Diablo Voids
Chapter 2

Wet Dream

11,299 words · ~52 min read

Luxya dan Mikado

Luxya Parhelion membuka mata dengan pandangan kosong. Ia menatap langit-langit yang rendah dan sederhana, lalu mengerutkan kening tanpa mengucapkan apa pun. Ingatan buram dari tidur panjangnya masih mengacaukan pikiran.

Mimpi itu... sangat mendebarkan.

Namun, semakin ia mencoba mengingatnya, semakin kabur segala sesuatu yang telah dilihatnya—terutama wajah sosok yang berada bersamanya.

“Em...?”

Suara dari sebelah membuat perhatian Luxya beralih.

Mikado membuka mata sambil mengerjap. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap ruangan biasa yang tidak lagi berubah mengikuti keinginannya. Tidak ada kemewahan atau fasilitas ajaib seperti dalam mimpinya; hanya kamar sederhana, perabot seadanya, serta beberapa makanan kaleng yang terlihat dari tempatnya berbaring.

“Pagi lagi? Apaan nih? Looping? Atau malah mimpi?” gumamnya. “Tapi nyata banget buat jadi mimpi.”

Ia mengangkat tangan. Gerakan itu mengingatkannya pada saat jari-jarinya mengelus dagu seorang gadis berkepang dalam mimpi tadi. Wajah gadis itu sudah sulit dibayangkan, tetapi sensasi sentuhannya masih tertinggal.

“Yah, padahal sebentar lagi bisa ledakin jendela. Kamar ini juga kelihatan boring.”

Mikado mengeluh sambil menoleh. Tatapannya jatuh pada seorang perempuan berambut biru yang mengenakan pakaian serba putih. Ia mengerjap sekali, lalu menyeringai.

“Gilak, yang ini lebih bohai,” celetuknya. “Boleh lah. Mendingan ini.”

Luxya terpaku sesaat ketika menyadari bahwa ia tidak sendirian. Alisnya terangkat tipis, napasnya mulai berat, dan tubuhnya menegang. Perasaan yang muncul begitu asing, tetapi sekaligus berarti—seolah pria yang bahkan belum dikenalnya itu sudah berada dalam genggamannya sejak lama.

Di balik dorongan tersebut, terselip rasa bersalah yang tidak dapat ia jelaskan. Ia baru saja memimpikan orang lain, padahal kini ada seseorang di rumah yang terasa begitu dekat dengannya.

“Kau—”

Ucapan Luxya tertahan. Ia sendiri terkejut mendengar intonasi suaranya.

“Apa kau senang dengan yang kau lihat, hm?”

Ia mencoba menenangkan diri dengan pertanyaan yang terdengar percaya diri.

Tubuh Mikado seolah tersengat listrik. Alisnya berkerut, sedangkan seringainya melebar.

“Aah, senang saja tidak cukup menjelaskannya, Nona.”

Suaranya sedikit gemetar. Mikado tidak bodoh. Pasti ada sesuatu yang dipasang di ruangan ini. Mana mungkin ia merasakan kepemilikan sekuat itu terhadap perempuan yang bahkan belum pernah ditemuinya?

Ah, tunggu. Tentu saja mungkin. Sejak awal, Mikado memang sudah sakit kejiwaan.

Ia meraih tangan Luxya, mengecup punggungnya, lalu perlahan menjilat sela-sela jemarinya.

“Hei, apa yang kau lakukan saat aku tidur, Nona Tak Dikenal?” tanyanya. “Apa yang kau lakukan sampai membuatku begini, hm?”

Sebenarnya, Mikado tidak memerlukan jawaban. Ia sudah tahu bahwa yang gila adalah dirinya sendiri.

Tatapan Luxya menajam ketika pria itu mendekat. Sensasi hangat dalam tubuhnya semakin kuat. Meski demikian, ia membiarkan tangannya diraih dan disentuh bibir Mikado. Kepalanya sedikit menunduk, menyembunyikan tatapan nanar yang memperlihatkan rasa kasihan kepada lawan bicaranya.

Begitu manja. Begitu haus.

“Aku selalu membayangkan memiliki peliharaan yang patuh,” bisiknya.

Luxya mendorong ibu jarinya semakin jauh ke dalam mulut Mikado, mempermainkan lidahnya dengan tekanan lembut.

“Anjing paling mudah diiming-imingi hadiah. Apa kau seperti itu, hm?”

Ia tidak terlalu peduli apakah jawaban yang diterimanya nanti akan jelas. Untuk saat ini, ia hanya melihat sebuah mainan yang menghibur.

“Hkhah—”

Ibu jari Luxya memasuki mulutnya. Mikado justru terkekeh.

“Heee, kau suka yang patuh, ya?”

Ia tertawa, lalu mendesak tubuh Luxya hingga hampir menabrak dinding yang dingin dan buruk. Dari atas, Mikado menatap perempuan itu.

“Bagaimana, ya... bagaimana kalau ternyata aku anjing liar? Yang langsung mencuri makanan yang dijatuhkan di dekatnya begitu saja?”

Satu tangannya turun dari leher Luxya ke tengah dada, lalu meluncur sampai perut dan berhenti di sekitar pusarnya.

“Aaah... wanita secantik ini, sayang sekali kalau tidak diikat dengan rantai, kan?” Mikado tertawa lagi. “Heei, kau suka itu? Bagaimana kalau aku merantai kedua tanganmu dan kau merantai leherku? Kita akan sama-sama terantai satu sama lain...”

Luxya mendelik. Ia jelas tidak menyukai dinding buruk itu, terlebih sentuhan Mikado yang bergerak seduktif di tubuhnya.

“Anjing tidak pernah berbicara dan memerintah,” tegasnya dengan suara rendah.

Setruman kecil dari kekuatannya membuat Mikado tersentak. Pada saat yang sama, Luxya menendang pahanya dengan keras hingga pria itu jatuh berlutut.

“Dasar anjing kampung.”

Ia mencengkeram surai Mikado yang acak-acakan dan memaksanya mendongak. Tatapannya meremehkan dan merendahkan, seolah tidak ada negosiasi yang bisa membuatnya menyerahkan posisi superior. Bahkan rasa bersalah yang masih bercampur dalam benaknya tidak mampu menahan keinginan tersebut.

“Akh!”

Mikado jatuh berlutut. Rambut putihnya ditarik kasar hingga kepalanya mendongak.

“Anhhh~♡”

Ia menatap Luxya dari bawah dan merasakan seluruh tubuhnya memanas serta menegang.

Lagi. Lagi...!

“Hehe... hahaha! Memang!” Mikado tertawa keras. “Memang kau pikir aku anjing penurut? Sayang sekaliii.”

Ia terkekeh.

“Tapiii... kalau kau merawatku dengan baik, mungkin aku akan menuruti segala permintaanmu, lho~”

Luxya membuka mulut untuk menjawab sambil melototi tingkah pria yang tampak menikmatinya. Ia sempat berpikir akan memanfaatkan Mikado sampai bosan.

Namun, sekelebat bayangan gelap melintas dalam pikirannya.

Wajah Luxya memucat. Napasnya tersendat dan bibirnya mengatup tidak suka. Geraman kecil lolos dari tenggorokannya.

“Kau menikmatinya, bukan?” desisnya tajam tanpa menatap Mikado.

Ia tidak memahami rasa bimbang yang tiba-tiba menahannya. Ada sesuatu yang menghalangi—sesuatu yang membuatnya bahkan tidak sanggup menatap wajah lawan bicaranya secara langsung.

Mikado memiringkan kepala ketika melihat perubahan tersebut.

“Huummm? Apa-apa? Kok tiba-tiba diam begituu?”

Ia menegakkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan dada Luxya, lalu mendongak menatap perempuan yang sengaja menghindari pandangannya.

“Hehe, aku suka apa saja~ selama kau tidak mencoba kabur dariku.”

Kedua tangannya menyentuh wajah Luxya dan menariknya sampai jarak mereka tinggal satu sentimeter.

“Karena kalau kau kabur, bisa-bisa aku mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun~~♡”

Luxya akhirnya menatapnya. Rautnya menyerupai seseorang yang baru saja ditorehkan luka. Helaan napasnya berat ketika jarak di antara mereka semakin intim dan terasa tidak tertahankan.

Ia refleks menepis tangan Mikado, lalu mendorongnya menjauh.

“Untuk kali ini... aku tidak bisa,” jawabnya rendah.

Lonjakan adrenalin dalam tubuhnya surut, digantikan sensasi dingin di permukaan kulit. Luxya bingung. Ia benar-benar dihantui sesuatu yang tidak jelas.

“Eeeh, enggak seru, ah.”

Mikado bangkit setelah ditepis, mengembuskan napas, lalu mengangkat bahu.

“Padahal kupikir akhirnya bakal jadi seru. Ternyata kau memang seserius mukamu, ya?”

Ia tertawa setengah mengejek, kemudian mengamati ruangan.

“Terus mau ngapain? Kita di sini doang, nih. Oh, sekarang bisa lihat ke luar jendela!”

Berbeda dari jendela buram dalam mimpinya, kaca di hadapan mereka kini memperlihatkan dunia luar dengan jelas. Ribuan rumah susun berjejer rapat, masing-masing dikelilingi pagar. Pemandangan itu tidak jauh berbeda dari dunia Mikado ketika ia sedang tidak memasuki perangkat milik orang lain.

Luxya menutupi setengah wajahnya dengan telapak tangan. Ia malu karena tidak mampu mengendalikan tindakannya sendiri. Pikiran dan perasaannya seolah tidak berjalan searah.

“Maaf,” ucapnya dengan napas gemetar.

Ia duduk di salah satu sofa dan berusaha menenangkan diri, mengabaikan ocehan Mikado.

“Aku sedang tidak mood.” Luxya mengusap wajahnya pelan. “Pernahkah kau berpikir kenapa kau bertingkah seperti itu?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada Mikado, tetapi ia sadar bahwa hal yang sama berlaku bagi dirinya. Sejak terbangun, Luxya merasa seperti orang yang berbeda.

“Enggak,” jawab Mikado singkat.

Seringai kembali tercetak di wajahnya.

“Buat apa aku mikirin alasan aku bersikap atau bertingkah sesuatu? Kan aku yang melakukan. Kau aneh juga, ya, Nona. Enggak kelihatan, lho.”

Ia tertawa seolah tidak memiliki beban hidup apa pun.

“Begitu,” respons Luxya pendek.

Ia masih merenung karena yakin ada sesuatu yang salah. Intuisinya terusik sejak awal.

“Kau sembrono,” komentarnya. “Kau melompat begitu saja kepadaku dan bahkan tidak repot-repot menyebutkan namamu.”

Luxya mendongak dan memandang pria itu dari sudut matanya. Ia mencoba membangun hubungan yang lebih tenang, tanpa kembali dipicu oleh gejolak hormon.

“Eh? Jadi maksudnya mau kenalan dulu, nih?” Mikado berseru. “Uunch, manis banget, deh. Kayak anak kucing ajaa. Ututututu.”

Dengan santai, ia kembali mengelus dagu Luxya seperti sedang membelai seekor kucing. Senyum sok manis terpampang di wajahnya.

“Ya sudah, ya sudah. Kenalan dulu, deh. Aku Mikado! Panggil apa saja boleh. Mika atau Mikado. Panggil ‘milikku’ juga boleeh.”

Ia terus mengoceh.

“Nona sendiri? Perlu kupanggil ‘majikanku’?”

Luxya merengut ketika Mikado lagi-lagi menyentuhnya.

“Luxya Parhelion,” jawabnya. “Panggil saja Luxya... Mikado.”

Ia mendengus mendengar cara pria itu memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri, lalu mengamati postur dan setiap detail tubuhnya.

“Terlalu cepat memanggilku majikan saat aku belum mengalungimu dengan rantai atau menandaimu,” jelasnya mantap. “Sudah berapa banyak kau menawarkan diri seperti itu?”

“Hmmm, Luxya, ya? Nama klasik,” komentar Mikado. “Heeeh, ya sudah. Kalau begitu, rantai aku, dong.”

Ia tertawa terbahak-bahak, kemudian memiringkan kepala.

“Eemmm... maksudmu berapa kali aku menawarkan diri sejak bangun pagi tadi di sebelahmu, atau berapa kali sejak aku punya kesadaran diri?”

Jawaban itu memberi Luxya petunjuk kecil yang baru.

Apa keadaan mereka sama?

“Anggap saja sejak kau mulai bisa berpikir—” Lidahnya tertahan sesaat. “Sebenarnya, kau bukan dari tempat ini?”

Luxya yakin dirinya tidak berasal dari tempat tersebut. Tidak ada alasan bagi mereka untuk merasa seintim ini, tetapi kedekatan aneh itu terus memaksanya mendekat. Jika ucapan Mikado mengacu pada kejadian sejak ia baru terbangun, berarti situasi ini benar-benar asing bagi mereka berdua.

“Wah, kalau itu sih sudah enggak terhitung, ya. Ahahaha!” Mikado menjawab santai sambil mengangkat bahu. “Ya, terus kenapa? Bukan berarti aku pernah ngapa-ngapain juga.”

Ia memiringkan kepala dan tersenyum.

“Wah, sadar juga, ya, Nona?”

Mikado terkekeh rendah sambil berjalan mengitari ruangan.

“Benda elektronik di sini cuma lampu. Jadi jelas ini bukan tempat aku biasa tinggal. Tapi di luar semuanya kelihatan mirip. Yang bikin aku sadar, enggak ada jaringan apa pun yang bisa kumasuki.”

Penjelasannya terdengar aneh, tetapi cukup untuk menguatkan kecurigaan Luxya.

Perempuan itu ikut meneliti setiap bagian ruangan. Baginya, tempat tersebut jelek dan terlalu murah. Seleranya menuntut kemewahan, kilau, serta estetika tinggi. Namun, tidak ada satu pun bagian kamar yang berubah meskipun ia menginginkannya. Semua terasa lebih realistis daripada dunia dalam mimpi tadi.

“Apa kau sadar tujuan pertemuan ini?” tanyanya, kesal kepada situasi alih-alih kepada Mikado. “Membuat kita mengikuti naluri liar seperti binatang?”

Ia mengingat tindakan sebelumnya yang terasa dipaksakan oleh sesuatu di luar dirinya. Keningnya berkerut. Ia gelisah, tetapi tidak tahu apa yang bisa dilakukan. Menggunakan kekuatannya pun berisiko, dan ia masih memiliki cukup empati untuk tidak menyeret Mikado ke dalam dampaknya.

“Kita sudah begini,” keluh Luxya sambil mengambil salah satu kaleng. “Pelaku di balik semua nasib ini akan membayar karena menempatkanku serendah ini.”

Ia meremukkan kemasan itu hingga tutupnya terbuka, memindahkan daging kaleng ke piring, lalu membiarkannya tanpa disentuh. Selera makannya telah hilang. Setelah itu, ia bersandar pada lengan sofa dan memandang deretan rumah susun di luar jendela.

“Eemmm? Jadi maksudmu kita lagi dikontrol orang, nih?” tanya Mikado.

Ia mendekat ke wajah Luxya sambil terkekeh.

“Itu sih kayaknya orang paling bodoh pun juga tahu~”

Mikado kembali menjauh dan berjalan memutari ruangan. Langkahnya sedikit bergema.

“Ya, orang normal pasti bakal bertanya-tanya. Mau apa? Untuk apa semua ini? Kejam, enggak manusiawi, begitu, kan?” Ia mengerjap, lalu tertawa terbahak-bahak. “Sayangnya, kau dipertemukan dengan orang yang kurang waras~”

Ia menatap Luxya dari atas ke bawah.

“Apa tuh? Memangnya di duniamu kau ratu atau dewi?”

Bagi Mikado, keadaan ini memang tidak ideal, tetapi belum sampai membuatnya tidak bisa hidup.

“Orang waras ataupun gila, kalian tidak lebih dariku,” jawab Luxya dengan sombong.

Ia berputar menghadap Mikado dan mengangkat kepala penuh keyakinan.

“Kau harus bersyukur karena telah berduaan denganku yang diberkati ini.”

Luxya adalah salah satu Angelic, dengan aura berkilau dan rupa yang membuatnya merasa pantas berkata demikian. Ia berjalan cepat menuju sofa tanpa kehilangan keanggunan, lalu menginjak permukaannya agar berdiri lebih tinggi daripada Mikado.

“Dikontrol adalah pernyataan remeh. Aku akan menyebut ini jebakan yang tidak memiliki manfaat... kecuali kau menikmati permainan ini.”

Ia menunjuk Mikado sambil berpose seperti seorang model, tetap berusaha mempertahankan sikap netral terhadapnya.

“Heeeh, aku sih terjebak di ruangan sama cewek seksi mana pun bakal bersyukur, ya. Ahahahahaha!”

Kesantaian Mikado terasa mengerikan bila mengingat bahwa ia sedang disekap bersama orang asing dan kemungkinan dipaksa melakukan sesuatu.

“Wah, benar-benar orang penting rupanya. Tapi kalau di sini, memangnya statusmu penting?” tanyanya. “Bukannya kalau seseorang bisa menangkapmu dan mengurungmu bersama... entahlah apa aku ini, artinya dia lebih kuat darimu?”

Mikado menatap Luxya, lalu tertawa renyah.

“Aku? Aku sih suka sekali, ya!”

Ia benar-benar menganggap situasi itu menghibur.

“Ya,” jawab Luxya singkat mengenai kuasa pelaku yang membuatnya kesal.

Ia tidak suka mengakui adanya sosok yang lebih berkuasa dan mampu mempermainkan nasibnya. Mungkin semua ini semacam kesialan atau kutukan karena selama ini ia hidup dengan cara yang tidak sesuai citra keluarganya.

“Kau mengingat masa lalumu, bukan?” tanyanya retoris.

Ingatan Luxya sendiri kini jauh lebih jelas. Berbeda dari mimpinya yang kabur, ia masih mengingat kehidupan sebelum semua ini dengan utuh.

“Apa yang akan kau lakukan dalam situasi ini?”

Ia duduk di sandaran sofa dan menyilangkan kaki seperti penguasa di atas takhta.

“Hmmm... masa laluku?” Mikado mengulang. “Sedikit, kurasa. Enggak penting juga buat diingat, soalnya setiap aku pindah ke satu tempat, biasanya bakal lupa lagi dan tertutup ingatan baru.”

Sekali lagi, jawaban itu terdengar aneh. Mikado memiringkan kepala. Tadinya ia ingin menjawab dengan acuh tak acuh, tetapi sebuah pikiran iseng muncul.

“Dalam situasi begini, biasanya sih...”

Ia mendekati Luxya dan berhenti tepat di hadapannya.

“Aku bakal langsung buka celana dan menghibur diri sambil lihat cewek cantik yang tinggal di dekatku.”

Mikado menyeringai.

Jawaban itu tidak membantu. Kepribadian Mikado sebenarnya terdengar hampir normal, meski ia mengaku tidak waras. Hanya saja, pilihan katanya terlalu vulgar.

“Pfft... aku sudah sering mendengar cerita seperti itu sebagai godaan,” tanggap Luxya ringan, walau rautnya menunjukkan gangguan. “Mood-ku sedang buruk, jadi kau tidak bisa mengharapkan balasan dariku, Mikado.”

Ia hampir menganggap pria itu lucu—kecuali bila Mikado benar-benar salah satu ekstremis yang bersedia memamerkan olahraga lima jari di hadapannya.

“Hmmm... begitu, ya?” Mikado melangkah semakin dekat. “Sayang sekali, itu bukan godaan.”

Tangannya benar-benar menyentuh selangkangannya sendiri ketika pandangannya menggelap.

“Tapi ancaman.”

Mikado menurunkan ritsletingnya tanpa memedulikan ucapan Luxya. Ia justru penasaran akan apa yang dilakukan perempuan itu jika ia meneruskan tindakannya. Menampar? Menendang? Mengatainya?

Memikirkan semua kemungkinan tersebut malah membuat celananya semakin menegang.

Luxya sadar bahwa ia telah salah menilai. Ia menatap Mikado dengan perasaan campur aduk, terutama terkejut. Bagaimana mungkin orang ini menyerahkan dirinya begitu saja kepada kebejatan?

“Ternyata kau mudah birahi,” sindirnya sambil mengangkat satu alis.

Ia tetap menonton dengan senyum miring. Luxya tidak akan berbohong: pemandangan jorok tersebut terasa seperti hiburan. Ia membiarkan Mikado beraksi seolah dirinya sama sekali tidak terpengaruh.

“Pamer bahwa barangmu bisa dibanggakan?”

Nada suaranya penuh tantangan. Ia menopang dagu dengan satu tangan dan mempertahankan raut santai, menunggu seberapa kacau pria itu ketika berhadapan dengannya.

“Dibilang mudah birahi, enggak juga, sih.”

Mikado mengeluarkan kejantanannya yang sudah setengah menegang. Tatapan mengejek Luxya justru membuatnya semakin bersemangat. Perempuan itu tidak langsung menampar seperti yang mungkin dilakukan orang lain; berarti kesenangannya belum akan diganggu.

Ia mulai mengelus kejantanannya dengan tempo cepat sambil menyeringai ke arah Luxya.

“Hei, aku tahu kau pasti sudah sering dengar ini, tapi kau cantik, lho,” katanya santai. “Kayaknya kau bakal makin cantik kalau aku keluar di wajahmu~”

Luxya menggigit bibir bawahnya dengan geram. Mikado terlalu berani—barangkali sudah benar-benar tidak memiliki rasa malu untuk menunjukkan birahinya di hadapan orang lain. Ia tidak akan pernah menemukan momen seperti ini di rumahnya.

“Khe... haha.”

Tawa kecil lolos dari bibirnya, bertolak belakang dengan wajah serius dan tubuhnya yang mulai gemetar. Ia merasa dilecehkan secara tidak langsung, tetapi pada saat yang sama menganggap keadaan itu lucu.

“Aku akan memberimu tawaran, Mikado.” Keningnya berkerut. “Aku akan membantumu, dengan syarat tidak ada sentuhan, tidak ada godaan, dan hanya namaku yang kau sebut.”

Luxya mengulurkan kaki kirinya sampai jari-jarinya menyentuh dada Mikado. Tatapannya berubah sendu, sengaja memberikan godaan baru.

Mikado langsung menyeringai. Tubuhnya seolah tersengat saat jemari kaki Luxya menyentuhnya. Ia menggigit bibir sambil gemetar, sementara tangannya masih menggenggam kejantanannya.

“Hmmm... syarat yang sulit.” Ia tidak memalingkan tatapan. “Tapi mana mungkin kesempatan kusia-siakan~”

“Bagus. Jadilah anak baik,” desis Luxya.

Ia menurunkan kakinya perlahan, menyusuri setiap bagian tubuh Mikado dengan gerakan merangsang. Sesekali, jari kakinya menjepit area dada pria itu.

“Telanjanglah—dan jangan berhenti sampai barangmu lembek.”

Luxya menopang dagu. Tatapannya menajam dan tidak pernah beralih dari wajah Mikado.

“Aahhh~”

Mikado berjengit ketika dadanya dipelintir pelan. Kekehannya semakin keras. Ia mulai membuka pakaian dengan gerakan yang sengaja dibuat sesensual mungkin, menggoyangkan bahu sampai atasannya jatuh ke lantai. Setelah itu, ia menunduk dan menurunkan celana, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang dihiasi beberapa bekas luka.

Kini Luxya dapat melihatnya dengan jelas. Matanya meneliti lengan, kaki, pinggang, dan seluruh bagian tubuh pria itu. Senyumnya melebar karena pandangannya dimanjakan.

“Tidak ada balasan... tidak ada godaan,” ingatnya sambil menggeleng pelan.

Telapak kakinya menyentuh kejantanan Mikado. Ia dapat merasakan panas dan ketegangannya, lalu menekannya seperti sebuah pedal tanpa menahan diri.

Udara kamar terasa dingin bagi kulit Mikado yang telanjang. Namun, dorongan dari dalam tubuh membuatnya tetap terbakar.

“Anh... aahhh~”

Ia mengerang dan mendongakkan kepala ketika kaki Luxya mulai menggesek kejantanannya. Kedua kakinya melemas, tetapi ia memaksa diri tetap berdiri dalam posisi sedikit membungkuk.

“Ah... anh... ah, nhhaahh~~ Luxya-sama~~”

Mikado mungkin sedikit curang karena nadanya masih terdengar menggoda. Namun, ia tetap hanya menyebut nama Luxya dan tidak menyentuh perempuan itu sedikit pun.

“Ah, hyahh—aaahh...”

Desahannya menggema di ruangan. Setelah beberapa waktu, tubuhnya akhirnya mencapai batas. Ketika kaki Luxya terus menekan kejantanannya, Mikado melepaskan kenikmatannya dengan satu erangan panjang.

 

Zion dan Sonata

Kedua mata Zion seolah dipaksa terbuka. Ia terbangun dengan jantung berdebar kencang dan segera membuka kancing bajunya yang basah oleh keringat.

Gerah.

Zion duduk sambil menunduk, menopang siku pada lutut, lalu perlahan mengatur napas. Bayangan dari tidur panjang tadi masih berkelebat dalam pikirannya, meski wajah sosok yang ditemuinya mulai larut menjadi kabut.

Makhluk apa sebenarnya itu tadi? Dan kenapa aku bisa-bisanya sampai terpikat?

Ia mencoba mengumpulkan kesadaran dan pecahan ingatannya. Tatapannya kemudian beralih ke langit-langit, memastikan bahwa semua yang baru saja dialaminya memang hanya mimpi.

Kamar tersebut terasa jauh lebih sempit tanpa makhluk raksasa di sampingnya. Tidak ada lagi ruang yang dapat berubah mengikuti keinginan, hanya kamar biasa dengan perabot sederhana dan beberapa kaleng makanan. Melalui jendela, ribuan rumah susun berdiri rapat di balik pagar masing-masing.

Zion melirik ke bawah, tepat ke antara kedua pahanya.

Oh. Pantas saja.

Di sebelahnya, seorang perempuan bertubuh seksi masih terbaring. Kulit putih dan mulusnya terlihat dari pakaian yang tersingkap. Aneh, Zion merasa begitu dekat dengannya—seolah perempuan itu telah menjadi miliknya sejak lama. Ia bahkan memiliki firasat bahwa ini bukan pertama kalinya mereka berada sedekat ini, meskipun wajah tersebut sama sekali tidak dikenalnya.

Semuanya terlalu familiar.

Tanpa pikir panjang, Zion merangkak ke atas tubuh perempuan itu dan membiarkan tubuh mereka bergesekan. Aroma yang memabukkan memenuhi penciumannya, membuat pikiran yang baru saja jernih kembali berkabut. Ia mengambil posisi di antara kedua paha perempuan tersebut, lalu menggerakkan pinggul yang masih terbalut kain untuk melampiaskan hasrat yang sejak bangun terasa menyiksa.

Kedua tangannya menyusup ke balik baju sang perempuan dan meremas dadanya. Napas Zion semakin berderu. Tubuhnya gemetar karena kegirangan.

Dalam keadaan itu, ia menganggap perempuan di bawahnya sebagai salah satu properti atau fasilitas yang diserahkan oleh pemilik rumah untuk digunakan sesuka hati. Pemikiran tersebut terasa begitu wajar di kepalanya, seolah ruangan itu sengaja menanamkannya.

Zion mendekatkan wajah. Kelopak matanya terbuka separuh ketika ia menjilat bibir dan memperlihatkan taring.

“Ayo cepat bangun. Jangan buat aku bekerja sendirian, dong.”

Gerakannya semakin tidak sabar. Tangannya mulai melucuti pakaian yang masih melekat pada tubuh perempuan itu.

Gelap.

Itulah hal pertama yang dirasakan Sonata. Padahal, terakhir kali ia melihat cahaya putih—tepat ketika dirinya dan sosok menyebalkan dalam mimpinya membuka sebuah pintu untuk menyambut apa pun yang mungkin mengancam mereka.

Wajah sosok tersebut kini sudah tidak jelas.

“Mnh... nhh...”

Erangan pelan lolos dari mulutnya ketika sesuatu—atau seseorang—menyentuh tubuhnya.

Apa ini masih mimpi? Kenapa aku tidak bisa bangun?

Sesuatu yang basah menyentuh bibirnya. Bisikan menjadi semakin jelas, sementara udara dingin mulai mengenai kulit yang terbuka.

Mata Sonata mendadak terbuka.

Ia melihat seorang asing tepat di hadapannya. Secara refleks, Sonata mendorong Zion, membalik posisi mereka, lalu mencengkeram lehernya. Tangan satunya meraba punggung, siap menarik pedang kapan pun diperlukan.

“Siapa kau?”

Suara berat Sonata memenuhi ruangan. Napasnya memburu begitu aroma kamar terhirup. Ada sesuatu pada pria di bawahnya yang seolah menarik seluruh dirinya, membuat kemarahan dan kewaspadaan bercampur dengan dorongan yang tidak diinginkannya.

“W-whoa!”

Zion terdorong hingga posisi mereka berbalik. Ia refleks memegang pergelangan tangan yang mencekiknya, tetapi perlawanan tersebut tidak menghapus seringai nakal dari wajahnya.

Ia menghentakkan kepala sambil tertawa. Zion justru menikmati pemandangan dari bawah. Bayangan Sonata menungganginya—memohon untuk diisi dan disentuh—membuat kejantanannya berkedut tidak karuan. Celananya bahkan sudah tidak mampu menyembunyikan birahi tersebut.

Inilah waktu yang tepat untuk melepas titel perjakanya. Bukan berarti ia sama sekali tidak berpengalaman; Zion tetaplah seorang visual learner yang pandai.

Tangan bebasnya merangkul pinggang Sonata.

“Zi-on,” katanya, mengeja namanya dengan suara yang lebih berat.

Tangannya turun meremas bokong Sonata. Sementara itu, tangan lain menyentuh pergelangan yang masih mencengkeram lehernya dengan lembut, seolah sentuhan tersebut mampu membuat perempuan itu menerima dirinya. Aroma alkohol dan asap rokok dari napas Zion menyeruak di antara mereka.

“Aku memberitahumu supaya kau bisa meneriakkan namaku saat aku memasukimu.”

Ia mengedipkan sebelah mata, lalu memonyongkan bibir untuk memberi kecupan jauh yang terkesan mengejek.

Sesaat kemudian, Zion mengapit tubuh Sonata dengan kedua kaki dan kembali membalik posisi mereka. Ia tidak berniat mengalah dalam pergulatan di atas ranjang tersebut. Dengan gerakan gesit, Zion menindih Sonata menggunakan berat tubuhnya, lalu meraup bibirnya dan memaksa mulut perempuan itu terbuka dengan lidah.

Kedua tangannya merobek baju Sonata hingga kancing-kancing terlempar ke berbagai arah. Ia menyingkap pakaian dalamnya dan memelintir puting yang telah mengeras.

“Tidak perlu malu-malu,” desah Zion.

Ia mengecup ringan leher Sonata, membuat tubuh perempuan itu berjingkat. Setelah itu, Zion menarik celana jinsnya sampai ke lutut, menyisakan celana dalam yang telah basah. Jemarinya membelai area sensitif yang mengerut di balik kain.

Dalam benaknya, reaksi tubuh tersebut dianggap sebagai bukti bahwa Sonata menginginkan sentuhannya, meskipun perempuan itu tidak pernah mengatakan demikian.

“Anggap aku hanya angin lewat.”

Sial. Aku sudah seperti penjahat kelamin sungguhan.

Sonata berjengit ketika merasakan kejantanan Zion berkedut di dekat selangkangannya. Cengkeramannya sempat melemah, dan sepersekian detik itu cukup bagi pria tersebut untuk membalikkan posisi mereka.

“Ap—anh, mmgh!”

Ia berontak dan berusaha mendorong Zion menjauh, sementara tangan pria itu terus menggerayangi tubuhnya.

“Nnhh!”

Mata Sonata terpejam rapat saat putingnya dipelintir. Jemari kakinya menekan ranjang.

“Ah—malu-malu apanya, Bajingan—”

Tangannya mencoba menahan Zion yang melucuti celananya.

Sial, ini ruangan apa, sih? Mana ada orang yang bisa-bisanya basah karena dilecehkan begini?

Sentuhan Zion pada bagian sensitifnya membuat Sonata kembali berjengit. Wajahnya memerah oleh panas dan napasnya semakin memburu.

“Berhenti—kau benar-benar mau meniduri orang asing?! Angh!”

“Pada dasarnya kau memang tidak merasa keberatan, kan?” Zion terkekeh.

Ia terus mengusap klitoris Sonata dari balik kain, menguji seberapa lama perempuan itu akan bertahan sebelum—menurut pikirannya—menyerah dan memohon untuk disetubuhi.

Justru karena mereka orang asing sekaligus terasa begitu dekat, Zion merasa tidak perlu menahan diri. Ia meyakini perempuan itu mungkin telah menyerahkan tubuhnya kepada pria lain sebelumnya. Zion sendiri sudah terlalu sering menjadi pilihan terakhir dalam kehidupan banyak orang. Ia tidak lagi berniat memberikan hati kepada siapa pun, begitu pula menerima hati orang lain.

Baginya, semua ini hanya tentang mengejar kenikmatan.

Zion mendekatkan mulut ke dada Sonata dan mengisap putingnya, membiarkan ujung taring bergesekan dengan kulit. Pada saat yang sama, jarinya menyelusup ke lubang vagina perempuan itu. Suara basah terdengar ketika dinding sempit tersebut menjepit jemarinya.

Ia menambahkan satu jari lagi, menggerakkannya seperti gunting untuk memberi ruang, lalu menyentuh titik sensitif di bagian dalam. Zion melakukannya perlahan, terlalu menikmati tubuh Sonata yang menggeliat di bawah tangannya.

Setiap sentuhan terasa membakar.

Ia melepaskan mulut dari puting yang telah membengkak. Seutas liur tertinggal dari ujung lidahnya ketika Zion mengangkat wajah untuk menatap Sonata.

“Katakan kalau kau juga menginginkanku sebesar aku menginginkanmu saat ini.”

Zion menuntun telapak tangan Sonata yang gemetar ke dadanya, membiarkannya merasakan detak jantung yang berdebar, lalu menurunkannya ke tonjolan di balik celana yang ingin segera dilepaskan.

Napasnya tercekat. Seringainya melebar sampai ke pipi.

Momen itu begitu salah dan hina, tetapi Zion merasa sudah terlalu jauh untuk berhenti. Melakukan hal-hal yang dahulu dilarang orang tuanya tidak pernah terasa semenantang ini.

“Dasar bocah, sekarang fetish-nya aneh-aneh—angh! Aaaaahhhh...!”

Lenguhan panjang lolos dari Sonata ketika Zion menekan dan mengusap tonjolan kecil di lubangnya. Pinggangnya sedikit terangkat, sementara kedua lutut gemetar.

Biasanya Sonata tidak keberatan bila diganggu karena ia mampu menghajar siapa pun dengan mudah. Hal itu pula yang membuat tidak banyak orang berani mendekatinya. Namun, kali ini ia yakin ada sesuatu di dalam ruangan yang membuat tangannya tidak sanggup bergerak untuk menyakiti pria asing yang menyentuhnya tanpa izin.

“Ah, tunggu—kenapa—hnnhhh...”

Sonata kembali berjengit ketika taring Zion menggores putingnya yang membengkak. Sensasi pada tubuhnya yang mendadak terlalu peka membuat lubangnya semakin basah dan berkedut.

“Hngh! Akh—nhah!”

Perlawanan fisiknya melemah saat jemari panjang Zion memasuki tubuhnya. Kepalanya terasa berkabut, dan suara di sekitarnya seolah terdengar dari balik air.

“Hnhhah... ah... aahhnn...”

Sonata tidak menjawab tuntutan Zion. Barangkali ia bahkan tidak lagi mampu menangkap ucapan tersebut dengan jelas.

Sebelah mata Zion berkedut ketika mendengar sindiran Sonata di sela-sela desahan. Ia jelas tersinggung.

“Mana ada bocah yang bisa mengentotmu seperti ini?!”

Zion menarik jarinya yang kini basah dan lengket. Tidak terima dianggap bocah yang hanya bermain-main, ia segera menurunkan ritsleting celana dan memperlihatkan kejantanannya yang tegak serta berlumur cairan pra-ejakulasi.

Ia mencengkeram pinggang Sonata, mengangkat kedua kaki perempuan itu ke atas bahunya agar posisinya lebih leluasa. Napas Zion semakin memburu.

Ini pertama kalinya ia membuat seorang perempuan tunduk sepenuhnya di bawah tubuhnya. Entah Sonata memiliki keluarga yang mengkhawatirkannya, pacar, atau bahkan suami—Zion memilih tidak memedulikan konsekuensi apa pun.

Ujung penisnya menyentuh lubang Sonata yang sudah basah. Dalam satu hentakan, ia memaksa masuk.

Zion mengerang keras. Lubang yang sempit itu terus menghimpitnya tanpa belas kasihan. Keringat membanjiri wajahnya dan tubuhnya hampir ambruk sebelum akhirnya mampu menyesuaikan diri.

Ia mulai menggerakkan pinggul perlahan, lalu menghantam titik terdalam Sonata. Ritmenya segera dipercepat, sementara kedua tangan berpegangan pada kepala ranjang. Dari atas, Zion dapat melihat dada Sonata memantul setiap kali tubuhnya dihantam.

“Bagaimana?” Ia menorehkan senyum puas. “Masih berani menganggapku bocah, hm?”

Sonata bergidik saat melihat Zion mengeluarkan kejantanannya. Tubuhnya gemetar, sementara otaknya terus memaksa satu perintah yang sama.

Bergerak. Lari. Lawan. Apa pun.

“Akh—”

Pinggangnya sudah lebih dahulu ditahan. Lubangnya berkedut ketika penis Zion mendekat.

“Ah—tung—jang—”

Dalam satu gerakan menghentak, seluruh kejantanan Zion masuk ke tubuhnya yang sempit. Sonata refleks mengerang keras. Tangannya mengepal ketika Zion mulai bergerak semakin cepat dan memaksa.

“Ah... ah... ahh, berhenti—aaaahhhh!”

Ia memejamkan mata rapat-rapat. Gerakan Zion terlalu cepat dan sembrono, langsung mendesak bagian terdalam tubuhnya.

Sakit.

Itulah hal pertama yang benar-benar dirasakan Sonata. Sedikit cairan merah keluar ketika Zion memaksa masuk. Ia menggigit bibir, wajahnya memerah setelah menyadari arti tanda tersebut.

Zion adalah makhluk pertama yang pernah memasuki tubuhnya.

 

Antares dan Leah

Antares membuka mata tanpa terkejut.

Sekali lagi, ia terbangun di tempat asing. Hal semacam itu bukan pengalaman baru baginya. Namun, kali ini ada sesuatu yang terasa akrab. Iklim ruangan, susunan perabot, dan beberapa fragmen kecil seolah pernah tersimpan di dalam ingatannya, meskipun ia tidak mampu menentukan kapan atau di mana.

Ruangan tersebut tidak lagi memiliki sifat ganjil seperti dalam tidurnya. Semuanya kini tampak tetap dan realistis: sebuah kamar biasa, beberapa makanan kaleng, serta jendela yang memperlihatkan ribuan rumah susun berpagar di luar sana.

Ada satu bagian yang terasa kosong ketika Antares membuka mata.

Mimpinya.

Ia hampir melupakan seluruhnya. Bayangan yang tersisa begitu buram, terutama wajah orang yang ditemuinya di sana.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Seperti dalam sisa-sisa mimpi tersebut, Antares tidak sendirian. Seorang gadis terbaring di sisinya. Ia belum pernah melihat wajah itu sebelumnya, tetapi perasaan dekat yang muncul terasa sulit dijelaskan—terlalu akrab untuk seseorang yang asing.

Leah terbangun seolah baru lolos dari mimpi buruk yang terasa nyata. Napasnya tercekat saat ia tetap berbaring di kasur empuk. Bayang-bayang mimpi itu masih tertinggal; rasa sakit serta berbagai sensasi di dalamnya seakan melekat pada tubuh, membuat sekujur badannya terasa remuk.

Hanya satu hal yang tidak dapat Leah ingat: wajah orang yang telah menyentuh tubuhnya begitu intim dalam mimpi.

Ia membuka mata dengan napas tersengal. Iris birunya segera menangkap sosok pemuda bersurai biru di sampingnya.

Berbeda dari bayangan dalam mimpi yang semakin kabur, pria kali ini terlihat normal. Barangkali ia lelaki baik-baik. Asumsi itu muncul karena kehadirannya terasa begitu familiar, seolah ada hubungan yang sangat dekat di antara mereka.

Bersamaan dengan itu, rasa bersalah yang tidak masuk akal menyusup ke benak Leah.

Bagaimana mungkin aku memimpikan pria lain ketika ada seseorang di rumahku?

“... Selamat pagi.”

Antares menatap gadis tersebut selama beberapa detik, mencoba mengenali wajah yang sebenarnya belum pernah ditemuinya. Semakin lama ia memandang, semakin kuat dorongan untuk melakukan sesuatu.

Ia mencondongkan tubuh. Tangan kirinya menyentuh helaian rambut yang jatuh di dekat pipi Leah, lalu menyibakkannya perlahan ke belakang telinga. Gerakan itu tenang dan rapi, seperti pembawaan Antares sendiri.

Iris birunya menahan pandangan Leah.

“... Apa yang terjadi?” tanyanya.

Leah pun merasakan gejolak serupa—dorongan yang ingin dipenuhi oleh pria di sampingnya. Ia belum beranjak dari posisi berbaring, seolah sengaja menunggu sesuatu. Leah tidak menolak ketika Antares mendekat, begitu pula saat jemarinya menyentuh pipi dan menyibakkan rambut hingga sebagian lehernya terbuka.

“Aku pun tidak mengerti,” jawabnya.

Tatapan penuh arti diberikan kepada iris biru laut di hadapannya.

Keheningan berlangsung. Antares perlahan mendekat sampai napasnya menyapu kulit Leah. Pandangannya menuruni wajah gadis itu, berhenti pada bibir yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap matanya.

“Kamu bisa melupakan sesuatu yang mengganggumu,” bisiknya.

Tanpa memberikan banyak waktu untuk berpikir, Antares menutup jarak. Bibirnya menyentuh bibir Leah, bergerak perlahan dan lembut tanpa terburu-buru. Tangan kirinya bergeser, menyapu pipi hingga telinga.

Beberapa saat kemudian, ia menarik diri hanya beberapa milimeter. Tatapannya masih tertuju pada Leah.

“Fokus pada yang sekarang... padaku,” katanya dengan suara rendah.

Tubuh Leah meremang ketika napas hangat Antares menyentuh kulit yang entah mengapa terasa jauh lebih peka. Rasa geli menyerupai sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuh hingga bagian bawah perutnya.

Pikirannya menjadi kosong. Yang tersisa hanya dorongan naluriah yang terus menguat.

Mata Leah perlahan terpejam ketika bibir mereka kembali bertemu. Sentuhan itu tetap lembut dan tidak menekan, memberinya waktu untuk menyesuaikan diri dengan apa pun yang sedang dirasakan. Kedua tangannya terangkat, menangkup pipi Antares, lalu membalas ciuman tersebut dengan intim tanpa menyisakan celah.

Ketika pagutan mereka terlepas, tatapan Leah berubah sayu dan seduktif. Tangannya masih membelai pipi Antares sebelum menyisir surai biru yang menjuntai, menyelipkannya ke belakang telinga.

“Baiklah...” ucapnya.

Ia berusaha memusatkan perhatian pada Antares seperti yang diminta. Leah kemudian menuntun tangan pria itu ke bibirnya dan mengecup telapak tangannya dua kali, lalu tiga kali, seolah haus akan afeksi.

Antares membiarkan Leah menunjukkan kasih sayang tersebut sebelum perlahan menurunkan tangannya.

Sekarang gilirannya.

Bibir Antares singgah di pipi Leah, turun ke rahang, lalu memberi kecupan pertama pada leher. Ciuman itu berlanjut sepanjang leher sampai bahu yang tersingkap. Tubuhnya bergerak ke atas Leah dan sedikit menunduk.

Napas Antares menjadi berat. Tindakannya mulai sulit diukur. Dengan tenang, tangannya menarik lipatan kain yang membungkus tubuh Leah dan memperlihatkan bagian-bagian yang sebelumnya tertutup.

Gadis ini benar-benar miliknya.

Leah gemetar saat bibir hangat itu bergerak dari pipi ke rahang, kemudian turun ke leher. Ia mendongakkan kepala dengan sengaja, memberi Antares akses lebih luas pada permukaan kulit yang belum pernah disentuh seperti itu.

“Hnngh...”

Ia memalingkan wajah dan meremas bantal, berusaha menahan sensasi ketika bahunya dikecup. Tubuhnya terasa begitu sensitif.

Antares merangkak semakin ke atas dan menghalangi cahaya lampu, tetapi Leah tidak merasa keberatan. Ketika lipatan busananya ditarik, rok perempuan itu tersingkap dan memperlihatkan perut serta selangkangan yang masih dibalut celana dalam.

Leah menatap Antares dengan mata sayu. Kedua tangannya terkulai di atas kepala sambil meremas bantal empuk.

Antares menatap tubuh yang terbuka di bawahnya, lalu kembali menunduk. Bibirnya singgah di leher sebelum turun ke dada yang terekspos. Setiap sentuhan meninggalkan tanda samar pada kulit halus Leah.

Tangannya menelusuri pinggang, menyusup ke lipatan kain, lalu menarik rok tersebut lebih jauh tanpa aba-aba.

Apa yang menyusul terjadi dalam gejolak yang tidak lagi mampu mereka ukur.

Ketika semuanya berakhir, napas Antares perlahan kembali tenang. Iris birunya masih memandangi Leah yang terbaring dengan rambut berantakan dan pakaian yang nyaris tidak lagi menutupi tubuhnya.

 

Axel dan Soraya

Axel bukan orang yang bisa diam selama tidur. Tanpa disadarinya, tubuhnya telah bergeser sampai berada di atas seseorang—meskipun pakaian mereka masih utuh.

Kelopak matanya terbuka dengan berat. Kejadian sebelumnya hanya tersisa sebagai sorotan mimpi: dirinya berada di dunia lain bersama seorang perempuan yang wajahnya kini semakin samar.

Saat kesadarannya pulih, Axel mendapati dirinya tengah memeluk sosok yang berbeda.

Tangan mereka bertaut. Pada jari manis masing-masing, terpasang cincin yang sama.

Dadanya seketika terasa sesak. Axel tidak mengingat siapa gadis di bawahnya, tetapi rangsangan aneh dalam dirinya ingin memiliki perempuan itu, mengklaimnya hanya untuk dirinya sendiri.

Untungnya, bagian lain dari kesadarannya masih mampu menahan dorongan tersebut.

Ia tidak mengingat apa pun. Ia tidak boleh melakukan sesuatu kepada orang yang sepenuhnya asing dalam kepalanya.

Namun, perasaan itu terus tumbuh dan semakin menyiksa.

Axel menggigit bibir demi mempertahankan akal sehat.

“Hei... bangunlah,” bisiknya. “Aku takut akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan kalau kau tetap seperti itu.”

Soraya terbangun dengan sisa rasa manis stroberi di ingatan. Wajah asing dari mimpinya masih bergelantungan di benak, meski sudah begitu samar hingga ia tidak tahu siapa orang tersebut atau di mana mereka berada.

Ia hanya mengingat tawa, lemari kosong, dan permen aneh yang terasa seperti karet.

Namaku L̵̨̝̟͓͓̗̭͓̝̙̋̃̅͊e̵̡̧̨̙̠̲͕̝̰̍̊͑̅̍͗͝o̷̞̺̓̿͊̾̆͒̎ņ̵͇͈̤̰̻̐͌̇̇̉ͅ...

Nama itu pun segera larut bersama wajah pemiliknya.

Ketika membuka mata, Soraya mengalami perasaan seperti déjà vu. Ia menoleh dan mendapati tangannya bertaut dengan tangan seorang pria asing. Jarak mereka terlalu dekat.

Dalam keadaan normal, orang tersebut mungkin sudah kehilangan kepala.

Namun, debaran aneh membuat Soraya terpaku pada wajahnya. Tubuhnya tidak segera bergerak. Ada keinginan yang tidak dipahami—keinginan agar pria itu tetap dekat.

Soraya menarik selimut sampai ke dada, seolah kain tersebut dapat melindunginya. Kilau cincin di jari manis menarik perhatiannya. Ia tidak ingat pernah mengenakan benda itu.

“Apa maksudmu?” Suaranya bergetar. “Aku tidak mengerti.”

Raut pria di hadapannya membangkitkan perasaan yang sulit dinamai. Seolah Soraya memang ingin tetap berada di dekatnya.

“Tidak adil. Seharusnya kau mendorongku menjauh,” kata Axel dengan senyum kecut. “Kalau begini, aku jadi terlihat seperti penjahat.”

Otaknya terus berusaha menahan naluri. Rasanya semakin berat ketika Soraya tidak memberikan perlawanan berarti.

“Maaf, tapi biarkan aku begini dulu.”

Axel memilih mengikuti rasa lain yang tumbuh di tubuhnya—sesuatu yang menyerupai sense of belonging. Ia tetap berada di atas Soraya dan memeluknya, tetapi tidak menyentuh pakaian perempuan itu untuk melepaskannya. Sebagai gantinya, ia membenamkan wajah di sisi leher Soraya.

Soraya terdiam ketika dipeluk. Ia tidak tahu tindakan apa yang seharusnya diambil.

Beban tubuh Axel bertumpu padanya. Napas hangat pemuda itu menggelitik kulit di leher dan membuat bulu kuduknya meremang. Jantungnya berdetak keras.

Dorongan serupa juga bergejolak dalam diri Soraya. Pelukan tersebut terasa menenangkan, tetapi tidak cukup untuk memadamkan sesuatu yang terus bergerak di bawah permukaan.

Mereka berdiam diri cukup lama.

“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud...” ujar Soraya lirih.

Jemarinya menemukan tempat di rambut putih Axel dan mengelusnya perlahan. Ia tidak tahu mengapa dapat menerima keberadaan sosok asing ini begitu cepat—atau mengapa dirinya sama sekali tidak ingin Axel menjauh.

“Sepertinya ada sesuatu yang membebanimu.” Soraya berhenti sejenak. “Apa kau baik-baik saja?”

“Entahlah. Kalau aku tidak baik-baik saja, mungkin karenamu,” canda Axel.

Ia terkekeh pelan tanpa mengangkat wajah dari leher Soraya.

“Aneh rasanya. Aku tidak tahu apa pun tentangmu, bahkan namamu, tapi kau terasa sangat familiar. Seolah kamu bagian dari cerita hidupku.” Napasnya menyentuh kulit Soraya. “Tidak masuk logika.”

Tangan kanan Axel menyentuh pipi Soraya dengan lembut. Untuk sementara, nafsunya ditekan dan berubah menjadi kasih sayang yang tetap memiliki sisi posesif.

“Apa hanya aku yang merasakan ini?”

Soraya mengerjapkan mata beberapa kali. Ia membiarkan jemari Axel menyentuh pipinya, lalu menggenggam tangan tersebut.

“Aku?”

Ia memberi sedikit jarak dan menunjuk wajah sendiri dengan raut bingung.

“Aku minta maaf, kalau begitu?”

Soraya kembali terdiam setelah mendengar penjelasan Axel. Ya, ia merasakan hal yang sama. Bukan sekadar ketertarikan, melainkan sesuatu di dalam dirinya yang menolak untuk berpisah dari pemuda itu.

Seolah mereka memang seharusnya bersama.

“Bagaimana kalau... kita mengubah hal itu?”

Kini giliran Soraya menangkup wajah Axel dengan kedua tangan agar mereka dapat saling menatap.

“Aku Soraya,” katanya memperkenalkan diri. “Kalau kau sendiri, siapa namamu?”

“Jangan meminta maaf.” Tatapan Axel berubah tajam. “Jangan meminta maaf atas sesuatu yang berada di luar kendalimu.”

Ia memang mengatakan bahwa sesak itu disebabkan Soraya, tetapi bukan berarti dirinya ingin menyalahkan perempuan tersebut.

“Axel. Axel Morfain. Sebaiknya kau tidak melupakan nama itu, Soraya.”

Axel tertawa kecil dan tersenyum tipis. Ia menyentuh tangan Soraya yang masih berada di pipinya, kemudian meraih jemarinya sampai tangan mereka kembali bertaut.

“Aku ingin memahami apa yang kurasakan terhadapmu. Karena itu, biarkan aku mengenalmu lebih jauh.” Wajahnya kini serius. “Maukah kau menjalani ini langkah demi langkah bersamaku?”

Pertanyaan itu tulus.

Axel seharusnya bukan orang yang mudah mengatakan hal seserius itu. Ia tidak seharusnya langsung menawarkan komitmen kepada seseorang yang baru ditemuinya di kamar asing. Namun, kini ia menggenggam tangan Soraya seolah perempuan tersebut merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Axel Morfain.

Nama itu terasa aneh di lidah Soraya—asing, tetapi juga familiar, seakan sudah lama terbiasa memanggilnya.

Ia memiringkan kepala. Kalimat Axel terdengar seperti sebuah proposal, komitmen yang seharusnya diberikan setelah dua orang menghabiskan waktu bersama cukup lama.

Mereka baru saja bertemu.

Seharusnya Soraya tidak merasakan apa-apa. Namun, jantungnya menjawab dengan degup yang menghantam rusuk. Kehangatan menyebar ke kedua pipinya tanpa dapat dicegah.

Soraya berdeham, berusaha mengatur ekspresi.

“Aku—erm...”

Jawaban apa yang benar dalam keadaan seperti ini?

Ia memerlukan beberapa detik untuk berpikir. Pada akhirnya, wajah Axel yang terlihat tulus cukup untuk meyakinkannya.

“Ya.”

Axel tidak berkata lagi. Ia membiarkan tindakan menjadi saksi atas sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dalam pertemuan pertama.

“Soraya...”

Ia menyebut nama perempuan itu, lalu menutup jarak. Bibir Axel menyentuh bibir Soraya dalam sebuah ciuman yang mengklaim sekaligus menyegel komitmen di antara mereka.

 

Althea dan Cynthia

Cynthia terbangun dari sebuah mimpi yang aneh.

Di dalamnya, ia bertemu pria menyerupai beruang yang tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi mampu membuat banyak boneka. Ketika kesadarannya pulih, detail mimpi itu mulai kabur. Wajah pria tersebut menjadi bagian pertama yang tidak lagi dapat diingat dengan jelas.

Namun, hal yang paling kuat tertinggal justru rasa bersalah.

Cynthia kini berada di sebuah kamar yang terasa familiar bersama seorang priestess. Entah mengapa, ia merasa seperti telah melakukan kesalahan besar hanya karena memimpikan orang lain ketika ada perempuan itu di rumahnya.

Wajah Cynthia berubah pasrah. Ia seakan sudah tahu bahwa hukuman akan datang begitu sang priestess terbangun dan mengetahui isi mimpinya.

Tak lama kemudian, Althea membuka mata setelah tidur panjang. Iris kecubungnya berkilau di bawah cahaya matahari yang masuk dari jendela. Ia duduk dan meregangkan tubuh, lalu menoleh kepada gadis asing di sampingnya.

Ini kali kedua ia terbangun di hadapan seseorang yang tidak dikenal, tetapi perasaan kali ini berbeda. Cynthia terasa begitu familiar. Bersamaan dengan rasa kepemilikan yang tinggi, Althea juga merasakan kesalahan samar karena baru saja memimpikan sosok lain.

Tampaknya, bukan hanya dirinya yang mengalami hal serupa.

Althea dapat melihat ketakutan di wajah Cynthia. Gadis itu menatapnya seolah yakin bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan dan akan segera dimarahi.

Ia mencondongkan tubuh. Tangannya yang mulus membelai pipi Cynthia dengan lembut, seperti sedang menenangkan seekor kelinci yang tertangkap basah.

“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Nona Manis?” tanyanya dengan senyum ramah.

Althea sengaja menjaga nada suaranya agar Cynthia tidak merasa semakin terpojok.

Cynthia tidak segera menjawab. Ia takut satu jawaban yang salah akan membuatnya menerima sesuatu yang buruk dari priestess di sampingnya.

“Tidak ada...” katanya pelan. “Hanya mimpi yang aneh.”

Pipinya tetap berada di bawah belaian Althea. Namun, alih-alih tenang, Cynthia merasa seperti seekor kelinci yang terdiam di hadapan elang yang sebentar lagi akan melahapnya.

 

Ken dan Zhigalkovich

Bangunkan aku dari tidur panjangku...

Ah, apa iya? Sadarkan aku dari mimpi tentangmu? Iyakah? Ih, seremnya.

Zhigalkovich mendadak membuka mata.

Bangun pagi, lihat cermin wajahmu kumal. Cuci muka, gosok gigi, evaluasi. Hingga kini engkau masih sendiri. Lihat kanan-kiri, ada orang asing yang tak dikenali. Siapakah itu? Prak-prak-prak, apakah itu?

“Hah?!”

Ia menoleh dan benar-benar menemukan seorang asing berbaring di sebelahnya. Sisa kejadian sebelumnya hanya berupa bayangan remang-remang. Wajah dari mimpi panjangnya telah hilang, dan sosok yang sekarang berada di kamar itu tidak dikenalnya.

Bagi Zhigalkovich, siapa pun yang tidak dikenal akan langsung dimasukkan ke dalam kategori karakter sampingan.

Keinginan untuk memaki muncul tanpa perlu menunggu lebih lama.

“Woi, Brengsek! Kau siapa, hah? Kenapa kau tiduran di sini, Anak Babi?!”

Zhigalkovich bangkit sambil berteriak. Tidak ada alasan untuk bersikap sopan kepada orang asing yang tiba-tiba tidur di sebelahnya.

“Anak Babi, kenapa kau tidur di sini? Kau mau kujadikan makanan kucing, hah, Brengsek?!”

Ken membuka mata di tengah rentetan makian tersebut.

“Hm.”

Ia bangun dan memilih mengabaikan Zhigalkovich. Memang ada sesuatu yang berbeda—rangsangan hormon yang tidak semestinya muncul terhadap orang asing. Namun, bagi seorang shinobi yang telah mencapai puncak olah hati, dorongan semacam itu masih dapat dikendalikan.

“Kau familiar,” katanya singkat.

Mimpi yang baru saja berakhir seolah pernah memperlihatkan sosok mirip perempuan di hadapannya, tetapi wajahnya telah kabur. Ken tidak berusaha mengejar ingatan tersebut. Ia justru berjalan menjauh dan membuka jendela.

Di luar, ribuan rumah susun berjejer rapat. Pagar mengelilingi tiap bangunan, membuat kawasan itu terlihat teratur sekaligus terkurung.

Kuorbankan perasaan aneh apa pun yang kurasakan kepada wanita asing ini. Entah itu kesal ataupun yang lainnya.

Ken melepaskan kekuatannya ke udara terbuka.

Setiap penggunaan kekuatan menuntut pengorbanan atas sesuatu yang dimilikinya—barang, ingatan, perasaan, atau apa pun yang dapat disebut sebagai kepunyaan. Kali ini, ia menyerahkan gejolak yang tidak dipahaminya terhadap Zhigalkovich.

Perempuan itu menatapnya tajam.

“Kau bercanda denganku, Anak Babi?!”

Bentakannya kembali memenuhi kamar.

“Kau pikir aku pelupa? Wajah brengsekmu pasti selalu kuingat kalau kita pernah bertemu! Tapi aku tidak ingat. Itu membuktikan kalau kau orang biadab yang tidak kukenal!”

Bagi Zhigalkovich, kesimpulan tersebut sudah mutlak. Kalau ia tidak mengingat seseorang, berarti orang itu memang asing. Tidak ada alasan untuk menerima sikap sok kenal dari manusia yang baru ditemuinya.

“Kau mau pamer kekuatan?” lanjutnya. “Aku bisa memotong alat kelaminmu sampai tidak tersisa!”

Ancaman itu menjadi penutup sementara dari amarahnya. Zhigalkovich tetap yakin bahwa orang yang bersikap sok akrab wajib dimarahi. Menurutnya, itulah salah satu cara paling masuk akal untuk melindungi diri dari orang-orang idiot.

 

Bella dan Leon

Bella sekali lagi terbangun di tempat yang asing sekaligus familiar.

Perasaan déjà vu menyergapnya, tetapi perlahan ia menyadari bahwa apa pun yang dilihat sebelumnya hanyalah mimpi—mimpi panjang yang kini semakin buram. Ia masih dapat mengingat kehangatan sebuah tangan, meskipun wajah pemiliknya sudah tidak mungkin dikenali.

Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Bella bangkit dan duduk. Pakaiannya cukup terbuka: hanya pakaian dalam dan sebuah kemeja longgar, setelan yang biasa ia gunakan sebagai piama ketika musim panas.

Ruangan di sekelilingnya tidak lagi dapat berubah seperti dalam mimpi. Semuanya terasa tetap dan realistis, seperti kamar pada umumnya. Beberapa makanan kaleng tersedia, sedangkan jendela memperlihatkan ribuan rumah susun yang masing-masing dikelilingi pagar.

Beberapa saat kemudian, Bella menyadari bahwa tangan kirinya menyentuh kulit yang hangat.

Ia menoleh perlahan. Seorang pria berparas rupawan tertidur pulas di sampingnya. Pada jari manis tangan kiri mereka, terpasang sepasang cincin yang serupa.

“Ah... apa aku lupa kalau aku sudah menikah?” gumamnya.

Bella ingin menyangkal kemungkinan tersebut. Namun, perasaan memiliki pria di sebelahnya terlalu kuat untuk diabaikan. Ia tidak ingat pernah mengenalnya—atau mungkin memang sama sekali belum pernah—tetapi tubuh dan pikirannya bersikap seolah pria itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Rasa bersalah samar muncul karena Bella baru saja memimpikan orang lain ketika sosok yang terasa begitu dekat kini berada di rumah yang sama dengannya.

“Sudah lama aku tidak merasa seperti ini...”

Semakin lama terjaga, semakin tinggi rangsangan pada libidonya. Bella mencoba menahan diri, tetapi akhirnya mencondongkan tubuh dan mengecup bibir pria tersebut dengan lembut.

“Time to wake up, Prince.”

Mata Leon perlahan terbuka ketika sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang perempuan cantik. Aneh, Leon sama sekali tidak merasa takut atau terkejut seperti ketika melihat seorang gadis dalam mimpinya. Wajah dari mimpi tersebut kini telah kabur, sedangkan perempuan di hadapannya terasa begitu nyata.

Ia yakin belum pernah bertemu Bella. Namun, rasa familiar dan kepemilikan yang kuat membuat tubuhnya bergerak tanpa ragu. Leon memiringkan badan dan merangkul pinggang perempuan asing itu.

“So, who might this beautiful lady be?” tanyanya dengan nada sedikit main-main. “Why do I feel such a strong sense of familiarity when we’ve only just met?”

Kesadaran mengenai keadaan mereka menghantam Bella sekaligus. Ia menatap pria yang kini memeluk pinggangnya. Pertanyaan Leon menariknya keluar dari berbagai pikiran yang sejak tadi mengganggu.

Tampaknya pria ini pun tidak mengetahui apa-apa tentang pengaturan tersebut.

Namun, untuk saat ini, Bella merasa tidak ada yang lebih penting daripada mengukuhkan rasa kepemilikan terhadap pria manis di hadapannya.

Ia tersenyum, meskipun senyum itu terasa berbeda dari dirinya yang biasa. Kehangatan lembut di matanya tergantikan oleh hasrat yang sulit disembunyikan.

“Belladonna. You can just call me Bella,” jawabnya dengan suara serak dan menggoda.

Tangan kirinya terangkat untuk membelai pipi Leon. Ibu jarinya menyusuri garis bibir pria tersebut, sementara pandangannya ikut turun ke sana.

“And what you feel... is probably the same thing I feel. A sensation too strong to ignore, isn’t it?”

Dengan satu dorongan ringan, Bella bergerak ke atas tubuh Leon dan menempatkan pria itu di bawahnya. Aroma maskulin yang menguar membuat seluruh indranya seolah lenyap.

Ia mengusap dada Leon, kemudian mulai membuka kancing rompi militernya.

“I don’t think I need to answer your question about who I am. What matters is that I’m here, beside you, and you’re here, beside me,” bisiknya, suara itu kini terdengar seperti melodi yang memabukkan. “And I think it would be nice if the two of us—perhaps... got to know each other more intimately?”

Bella kembali meraih bibir Leon. Ciumannya kali ini lebih dalam dan lama, lidahnya mendesak agar pria itu membuka mulut.

Leon sempat memperoleh kembali kesadaran, tetapi hanya untuk sesaat. Bibir lembut Bella terlalu menggoda untuk diabaikan.

Ia mencoba memikirkan mimpi tadi dan kenyataan ganjil yang kini dihadapinya, tetapi semuanya kehilangan arti ketika perempuan memesona itu berada di atas tubuhnya.

Erangan pelan lolos dari Leon saat ciuman mereka semakin dalam. Pikirannya berubah menjadi kekacauan antara kebingungan dan sensasi yang berlebihan. Nada main-main yang tadi sempat muncul lenyap, digantikan dorongan primitif yang tidak mampu disangkal.

Tubuhnya membalas setiap sentuhan tanpa sempat berpikir.

Ketika Bella membuka kancing rompinya, tangan Leon yang semula berada di pinggang perempuan itu menyusuri punggung, membelainya, kemudian naik ke leher. Ia menarik Bella lebih dekat dan membalas ciuman dengan desakan baru.

Leon memutus pagutan mereka. Sebuah embusan napas pendek keluar ketika ia berusaha menguasai pernapasan. Tatapannya kini gelap dan intens.

“Don’t worry, Bella,” bisiknya dengan suara rendah dan serak. “Nor did I intend to tell you much about myself. Leon—at least you need to know my name.”

Senyum miring terbentuk di bibirnya. Leon kemudian membalik posisi mereka dengan hati-hati sampai Bella berada di bawahnya.

“Let our bodies talk, shall we?”

Ia melonggarkan dasi, melepaskannya, kemudian menanggalkan beberapa lapis seragam hingga hanya menyisakan celana dan dada telanjang. Tangan kanannya menelusuri lengan kiri Bella, lalu menahannya di atas ranjang.

Bibir Leon menyentuh kulit sensitif di leher perempuan itu. Tangan yang lain menyusup ke dalam kemeja dan meremas dadanya yang masih tertutup pakaian dalam dengan kelembutan yang sedikit canggung.

Tindakan Leon datang seperti pusaran yang menenggelamkan pikiran Bella. Godaan yang semula dimulainya dibalas oleh hasrat mentah yang membuat tubuhnya menggigil. Perubahan pria itu—dari sosok asing yang menawan menjadi kekuatan dominan—terasa memabukkan.

Ciuman yang dalam dan mendesak membuat Bella kehilangan kesadaran akan waktu serta tempat. Desahan lembut lolos ketika tangan Leon berada di lehernya dan menariknya semakin dekat.

Tangan Bella yang tadi membuka rompi kini menyusuri punggung Leon. Jemarinya terbenam di rambut pria itu dan menariknya agar tidak menjauh. Energi di antara mereka terasa seperti aliran listrik, membuat Bella menanggapi setiap gerakan tanpa berpikir.

Ketika Leon membisikkan namanya, getaran nikmat menjalar di tulang belakang Bella. Tatapan gelap pria itu seolah menjanjikan hari yang penuh gairah.

Begitu posisi mereka berbalik dan tubuhnya tertahan di bawah Leon, Bella terengah karena terkejut sekaligus senang. Tangan yang menyelinap ke balik kemeja membuat gelombang panas menyapu tubuhnya.

Sentuhan itu lembut, tetapi cukup kuat untuk membangkitkan keinginan yang lebih besar. Bella dapat merasakan keraguan dan kecanggungan dalam cara Leon meremas dadanya. Senyum menggoda muncul di wajahnya.

Ia memiringkan kepala, memberi akses lebih luas ke leher.

“Leon...” bisiknya dengan suara rendah seperti dengkur halus. “Is this your first time?”

Tubuh Leon membeku sesaat.

Nada menggoda Bella membuatnya merasa terekspos. Sentuhan canggung yang ia kira tidak akan terlihat ternyata menjadi penanda jelas dari kurangnya pengalaman. Rona gelap menjalar di pipinya sebelum Leon mengangkat kepala dan membalas tatapan Bella.

Intensitas di matanya masih ada, tetapi kini bercampur sedikit kerentanan dan tantangan main-main.

“First time?” ulangnya dengan senyum miring. “Why? Do I seem too inexperienced?”

Ia kembali menunduk. Bibirnya menyapu leher Bella saat ia berbisik,

“I may not have much experience, but I can assure you... I’m a fast learner.”

Tangan yang tadi meremas dada Bella bergerak membuka kancing kemeja dengan lebih percaya diri. Leon melepaskan bra perempuan itu, lalu secara naluriah menyentuh dadanya dan menelusur turun sampai perut.

Tatapan yang semula dipenuhi hasrat kini juga menyimpan kekaguman.

“You have a beautiful body, Bella.”

Setelah dapat mengatur kekuatan sentuhannya, telapak tangan Leon menangkup gundukan lembut tersebut. Ia memutar puting Bella seperti anak laki-laki yang penasaran, tetapi tetap berhati-hati seolah takut melukainya. Mulutnya mengisap puting yang lain dan ujung lidahnya menggodanya.

Sepanjang waktu, Leon terus menatap ke atas untuk mengukur reaksi Bella terhadap setiap sentuhan.

Tangan bebasnya turun ke bagian bawah tubuh. Jemarinya membelai paha bagian dalam, bergerak naik, lalu menyusup ke balik celana dalam sampai menemukan bagian intim Bella. Ia mengusap klitorisnya dengan gerakan melingkar yang lembut.

Bella terengah mendengar kalimat I’m a fast learner. Perubahan sentuhan Leon—dari ragu menjadi terarah—membangkitkan antisipasi yang tajam.

Ia merasakan kancing kemejanya terbuka dan udara hangat menyapu kulit. Ketika jemari Leon menemukan kait bra, erangan pelan bergetar di tenggorokannya.

Telapak tangan yang menangkup dada mengirim gelombang sensasi. Kelembutan itu terasa sekaligus menyetrum dan menenangkan. Puting yang diputar menimbulkan sengatan nikmat, disusul panas basah dari mulut Leon.

Punggung Bella melengkung dari ranjang.

“Mmhh—!”

Melihat Leon terus mengamati reaksinya dengan konsentrasi dan kekaguman membuat jantung Bella berdebar lebih keras. Ia menggigit bibir bawah, tidak lagi mampu menahan suara-suara yang ingin keluar.

Ketika tangan pria itu berpindah ke paha bagian dalam lalu menyentuh pusat tubuhnya, pinggul Bella bergerak secara naluriah mengikuti usapan. Gerakan melingkar yang lembut menjadi siksaan manis dan membangun tegangan yang semakin padat.

Dunia di luar mereka seolah berhenti ada.

“Leon,” desah Bella, suaranya terdengar seperti permohonan sekaligus pujian. “Oh, Leon...”

Desahan dan panggilan namanya menjadi bahan bakar bagi hasrat Leon. Wajah Bella yang dipenuhi gairah, lengkungan punggungnya, serta pinggul yang bergerak ke arah jemarinya membuat tubuh Leon berdenyut dengan kebutuhan primitif.

Ia menganggap gerakan tersebut sebagai izin diam-diam untuk meneruskan penjelajahannya.

Leon mengangkat kepala dari dada Bella dan bertemu dengan mata setengah terpejam. Seringai puas muncul sebelum ia kembali meraih bibir perempuan itu dalam ciuman yang dalam dan posesif. Lidah mereka bertemu dalam gerakan lapar, sementara giginya menggigit ringan bibir bawah Bella.

Mulut Leon kemudian turun melewati garis rahang sampai ke leher, meninggalkan jejak ciuman panas dan basah. Ia mengisap serta menggigit kulit sensitif hingga sebuah tanda kepemilikan tertinggal.

“You’re so beautiful when you’re like this,” embusnya di permukaan kulit.

Tangannya tetap mengusap bagian intim Bella. Ia merasakan perempuan itu semakin basah pada setiap sentuhan dan menganggap tubuhnya telah siap.

Leon kembali naik untuk memberi satu ciuman terakhir yang membara. Setelah itu, ia menempatkan diri di antara kedua kaki Bella. Tatapannya memuat hasrat sekaligus kekhawatiran.

Ia menuntun kejantanannya perlahan, tanpa melepaskan pandangan.

“Tell me if it hurts, Bella,” bisiknya dengan suara berat.

Leon mulai mendorong masuk dengan perlahan, menyatukan tubuh mereka.

Ia memang khawatir, tetapi sudah tidak mampu menahan diri lebih jauh.

F*ck.

Umpatan itu melintas ketika ia merasakan tubuh Bella menghimpitnya begitu erat.

Gelombang kenikmatan yang nyaris menyakitkan menjalari Bella saat sentuhan Leon menjadi semakin berani. Ciuman posesif, pergulatan lidah, serta gigitan tajam di bibir bawah membuatnya menggigil. Jejak panas pada leher dan tanda yang mungkin akan bertahan sepanjang hari menimbulkan perasaan seolah dirinya benar-benar menjadi milik pria tersebut.

Rengekan lembut keluar ketika Leon menggigit kulitnya.

“You’re the one who’s making me beautiful, Leon,” bisik Bella dengan napas terputus-putus.

Tangannya yang semula berada di rambut Leon kini mencengkeram bahu. Jemarinya menekan otot yang kencang.

Saat Leon menempatkan diri di antara kakinya dan mulai masuk, napas Bella tertahan. Kekhawatiran terlihat di mata pria itu, tetapi kebutuhan mentah yang sama besarnya juga terlihat jelas.

Pinggul Bella bergerak, mendesaknya untuk meneruskan apa yang tengah ditawarkan.

“Mnghh~!”

Begitu Leon memasuki tubuhnya, desahan nikmat pecah dari tenggorokan Bella. Sensasi sempit dan meregang terasa seperti sakit yang manis sampai membuat jari-jari kakinya menekuk.

Seolah tubuhnya memang dibentuk untuk menerima Leon.

Setetes air mata lolos karena emosi yang terlalu kuat, bukan karena rasa sakit.

“Oh, Leon,” ucapnya tersendat, suaranya penuh perasaan. “It doesn’t hurt... It’s perfect. Don’t stop. Haa...”

Kalimat It’s perfect. Don’t stop menjadi satu-satunya hal yang diperlukan Leon.

Erangan rendah penuh kelegaan dan kepuasan bergetar di dadanya. Ia melihat air mata Bella dan memahami bahwa itu bukan tangisan kesakitan. Hubungan di antara mereka pada saat itu terasa seperti segalanya.

Leon menarik tubuh sedikit agar dapat memandangnya. Api menyala di mata gelap tersebut. Ia lalu menunduk dan meraih bibir Bella dalam ciuman yang dalam, sementara napas mereka yang tersengal saling bercampur.

Pinggulnya mulai bergerak perlahan—masuk lebih dalam, kemudian mundur—menciptakan ritme yang lembut sekaligus menggairahkan.

“I won’t stop,” embusnya di bibir Bella. Suaranya mentah oleh emosi. “I couldn’t even if I wanted to.”

Setiap dorongan mengirim gelombang kenikmatan baru. Pengetahuan teoritis yang selama ini dimiliki Leon digantikan oleh gerakan naluriah. Tubuh Bella terasa begitu tepat mengelilinginya, dan gesekan yang timbul terus membangun sensasi yang semakin kuat.

Leon melepaskan ciuman, lalu menempelkan dahi pada dahi Bella. Tatapan mereka terkunci dalam percakapan diam yang hanya berisi kebutuhan.

Ritmenya bertambah cepat. Pinggul Leon bergerak dengan keyakinan yang baru ditemukan.

Apa pun yang direncanakan pelakunya setelah ini, aku tidak lagi peduli.

Pikirannya hanya tertuju kepada satu orang: Bella.

Pinggul Bella secara naluriah menyambut setiap dorongan. Ritme yang mereka temukan menjadi gerakan berpasangan yang sempurna dan penuh gairah. Perasaan diisi sepenuhnya, tubuh mereka bergerak sebagai satu kesatuan, menyerupai sensasi yang selama ini hanya dapat diimpikannya.

Tangannya mengerat pada bahu Leon. Kuku Bella menekan kulit ketika ia mengikuti gelombang kenikmatan.

“Leon,” serunya dengan suara penuh kekaguman dan gairah. “Oh, Leon... I can’t...”

Ia merasakan dirinya mendekati batas. Antisipasi membuat seluruh tubuh gemetar setiap kali dorongan Leon semakin cepat. Segalanya menyempit hanya menjadi kulit pria itu, napas mereka yang kacau, dan janji tanpa kata di dalam tatapannya.

Satu dorongan terakhir yang kuat membuat Bella melewati batas tersebut.

Tubuhnya mengejang ketika gelombang kenikmatan menyapu seluruh dirinya. Seruan pelepasannya bercampur dengan erangan Leon saat pria itu mencapai klimaks pada waktu yang hampir bersamaan.

Leon ambruk di atasnya, berat dan hangat. Napas keduanya perlahan mulai teratur.

Bella melingkarkan tangan pada leher Leon dan memeluknya erat, wajahnya bersembunyi di lekuk leher pria tersebut. Bahkan setelah klimaks berlalu, rasa terhubung dan memiliki masih begitu kuat.

Untuk sesaat, Bella merasa telah menemukan rumah.

Berat tubuh Leon terasa tepat di atasnya. Api serta adrenalin perlahan memudar, digantikan kepuasan dalam yang tenang. Leon mengembuskan napas panjang di leher Bella. Tubuhnya masih sedikit gemetar.

Ia tidak bergerak cukup lama, hanya menikmati tubuh mereka yang masih saling berbelit.

Akhirnya Leon mengangkat kepala. Dagunya bersandar pada bahu Bella, sementara kedua tangan memeluk pinggangnya erat. Ia menyembunyikan wajah di lekuk leher perempuan itu.

“Stay like this for a while,” bisiknya serak.

Kalimat itu terdengar sekaligus sebagai permohonan dan perintah.

Leon menarik diri sedikit. Matanya setengah terpejam dan lembut ketika memandang Bella. Ia mengecup pelipisnya dengan pelan.

“Let’s go. We should clean up.”

Ia bangkit perlahan, tetapi tetap menggenggam tangan Bella—penolakan diam-diam untuk memutus hubungan fisik di antara mereka. Leon membantu perempuan itu duduk, kemudian menuntunnya menuju kamar mandi kecil tanpa melepaskan tangan.

Sambil tetap menopang Bella, ia membuka keran dan menguji suhu air dengan tangan bebas. Setelah air terasa tepat, Leon membantu Bella masuk ke bak mandi.

Ia ikut masuk dan duduk di belakangnya, lalu menarik punggung Bella ke dada. Kedua lengannya melingkari tubuh perempuan itu, sedangkan dagu bertumpu di atas kepalanya.

Jarak mereka begitu dekat hingga Bella dapat merasakan detak jantung Leon yang kini mulai stabil.

Pria itu hanya memeluknya, puas berendam dalam kehangatan air dan kehadiran Bella.

“Much better,” gumamnya.

Nada mengantuk dan puas membuat Leon terdengar seperti anak kecil yang kelelahan.

 

Belze dan Caroline

Mata Belze terbuka.

Kali ini, yang dilihatnya terasa lebih familiar—setidaknya menurut ingatan yang kembali tersusun lebih jelas. Ia memandang tangan sendiri.

Bukan lagi tangan normal berkulit pucat dengan lima jari.

Yang terlihat hanyalah tulang putih berukuran besar, dipenuhi duri di sepanjang permukaannya.

Belze terduduk sejenak di sisi ranjang. Tanpa membangunkan perempuan di sebelahnya, ia bergerak perlahan menuju kamar mandi, nyaris merangkak karena ukuran tubuhnya. Seolah tindakan itu sudah menjadi kebiasaan.

Ia sebenarnya telah mengetahui apa yang akan ditemukan. Belze enggan melihatnya, tetapi cermin di dinding kamar mandi tetap menampilkan pantulan yang tidak dapat dihindari.

Seekor makhluk besar berkepala tulang kerbau menatap balik. Gigi-gigi tajam memenuhi mulutnya, sedangkan rongga mata kosong menyimpan pijar merah.

Wujud pemuda Terra yang berhati lembut hanyalah topeng penuh dusta.

Inilah bentuk sesungguhnya yang telah dikenakan Belze hampir seumur hidup.

Jika semua yang baru saja dialaminya hanya mimpi, maka itu kabar yang sangat baik. Ia tidak akan sanggup mempertahankan wujud Terra dalam waktu selama itu.

Belze bersandar pada pintu kamar mandi. Perlahan, punggungnya merosot sampai tubuhnya terduduk. Napasnya berat dan kedua tangannya gemetar saat memeluk diri sendiri.

Untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan, ia merasa begitu menyedihkan.

Di kamar, Caroline membuka mata dan tersentak bangun.

Ruangan di sekitarnya terasa cukup familiar, tetapi ada sesuatu yang salah. Ia melihat tangannya dan menemukan sebuah cincin yang seolah dikenalnya, meskipun pikirannya sama sekali tidak mampu menjelaskan dari mana.

Caroline berusaha mengingat hal terakhir yang dilakukannya sebelum tidur panjang tersebut.

“Apa aku sedang mengetik cerita?” gumamnya.

Ia melirik meja, tetapi tidak menemukan laptop. Kecurigaannya semakin besar. Saat mencoba menggali ingatan, Caroline menemukan bayangan sebuah wajah. Namun, wajah itu begitu buram dan segera menghilang setiap kali hendak dikenali.

Kegelisahan lain muncul di dadanya. Ia merasa bersalah karena memikirkan sosok tersebut ketika ada seseorang lain di rumah yang terasa dekat dengannya, meski Caroline bahkan belum tahu siapa orang itu.

Ia semula berniat memeriksa ruangan, tetapi suara napas berat dari kamar mandi menghentikan langkahnya.

“Itu siapa?” tanyanya pelan.

Caroline berjalan mendekati sumber suara.

Indra Belze langsung siaga. Begitu langkah kaki itu semakin dekat, ia membuka pintu kamar mandi sedikit.

Sebelum Caroline sempat bertindak, tangan panjang dan kuat menyambar tubuhnya dan menariknya masuk. Pintu segera tertutup kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Di dalam kamar mandi, Belze membawa Caroline ke bak mandi dan mengurungnya dalam pelukan. Ekor panjang menyerupai ular hampir memenuhi sebagian besar ruang sempit tersebut.

Tubuh Belze—sekitar dua kali lebih besar daripada wujud Terra-nya—mendekap Caroline erat dari belakang, seolah hendak melindungi perempuan itu dari ancaman yang hanya ada dalam pikirannya.

Ia tidak lagi bergerak berdasarkan pertimbangan tenang. Insting liar yang berakar dari kegelisahan mengambil alih.

Belze tidak mengenal Caroline.

Namun, ia juga tidak ingin kehilangan perempuan itu.

Pemandangan mereka menyerupai monster yang menculik seorang putri dari menara. Kini Caroline telah melihat wujud Belze sepenuhnya.

Satu pertanyaan memenuhi benaknya.

Ekspresi seperti apa yang akan ia tunjukkan?

 

Vespera dan Lucerix

Vespera membuka mata, lalu duduk perlahan.

Begitu sadar bahwa kejadian sebelumnya hanyalah mimpi, penyesalan langsung muncul di wajahnya.

“Kue tiramisu...”

Ia merasa bersalah karena belum sempat memakan kue tersebut. Lebih aneh lagi, Vespera tidak mampu mengingat wajah orang yang membuatkannya. Semua sosok dalam mimpi panjang tadi telah menjadi buram.

Kini ia berada di sebuah ruangan dengan iklim yang terasa familiar. Keadaan tersebut lebih nyata daripada mimpinya, meskipun kamar itu hanya tampak seperti ruangan biasa yang tidak lagi dapat berubah mengikuti keinginan.

“Kalau begitu...”

Vespera menoleh dan melihat seorang pria masih tertidur di sebelahnya.

Namun, bukan orang itu yang sedang dicari.

“Mana kopi lima literku...?”

Ia mengira ruangan ini masih sama dengan kamar di dalam mimpi. Kalau demikian, cangkir berdiameter dua puluh lima sentimeter yang mampu menampung lima liter kopi pasti tersedia di suatu tempat.

Vespera beranjak dan mulai mencarinya.

Tidak lama kemudian, Lucerix terbangun.

Dia melakukannya lagi.

Enam tangan mekanik di punggungnya membantu tubuhnya duduk di ranjang. Lucerix menatap telapak tangan kanan yang bertumpu di atas paha.

Setiap mimpi selalu berubah menjadi mimpi buruk.

Dalam mimpi tadi, ia menyakiti seseorang karena trauma fisik dan mental yang selama ini dibawanya. Ia memperlakukan orang-orang cacat sebagaimana dahulu dirinya diperlakukan—menerapkan rasa sakit demi memaksakan perubahan agar mereka dapat diterima.

Lucerix memeluk diri sambil menundukkan kepala. Ia takut semakin kehilangan jati dirinya, tenggelam ke dalam kegelapan yang perlahan mengubahnya menjadi monster tanpa perasaan.

Gerakan di dalam kamar menarik perhatiannya.

Seorang perempuan dengan telinga dan ekor kuda sedang mondar-mandir mencari sesuatu. Ia bukan Exonari—manusia yang ditanami exoskeleton sebagai augmentasi di dalam tubuh.

Lucerix mengerjapkan mata ketika rasa familiar merasukinya. Aneh, ia tidak merasakan dengki yang biasa memancing amarah. Ia juga tidak memandang perempuan itu sebagai sosok cacat ataupun sempurna, melainkan individu yang istimewa dan setara—seseorang yang mungkin telah melewati proses rumit untuk menjadi dirinya sendiri.

Kedekatan tersebut sama sekali tidak memiliki dasar. Mereka tidak berbagi kenangan apa pun, dan wajah dalam mimpi Lucerix pun telah kabur. Namun, ia tetap merasa terdorong untuk membuat perempuan itu senyaman mungkin berada di sisinya.

Lucerix memandangi gerak-geriknya cukup lama sebelum mengukir senyum lebar.

“... Apa kau lapar?” tanyanya dengan suara pelan dan ragu-ragu. “Kurasa aku bisa membuatkan sesuatu untukmu.”

Vespera masih belum menemukan cangkir kopi impiannya. Kekhawatiran perlahan berubah menjadi kepasrahan.

“Hilang...”

Harapan dalam dirinya seolah ikut lenyap bersama cangkir tersebut.

Saat mendengar tawaran Lucerix, Vespera menoleh.

“Boleh.”

Kedua telinga kudanya bergerak-gerak. Rasa putus asa akibat kehilangan kopi segera terlupakan karena kini ia diajak makan.

“Kopi,” tambahnya.

Ya, Vespera tetap ingin mengonsumsi kopi.

Lucerix mengangguk. Ia menyukai orang yang tidak bertele-tele, dan Vespera memperoleh satu nilai lebih untuk itu.

Namun, berdasarkan prinsipnya, kopi tidak pantas dikonsumsi saat perut kosong. Mereka tetap harus memakan hidangan yang layak terlebih dahulu.

Anehnya, otak Lucerix seolah telah dimanipulasi untuk mengetahui letak dapur, meskipun ia yakin baru pertama kali berada di rumah kumuh tersebut. Perasaan bahwa ada sesuatu yang salah semakin kuat. Begitu pula kedekatannya dengan makhluk separuh binatang yang baru ditemui.

Enam tangan mekaniknya menopang tubuh. Kedua kaki Lucerix tidak perlu menyentuh lantai ketika bergerak menuju dapur.

Begitu tiba, alisnya langsung bertaut.

Hanya ada deretan makanan kaleng murahan. Tidak satu pun bahan mentah tersimpan di lemari es. Semua itu terasa seperti penghinaan baru terhadap martabatnya.

Lucerix memiliki teknologi mutakhir yang tertanam dalam tubuh, tetapi justru menghargai hasil kerja tangan makhluk hidup. Menurutnya, tidak semua hal harus serba instan sampai seseorang menyerahkan seluruh harkatnya kepada mesin.

“... Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?” geramnya.

Satu tangan mekanik menyapu kaleng-kaleng sampai jatuh berserakan. Gerakan berikutnya mematahkan rak serta lemari kayu yang sudah lapuk. Lucerix mendorong kulkas hingga terbanting dan seluruh isi di dalamnya tumpah ke lantai.

Dadanya naik turun. Keringat mengucur deras dan wajahnya memerah.

Bila gejolak hormon memang memengaruhi mereka, satu-satunya hal yang dirasakan Lucerix adalah stres.

Beberapa menit kemudian, ia menatap dapur yang porak-poranda, lalu berbalik kepada Vespera.

“Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa menemukan kopi untukmu.”

Baginya, ketidakadaan kopi tetap menjadi masalah yang lebih penting daripada kekacauan yang baru saja dibuat.

Lucerix mulai memunguti kaleng-kaleng tersebut dan membuangnya ke tong sampah. Ia tidak sudi memandang makanan itu lebih lama, bahkan lebih memilih kelaparan.

Perhatiannya kemudian tertuju ke jendela.

Ribuan bangunan minimalis memenuhi pandangan. Setiap rumah susun dikelilingi pagar, membuat kawasan itu menyerupai permukiman padat dan sesak di dunia asalnya.

Raut Lucerix semakin kusut.

Ia seharusnya merasa terbebas karena berada jauh dari tempat asal. Namun, pemandangan di luar justru membuatnya seolah tetap terjebak dalam suasana rumah lama.

“Kurasa mereka yang berada di luar sana juga tidak punya kopi,” katanya sambil mengangkat bahu dengan polos. “Sayang sekali.”

Vespera mengikuti Lucerix ke dapur karena masih lapar setelah gagal mendapatkan tiramisu.

Pada awalnya, ia mengira pria tersebut hanya pecinta kebersihan yang kesal melihat tumpukan kaleng. Namun, Lucerix kemudian menjatuhkan kulkas sampai terbanting.

“A.”

Vespera menatap benda itu.

“Jatuh.”

Dapur berubah menjadi porak-poranda. Kabar terburuknya tetap sama: tidak ada kopi.

Kedua telinga kuda Vespera turun karena kecewa.

“Tidak apa...”

Keheningan berlangsung selama beberapa menit. Ia mengamati dapur yang rusak, kaleng-kaleng yang dipungut Lucerix, dan jendela yang memperlihatkan deretan rumah di luar.

“Ini mengkhawatirkan.”

 

Cassius dan Xandara

Cassius terlepas dari mimpi aneh.

Di dalamnya, ia sempat bersama seorang gadis dengan rambut menyerupai telinga kuda—atau mungkin memang telinga kuda sungguhan. Namun, wajah gadis tersebut semakin kabur begitu ia membuka mata.

Keheranan Cassius segera tergantikan oleh perasaan lain.

Di sampingnya terbaring seorang perempuan bertubuh besar. Ia tidak tahu apa pun mengenai masa lalu mereka, tetapi rasa dekat yang muncul terlalu kuat untuk dibantah. Bahkan ada dorongan kepemilikan yang membuat sosok asing itu terasa seperti seseorang yang seharusnya selalu berada di sisinya.

“Ugghh...”

Cassius menggelengkan kepala, pusing oleh seluruh kejadian tersebut.

“Perasaan familiar ini...” Suara Xandara terdengar dari sebelah. “Kau juga merasakannya, kan?”

Ia membuka mata tepat setelah Cassius. Pria itu asing, tetapi terasa dekat. Tidak ada penolakan dalam dirinya. Keadaan mereka bahkan tampak seperti rutinitas yang telah berlangsung lama.

Pada jari masing-masing, terpasang cincin yang senada.

Bagi Xandara, Cassius terasa seperti cerminan dirinya—berbeda dengan pemuda berambut lembayung yang suka berkeliaran dalam ingatan kabur tadi.

Tunggu. Siapa?

Sosok itu segera kehilangan wajah dan nama.

Jadi semua itu hanya mimpi?

Xandara menegakkan punggung dan melirik jendela. Pemandangan di luar kini terlihat jelas dan nyata: ribuan rumah susun yang rapat, masing-masing dikelilingi pagar. Tidak ada lagi kabut atau ruang yang dapat berubah sesuka hati.

Ia kembali menatap orang di sampingnya, lalu melontarkan pertanyaan yang bahkan terdengar aneh bagi dirinya sendiri.

“Sudah sejak kapan kita seperti ini?”

Cassius terdiam, berusaha mencari jawaban dalam masa lalu yang kini mulai kembali jelas. Namun, ia tetap tidak menemukan satu pun ingatan mengenai Xandara.

“... Mungkin sejak hari ini.”

Ia berdiri, mengambil pedang, lalu berjalan meninggalkan kamar.

“Lupakan soal itu. Rasanya aneh merasa dekat tetapi tetap asing.” Cassius menoleh. “Bagaimana kalau kita makan dulu?”

“Silakan saja,” jawab Xandara.

Menyiapkan makan bersama orang lain terdengar seperti sesuatu yang tidak akan dilakukan Xandara. Namun, kedekatan ini terasa begitu alami—bahkan terlalu alami untuk disebut sebagai pertemuan pertama.

Ia mengakui adanya dorongan untuk memiliki pemuda berpedang tersebut. Meski demikian, Xandara tetap seorang Enigmatron. Ia terlatih menjaga kestabilan jiwa dan mengetahui kapan harus bertindak.

Mumpung keadaan mereka sudah seperti ini, tidak ada salahnya membicarakannya. Mereka sama-sama kebingungan.

“Namamu?” tanyanya ketika mengikuti Cassius menuju dapur.

“Cassius. Kalau kau?”

Jawabannya singkat. Ia mengamati bahan makanan yang tersedia dan mempertimbangkan hidangan yang dapat dibuat.

“Kau ingin makan apa?”

Cassius menggulung lengan baju dan mengambil sebilah pisau.

“Xandara. Samakan saja dengan makananmu.”

Dengan memanipulasi sebagian massa tubuh, Xandara mengambang beberapa sentimeter di atas lantai, tepat di belakang Cassius. Ia telah kehilangan The Origins dari jangkauannya, sehingga memilih mengalihkan pikiran dengan memperhatikan cara makhluk kecil itu bergerak.

Deretan logam berlabel “makanan kaleng” terasa asing baginya. Selebihnya, dapur tersebut tidak memiliki sesuatu yang istimewa—hanya perlengkapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.

“Ini sangat aneh.”

Masih duduk mengambang, Xandara menyilangkan kaki.

“Walaupun aku merasa dekat denganmu, aku sempat membayangkan sosok lain yang belum pernah kutemui.”

Pengakuan itu sekaligus mengungkap rasa bersalah yang tidak dapat dijelaskannya. Ia baru saja memimpikan orang lain ketika Cassius kini terasa begitu akrab.

Cassius tetap memasak dengan cekatan. Tangannya tidak berhenti memotong daging dan sayuran yang tersedia.

Sekilas, ia teringat nasihat kakeknya: orang yang istimewa harus diberi makanan yang istimewa pula.

Karena itu, Cassius memasak banyak steik untuk menyesuaikan proporsi tubuh Xandara.

Belasan menit kemudian, ia meletakkan setumpuk steik di atas piring besar dan menyajikannya di hadapan perempuan tersebut.

“Kata Kakek, semakin besar tubuh seseorang, semakin banyak daging yang dibutuhkan. Jadi, tidak perlu sungkan.”

Cassius duduk berhadapan dengannya.

“Banyak atau sedikit tidak masalah,” tanggap Xandara. “Mungkin kakekmu tidak tahu bahwa ada beberapa bangsa bertubuh besar yang lebih sering berpuasa, sepertiku. Jadi, jangan memaksakan diri.”

Ia tidak ingin Cassius merasa tertekan hanya karena perbedaan ukuran tubuh mereka. Lagi pula, Xandara tidak pernah memperhitungkan apa pun yang masuk ke mulut. Ia bahkan hampir lupa bagaimana rasanya kenyang.

Tatapannya jatuh pada tumpukan daging yang masih mengepulkan uap. Hidangan itu membuat Cassius terlihat semakin kecil di baliknya, sementara bagi Xandara sendiri steik-steik tersebut tidak lebih besar daripada makanan mainan anak-anak.

Pada suapan pertama, kehangatan memenuhi mulutnya. Daging itu terasa seolah meleleh di lidah.

Rasanya berbeda.

Apakah karena hidangan tersebut bukan sayuran dingin yang biasa dimakannya? Atau karena ini pertama kalinya Xandara menyantap makanan bersama orang lain?

Perlahan, tatapannya melunak. Helaan napas ringan terlepas dari bibirnya.

“Kakekmu... telah mengajarimu dengan benar.”

Walaupun nada suaranya tidak terdengar seperti pujian, Xandara yakin ia baru saja memberikan penghargaan paling tulus yang mampu diucapkannya.

“Tidak semua orang suka berpuasa,” jawab Cassius sambil memakan steik buatannya sendiri. “Tapi semua orang bertubuh besar tetap membutuhkan nutrisi yang cukup.”

Melihat Xandara menyantap masakannya sudah cukup melegakan baginya.

“Tentu saja.”

Cassius tidak pernah meragukan perkataan kakeknya. Sejak kecil sampai dewasa, ia dibesarkan oleh nasihat-nasihat lelaki tua tersebut.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.