masalah dengan ini?”

“Sebenarnya, saya merasa bingung.”

Vespera memang masih memikirkan banyak hal: kejadian di ruangan sebelumnya, orang-orang yang berhubungan intim di hadapannya, serta cara keluar dari tempat tersebut.

“Tapi... entah mengapa saya berpikir mau keluar dari tempat ini.”

Ia terdiam, kemudian menambahkan dengan sungguh-sungguh,

“Tapi kalau ada kopi juga tak masalah.”

Keinginannya terbelah antara kebebasan dan secangkir kopi—yang, sejauh ini, tidak juga ia dapatkan.

“Kalau begitu, kenapa tidak mencoba keluar?”

Cassius menunjuk pintu di belakangnya dengan ibu jari. Yang ia maksud bukan sekadar pergi ke koridor, melainkan meninggalkan gedung tersebut.

“Jujur saja, aku juga tak nyaman dengan semua ini...”

Ia teringat pada dua orang yang terus menguji kewarasannya selama tiga puluh hari terakhir. Kemudian beberapa guncangan merambat melalui bangunan. Cassius tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kemungkinan ada orang lain yang juga berusaha kabur.

“Kalau mau, ikut aku. Aku akan membantumu keluar.”

Ia melangkah meninggalkan kamar Vespera dengan satu tangan pada gagang katana, bersiap menghadapi apa pun yang menunggu di luar.

 

 

* * *

 

Leon tetap duduk di tepi ranjang setelah layar padam.

Jadi, apa pun yang mereka lakukan untuk mengikuti arus agar dapat pulang ternyata tidak berguna. Kilas balik yang dikembalikan Sistem memang samar, tetapi gambaran besarnya cukup jelas. Ia tidak dibawa ke Diablo Voids sebelum upacara penerimaan anggota militer. Ia memang pernah menjadi bagian dari kemiliteran.

Kemudian Leon dianggap tewas—ia tidak tahu karena apa. Mati. Selama ini ia hidup sebagai bayang-bayang, sedikit demi sedikit dilupakan. Ingatan terakhirnya menampilkan sebuah makam tanpa jasad.

Makamnya sendiri.

Tujuan hidupnya dahulu adalah mencari jejak sang kakak, atau setidaknya menemukan jasadnya apabila orang itu sudah meninggal. Ia bertahan demi mengakhiri ketidakpastian dan kebencian kepada musuh yang tidak terlihat.

Sekarang seluruh usaha di dunia lama tidak lagi berarti. Tujuan yang membuatnya bertahan hidup sudah tiada.

Jadi, buat apa aku tetap hidup?

Lalu sekelebat ingatan mengulang kalimat yang pernah ia ucapkan di ruang intim.

Ah, ya. Masih ada satu.

Leon bangkit dan meninggalkan kamarnya. Asrama tersebut terasa lebih familier daripada tempat dalam ingatan yang pernah ia sebut rumah. Berbeda dari Dunia Mimpi, kamar tidur mereka kini terpisah.

Ia berhenti di depan kamar Soraya dan mengetuk.

“Soraya? Aku masuk, ya.”

Setelah memperoleh izin, Leon membuka pintu. Senyum tipis tersungging di wajahnya.

“Dalam waktu yang diberikan ini, apa kau berencana mencari pasangan yang ditunjukkan lewat pengumuman tadi?”

Jawaban Soraya mengenai pasangan barunya terdengar cukup dingin. Ia juga menyinggung Bella, sehingga Leon segera meluruskan maksudnya.

“Bukan. Bella hanya kenalan yang sempat kutemui di Dunia Simulasi.”

Ia sendiri tidak mengenal Sonata, gadis yang dipasangkan dengannya. Saat pesta, Leon hanya bertemu Soraya dan Bella—selain pria berpakaian tradisional yang sibuk makan.

Tanpa terlihat malu, Leon naik ke atas kasur Soraya, duduk di belakangnya, lalu mengunci tubuh gadis itu dalam pelukan.

“Aku juga tidak kenal siapa Sonata dan tidak tahu bagaimana rupanya. Rasanya sedih kalau kita akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana kalau enam jam yang tersisa ini kita habiskan bersama?”

Ia tidak tahu bagaimana pengelola tempat tersebut akan memaksanya hidup bersama orang asing. Untuk sekarang, Leon setidaknya ingin mencegah Soraya pergi.

Soraya tidak bereaksi banyak ketika Leon naik ke ranjang. Ia hanya tidak menduga pelukan itu akan datang begitu tiba-tiba. Namun, ia tidak menolak. Mereka telah menghabiskan tiga puluh hari dalam kamar yang sama.

Ingatan terakhir sebelum Soraya terbangun di dunia tersebut juga kembali: bunyi detak jantung yang masih bergerak—detak yang ia kenal. Kehadiran Leon terasa menenangkan.

“Kau tidak mau mencarinya? Pasanganmu, maksudku...”

Soraya memiringkan kepala dan meraih salah satu telapak tangan yang melingkari tubuhnya.

“Mungkin dia baik? Kita bisa menjadi teman, kan?”

Leon menautkan jemari mereka. Pikiran yang kacau setelah mengetahui dirinya kehilangan segala sesuatu perlahan mereda. Ia membenamkan wajah pada bahu Soraya, menghirup aromanya dan merasakan sentuhannya untuk memastikan gadis itu benar-benar nyata.

Ia bersyukur ruangan tersebut tidak lagi dipenuhi aroma yang merangsang. Untuk sementara, kontak fisik seperti itu sudah cukup.

“Baik di tempat semacam ini relatif.”

Mereka semua memang korban, jadi mungkin saja dapat berteman. Teman tapi masuk.

“Mengingat seluruh upaya mereka sejauh ini, akhirnya kita pasti akan bertemu dengan pasangan masing-masing. Jadi, buat apa repot-repot mencarinya? Aku masih ingin bersamamu. Soal itu pikirkan nanti saja...”

Suara Leon terdengar lebih manja. Pelukannya mengerat, seakan tidak rela melepaskan Soraya. Ia tidak pernah mendengar nama Lucerix dan khawatir orang tersebut tidak akan memperlakukan Soraya dengan baik.

Dari pengumuman tadi, pasangan kali ini terdengar akan bersifat permanen. Leon ingin menepati janjinya kepada Soraya untuk bertanggung jawab, bukan justru hidup bertahun-tahun bersama gadis asing seperti pasangan suami istri.

Soraya menarik napas pelan. Alis Leon menekuk dan pelukannya terasa semakin menyesakkan.

“Aku hanya ingin percaya ada dunia tempat orang baik lebih banyak.”

Tangannya yang bebas berpindah ke kepala Leon dan mengusap rambutnya. Gerakan itu mengingatkan Soraya pada sang nenek, yang dahulu menghiburnya ketika sedih, tersesat, atau hampir menyerah.

“Nenekku pernah bilang, kalau kita terus berpikir semua yang datang adalah hal buruk, kita bisa menjadi hal buruk itu sendiri.”

Ia terus mengelus rambut Leon dengan lembut, seperti menenangkan anak kecil.

“Lagi pula...”

Soraya melepaskan tangan mereka, kemudian memutar tubuh agar dapat menghadap Leon. Kedua telapak tangannya menggenggam pipi pemuda itu.

“Kita sekarang sudah menjadi teman, kan? Tidak ada salahnya menambah teman lagi nanti.”

Leon membeku.

Teman.

Memang tidak ada hubungan spesifik di antara mereka, tetapi kata tersebut tetap menusuk.

“Tapi... setelah ini kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Dari instruksinya, kali ini kita akan ditempatkan bersama orang lain untuk waktu yang lama. Aku tidak mau menghabiskan enam jam terakhir ini dengan orang lain.”

Masa bodoh dengan menambah teman. Leon hanya ingin memenuhi janjinya dan tetap bersama Soraya.

Lalu tubuhnya bergetar saat satu kemungkinan mengerikan muncul.

“Apa... apa aku melakukan kesalahan? Soraya jadi tidak mau bersamaku lagi...?”

Soraya mengamati wajah Leon dengan saksama. Pemuda itu benar-benar seperti masuk dalam mode getar. Padahal mereka memang teman—setidaknya menurut pemahamannya.

“Mana mungkin. Leon kan teman pertamaku di sini.”

Ia mengelus rambut Leon lebih lembut. Dilihat seperti itu, pemuda tersebut menyerupai anak kecil, atau anjing Golden Retriever milik tetangga yang memasang wajah memelas ketika seseorang berhenti mengusap perutnya.

Gemas.

“Jangan khawatir, aku gak akan ke mana-mana. Di sini saja.” Soraya tertawa kecil. Sejak awal ia memang tidak berniat mencari Lucerix. “Kita di sini saja, ya?”

Berhasil.

Wajah Leon langsung berseri-seri.

“Soraya memang yang terbaik~!♡”

Ia melepaskan pelukan, berdiri dari ranjang, lalu tanpa peringatan menggendong Soraya.

“Ayo main video game untuk menghabiskan waktu. Biar aku ajari!”

Leon membawa Soraya menuju ruang tengah, tempat ia mengingat ada televisi serta konsol permainan yang familier dengan benda-benda dari dunianya.

 

* * *

 

Bruk!

Axel menggebrak meja di kamarnya. Padahal, pagi itu seharusnya menjadi hari tenang setelah sekian lama—sendirian, tanpa distraksi.

Gila. Hanya itu kata yang mampu menjelaskan keadaan sekarang.

Kejadian-kejadian sebelumnya setidaknya masih memberinya inspirasi. Sonata merupakan mimpi indah. Soraya adalah simulasi familiaritas. Belladonna dan Althea menjadi bukti kesalahan seseorang yang tidak mampu sepenuhnya mengendalikan diri.

Axel tidak membenarkan apa yang telah terjadi. Kebersamaannya dengan Bella tetap merupakan kesalahan, tetapi justru kesalahan itu membuat dirinya tampak manusiawi. Sekarang Sistem memasangkannya secara permanen dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.

Ingatan yang semakin jelas tidak banyak mengubah apa pun. Bagaimanapun, ia menduga dirinya memang bukan siapa-siapa di masa lalu.

Selama ini Axel menjalani kehidupan di tempat tersebut seperti air mengalir, membiarkan semuanya bergerak seadanya. Kini ia memutuskan untuk sedikit bermain melawan arus, meskipun belum sampai pada tahap memberontak terang-terangan.

Asrama tersebut mirip dengan tempat di dalam mimpinya. Axel membuka pintu demi pintu seakan mencari sesuatu, sampai akhirnya menemukan Sonata.

“Kita bertemu lagi, Sonata. Atau harus kukatakan salam kenal, karena ini pertemuan pertama kita di dunia nyata?”

Ekspresinya lebih serius daripada biasanya. Pertemuan pertama mereka terjadi dalam mimpi, dan Axel menduga Sonata juga mengalaminya.

Sonata tidak banyak bereaksi setelah menerima seluruh penjelasan Sistem. Entah ia sudah mati rasa, atau cukup sadar bahwa kehidupannya dahulu memang tidak penting. Orang tuanya hanya menghubungi setiap dua bulan untuk menanyakan kabar sebagai basa-basi.

Ia melirik Axel yang terlihat emosi. Pria itu belum mengetahui kenyataan tentang dirinya, jadi reaksi seperti itu dapat dimaklumi.

“Wah, masih bisa tenang setelah melampiaskan emosi begitu. Boleh juga.”

Nada Sonata terlalu datar untuk disebut peduli.

“Dan tidak perlu terlalu ramah. Kau jelas tidak suka dengan kenyataan ini, dan aku tidak masalah.” Ia mengangkat bahu. “Lalu, kenapa kita ditempatkan di sini padahal layar menyuruh kita menemui orang berbeda? Permainan aneh lain?”

Ia menatap kembali daftar pada layar.

“Dan siapa Leon Walker? Kuharap bukan orang aneh lain.”

“Emosi? Ah, aku hanya terpeleset.”

Axel tertawa kecil, menghampiri Sonata, lalu duduk di sebelahnya.

“Jangan terlalu dingin. Kurasa kita belum punya alasan untuk menjadi musuh.”

Ia memang tidak mendukung program Malver, tetapi tidak memiliki alasan untuk memusuhi korban lain. Belum pula ada niat melakukan pemberontakan frontal.

“Entahlah. Mungkin mereka ingin melihat reaksi setiap individu.” Nada main-main kembali menyusup. “Bagaimana denganmu? Apa kau akan pasrah hidup bersama seseorang yang tidak kau kenal, kali ini mungkin secara permanen?”

“Dingin?” Sonata mengangkat alis. “Sifatku memang begini.”

Ia tidak merasa dingin, meskipun mungkin orang lain melihatnya begitu.

“Aku sih... entahlah. Terakhir kali aku disatukan dengan pria mesum.” Sonata seketika merinding. “Untung cuma simulasi. Kalau tidak, entah bagaimana nasibku sekarang...”

“Kau sendiri?” Ia bersandar dengan kedua tangan di belakang kepala. “Kau juga setuju dengan pengaturan ini? Reaksi pertamamu tadi sudah menjawab, sih. Tapi entah kita memang punya pilihan atau tidak.”

“Hee, syukurlah kau tidak kenapa-kenapa.”

Axel menoleh dan memeriksa ekspresinya.

Well, bukan tempatku untuk menghakimi pria itu. I am not a good person either.

Ia teringat Dunia Simulasi. Memang tidak sampai selesai dan dilakukan dengan persetujuan, tetapi Axel tetap melakukannya. Begitu pula tiga puluh hari di ruangan yang memanipulasi hormon. Pengaruh dari luar tidak sepenuhnya menghapus tanggung jawab atas tindakan.

“Kita selalu punya pilihan, Sonata. We always have a choice.

Setidaknya selalu ada dua jalan. Selama seseorang masih memiliki kendali atas dirinya sendiri, otonomi personal belum sepenuhnya hilang.

“Memang, beberapa pilihan memiliki konsekuensi besar.”

Axel menyeringai.

“Aku tentu tidak ingin menghabiskan sisa hidup dengan seseorang yang dipaksakan kepadaku, bahkan tanpa pernah menemuinya. Namun, kalau memang harus bersama seseorang, aku lebih memilih berdasarkan keputusanku sendiri—meskipun keputusan itu lebih buruk.”

Bagi seorang seniman yang mengejar kebebasan, pilihan orang lain tidak akan pernah terasa istimewa.

“Kalau begitu, tidak ada orang yang benar-benar baik.”

Sonata duduk di dekat jendela dan menyilangkan kaki. Sekarang mereka hanya perlu menentukan apa yang hendak dilakukan. Apabila mengikuti keinginan Dantalion—atau siapa pun dalang di balik semua ini—ia pun enggan.

“Hm. Lalu, apa pilihanmu sekarang?”

Barangkali masih ada jalan lain, walaupun Sonata mengingat apa yang terjadi ketika mereka menolak Sistem.

“Meski pilihan itu membawamu ke neraka?” tanyanya. “Dan maksudku bukan metafora. Kau benar-benar bisa dibawa ke neraka.”

“Entahlah. Aku masih bingung.”

Axel mengangkat tangan.

“Selama itu pilihan yang menarik, neraka pun tidak masalah.”

Nada setengah seriusnya kembali terdengar. Ia tidak takut, tetapi belum kehabisan pilihan sehingga tidak perlu mengambil jalan paling ekstrem. Axel masih menyimpan reward dari ronde sebelumnya. Awalnya ia ingin menggunakannya untuk pulang; sekarang keinginan itu tampak tidak berguna.

“Menurutmu, kenapa kita diberi enam jam sebelum nasib dikunci?”

Tatapannya menajam kepada Sonata.

“Hei, Sonata. Mau mencoba sesuatu untuk mengetahui apakah takdir kita benar-benar sudah terkunci oleh Sistem?”

Sonata mengangkat alis. Dibandingkan orang-orang sebelumnya, Axel setidaknya lebih mudah diajak bicara. Cara berpikirnya belum tentu dapat ia setujui, tetapi cukup sederhana untuk diikuti.

“Yang pasti... dia sudah tidak ingin menunggu lagi.”

Sonata menggumam sejenak.

“Kau tahu, penelitian itu membutuhkan uang dan waktu. Kalau tidak dilakukan dengan benar, kau kehilangan keduanya. Bisa saja ‘dia’ mulai kehilangan salah satunya.”

Melihat ekspresi Axel, Sonata memiliki firasat tentang arah pembicaraan, tetapi ia tetap menyandarkan tubuh dan melipat tangan.

“Katakan idemu.”

“Mungkin saja begitu.” Suara Axel kembali padat dan tajam. “Namun, jeda enam jam ini terasa seperti pancingan agar kita melakukan sesuatu.”

Untuk melihat apakah mereka patuh, melawan, atau mengakali Sistem.

“Sepertinya kau juga tidak punya hubungan khusus dengan nama yang dipasangkan denganmu. Dugaanku, semua orang kurang lebih berada dalam keadaan sama. Artinya, kemungkinan munculnya resistansi akan lebih tinggi.”

Banyak orang mungkin tidak berani melawan secara langsung, tetapi setidaknya sebagian akan mencoba sesuatu selama enam jam tersebut.

“Ideku sederhana: mengecek apakah kompatibilitas dalam Sistem dapat berubah melalui tindakan tertentu.”

Axel berhenti sebentar sebelum menjelaskan maksudnya.

“Tindakan intim serta pengenalan lebih jauh. Kompromi dua individu agar bisa kompatibel.”

Ia tersenyum, berbeda dari kesan yang ditunjukkannya di Dunia Mimpi ketika masih berada pada tahap adaptasi.

“Kurasa aku bukan pilihan buruk. Aku memang bukan orang baik, tetapi setidaknya kau tahu aku tidak akan secara sadar memaksamu melakukan sesuatu. Bukankah itu lebih aman daripada orang yang sama sekali belum pernah kau temui?”

“Satu hal lagi. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya, tetapi akan kucoba bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi setelahnya.”

Yang dimaksud Axel adalah menggunakan reward miliknya untuk mengubah Sistem apabila kompatibilitas mereka tidak berubah secara alami. Ia sendiri belum tahu apakah itu mungkin.

“Hm?” Sonata menatapnya. “Jadi maksudmu, enam jam ini mungkin hanya digunakan untuk melihat sejauh apa kita melawan.”

Ia mengangguk perlahan. Jika seluruh subjek menolak secara kolektif, mungkin Sistem tersebut dapat dirusak. Sonata memahami lebih dari siapa pun bahwa tidak ada sistem yang sempurna.

“Huh.” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau mengusulkan uji coba, atau memang mau?”

Ia terkekeh kecil dengan tangan terlipat santai.

“Ya, ya. Setidaknya kau masih berniat bilang akan bertanggung jawab. Kuberitahu, aku tidak ahli melakukan hal begini.”

Axel tampak terkejut, kemudian tertawa karena maksudnya disalahartikan.

“Mungkin saja.”

Nada main-main itu hanya bertahan sebentar.

“Namun, aku ingin menjadikannya pilihan terakhir. Prioritasnya keintiman emosional, bukan fisik. Kompatibilitas kemungkinan berkaitan dengan psikologis.”

Bahkan jika hubungan fisik dibutuhkan, Axel menduga semuanya tidak berarti tanpa aspek psikologis—terlebih apabila tidak ada persetujuan.

“Bagaimana kalau kita saling mengenal selama beberapa jam pertama? Anggap saja seperti permainan TRUTH.”

Kompatibilitas yang hendak dicapai Axel adalah keadaan ketika dua orang dapat saling menerima dan berkompromi untuk hidup dalam jangka panjang.

“Kalau kau setuju, kuberikan giliran bertanya pertama.”

Axel meraih tangan Sonata dan menautkan jemari mereka sebagai gestur kepercayaan.

“Ah, bagus. Berarti kau memang masih waras.”

Sonata menyandarkan tubuh di dekat jendela.

“Tentu. Enam jam lumayan lama.”

Ia tidak pernah mendapat kesempatan melakukan percakapan seperti itu dengan pasangan-pasangan sebelumnya. Namun, ketika Axel menggenggam tangannya begitu saja, alis Sonata terangkat.

“Untuk orang yang baru mengajak bicara, kau berani juga asal memegang tangan.”

Dengan santai ia melepaskan genggaman mereka.

“Baiklah. Kau bilang kau pemain band, kan? Intinya begitu. Biasanya apa peranmu?”

“Hee, padahal dengan memegang tanganku, kau bisa lebih mudah menilai apakah aku jujur atau tidak.”

Secara psikologis, seseorang dapat mengalami perubahan fisiologis sekecil apa pun ketika berbohong.

“Seratus! Peran utamaku vokalis, tapi aku juga bermain sebagai rhythm guitarist.”

Axel baru teringat bahwa band tersebut sudah bubar sebelum dirinya tiba di Diablo Voids. Penyebabnya biasa saja: perbedaan pendapat dan popularitas yang tidak kunjung naik. Setelah itu ia lebih banyak menghabiskan waktu sendiri.

“Sekarang giliranku. Kalau tidak salah, di mimpi aku melihatmu mengeluarkan tulang dari tubuh. Di duniamu, semua orang bisa memanipulasi tubuhnya?”

Pertanyaan pertama itu ringan, murni didorong rasa penasaran.

“Tidak masalah. Melihat orang jujur atau tidak adalah keahlianku sendiri.”

Sonata menaruh jemari pada dagu. Tatapannya seolah kosong ketika mendengar istilah pekerjaan Axel.

Rhythm guitarist?”

Ia tidak terlalu tertarik pada seni dalam bentuk apa pun, jadi pengetahuannya hanya berada pada permukaan.

“Ah, maksudmu ini?”

Sonata menyentuh punggung dan mengeluarkan pedang panjang dari tubuhnya. Senjata itu diputar di tangan.

“Bisa dibilang begitu. Lebih tepatnya, tubuh biologis kami terhubung erat dengan teknologi modern yang menyokong dunia. Tidak semua orang dapat melakukannya langsung seperti ini. Ada juga yang seluruh tubuhnya menyerupai robot, meskipun masih menyisakan sedikit bagian manusia.”

Ia kembali menatap Axel.

“Selanjutnya dariku. Menurutmu, semua yang diberitahukan Sistem kepada kita benar?”

Pertanyaan itu dilontarkan tanpa basa-basi ataupun penjelasan mengenai maksud sebenarnya.

“Hee, ternyata bisa seperti itu.”

Axel tidak tampak terganggu oleh pemandangan aneh di hadapannya. Ekspresinya hanya menunjukkan rasa penasaran yang telah terpenuhi.

“Kau yakin ingin menanyakan itu? Jawabanku hanya akan bersifat subjektif.”

Mereka sama-sama bahan penelitian. Jawaban ya ataupun tidak tidak dapat otomatis dianggap sebagai kenyataan.

“Sejauh ini, menurutku yang ditampilkan Sistem memang nyata. Tapi menafsirkan maksudnya agak rumit.”

Semuanya kembali kepada sudut pandang masing-masing.

“Sekarang giliranku. Mana yang lebih penting bagimu: kehidupan atau kebebasan?”

“Pertanyaan pribadi tidak perlu benar atau salah. Itu hanya menunjukkan orang seperti apa yang sedang kuhadapi.”

Sonata menggumam. Jawaban Axel belum memuaskan, tetapi ia melanjutkan permainan.

“Mana yang lebih penting...”

Ia menutup mata untuk menimbangnya.

“Kebebasan terlalu abstrak. Bebas bagimu dan bagiku pasti berbeda jauh, terutama untukmu yang biasa berdiri di atas panggung.”

Ia membuka mata kembali.

“Tapi kehidupanku juga tidak terlalu menarik. Itu sebabnya aku bisa berada di sini dan bicara denganmu. Jadi, kalau harus menjawab, sebenarnya bukan keduanya. Tidak ada yang lebih penting antara satu dan yang lain.”

Sonata lalu teringat pada ucapan Adarra ketika mereka menjalani hukuman.

“Kalau kau berada dalam keadaan yang memaksamu mengorbankan seseorang agar dapat bebas, apa yang akan kau lakukan?”

“Pertanyaan yang cukup mencekam.”

Axel terlihat benar-benar mempertimbangkan jawabannya.

“Aku tidak akan bilang mustahil mengorbankan orang lain. Tapi aku tidak akan mengorbankan orang tak bersalah demi kepentingan pribadi.”

Apabila menyangkut dirinya, ia tidak akan melibatkan orang lain tanpa persetujuan atau merencanakan pengkhianatan dari belakang.

“Namun, kalau pilihannya mengorbankan diri sendiri atau orang lain, aku akan menghadapinya dari depan—melalui perjudian atau pertarungan. Biarkan nasib menentukan siapa yang menjadi korban.”

Pada ronde sebelumnya, kelompok mereka memang mengorbankan Jeanny. Namun, sebelum keputusan akhir, Axel mengajak semua orang bertaruh dengan kemungkinan dirinya sendiri menjadi pihak yang kalah. Ia bahkan membujuk Althea agar tidak melakukan pengorbanan diri. Konsep tersebut sulit diterimanya, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang jauh lebih langsung.

“Apakah kau mau menerimaku sebagai pasangan jangka panjang?”

Hubungan yang ia maksud tidak harus berdiri di atas cinta, melainkan pemahaman bersama. Pertanyaan itu sekaligus menjadi uji kompatibilitas. Jika Sonata menerima, percobaan mereka mungkin dapat dilanjutkan lebih jauh.

“Hah?”

Sonata mengernyit. Tujuan mereka memang mencari tahu bagaimana Sistem bereaksi ketika instruksi dilawan dengan hasil yang sama, tetapi pertanyaan tersebut terlalu tiba-tiba sampai ia sempat melupakan eksperimen itu.

“Kau sendiri?” tanyanya balik. “Apa kau mau menerimaku?”

Ia mengangkat satu tangan.

“Bukan secara sentimental. Hanya saja, dibanding orang-orang sebelumnya, setidaknya kau masih mau bertanya. Jadi aku juga ingin tahu apakah kau benar-benar bersedia menerima.”

“Tentu. Seperti kukatakan, aku lebih baik bersama orang yang sifat dan keberadaannya sedikit kuketahui daripada dipaksa hidup dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal.”

Axel tersenyum.

“Selain itu, mungkin pertemuan pertama kita adalah takdir.”

Dari sekian banyak perempuan di tempat itu, Sonata merupakan orang yang dipertemukan dengannya pada kesempatan pertama, bahkan ketika Sistem belum memiliki banyak data.

“Bagiku romansa adalah prioritas kesekian. Kriteriaku hanya satu: aku tidak keberatan melihat orang itu setiap hari, dan keberadaannya tidak menambah beban hidupku.”

Sonata memenuhi kedua kriteria tersebut. Penampilannya cukup cantik, dan sifatnya tidak menunjukkan bahwa ia akan merepotkan Axel.

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku.”

Axel memegang dagu Sonata, lalu mendekat perlahan. Gerakannya cukup lambat untuk dihentikan apabila Sonata menunjukkan penolakan.

“Hm, baguslah. Kuharap kau juga tidak menaruh banyak ekspektasi kepadaku.”

Alih-alih mundur, Sonata menarik kerah baju Axel. Jarak wajah mereka kini hanya beberapa inci. Iris matanya menatap langsung, masih kosong tetapi seolah menghantui.

“Selama kau juga tidak membebaniku, aku tidak masalah.”

 

* * *

 

Zion memandang daftar pasangan dengan dahi berkerut.

Siapa Leah? Ia bahkan tidak pernah bertemu perempuan itu. Tidak ada rasa penasaran, hanya gangguan kecil yang segera diabaikan. Biar Leah menentukan sendiri siapa yang hendak dipilih.

Headset dipasang kembali. Musik metal menggempur telinganya untuk menutup akses kepada kenyataan. Namun, nama lain masih menempel di pikirannya. Antares pasti bajingan berambut biru yang bersama Xandara di aula pesta.

Zion berusaha kembali pada permainan, tetapi tangan yang gemetar serta tulisan LOSE di layar mengkhianati kegelisahannya. Controller dibenturkan ke dinding dengan kasar.

Perutnya kemudian meronta. Setelah lama duduk menatap layar, ia bangkit dan meregangkan tubuh. Tangannya menggenggam kenop pintu dengan ragu-ragu sebelum membukanya perlahan.

Misinya sederhana: pergi ke dapur, mengambil makanan, lalu kembali ke kamar sebelum Xandara melihatnya.

Zion mengendap menuju kulkas. Sepotong roti langsung disumpalkan ke mulut, kemudian secangkir kopi dituangkan. Ia meraih sekantong keripik, puding, beberapa buah, serta apa pun yang dapat dibawa sekaligus. Enam jam akan berlalu cepat. Ia bahkan tidak tahu seperti apa institusi yang menunggu mereka setelahnya.

Ketika melirik kamar Xandara, langkahnya melambat.

Enam jam sebelum Sistem memisahkan mereka lagi.

Apa perempuan itu merasakan kegelisahan serupa? Barangkali tidak. Xandara selalu memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap keadaan.

Zion menggeleng lalu berjalan kembali ke kamar. Sebuah apel terlepas dari pelukannya dan menggelinding ke lantai, tetapi ia tidak menyadarinya.

Di kamarnya, Xandara mengambang rendah dalam posisi bersila. Matanya terpejam. Walaupun tidak lagi terhubung dengan The Origin, kesunyian telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia bermeditasi sekadar untuk menenangkan diri.

Kenangan masa lalu kembali seperti debu yang disapu dari permukaan cermin. Semua informasi dari suara asing pada Sistem tidak mengejutkannya; sebagian telah ia ketahui lebih awal. Setidaknya sekarang ia tahu Antares tidak berbohong, dan kemungkinan mereka akan dipertemukan lagi.

Sejak belia, Xandara tidak pernah terikat ataupun berhasrat pada sesuatu. Ia memenuhi kebutuhan hidup seminimal mungkin, lalu menjalankan tugas. Ketika Kristal Kehidupan—medium penghubung dengan The Origin—menghilang, ia tidak lagi memiliki ikatan dengan dunianya.

Apa ini berarti tugasku telah selesai? Dan aku diberi peran baru di dunia ini?

Suara gerasak-gerusuk dari luar menyusup ke telinganya. Xandara menjejakkan kaki ke lantai dan berjalan tanpa suara menuju pintu. Ketika membukanya, ia melihat Zion membawa segunung makanan dengan susah payah.

Xandara mengangkat satu jari. Apel yang hampir menyentuh lantai berhenti, melayang kembali, lalu jatuh di atas tumpukan makanan dalam pelukan Zion.

“Kau menjatuhkan itu.”

Itulah kalimat pertama yang ia lontarkan kepada Zion sejak pesta.

Keheningan singkat menyelimuti mereka. Xandara melihat sesuatu yang berbeda dari pemuda itu.

“Kau terlihat... lebih senyap daripada sebelumnya.”

“Hii—!”

Zion terperanjat sampai hampir menjatuhkan seluruh bawaannya. Setelah menyadari Xandara sebagai pelaku, ia mengembuskan napas. Benda yang tiba-tiba melayang masih bukan sapaan yang dapat diterima dengan biasa.

Ia meletakkan semua makanan di meja, menarik kursi, lalu duduk. Zion sebenarnya bisa saja kembali ke kamar tanpa menjawab, tetapi menjadi orang yang tidak enakan memang melelahkan.

“Kau saja yang selalu keterlaluan santainya.”

Ia berusaha menahan nada agar tidak terdengar terlalu sinis.

“Oh, ya. Kau bakal satu ruangan sama Antares lagi.”

Zion menggigit apel sampai sebelah pipinya menggembung dan memalingkan wajah.

“Aku iri. Hidupmu kelihatannya sederhana. Cuma perlu meditasi setiap hari.”

Hadiah ingatan telah mengembalikan masa lalu yang tidak ingin ia lihat. Dulu, Zion mendapat perhatian dan simpati setelah kabar mengenai ibunya yang dipenjara tersebar luas. Pada usia empat tahun, ia menjadi korban kelalaian orang tua. Tentang ayah, Zion bahkan tidak peduli apakah sosok yang hanya berupa nama itu masih hidup.

Namun, ketika Zion gagal memenuhi harapan sebagai anak penurut dan berprestasi, orang-orang mulai melupakannya. Tekanan tersebut membuatnya kebingungan dan dipandang bodoh. Perundungan di sekolah mengubah sikapnya: membolos, mencuri, mabuk, dan berkelahi.

Ia tidak memiliki mimpi ataupun kehidupan yang pasti. Ia hanya ingin dilihat tanpa dihakimi.

Sebaliknya, di hadapan Xandara, Zion merasa ditelanjangi oleh satu tatapan—seakan perempuan itu menguliti sisi yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun.

“Apa kau memang nggak pernah bisa merasakan emosi?”

Garpu plastik di tangannya diarahkan kepada Xandara.

“Bahkan setelah tahu Ori-atau-apalah yang kau sembah itu mencampakkanmu di tempat lacur seperti ini?”

Zion ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dirinya bagi Xandara, tetapi tidak berusaha memperhalus pertanyaan.

“Jangan-jangan kau rela karena telanjur kepincut sama bajingan itu? Aku tidak pernah melarangmu pergi. Jadi kenapa kau masih berdiri di depanku? Aku tidak butuh belas kasihanmu.”

Raut Xandara tidak terguncang oleh tuduhan tersebut.

“Aku... kehilangannya sebelum tahu bagaimana rasanya,” jawabnya mengenai emosi. “Tak ada yang mengajari atau menunjukkannya kepadaku. Maka aku tidak mencarinya, kemudian menjadi tidak membutuhkannya.”

Ia mengingat masa lalu dengan tatapan tenang yang menyimpan kehampaan.

“Saat bisikan leluhur terdengar, kuabdikan seluruh hidupku untuk terhubung kepada-Nya. Ketika itu pun menghilang, tugasku selesai. Aku kembali menjadi cangkang kosong, lalu diberi peran baru.”

Xandara mendekati meja. Tubuhnya merendah, kemudian ibu jarinya menyentuh pipi Zion dan mengusapnya pelan. Tangan yang lebar membuat kepala pemuda itu tampak sekecil anak kucing.

“‘Sentuhan pada wajah dan tatapan selama delapan detik berguna untuk membuat rileks dan menambah kedekatan,’” ucapnya, mengulang sesuatu yang dipelajari selama di ruang reward. “Aku menirunya dari seseorang.”

Ia telah menyaksikan berbagai jenis orang menanggapi dunia ini. Luxya memanfaatkan keadaan untuk bersenang-senang. Antares juga pernah mengucapkan kata yang sama ketika Xandara merasakan niat buruk terselubung darinya. Potongan-potongan itu berkelindan dalam pikiran.

“Dari segala hal yang diberikan dunia ini kepadamu—walaupun hanya rekayasa dan paksaan—apa selama berada di sini kau bersenang-senang?”

Suara Xandara tetap halus.

“Apa kau menikmati peran barumu?”

“Aku nggak tahu rasanya hidup tanpa keinginan dan kebutuhan.” Zion memotong penjelasannya. “Apa itu cuma alasan karena kau tidak pernah diberi pilihan bagaimana menjalani hidup?”

Ketika tangan besar itu kembali mengusap wajahnya, Zion menepisnya dengan kasar lalu mencengkeram pergelangan Xandara.

“Hentikan.”

Trik tersebut tidak akan berhasil untuk kedua kali. Sorot matanya menyala galak karena setiap keluhan terasa diabaikan.

“Aku bersenang-senang. Aku sangat suka di sini.”

Zion mengangguk, terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Sonata dan Soraya hanya menjadi pelampiasan dorongan tanpa bobot personal. Xandara berbeda. Tidak setiap hari seseorang terbangun dan menemukan perempuan raksasa di hadapannya. Perempuan itu terus mendekat justru ketika Zion ingin menjauh. Dengan jarak mereka sekarang, ia khawatir akan melakukan sesuatu yang kemudian disesali apabila Xandara terus menguji batas.

“Kenapa kau harus peduli?”

Xandara tidak terkejut ketika pergelangannya dicengkeram. Ia hanya menatap balik dan menangkap ketidaksesuaian antara kata-kata Zion dengan ekspresinya.

“Apa benar begitu?”

Tatapannya tidak beralih.

“Apa itu juga ekspresi orang yang bersenang-senang?”

Ada orang yang memilih larut dalam sistem Malver, dan ada pula yang berniat menentangnya seperti Antares. Kedua reaksi itu merupakan sisi dari pedang yang sama.

“Masa lalu, masa kini, dan masa depan telah terbuka. Tujuan dunia ini sudah jelas. Tak ada lagi yang ditutupi.”

Xandara menegakkan tubuh. Jarak di antara mereka melebar.

“Mungkin seperti yang kau katakan. Bagiku, yang terbiasa hidup tanpa keinginan dan pilihan, apa pun nasibku tidak berpengaruh.”

“Tapi kau tidak sepertiku.”

“Kau selalu tahu apa yang kau inginkan. Karena itu kau terus bergerak dan melakukan hal-hal yang tak pernah kupikirkan.”

Keheningan kembali mengisi ruangan.

“Kalau kau menerima Sistem ini, semua akan berjalan sesuai alurnya. Kita tidak akan bertemu lagi.”

Xandara tetap menatap Zion.

“Tapi kalau keinginanmu berbeda, aku akan tetap berada di sini sampai waktu habis... dan melihat bagaimana kau bertindak.”

Xandara tidak memahami bagaimana rasanya menginginkan ataupun memiliki sesuatu untuk diri sendiri. Namun, tanpa disadari, pandangannya selalu tertuju kepada mereka yang hidup digerakkan oleh keinginan—kepada sesuatu yang membuatnya berhenti dan memperhatikan lebih lama.

Zion menatapnya dengan alis bertaut.

“Kau ini... antara terlalu labil atau fleksibel.”

Ia memalingkan wajah, mencerna perkataan tersebut.

“Nggak semua orang bisa menanggung kebenaran.”

Nada suaranya lebih tenang. Kalimat itu sekaligus menjadi pengakuan bahwa berbohong telah lama menjadi cara Zion bertahan hidup.

Ia mengepalkan tangan, menarik napas, lalu dengan gerak canggung tetapi penuh tekad naik ke atas meja. Tubuhnya kini sedikit lebih tinggi—usaha terakhir mempertahankan martabat di hadapan orang yang takut ia kehilangan.

“Kau juga terus menyangkal satu hal.”

Jempolnya menunjuk wajah sendiri.

“Kau bilang akan terus melihatku bergerak. Itu sudah cukup membuktikan kau punya keinginan. Jangan bilang tidak akan berpengaruh kalau kau tidak bisa melihatku lagi.”

Zion mencoba terdengar sombong, tetapi di baliknya tersimpan keraguan bahwa dirinya mudah digantikan dan perasaannya hanya beban yang membuatnya tampak konyol.

“Bagaimana kalau kita tes?”

Ia berbalik dan menutup mata.

“Aku akan menghitung sampai sepuluh. Kalau kau memilih ikut Sistem, tinggalkan ruangan. Kalau kau mau tetap di sini... mungkin kau bisa menyentuhku.”

Hitungannya dimulai, tidak seirama dengan detak jantung.

“Satu... dua... tiga...”

Xandara tidak bergerak selama beberapa detik. Selama ini ia berpaut pada sesuatu yang kaku dan telah ditetapkan. Perasaan tidak bisa diukur, tetapi setelah mempertimbangkan semua kejadian yang dialami sejak terputus dari The Origin, perkataan Zion perlahan terasa masuk akal. Beberapa tindakannya ternyata juga dilandasi oleh sesuatu yang menyerupai perasaan.

“Ternyata begitu.”

Ia mengangguk seperti murid yang baru menerima pelajaran.

“Jadi, hal seperti itu juga merupakan keinginan.”

Mungkin dirinya tidak terlalu berbeda dari entitas lain.

Sebelum Zion mencapai hitungan keempat, tangan besar Xandara meraih tangannya. Tubuhnya menunduk, kemudian bibirnya menyentuh puncak kepala Zion dengan lembut.

“Mereka melakukannya dengan urutan seperti itu,” katanya datar, dengan kepolosan ganjil. “Dengan begini tidak ada masalah, kan?”

Namun, sesudah itu pandangannya bergeser ke pintu. Hawa sarat niat jahat menyusup ke indera, membangkitkan naluri purba.

“Walaupun begitu, aku tetap harus meninggalkan ruangan ini.”

Xandara menegakkan tubuh. Sorot matanya berubah lebih serius.

“Masih ada kebenaran yang tertinggal di ruang TRUST.”

Ia mengayunkan jari. Tanpa meminta persetujuan, sebagian besar massa tubuh Zion menghilang sampai pemuda itu terangkat dan mengambang ringan—lebih mudah bergerak daripada ketika terikat pada lantai. Itu dapat dianggap sebagai ajakan, walaupun Xandara tidak akan memaksanya ikut.

Xandara berbalik menuju pintu. Warna tubuhnya memudar dari ujung rambut sampai seluruh wujud berubah kelabu suram. Aura tenang yang biasa menyelimutinya lenyap, digantikan tekanan intimidatif yang berat.

“Kau bisa menyelamatkan diri sendiri, kan?”

Nada itu lebih dingin, seakan menguji keyakinan Zion.

Walaupun tidak tahu kapan bisikan leluhur akan kembali terdengar, Xandara tetap memegang nilai yang pernah ditanamkan dalam jiwanya.

“Bersihkan pikiran. Tumpaskan kejahatan di dunia,” gumamnya.

Zion tertegun ketika Xandara menyentuh dan mengecup kepalanya. Hembusan napas serta kehangatan singkat itu menjalar seperti sengat listrik. Bahkan sebelum hitungan selesai, ia berbalik dan meraih pergelangan Xandara, seakan dapat memperpanjang detik yang baru berlalu.

Ketika perempuan itu bergerak menjauh, Zion berusaha meraihnya lagi.

“T-t-tunggu, kau mau ke mana?”

Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan. Tidak perlu dua kali baginya untuk menentukan pilihan. Berpisah dari Xandara merupakan hal terakhir yang ia inginkan.

Ia mengamati perubahan perempuan itu—rambut pirang menjadi abu-abu, wajah menegang, dan hawa mencekam memenuhi ruangan. Zion pernah mengejek orang yang mengatakan perempuan dapat menjadi mengerikan ketika sedang marah. Sekarang ia mulai percaya, meskipun hal itu sama sekali tidak mengurangi daya tarik Xandara di matanya.

Kemudian ia mengingat kata “TRUST” dan rasa cemburu kembali menyulut.

Antares lagi. Antares lagi.

Zion tidak akan membiarkan keduanya berduaan untuk kedua kali. Karena belum terbiasa mengendalikan tubuh di udara, ia bergerak seperti orang berenang. Setelah beberapa percobaan, Zion berhasil menyusul Xandara keluar.

“Hei, hei. Artinya sekarang kita sudah pacaran, kan?”

Kekacauan yang mungkin menunggu di luar tidak mampu mengalihkan fokusnya.

 

* * *

 

Ken bersandar santai di kursi, mengabaikan suara Sistem maupun nama baru yang ditetapkan sebagai pasangannya. Tidak ada perubahan pada wajahnya. Bagi Ken, kejadian itu tidak layak mendapat terlalu banyak perhatian.

Di lingkungan mana pun, ia merasa masih dapat mengendalikan diri dengan cara “menghapus”. Ia juga tidak akan menolak apabila pihak lain memang menginginkan hubungan tersebut. Belum ada alasan untuk meninggalkan ketenangan yang masih tersisa.

Di sisi lain kamar, Romance Zhigalkovich memulai pagi dengan rutinitas yang jauh lebih gaduh.

“Bangun pagi, cuci muka, evaluasi. Lihat cermin, muka kusam kali ini. Pengen mandi, tapi tidak ada air di sini.”

Ia menoleh ke kiri dan kanan. Sosok berambut hitam yang tidak tampan sudah berada di sana—barangkali hanya gangguan penglihatan, pikirnya.

“Loh, kok? Elu lagi, babi?!”

Zhigalkovich terkejut melihat wajah yang menurutnya biadab itu. Dari sekian banyak kemungkinan, mengapa ia selalu dipertemukan dengan hal yang sama?

“Sudah kuduga, kau ngefans sama aku, ya? Sampai di sini pun ikut? Padahal me kira me bakal ketemu Cassius Pickme, ternyata sama Kentang Goreng rasa babi. Kau mau kujadikan kentang panggang?”

Tentu saja Ken tidak mau menjadi kentang panggang. Namun, pertanyaan semacam itu tidak pernah membutuhkan jawaban.

“Tapi dipikir-pikir, pembuat skenario ini mau bikin naskah kita baku hantam dan adu senjata tajam, makanya dipertemukan tiga kali.” Zhigalkovich terus mengoceh. “Kira-kira kau mau main apa, Kentang-kun? Karambol? OSM? Topu Elepento? Goblox? Itu game yang banyak dibicarakan, cuma aplikasinya gak ada di sini karena terkendala bea cukai. Namanya juga produk asing. Mana mau dunia ampas ini membiarkannya masuk gratis? Baru bisa kalau ada fulus.”

“Kau tidak lelah bicara sepanjang itu?”

Alih-alih menjawab salah satu pertanyaan tidak penting tadi, Ken justru bertanya balik.

“Tenang saja. Setelah enam jam, sepertinya kita tidak akan dibuat berduaan lagi.”

Ken melihat namanya dipasangkan dengan Vespera—siapa pun gadis itu. Yang jelas, bukan perempuan berisik di depannya. Zhigalkovich pun akan bersama orang lain.

“Entahlah.”

Jawaban itu sekaligus menolak ajakan bermain. Ken memilih membuat teh dan memasak mi instan, tentu saja hanya untuk dirinya sendiri. Terlalu merepotkan apabila harus menyiapkan makanan bagi orang lain.

Namun, Zhigalkovich tidak berhenti.

“Kau mencoba membuatku gak banyak bicara? Sudah kuduga kemaluanmu kecil dan produksimu terlambat dari cara ngomong yang acuh.”

Rentetan omongan aneh kembali mengalir.

“Kau ini celingak-celinguk gak jelas, pasti mencari sesuatu yang sudah pergi, sesuatu yang musnah. Pikiranmu sendiri tidak bisa kau pahami. Kemaluanmu kecil dan yang kau cari memilih black-big-clock, kah?”

Ia menuding Ken seperti sedang membacakan kesimpulan ilmiah.

“Kau ditinggalkan dan dikucilkan seperti drama Jakankense Paktory, di mana karakter pria cuma syuting jadi suami yang pergi kerja, lalu ayangmu memilih black-big-clock karena jam tangan pilihannya merek Kassio?!”

Ken bahkan mungkin tidak memahami merek jam yang dimaksud. Belum sempat Zhigalkovich melanjutkan, suara gedoran terdengar dari pintu.

“Woi, sialan! Siapa yang ngetuk-ngetuk? Kau mau melihat cara kami melakukan aksi individualisme posisi enam puluh sembilan?!”

Wajah seseorang muncul pada layar interkom, dan trauma lama seketika menyergap.

“Bangsat?!” Zhigalkovich melonjak. “Kukira anjing, ternyata setan dari utara—si brengsek Mikado!”

Ia menuding layar.

“Kau mau apa di sini? Mau bergabung menjadi oposisi kriminalisasi tingkat sayap kiri? Biar sayap kanan daging ayam jadi bagianku?!”

Zhigalkovich jelas terkejut oleh kemunculan Mikado yang menyerupai jumpscare. Adegan itu bukan lagi drama individualisme dengan gerakan statis di atas ranjang, melainkan film horor murahan.

“Suara ini... WAAH, Zhigal, ya?!”

Tanpa aba-aba dan tanpa diundang, Mikado menyusup ke Sistem. Wajahnya memenuhi layar.

“Eh, bisa masuk? Wah, keamanannya diragukan. Kalian lagi apa? Mesum bareng? Aku boleh ikut, gak? Boleh, ya? Boleh dong. Aku gak ketemu pasanganku, terus di asrama juga sendirian.”

Mikado tertawa lalu melihat Ken.

“Weh, halo, Bos! Gimana rasanya sekamar sama yang ini? Bawel gak jelas, ya? Ahahaha!”

Ken tetap mengabaikan mereka. Tangannya melanjutkan menyeduh teh serta memasak mi.

“Tidak ada yang spesial.”

Jawaban itu membuat Mikado tertawa semakin keras. Apabila dirinya atau Cassius mengatakan hal serupa, Zhigalkovich pasti sudah memaki tanpa henti.

“Bwahaha! Masnya berani, ya. Jadi ingat Cassius, deh. Ngomong-ngomong, dia di mana?”

Mikado menoleh kepada Zhigalkovich.

“Zhigal mau ikut cari? Aku lagi di lorong, gedor kamar satu-satu. Keluar saja kalau mau ikut. Bye-bii~”

Mikado segera bosan karena tidak diizinkan benar-benar masuk. Ia menarik diri dari Sistem dan kembali berdiri di koridor. Sedikit keributan terdengar dari arah yang baru dilewati.

“Seru amat di sana. Tapi kayaknya rusuh, jadi cari kamar lain saja.”

Ia kembali berjalan, bersenandung seolah tidak ada ledakan ataupun raungan di dalam gedung.

 

* * *

 

Pada pagi yang sama, seorang pria asing memasuki kamar Belladonna de Valois.

Kemunculan lelaki secara tiba-tiba sebenarnya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Sistem sudah berkali-kali memaksanya berhubungan dengan orang lain—Leon, Axel, maupun Althea. Yang membuat Bella membeku justru satu perintah sederhana dari pria itu.

Diam.

Sebelum ia sempat tersenyum atau menyapa, pria tersebut membungkamnya. Dengan kendali atas air yang tidak mungkin dimiliki Bella, ia memperlihatkan bahwa ancaman itu bukan gertakan. Apabila Bella tidak menurut, nyawanya akan diambil.

Untuk pertama kalinya, Bella hanya mampu berdiri dengan mata melebar dan bibir terbuka. Bahkan napasnya tertahan tanpa disadari. Pria berambut biru muda itu tidak menjelaskan tujuan. Ia hanya mengambil kartu akses asrama, meninggalkan kamar, lalu menguncinya dari luar.

Begitu pintu menutup, kaki Bella kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk dan memeluk tubuh yang gemetar.

Siapa dia? Salah satu orang yang dibawa ke sini? Agen rahasia? Musuh pemilik tempat ini?

Berbagai kemungkinan menyerbu pikirannya.

Hadiah ingatan mengenai alasan dirinya dilupakan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, tetapi Bella telah berusaha melepaskan masa lalu—selama ia masih memiliki Marin, naga yang menjadi satu-satunya keluarga. Namun, terlalu lama ia tidak melihat Marin.

Teman sekamarnya di Dunia Mimpi itu menghilang setelah terkena penalti. Apa Marin telah dilenyapkan? Apakah itu sebabnya Bella dibiarkan sendirian?

Panik kembali mengerubungi. Bella berlari ke pintu dan mencoba membukanya, tetapi kenop itu tidak bergerak. Ia hendak berteriak sambil menggedor, lalu mengurungkan niat ketika teringat ancaman pria tadi.

Tangannya turun perlahan.

Aku benar-benar dikurung, ya?

“Semoga Marin baik-baik saja...”

Beberapa saat kemudian, keadaan kamar berubah.

Udara mulai menipis.

 

* * *

 

Pesta semalam ternyata hanya kemewahan singkat sebelum pengumuman baru.

Luxya tidak menunjukkan konflik ketika mengetahui Cassius menjadi pasangan wajibnya. Pria itu merupakan orang terakhir yang baru dikenalnya di pesta, dan siapa sangka Sistem akan menetapkan mereka bersama.

Tidak ada kekaguman, hanya kebosanan yang tumbuh. Kamar yang menjadi tempatnya bernaung semalam pun tidak meninggalkan kesan. Instruksi tadi sudah menjelaskan bagaimana nasib mereka setelah enam jam berakhir.

Dengan senandung ringan, Luxya meninggalkan kamar dan bersantai di sofa ruang tengah.

Sekarang, apa yang harus dilakukan selama waktu tersisa?

Pintu asrama terbuka dengan desisan. Antares melangkah masuk. Apabila pintu itu terkunci, kartu akses yang baru saja diambilnya memberinya jalan.

Perhitungan telah tersusun dalam kepala. Ia tidak memiliki banyak waktu, sedangkan Sistem kini memaksa tanpa lagi menyembunyikan tujuan. Malver ingin seluruh subjek memahami posisi mereka. Mereka merupakan objek terlupakan yang disebut memiliki potensi—ilusi yang membisikkan bahwa mereka sesungguhnya emas, meskipun tetap diperlakukan sebagai barang.

Hadiah ingatan mengembalikan detik-detik pengasingan Antares di Bumi. Peristiwa itu pasti ditandai sebagai parameter yang membuktikan dirinya tidak penting. Namun, satu hal jauh lebih mengganggu: ekspresi wajahnya sendiri di dalam ingatan.

Biasa.

Sangat biasa.

Tidak ada kesedihan ketika sejarahnya dihapus. Tidak ada amarah saat dibuang. Antares menerimanya seolah semua telah direncanakan.

Apa ia memang tidak merasakan apa pun? Atau topengnya sudah sedemikian sempurna hingga ia sendiri melupakannya?

Ia tidak membiarkan pikiran itu menahannya terlalu lama. Luxya ditemukan sedang bersantai di sofa.

“Kita bertemu lagi, Luxya.”

“Tentu. Pertemuan kita yang kesekian.”

Luxya terkekeh singkat. Guyonan kecil itu cukup lucu baginya. Ia tidak beranjak dari tempat duduk, hanya memusatkan pandangan kepada Antares.

“Senang melihatmu selamat dari sana.”

Perkataannya merujuk pada tes sebulan lalu yang memisahkan para subjek ke dua jalur.

“Menikmati pesta semalam, Antares?”

“Aku sudah lupa caranya berpesta.”

Antares melewatinya menuju dapur kecil. Keran dinyalakan dan air mengalir deras ke wastafel. Tatapan biru terpaku pada pusaran yang masuk ke saluran pembuangan.

“Aku sudah berbicara dengan Xandara,” katanya tanpa menoleh. “Dia memberikan laporan mengenai Rute Reward.”

Antares mencuci kedua tangan—ritual, sekaligus kode—di bawah air yang mengalir. Setelah mematikan keran, ia berbalik.

“Xandara menyebut ada hadiah setelah instruksi utama selesai. Satu permintaan.”

Ia menatap Luxya.

“Apa kau sudah menggunakannya?”

Luxya mengamati semua gerakannya. Antares ternyata berbicara cukup terbuka dengan Xandara, perempuan raksasa yang tidak mungkin luput dari ingatan.

“Begitu. Rupanya dia cukup terbuka menjawabmu.”

Luxya memainkan anak rambut di sisi wajah. Hal tersebut sebenarnya bukan urusannya. Ia tidak akan marah pada risiko yang muncul dari pilihannya sendiri, kecuali Xandara memberikan penjelasan yang terlalu sulit diterima.

“Permintaan?” Godaan kembali menyusup dalam nada suara. “Kau peduli apakah aku akan menggunakannya?”

Ia sengaja tidak memberikan jawaban langsung, hanya mencari sedikit hiburan.

Antares tidak segera membalas. Desis pendingin udara terus mengusik ketenangan. Kesadarannya merasakan aliran udara bergerak melalui ruangan. Mungkin bentuk kode dalam ingatannya kini menjadi lebih nyata; tanpa mengalihkan tatapan dari Luxya, ia mengubah sesuatu.

Desis itu lenyap.

Ruangan jatuh ke dalam keheningan total. Setiap kata dan tarikan napas terdengar lebih jelas.

“Aku hanya ingin tahu,” katanya. “Kalau ini mengusikmu, kita bisa menghentikan pembicaraan.”

Luxya mengangkat alis. Kata mengusik terasa asing. Ia memutar kembali pengalaman hidup, mencari saat terakhir dirinya merasa benar-benar terganggu.

Pelecehan dari orang-orang yang membencinya hanya karena ketidaktahuan yang disalahartikan masih dapat diingat. Hampir segala sesuatu bisa menjadi alasan bagi permusuhan sepihak. Kesadaran itu begitu menggelikan sampai Luxya sempat terdiam.

“Kau terlalu banyak berpikir, Antares.”

Ia bersandar pada lengan sofa.

“Menjadi orang stoik menghabiskan tenagamu? Aku ingin mendengar sendiri, apa yang membuatmu berpikir kita harus menghentikan percakapan ketika kesejahteraanku terusik?”

Sebelum Antares menjawab, gedoran keras terdengar dari pintu.

“HEI! ADA ORANG, GAK?!”

Suara Mikado menggema dari luar. Ia sempat diam, seolah mempertimbangkan kemungkinan orang di dalam sedang melakukan sesuatu, kemudian mengetuk lagi lebih keras.

“HEI, IKUTAN DONG!”

Antares tidak langsung menuju pintu. Ia berjalan ke dapur, memakai sarung tangan, lalu mengeluarkan sepotong steak dari kulkas. Wajan diletakkan di atas kompor dan api biru menyala.

“Aku mempertanyakan itu karena peduli pada kenyamananmu.”

Daging diletakkan di atas wajan. Desis keras mengisi keheningan. Antares menaburkan garam dan lada secara merata, memastikan tidak ada bagian yang terkontaminasi. Setelah matang, daging dipindahkan ke piring, dipotong menjadi beberapa bagian, lalu satu potong dicicipi untuk memastikan hidangan tersebut layak.

Ia menyerahkan piring serta alat makan kepada Luxya.

“Makanlah. Kita akan membutuhkan banyak energi.”

Namun, gedoran Mikado menjadi noda dalam ruangan yang baru saja dibuat steril. Antares akhirnya berjalan ke pintu dan membukanya beberapa sentimeter. Hanya sebelah mata biru terlihat melalui celah.

“Jangan lakukan lagi.”

Tatapannya lurus kepada Mikado.

“Atau kupastikan darah di tubuhmu membeku sampai kau tidak bisa mengetuk pintu mana pun lagi.”

Pintu ditutup kembali dengan pelan. Bersamaan dengan itu, Antares mendorong keluar materi yang sempat disusupkan Mikado ke dalam Sistem kamar.

Mikado sempat mengambil kesempatan untuk mengintip melalui celah.

“Hee, kok begitu? Kalian benar-benar lagi aneh-aneh, ya? Hei, ikutan dong!”

Setelah pintu menutup, ia mendecih.

“Cih. Gak seru banget.”

Mikado kembali menjelajahi koridor sambil bersenandung.

Di dalam, Luxya memandang piring yang disodorkan. Ia sempat ingin menyambut suara familier di luar—Mikado—tetapi Antares sudah lebih dahulu menanganinya. Luxya akhirnya memilih duduk lebih nyaman dan menikmati tontonan singkat itu.

“Manis sekali.”

Satu alis terangkat ketika ia melihat hidangan.

“Sedikit saran, Antares. Pastikan bahasamu tidak sekaku itu ketika sedang berdua dengan perempuan.”

Luxya memiliki selera ketat, meskipun bukan seorang kritikus makanan. Ia memotong setengah steak menjadi dadu-dadu kecil dan menilai tingkat kematangannya sebagai medium rare.

“Dan... kebersamaan di meja makan akan mendekatkan pasangan satu sama lain.”

Ucapannya melemah pada akhir kalimat. Apakah itu keinginan yang muncul dari bawah sadar?

Begitu sepotong daging masuk ke mulut, sesuatu menyetrum pikirannya.

Kapan terakhir kali aku memakan ini?

Antares kembali dari pintu dan melihat Luxya tiba-tiba terdiam. Ia mengenali tanda-tandanya: ingatan yang muncul mendadak. Mungkin Malver tidak mampu mengendalikan waktu munculnya hadiah pada setiap subjek.

Antares duduk di sofa berbeda, menghadap Luxya.

“Jadi, bagaimana dengan pertanyaanku sebelumnya?”

Pertanyaan tentang permintaan duniawi mungkin sudah kehilangan relevansi, tetapi nasib para individu terlupakan yang takdirnya dibeli terus menempel dalam pikiran. Mereka semua memiliki kerapuhan yang serupa, hanya disembunyikan oleh topeng berbeda.

“Waktu kita kurang dari enam jam,” katanya. “Aku bisa mendengarkan, kalau kau bersedia.”

Luxya menghabiskan makanannya, lalu membawa alat makan ke wastafel. Segelas air diminum dalam sekali teguk. Setelah menyelesaikan urusan, ia kembali dan duduk pada lengan sofa.

“Terlalu serius, tapi akan kupastikan sekali lagi. Permintaan tertentu memang menjadi reward lain setelah tujuan ruangan itu terpenuhi.”

Ia menyilangkan tangan.

“Dan aku tidak akan menggunakannya—uh, belum.”

Kata terakhir diucapkan lebih pelan. Luxya menatap kedua tangannya, mengingat kebiasaan mempertaruhkan sesuatu demi kepercayaan atau memilih diam mengikuti keadaan.

“Kau melihat sesuatu di luar sana, bukan?”

Tidak ada godaan dalam pertanyaan itu.

“Kurang dari enam jam sebelum kebebasan kita direnggut tanpa negosiasi. Sebenarnya, itu memang hak pemilik terhadap barangnya. Tapi ‘orang itu’ terlalu dangkal kalau berpikir dapat berkuasa sejauh itu.”

Luxya menatap Antares dengan keseriusan yang jarang diperlihatkan.

“Aku sedang berpikir untuk menemuinya.”

Antares memproses perubahan sikap tersebut. Datanya ternyata salah. Luxya belum menggunakan hadiah, dan lebih penting lagi, kemungkinan ia mengikuti Rute Reward atas kemauan sendiri.

“Coba saja,” jawab Antares singkat.

Fokusnya tetap pada asrama dan rencana yang sudah disusun, bukan mendadak beralih kepada Malver.

“Aku memikirkan perubahanmu. Saat pertama bertemu, kau terlihat ragu sampai wajahmu beberapa kali memerah. Kau bahkan ingin aku mengalahkanmu.”

Ia mengingat laporan Xandara.

“Itu tidak sinkron dengan deskripsinya. Apa yang terjadi?”

Luxya menghela napas berat. Pertanyaan tersebut menyentuh sesuatu yang lama disembunyikan. Keadaan mereka kini telah memasuki babak berbahaya; pemilihan langkah yang salah dapat membuat eksistensinya menghilang.

“Kami makhluk yang unik, Antares,” katanya tanpa mengalihkan tatapan. “Kami memiliki jiwa sendiri, berpikir sendiri, dan menilai apa yang perlu dilakukan. Itu yang membuat individu menarik, bukan?”

Ia mengingat hubungannya dengan Xandara dan Ken, yang berawal dari nafsu tetapi memberi sudut pandang berbeda: arus yang menyeret mereka tidak selalu terasa buruk. Mereka masih hidup karena memiliki kesempatan dan memilih memanfaatkannya.

“Sejak sadar di tempat ini, aku mulai mempertanyakan tujuan orang itu terhadap hidupku. Aku berpikir untuk patuh, mengikuti permainannya dengan caraku sendiri, berharap mendapat jawaban—serta mengetahui sejauh mana kehendakku masih ditoleransi.”

Luxya tersenyum tipis.

“Dunia ini berbeda dari tempatku. Takdir yang berbeda membawaku bertemu banyak pribadi, termasuk kau. Kita tidak saling mengenal, bahkan tidak tahu masalah apa yang dibawa masing-masing dari rumah.”

Ia berhenti sebentar.

“Yang mendasari perubahanku? Aku mulai bosan dengan permainan orang itu.”

Antares menyaring filosofinya dan menyoroti inti sederhana: Luxya secara sadar bermain mengikuti Sistem.

“Apa kau menemukan jawabannya?”

Ia mengangguk perlahan.

“Mungkin sudah waktunya berhenti bermain dan mulai mengubah aturan.”

Kalimat itu terucap dengan sendirinya. Antares mungkin tidak menyetujui cara Luxya, tetapi ironisnya, tindakannya sendiri jauh lebih buruk.

“Kalau kau tidak dikendalikan di semesta ini, apa yang ingin kaulakukan?”

“Berandai-andai Bumi berakhir? Oh, aku suka itu.”

Sikap Luxya kembali ringan.

“Sisa waktuku akan kuberikan untuk mempelajari misteri benda langit.”

Aura angkuh muncul lagi, menandai batas informasi yang tidak ingin ia biarkan Antares baca terlalu mudah.

“Dan tidak, terlalu cepat menyimpulkan apa pun. Celahnya terlalu sempit untuk waktu satu bulan dan koneksi yang terbatas. Setidaknya aku tahu sisi nyaman proyek ini.”

Ia menyilangkan kaki.

“Banyak hal bisa memancing Sistem keluar jalur. Pilihan paling ekstrem adalah berhadapan langsung dengan dalang tempat ini, kalau diperlukan, dan mencoba menciptakan takdirku sendiri.”

Senyum miring terbentuk.

“Kau tidak bisa melanjutkan Sistem ketika eksistensinya sudah tidak ada, bukan?”

Luxya mulai berjalan mengelilingi ruangan.

“Kurang dari tiga puluh persen dianggap kegagalan, dan tak ada yang tahu risiko taruhannya. Sebaliknya, persentase dominan cukup untuk lolos serta menerima kemewahan berlabel kehormatan.”

Ia berhenti menghadap Antares.

“Kau salah satu variabel yang tidak diperlukan saat itu. Aku tidak akan menanyakan detail, tetapi alasanmu kembali menunjukkan bahwa Sistem tidak solid.”

Penjelasan dari layar sengaja membangun gambaran mulia, seakan mereka masih memiliki peran penting. Bagi orang yang sudah putus asa di dunia asal, manipulasi itu dapat terasa seperti keselamatan.

Luxya membencinya.

“Sekarang pertanyaanku: apa kita sedang memikirkan hal yang sama?”

 

* * *

 

Setelah meninggalkan pintu yang dijaga oleh mata biru itu, Mikado melanjutkan perjalanan sampai berhenti di depan kamar tanpa papan nama.

“Buat apa papan nama kalau Sistemnya bisa dimasuki segampang ini?”

Ia baru hendak menyentuh interkom ketika suara dobrakan terdengar dari dalam.

“Eng?” Mikado memiringkan kepala. “Wah, lagi KDRT di dalam? Lihat, ah!”

Tangannya masuk ke Sistem. Dalam jaringan yang dipenuhi sambungan dan kode asing, Mikado menemukan kamera kamar. Hanya ada seorang perempuan berambut merah muda panjang yang berusaha membuka pintu.

“Loh, sendirian?”

Seringai muncul di wajahnya. Persetan apakah perempuan tersebut merupakan pasangan wajib atau bukan. Ada seseorang yang sendirian dan mencoba keluar; Mikado tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mendapat hiburan.

Knock-knock.”

Tawanya menggema melalui interkom. Ia mengutak-atik bagian kecil dari Sistem sampai suara klik terdengar.

“Khekhe. Semudah ini membuka tempat ini? Kenapa belum ada yang terpikir kabur?”

Mikado keluar dari jaringan dan kembali ke tubuh fisik. Tangannya mendorong pintu yang sekarang tidak lagi terkunci.

“Hei, kau yang meminta seseorang datang, kan? Doamu baru saja dikabulkan.”

Di sisi lain pintu, Bella sudah jatuh bersandar pada kayu solid tersebut.

Setiap tarikan napas terasa seperti mengisap bara. Paru-parunya terbakar, dada terhimpit oleh beban yang tidak terlihat, dan bintik hitam menari pada pandangan. Ia tidak lagi punya udara untuk berteriak atau berbisik.

Mohon... siapa pun... tolong...

Bayangan Marin melintas dalam benak. Bella bahkan belum sempat berpamitan.

Apa aku akan mati di sini?

Kegelapan merayap dari tepi pandangan ketika suara logam kecil memecah keheningan.

Klik.

Kunci terbuka.

Dengan sisa tenaga, Bella menyeret tubuh menjauh. Pintu berderit, lalu udara segar menerjang masuk. Itu bukan sekadar angin, melainkan kehidupan. Bella terbatuk keras dan menghirup udara dengan rakus. Setiap tarikan terasa dingin dan menyakitkan sekaligus nikmat pada tenggorokan yang kering.

Ketika penglihatannya kembali fokus, netra kecubung menangkap siluet seorang pria di ambang pintu. Asing. Bisa saja salah satu subjek, bisa pula penyelamat sebenarnya. Bella tidak peduli. Pria tersebut adalah sumber udara sekarang.

Ia terhuyung ke depan dan memeluk Mikado erat, mencari pegangan pada satu-satunya benda nyata di hadapannya.

“Te-terima... kasih...”

Mikado sempat menyangka perempuan itu akan menghajar atau setidaknya mencaci maki karena ia memasuki kamar tanpa izin. Ketika Bella justru menabrakkan diri kepadanya, seringainya semakin lebar.

“Eeeeh? Kenapa? Kau semudah itu memberikan diri kepada orang lain? Wah, keberuntunganku berbalik?”

Namun, ia segera menyadari betapa berat udara di dalam kamar. Mikado mengernyit, melepaskan pelukan Bella dengan lembut tetapi tegas, lalu melangkah masuk untuk memeriksa ruangan. Selain dari pintu yang terbuka, hampir tidak ada udara bergerak.

Sudah berapa lama perempuan itu berada di sana? Bagaimana ia masih hidup? Mikado mungkin datang tepat pada waktunya.

“Hee... semuanya jadi makin menarik.” Kekehan kecil terdengar. “Tiba-tiba kita diberi tahu kehidupan lama, ditaruh di kamar sendirian, lalu ada orang yang hampir dibunuh?”

Ia menarik dagu Bella dan mengamati wajahnya dari dekat.

“Hei, kau melakukan apa sampai mereka ingin menghabisimu?”

Bella masih berusaha menstabilkan napas. Sarkasme Mikado berdengung samar di telinga. Otaknya belum mampu memproses hinaan. Pelukan tadi bukan penyerahan diri, melainkan refleks putus asa untuk memegang sesuatu yang menariknya dari ambang kematian.

Setelah dilepaskan, kedua tangan Bella bertaut di depan dada sampai buku-buku jarinya memutih. Pria itu memang menyelamatkannya, tetapi seringai dan tawa kecilnya tidak memberi rasa aman.

Apakah ia penyelamat, atau mimpi buruk berikutnya?

“Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Bella dengan suara parau. “Sungguh.”

Ia menelan ludah dan menatap lurus kepada Mikado.

“Aku hanya mengikuti semua instruksi di tempat ini. Aku tidak melawan. Aku baru akan keluar untuk mencari pasangan yang ditentukan, lalu...”

Bayangan pria berambut biru kembali melintas.

“Tiba-tiba ada seorang pria masuk. Rambutnya biru muda. Aku tidak mengenalnya. Dia hanya menyuruhku diam di kamar dan tidak keluar.”

Tubuh Bella kembali gemetar.

“Dia pergi begitu saja. Kukira hanya mengancam. Tapi setelah itu udara di kamar mulai menghilang. Dia pasti melakukan sesuatu pada ventilasinya.”

 

* * *

 

Ruang Karantina berada di gedung berbeda dari kompleks asrama.

Keheningan di dalam sel kaca begitu pekat sampai Adarra dapat mendengar darah mengalir di telinganya. Hanya ada kasur logam keras dan satu dinding yang seluruhnya terbuat dari kaca. Dari sisi tempatnya berdiri, ia hanya melihat pantulan dirinya sendiri yang pucat.

“Aku sudah mengatakannya,” ucap Adarra. Suaranya menggema dalam ruang kecil. “Berkali-kali.”

Ia bangkit dan merobek plester yang menahan selang serta elektrode pada tubuhnya. Setiap cabutan menyisakan rasa perih, tetapi rasa sakit membantu menjaga fokus. Status NR—Non-Reproductive—masih melekat padanya.

Telapak kakinya menyentuh lantai dingin. Adarra berjalan mendekati kamera pada sudut ruangan.

“Kalau yang kaucari adalah sesuatu yang ‘alami’, aku tidak akan pernah bisa disembuhkan.”

Bayangannya terpantul pada lensa.

“Jadi, kalau kau tetap menginginkannya, kau tidak bisa memaksa hal itu tumbuh.”

Adarra menatap lurus kepada pengawas yang mungkin berada di balik kamera.

“Kau harus benar-benar membuatnya dari nol. Kau harus memalsukannya.”

Sementara itu, Belze berlari menyusuri koridor asrama dengan Cynthia di punggung. Empat kakinya mengambil langkah lebar, tetapi masih mampu bermanuver pada setiap sudut tanpa menabrak sesuatu yang tidak perlu. Tidak ada penjaga ataupun hambatan di lorong yang sebagian besar kosong.

Pintu utama sudah terlihat. Setelah itu, Belze tidak tahu harus bergerak ke arah mana. Seluruh navigasi diserahkan kepada Cynthia.

“Kita perlu keluar dari asrama,” ujar Cynthia. Efek perubahan menjadi Carians sebelumnya menguras tenaga; napasnya masih terengah-engah. “Lokasinya ada di gedung lain.”

Ia menggenggam tubuh Belze agar tidak terjatuh.

“Bisakah kau sedikit memaksakan diri?”

Tangannya mengelus bagian punggung monster tersebut sambil memberi isyarat kepada sebuah tembok. Menembus dinding akan mempersingkat perjalanan, tetapi keadaan Belze membuat pilihan itu berbahaya.

Suara Cynthia terdengar samar bagi Belze, seakan teredam air. Tubuhnya masih berdenyut sakit. Kekuatan yang tersisa hampir mencapai batas, tetapi mereka tidak memiliki waktu untuk mencari jalan aman.

Belze mengalirkan sisa energi ke ekor. Dengan satu ayunan, bagian itu menghantam dinding dan meremukkannya. Debu serta serpihan beterbangan, lalu udara luar menyambut mereka.

Mereka berhasil meninggalkan gedung asrama.

Satu kilometer berlalu. Kemudian dua. Tiga.

Tubuh Belze sesekali berubah kembali menjadi Terra tanpa diminta, lalu kembali lagi ke wujud Primalis seperti layar yang kehilangan sinyal. Dalam perjalanan yang dikejar waktu, mereka akhirnya melihat bangunan lain—berbeda dari asrama, berada pada arah yang ditanamkan Adarra ke dalam kesadaran Cynthia.

Di sanalah Ruang Karantina berada.

 

* * *

 

Antares mendengarkan pertanyaan Luxya mengenai kesamaan pikiran mereka. Filosofi yang panjang kembali disaring menjadi beberapa gagasan yang dapat digunakan.

“Ada orang yang mati di Rute Punishment—sejauh yang kutahu.”

Jika seluruh subjek dianggap penting, mengapa Sistem membiarkan penumbalan? Antares hanya menjalani satu hari siksaan sebelum keluar, sedangkan Luxya menghabiskan tiga puluh hari di jalur sebaliknya. Rute Punishment dapat dipahami sebagai filter cepat untuk membuang variabel yang tidak diinginkan.

“Apa yang sedang kaupikirkan?”

Luxya menepukkan kedua tangan. Gema singkat memberi jeda pada pertukaran pikiran mereka.

“Menemukan kedamaian abadi,” jawabnya. “Tapi belum saatnya aku bertindak.”

Ia tidak ingin bergerak hanya karena emosi. Tindakan terang-terangan bukan gayanya.

Antares bangkit dari sofa. Ia mengira tidak banyak lagi yang hendak disampaikan Luxya.

Hadiah ingatan kembali mengusik. Ketika menyaksikan detik pengasingannya, Antares tidak menemukan emosi apa pun pada wajah sendiri. Seluruh peristiwa tampak biasa, seolah ia telah merancang hukuman tersebut.

Ingatan itu dikubur Malver bersama bagian lain yang dianggap perlu. Satu-satunya entitas yang benar-benar Antares waspadai ketika masih berada di Bumi adalah Ethereal—musuh para Angel Lord. Keduanya memiliki kecerdasan selain kekuatan, sebab itu ia perlu mengetahui apakah Luxya berkaitan dengan Angel Lord.

“Ada lagi yang ingin kausampaikan, Luxya?”

Luxya mengernyit geli. Ia merasa sudah memberi terlalu banyak penjelasan.

“Kau sangat penasaran, atau apa?”

Sambil menggoda, ia melepaskan salah satu gelang dari lengan kanan.

“Aku pernah menantangmu dalam mimpi, dan kau ingin tahu hadiahnya? Benda ini mungkin berguna nanti.”

Gelang tersebut merupakan benda yang menyertai Luxya sepanjang hidup—bukti pertama ketika ia berhasil menguasai kekuatannya. Di dunianya, hampir tidak ada orang yang diizinkan menyentuh benda tersebut.

Ia mengulurkannya kepada Antares.

“Akhir-akhir ini beberapa orang tidak luput dari pesonaku dan dengan berani menjadi bawahanku.” Kepercayaan diri khasnya kembali terdengar. “Aku tidak bisa menjanjikan hadiah lebih banyak sebelum memastikan bawahan pertamaku menerimanya lebih dulu.”

Gelang didominasi emas dengan batu bulan biru.

“Kamu perhatian sekali.”

Antares menerima benda itu. Takhta bukan sesuatu yang penting baginya. Selama tujuannya tidak dihalangi, Luxya bebas menganggap hubungan mereka sebagai apa pun.

“Saat pertemuan pertama, aku mungkin menyukaimu.”

Kalimat tersebut keluar spontan. Antares mulai berjalan.

“Orientasiku memang tujuan, tapi sebagai makhluk hidup, semuanya memiliki perasaan.”

Bagi seseorang setenang Antares, pujian itu terasa seperti menemukan retakan pada berlian. Mata Luxya berbinar, terlebih karena pagi itu Antares berbicara jauh lebih banyak daripada biasanya.

Namun, sesuatu di ruangan telah berubah.

Gelombang suara tidak lagi merambat dengan baik. Suara Antares terdengar lebih berat. Kehampaan perlahan memenuhi ruang. Materi kehidupan yang disediakan alam mulai habis.

Antares kembali terseret ke masa lalu.

Dalam ingatan tersebut, ia pulang ke istana keluarga—bangunan terlalu megah bahkan bagi bangsawan. Saat itu Antares masih lebih muda. Setiap hari tawa ayah, paman, serta sepupu terdengar dari ruang perjamuan. Mereka merayakan bisnis penjualan tenaga kerja yang terus menghasilkan keuntungan.

Tawa itu belum cukup memicu tindakannya.

Sampai suatu malam, Antares mengikuti ayahnya menuju ruang terlarang di balik perpustakaan. Di dalam ruang kedap suara, seorang anak perempuan yang belum berusia lebih dari sepuluh tahun meringkuk dengan luka di sekujur tubuh. Ayah dan pamannya berdiri di hadapan anak itu, mabuk oleh alkohol serta keserakahan.

Mereka tertawa.

Antares masih memiliki nurani dan kode untuk menjaga kebersihan. Apa yang ia lihat merupakan pelanggaran—noda yang tidak dapat dibiarkan.

Malam itu, ia memutuskan rumahnya harus disterilkan.

Pertama: singkirkan tangan yang merusak keteraturan.

Ia bergerak ketika malam semakin dalam. Satu per satu, sumber kekacauan di rumah tersebut dinetralkan. Orang yang tertawa paling keras menjadi yang pertama menghilang. Dengan satu titik tekanan pada leher dan serangan cepat yang menghentikan jantung, Antares membunuh mereka tanpa memberi kesempatan melawan.

Setelahnya, ia memotong tubuh mereka dengan sangat rapi.

Ruangan sesudahnya harus lebih rapi daripada ketika dimasuki.

Kekuatannya bekerja tanpa suara. Setiap tetes darah diuapkan. Jejak fisik, noda anggur, bau parfum, dan segala tanda keberadaan keluarga itu dilenyapkan. Ruang kedap suara dibersihkan paling akhir serta paling teliti.

Buat mereka seolah tidak pernah ada.

Sebagian besar tubuh makhluk hidup terdiri dari air. Antares mengambil alih cairan dalam sel-sel jasad dan mengubah sifatnya menjadi pelarut agresif. Tubuh-tubuh itu meluruh menjadi cairan organik gelap tanpa menyisakan tulang ataupun jaringan padat, lalu dialirkan ke sistem pembuangan.

Anak-anak yang menjadi korban dibius dengan lembut dan dikembalikan kepada keluarga masing-masing sebelum fajar.

Sesudah tiga langkah kodenya selesai, Antares membocorkan bukti kejahatan finansial dan politik keluarganya kepada dewan otoritas. Para tetua dihadapkan pada kejahatan yang tidak terbantahkan serta keluarga bangsawan yang menghilang tanpa jasad, lokasi pembunuhan, ataupun skandal yang dapat diselidiki.

Antares melihat pemahaman dalam mata mereka.

Ia telah memberikan jalan keluar yang bersih. Otoritas tidak dapat membiarkannya bebas, dan Antares pun tidak membutuhkan mereka. Pengasingan serta penghapusan nama menjadi solusi bagi kedua pihak—narasi resmi yang menutupi kegagalan para Heavyworlder mengawasi bangsawan sendiri.

Itulah sebabnya wajahnya terlihat puas ketika sejarahnya dihapus. Pekerjaan telah diselesaikan dengan sempurna.

Ingatan berakhir tanpa menyita waktu nyata. Antares kini membelakangi Luxya.

“Tindakanku saat ini mungkin terlihat seksis.”

Ia menjelaskan pemikirannya dengan suara yang semakin berat.

“Laki-laki memiliki stereotip tidak mampu mengendalikan nafsu. Dalam konteks reproduksi yang diinginkan Malver, perempuan akan dinilai lebih baik apabila bekerja mengikuti dorongannya.”

Pernyataan itu membuka sebagian tujuan Antares berada di kamar tersebut.

Sejak pertama memasuki asrama dan mencuci tangan, ia telah memetakan jaringan pipa melalui air yang mengalir ke saluran pembuangan. Kepekaannya terhadap desis pendingin udara bukan sekadar gangguan. Antares menghentikan pergerakan air pada sistem dan menyumbat ventilasi.

Ketika memasak steak, ia menggunakan api besar untuk menghasilkan permukaan yang sempurna. Api memerlukan oksigen; dalam ruang tertutup, unsur itulah yang terus dikonsumsi. Materi yang sempat disusupkan Mikado melalui Sistem pun didorong kembali agar tidak membawa udara tambahan.

“Di Rute Punishment, mereka menggunakan oksigen sebagai ancaman,” kata Antares. “Mereka memahami hampir semua ras memiliki kelemahan serupa.”

Metode yang digunakan Sistem tidak berbeda dari rencananya. Antares teringat Belladonna—percobaan awal—dan sekarang Luxya. Ia tidak hanya mengunci ruangan. Ia mengikis kadar oksigen perlahan, membiarkan target menghabiskan waktu sampai tidak menyadari apa yang terjadi.

Kunci berikutnya adalah air. Sifat polar H₂O memungkinkan Antares merebut ion konduktif dari lingkungan. Dengan mengatur distribusi dan pergerakannya, ia menyebarkan kabut air berion yang nyaris tak terlihat, menciptakan atmosfer tersendiri di dalam kamar.

“Kalau mereka tidak menghentikanku sekarang,” katanya, “mereka akan kehilangan sebuah hyperparameter.”

Luxya tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Ia tidak terlihat takut. Gelang yang diberikan hanyalah benda yang menemaninya sepanjang hidup, tetapi keberanian Antares menerimanya serta pengakuan singkat tadi masih meninggalkan kilau pada matanya.

Ia menyilangkan kedua tangan sambil menyaring informasi yang baru diterima. Antares ternyata jauh lebih penuh perhitungan daripada kesan cuek yang selama ini diperlihatkan. Dalam beberapa jam tersisa, Luxya belajar lebih banyak tentangnya dibandingkan selama pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Pandangannya jatuh pada punggung Antares. Napasnya sedikit berubah ketika kadar oksigen semakin rendah.

“Sangat rapi, Antares.”

Luxya terkekeh ringan seolah sama sekali tidak terancam.

“Untuk beradaptasi di rumah ‘ternak’, kau masih mempertahankan moralitas putihmu.”

Ia berhenti sebentar untuk menarik napas.

“Jadi, kenapa melakukan ini? Kau ingin menangkap paus?”

Hipoksia merupakan keadaan ketika kadar oksigen dalam sel tubuh turun terlalu rendah.

Antares mengamati setiap gejala pada Luxya. Ia tidak berniat menolong. Percakapan hanya akan mempercepat habisnya udara, sehingga ia membiarkan perempuan itu terus berbicara sambil menunggu.

Pandangannya terangkat ke langit-langit, ke titik mana pun yang mungkin digunakan untuk menonton mereka.

Rencana tersebut terbentuk sejak pertemuannya dengan Xandara. Perempuan raksasa itu mengaku rasnya mampu melihat niat untuk mencegah kejadian besar. Sistem semacam itu berguna bagi tujuan Antares. Kebanyakan orang akan berusaha menyembunyikan rencana; Antares justru memilih memperlihatkannya.

Setiap tindakan disusun agar Sistem maju-mundur dalam menilai titik loss. Ia ingin dipandang sebagai eksperimen yang tidak mudah diprediksi—atau bisa diprediksi, tetapi hasilnya selalu mengarah kepada pemberontakan. Sebuah anomali yang tidak lagi dapat diabaikan sebagai parameter biasa.

Apa yang akan dilakukan raja ketika salah satu pion terbaik berada di ambang kematian?

Jawabannya datang sebagai perubahan pada realitas.

Di tempat lain, pesan masuk ke dalam kesadaran Windham Chandler bukan sebagai suara, melainkan data mentah. Tanda vital subjek dari Semesta Perfection berkedip merah. Detak jantungnya melambat sampai hampir tidak terdeteksi.

Anomali teridentifikasi.

Perintah untuk bergerak diterima.

Di dalam tubuh Windham, entitas The God-Maw bergejolak. Rasa lapar yang selama ini menjadi kebisingan latar memperoleh sasaran. Getaran menjalar pada tulang punggung ketika entitas itu meronta untuk dilepaskan. Tujuan merupakan satu-satunya hal yang menahannya agar tidak melahap Windham dari dalam.

Dinding kamar tempat Antares berada melengkung ke dalam. Udara bergetar hebat, kemudian realitas robek dan membuka celah yang tidak memantulkan cahaya.

Windham melangkah keluar dari kegelapan.

Kehadirannya mengubah ruangan secara langsung. Udara yang tipis terasa semakin berat serta dingin. Retakan hitam merambat pada lantai dan dinding. Lampu berkedip lalu mati satu per satu.

Windham berhadapan dengan subjek anomali yang menatap sekeliling seolah sedang berada dalam siaran televisi. Menurutnya, Antares terlalu naif apabila menyamakan Sistem Malver dengan pikiran sesederhana itu.

Windham merasakan ketiadaan oksigen. Antares tidak menjalankan pembunuhan cepat; ia menyiarkannya perlahan untuk memancing reaksi. Ia ingin dilihat.

Namun, ada satu hal yang tidak diperhitungkan Antares.

Malver tidak mengirim Overseer untuk bernegosiasi. Ia mengirim peristiwa pemusnahan.

Naluri mengambil alih Windham. Fokusnya menyempit.

“Mengganggu sekali,” desisnya.

Suara dari balik masker terdengar serak dan berat. Seluruh ekspresi tersembunyi, menyisakan sepasang mata predator.

Energi gelap berkumpul di sekitar tangan. The God-Maw membentuk titik ketiadaan—ruang yang merusak udara, menarik debu serta partikel, dan menyerap cahaya maupun radiasi di sekelilingnya.

Windham menerjang menuju jantung Antares. Lantai beton retak akibat lompatan. Momentum gerakannya menciptakan gelombang kejut yang memecahkan kaca-kaca tersisa.

Saat tangannya menyentuh sesuatu, titik ketiadaan ikut terseret melalui realitas. Gesekan keduanya melepaskan energi kinetik luar biasa besar.

Ledakan meletus dari pusat asrama.

Gelombang kejut menjalar dalam radius luas dan menghancurkan gedung tersebut.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.