Endless Labyrinth
Distrik 303
Dorongan dari belakang melemparkan Antares keluar dari ruang merah. Semuanya masih terasa normal sampai tarikan napas pertamanya menghantam paru-paru.
Udara di luar begitu pekat dan menyengat. Bau logam berkarat bercampur polusi memenuhi rongga hidungnya. Tempat itu kotor, berantakan, dan sama sekali tidak sesuai dengan kode yang ia pegang. Menurut penilaiannya, lingkungan seperti ini mustahil layak ditinggali makhluk hidup.
Antares merapikan kerah, mengatur napas, lalu mulai menelusuri distrik yang nyaris tenggelam dalam kegelapan. Cahaya begitu redup hingga matanya belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri. Setelah melewati beberapa lorong, ia menemukan barisan manusia yang duduk tanpa bergerak. Mereka masih hidup, tetapi tatapan mereka seolah tertinggal di tempat lain.
“Jadi, kalau gagal, kami dibiarkan mati,” gumam Antares, menilai alur yang sedang dipaksakan kepadanya. “Hanya karena pembentukan tim?”
Sonata terdorong keluar tidak jauh darinya. Sekali menghirup udara, ia langsung tahu ada sesuatu yang beracun di dalamnya. Bernapas dengan benar saja terasa sulit.
“Apa-apaan ini...” Ia mengernyit. “Lagi-lagi permintaan sulit.”
Leah pun tiba di tempat yang sama: Distrik 303. Ia berjalan menyusuri lorong gelap sampai menemukan manusia-manusia lain di dalamnya. Instruksi Sistem telah diberikan. Mereka harus membentuk kelompok—lagi.
Oksigen di distrik itu dibatasi dan terkontaminasi polusi, seolah udara sengaja digunakan untuk meracuni para penghuninya. Sebuah indikator O₂ menjadi patokan bagi waktu yang terus menyusut.
“Sebelumnya aku gagal. Apa sekarang aku bisa melalui ini?”
Leah mengedarkan pandangan, berusaha menangkap rupa orang-orang di sekitarnya melalui kegelapan. Kemudian ia terkekeh pendek.
“Miris sekali.”
Ia boleh meratapi nasib yang tidak jelas ini, tetapi Leah tidak berniat berakhir di sana.
Kegelapan menelan hampir seluruh bentuk. Yang paling mudah terdengar hanyalah napas sejumlah orang—beberapa tidak teratur, beberapa lainnya terlalu terbiasa menghadapi bahaya untuk membiarkan kepanikan menguasai mereka.
“Apa kalian baik-baik saja di sana?”
Suara lain muncul dengan nyaring dan jelas di tengah kehampaan. Pemiliknya adalah Adarra, yang terlempar ke tempat itu bersama para orang asing. Bagi dirinya, fakta bahwa mereka tidak saling mengenal justru merupakan keuntungan. Tidak akan ada yang segera mengetahui bahwa perannya dalam permainan ini seharusnya berbeda.
Mungkin aku adalah anomali.
“Dengar,” lanjut Adarra. “Sistem sudah memberi kita aturan. Gagal berarti mati. Kita harus segera bergerak!”
Ia berhenti sejenak. Dalam gelap, yang lain hanya dapat menebak posisinya dari arah suara.
“Mati karena pertarungan, kelaparan, atau faktor berbahaya lainnya itu hal biasa. Tapi mati karena tidak bisa membentuk tim? Ayo lakukan!”
Antares mendengar tiga suara selain dirinya. Ia masih kesulitan melihat orang-orang itu, sedangkan persyaratan Sistem mengharuskan mereka memiliki suatu bentuk kedekatan. Bagaimana kedekatan dapat dibangun di tempat yang bahkan tidak membiarkan cahaya masuk?
Terlalu rumit untuk terus dipikirkan. Antares memilih cara paling sederhana, seperti yang telah ia lakukan sebelumnya.
“Antares,” katanya, memperkenalkan diri.
Mengetahui nama satu sama lain semestinya dapat dihitung sebagai satu bentuk kedekatan. Setidaknya, itulah pendekatan paling cepat yang tersedia.
“Aku akan mengikuti apa yang diminta Sistem.” Ia tidak berniat berbasa-basi. “Tiga di antara kalian, siapa yang ingin membentuk tim... denganku?”
“Ya, betul. Meski hidup itu menyusahkan, apalagi harus dijebak seperti ini, aku lebih enggan mati karena alasan konyol.”
Sonata mendengus dan menyilangkan kedua tangan. Setelah lelaki berambut biru itu memperkenalkan diri, ia menghela napas.
“Harus berkenalan? Ah, ya, Sistem memang memintanya. Sonata. Sonata Acerbi.”
Tidak ada waktu untuk merasa malu ataupun mempertimbangkan untung-rugi terlalu lama.
“Kalau kau sudah berniat membentuk tim, aku ikut.”
Keputusannya cepat, efisien, dan tidak berbelit-belit. Namun, bahkan dalam keadaan seperti itu, Sonata masih merasa perlu mengoreksi orang lain.
“Dan lagi, kalau kau sudah menawarkan diri untuk membentuk tim, artinya kau hanya membutuhkan dua orang lagi. Satu tim berisi tiga orang.”
“Mati karena gagal membuat kelompok beranggotakan tiga orang memang terdengar bodoh dan jenaka,” timpal Leah kepada suara Adarra.
Kemudian suara Antares menyusul. Leah terdiam di tempat.
Suara lelaki itu terasa tidak asing. Atau barangkali hanya perasaannya? Satu tangan Leah terangkat dan menyentuh bibirnya sendiri seraya berusaha mengingat. Ia tidak ingin salah mengenali orang. Hal seperti itu akan terlalu memalukan baginya.
Namun, ia juga tidak dapat menyangkal bahwa suara Antares menyerupai suara lelaki yang pernah berhubungan intim dengannya di Dunia Mimpi.
“Aku ikut denganmu, Antares.”
Leah langsung menangkap kesempatan yang ada. Seorang anggota dengan jenis kelamin berbeda telah menawarkan diri; menerima tawarannya merupakan langkah yang paling masuk akal. Jika persyaratan kedekatan masih berkaitan dengan ikatan dari pengalaman sebelumnya, keputusan itu seharusnya juga menguntungkannya.
“Namaku Leah Pereshati.”
Dengan jawaban Sonata dan Leah, jumlah tiga orang yang diminta Sistem sebenarnya telah terpenuhi.
Suara lain muncul dari kegelapan.
“Cynthia... Cynthia Talia.”
Cynthia ikut memperkenalkan diri. Ia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi, tetapi ia yakin keberadaannya di Distrik 303 merupakan akibat dari kegagalannya terpilih dalam tim sebelumnya. Kali ini tidak ada pengecualian: apabila gagal lagi, ia akan binasa.
“Bodoh atau tidak, itulah yang terjadi sekarang,” katanya, menanggapi Leah.
Selain Antares, terdapat satu sosok lain yang belum sadarkan diri. Dalam kegelapan, Cynthia bahkan tidak dapat memastikan dengan jelas siapa sosok tersebut. Kesempatan untuk membangun kedekatan terasa nyaris tidak ada.
“Dan saat ini, bila tidak satu tim dengan Antares, bisa disimpulkan kita akan mati.”
Ia menatap ke arah satu-satunya lelaki yang aktif di antara mereka.
“Jadi, kau yang memutuskan hendak dekat dengan siapa.”
Tatapan Cynthia tidak lagi sayu. Ia telah mengambil satu keputusan: dirinya belum ingin mati. Apa pun yang harus dilakukan untuk bertahan, untuk sekarang ia akan menghadapinya.
“Gerakan yang cepat.”
Suara Adarra terdengar tetap normal di antara tarikan napas orang lain yang mulai tidak teratur. Pandangannya mengarah pada orang-orang yang mulai merapat.
“Satu tim bisa terbentuk, tapi itu berlebihan. Bagaimana dengan yang lain?”
Adarra menoleh ke arah ruang merah. Di sana, sebuah panel masih menampilkan grafik hormon dan data biometrik mereka. Garis-garisnya belum bergerak cukup jauh. Sistem masih membaca hubungan yang mereka bangun sebagai afiliasi, bukan kedekatan.
“Yah, ini belum bisa dianggap sebagai bentuk kedekatan!” lanjutnya. “Sistem tidak mencari sekadar kawan. Sistem mencari pasangan. Kita harus merasa dekat secara alami dan, yang paling penting...”
Adarra sengaja memberi jeda.
“...memiliki kesediaan untuk melanjutkan garis keturunan. Reproduksi. Apa kalian sanggup dengan hal semacam itu?”
Berbeda dari yang lain, Adarra tidak tampak kesulitan bernapas. Ia sanggup berbicara panjang tanpa memedulikan oksigen yang terus menipis.
“Apa perlu kujelaskan gambaran besarnya? Tentang betapa beruntungnya kalian dibandingkan makhluk-makhluk yang sedang berbaris ini?” Ia menyindir manusia-manusia bertatapan kosong di depan mereka. “Atau tentang kebenaran di balik ilusi saling mencintai yang berusaha mereka tanamkan ke dalam kepala kalian?”
Sonata adalah orang pertama yang merespons tawaran Antares. Setelah itu Leah menyusul. Perasaan akrab yang muncul ketika mendengar suara Leah mengusik benak Antares. Ada dorongan untuk melihat dan menyentuh gadis itu, tetapi rasa ingin tahu tersebut bukan prioritas untuk saat ini.
Sonata. Lalu Leah.
Semua berlangsung lebih cepat daripada pengalaman sebelumnya. Tidak ada perdebatan panjang, tidak ada alasan yang terus berubah.
“Sepertinya kegagalanku sebelumnya terjadi karena pola pikir kami tidak bertemu,” gumam Antares.
Ucapan Cynthia memutus pikirannya.
“Kamu juga ingin masuk?” tanya Antares tanpa mengubah nada. “Aku memilih jalan tercepat untuk mengakhiri drama.”
Ia hanya memilih suara-suara yang paling cepat menjawab. Namun, sebelum pembahasan itu berlanjut, Adarra menilai cara mereka membentuk tim seolah mengetahui lebih banyak daripada siapa pun. Komentarnya semestinya dapat diabaikan, tetapi informasi yang ia tawarkan menyangkut pertanyaan yang selama ini belum terjawab.
“Jelaskan,” potong Antares.
Rasa penasaran itu untuk sekali ini menghalanginya kembali berfokus pada tugas.
“Begitu,” ujar Cynthia singkat.
Ia tidak mengharapkan lebih dari keputusan Antares. Kesalahannya sendiri adalah terlambat bergerak.
“Kedekatan ataupun tidak, hanya dia yang bisa memilih.”
Cynthia sebenarnya sudah menangkap tujuan umum penculik mereka sejak Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Yang masih tidak ia pahami adalah tujuan akhir di balik reproduksi tersebut.
“Kematian atau reproduksi. Hanya itu pilihannya. Namun, sekarang tinggal kita berdua dan pilihan reproduksi sudah tidak berlaku lagi.”
Di matanya, dua perempuan yang tersisa tidak lagi memiliki jalan untuk memenuhi permintaan Sistem. Cynthia hanya dapat menerima kematian yang mungkin segera datang.
“Kita semua berasal dari semesta yang berbeda. Kalian sudah tahu?” jawab Adarra pelan.
Suaranya menggema di dalam gelap.
“Aku serius saat mengatakan semesta. Bukan hanya negara, planet, atau bahkan dimensi lain.”
Tatapannya tertuju pada Cynthia.
“Benar, Cynthia. Instingmu tajam. Reproduksi memang tujuannya.”
Adarra menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Kita berada di sini untuk menghasilkan keturunan bagi Dantalion Malver, dalang dari semuanya. Entitas terkaya yang pernah ada di seluruh realitas.”
Ia berbicara perlahan, seakan keberadaannya di sana memang ditujukan untuk memandu mereka.
“Kalian tidak diculik secara acak. Malver membayar mahal untuk membawa kalian ke sini. Setiap dari kita—ya, aku juga termasuk—adalah orang-orang dengan bakat luar biasa dan potensi untuk berpengaruh di dunia.”
Langkah Adarra hampir tidak terdengar ketika ia mulai bergerak.
“Tetapi benang takdir kita tipis. Peran kita di panggung semesta sangat kecil, hampir tidak ada. Potensi yang sia-sia, bukan?”
Tidak seorang pun menyela.
“Malver tidak hanya menculik kita. Dia membeli takdir—peran kita di semesta. Saking kayanya, di tempat asal kita, kita sudah menjadi hantu bahkan sebelum pergi. Bagaimana kalau kita pulang? Kita hanya akan menjadi paradoks, anomali yang tidak mempunyai tempat.”
Adarra mengangkat satu tangan.
“Hanya di semestanya kalian dianggap berharga. Lebih beruntung daripada mereka.”
Ia menjentikkan jari. Cahaya biru terpancar dari telapak tangannya dan, untuk sesaat, mengusir gelap di sekitar mereka.
Ratusan manusia penghuni Distrik 303 terlihat duduk berjejer. Mata mereka terbuka, tetapi seluruh tatapannya kosong. Di belakang barisan itu berdiri sebuah mesin besar—generator yang mempertahankan dunia lain di dalam kepala mereka.
“Mereka hidup dalam Dunia Simulasi,” bisik Adarra. “Mereka hidup selamanya di dalamnya, terjebak dalam satu momen penderitaan atau kebahagiaan palsu yang diulang-ulang. Seperti mimpi buruk yang kalian alami sebelum tiba di sini. Itulah kehidupan permanen mereka.”
Cahaya biru padam dan kegelapan kembali mengambil alih.
“Di semestanya, Malver adalah tuhan. Dia bisa menulis ulang ingatan kalian semudah membalik halaman buku,” tutup Adarra. “Jika kalian masih dapat mengingat semua yang kukatakan, itu berarti dia memang ingin kalian mengetahuinya. Hidup kalian akan dianggap berharga saat grafik hormon bergerak.”
Leah menyimak seluruh penjelasan itu. Tentu saja ia terkejut, meski ekspresi acuhnya tidak banyak berubah. Keberadaan Dantalion Malver dengan kuasa di luar nalar, semesta-semesta yang saling terpisah, penculikan yang disertai penghapusan eksistensi—semuanya terdengar terlalu tidak masuk akal, seperti film sains fiksi.
“Aku lebih menyukai penjelasan yang masuk akal,” kata Leah, “seperti bahwa kami diculik orang cabul dengan kegemaran aneh yang tidak perlu kujelaskan secara terperinci karena memang tidak pantas. Orang-orang malang yang berjejer di sini pun cukup disebut sebagai korban penculikannya.”
Ia berhenti sejenak.
“Maaf, tetapi aku masih belum paham. Apa maksudnya kami harus meneruskan keturunan Dantalion Malver? Jika ia menginginkan keturunan, mengapa harus menggunakan cara serumit ini? Kalaupun aku mulai memahami tujuannya, aku tetap tidak akan tertarik semudah itu untuk memberi keturunan.”
Sementara itu, Antares merapikan pakaiannya sampai ke kerah sembari memilah poin-poin penting dari penjelasan Adarra.
“Hukumanku bisa dicabut hanya dengan kekayaan?” ucapnya pelan. “Bagaimana mekanisme itu dapat dilakukan?”
Di semestanya, nama Antares telah dihapus dari sejarah rasnya. Ia diturunkan menjadi sosok biasa di Bumi, tanpa tujuan resmi dan tanpa jejak digital. Hidupnya berpindah dari bangunan tua ke reruntuhan dan kawasan-kawasan yang ditinggalkan. Sekarang, semua itu disebut dapat dibeli dan dihapus dengan mudah.
“Pantas saja ingatanku buram,” gumamnya.
Detail mengenai alasan ia dikeluarkan dari rasnya, juga rentetan pelanggaran yang dilakukan keluarganya, sulit ia ingat dengan utuh.
“Sulit mempercayainya setelah semua yang terjadi di Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Untuk apa kebenaran ini disampaikan sekarang?”
Napas Antares terasa getir. Bau karat dan polusi kembali menusuk hidungnya. Distrik ini terlalu kotor untuk kode yang ia pegang, dan pelanggaran sebesar itu tidak dapat ia bersihkan dalam waktu singkat. Ia harus segera menjauh.
“Kamu juga terus menggunakan kata ‘kita’, seolah kita setara,” katanya kepada Adarra. “Namun, mengapa hanya kamu yang mengetahui kebenaran sebanyak ini?”
Kecurigaan itu tetap ada. Meski demikian, pikirannya memaksanya kembali pada instruksi Sistem. Jika perkenalan dan kesediaan membentuk tim belum cukup, ia harus memberi Sistem sesuatu yang dapat dinilai.
Antares menghampiri dua orang yang paling cepat meresponsnya. Tangan kirinya ia ulurkan kepada Sonata, sedangkan tangan kanannya kepada Leah. Ia tidak menambahkan komentar apa pun; penjelasan Adarra sudah cukup mewakili arah tindakannya.
Panel di ruang merah bergerak redup. Salah satu garis indikator mulai bergeser.
Antares tidak menebak lebih jauh. Arah yang dikehendaki Sistem telah jelas: reproduksi. Prinsipnya tetap sama seperti sebelumnya—lakukan yang diperlukan untuk keluar dari hukuman secepat mungkin.
“Kau tahu banyak...”
Napas Cynthia mulai terengah-engah karena oksigen yang terus menipis.
“Bahkan terlalu banyak.”
Ia memang pernah mendengar teori mengenai multiverse, tetapi tidak pernah menyangka teori itu benar. Yang lebih mencurigakan, Adarra masih terlalu tenang meski belum mempunyai pasangan dan berada di lingkungan yang mencekik mereka semua.
“Siapa kau?”
“Kau tahu,” Sonata menyahut, “ketika kita berada dalam situasi genting yang mungkin melibatkan banyak konspirasi, lalu tiba-tiba ada satu orang yang tahu terlalu banyak dan terlalu mendalam, hanya ada dua kemungkinan.”
Ia melirik tangan Antares yang terulur. Sonata menyentuhnya sejenak sebagai jawaban atas pembentukan tim, lalu mendekati Adarra dengan kedua tangan kembali tersilang.
“Pertama, dia bagian dari konspirator yang ingin menjebak kita. Kedua, dia pernah menjadi bagian dari konspirator. Entah apa hubungannya.”
Sonata menatap Adarra lurus-lurus.
“Aku sudah mencurigai semua ini sejak Dunia Mimpi, Dunia Simulasi, dan diskusi pertama. Big deal. Karena itu aku terus bertanya mengapa dan untuk apa.”
Suaranya menajam.
“Tapi kau bisa tahu sejauh itu. Maka kami semua yang berada di sini—bahkan mereka yang berpotensi satu kelompok denganmu—berhak mencurigaimu.”
Pertanyaan Cynthia dan Sonata telah mewakili hampir seluruh kecurigaan yang ada. Leah tidak perlu menghabiskan tenaga untuk menambahkan hal yang sama.
Tatapan sayunya turun ke tangan Antares yang terulur kepada dirinya dan Sonata. Ada perasaan tidak suka ketika lelaki itu harus memberikan tangan satunya kepada perempuan lain. Namun, akal sehat Leah masih bekerja. Permainan tersebut memang mengharuskan sebuah kelompok memiliki dua perempuan.
Perlahan Leah menggenggam tangan Antares. Ia tidak ragu, didorong oleh kedekatan dan rasa familier yang masih tersisa dari pengalaman sebelumnya.
“Semoga kalian semua beruntung,” katanya kepada mereka yang belum membentuk kelompok—atau terpaksa harus membentuk kelompok dengan Adarra yang mencurigakan.
Leah membelakangi mereka.
“Ayo pergi. Aku sudah tidak tahan berada di sini.”
“Aku hanya bisa berspekulasi,” jawab Adarra lembut, pandangannya mengarah kepada Leah. “Bayangkan suatu entitas yang memiliki segalanya—kekayaan hingga kekuasaan absolut. Apa yang masih tersisa? Kebosanan.”
Langkah kakinya tidak terdengar. Kehadirannya seolah dapat berpindah ke mana saja, sedangkan suaranya muncul dari arah yang tidak terduga.
“Dari situlah lahir ambisi: mainan baru, menciptakan kehidupan, menjadi dewa. Tidak mengherankan kalau dia ingin menemukan ras baru dari bibit terbaik.”
“Antares,” panggil Adarra dengan nada lebih tajam. “Mengapa kalian semua tidak terpilih dalam pembentukan tim sebelumnya?”
Ia tidak menunggu jawaban.
“Karena tidak sabar mengakhiri permainan? Kalian gagal karena tidak fleksibel dan terlalu mudah menyerah.”
Suara-suara resah kembali menuntut identitasnya. Adarra berhenti bergerak.
“Ah, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Adarra. Sama seperti kalian, aku berasal dari semesta lain. Tempatku tidak mempunyai udara dan cahaya di sana sangatlah langka.”
Ia mengatakannya seperti menyampaikan data biasa.
“Perbedaanku dengan kalian adalah aku tidak dapat mengikuti rangkaian yang sama. Tubuhku kurang peka terhadap sinyal testosteron, kalau kalian paham. Aku gagal sejak awal—tidak berfungsi sesuai spesifikasi. Itu membuatku terlihat seperti perempuan.”
Tidak ada rasa malu dalam nada Adarra. Baginya, keadaan itu tidak lebih daripada laporan teknis.
“Mereka memberiku karantina untuk diperbaiki. Saat itulah aku mempunyai waktu untuk membongkar Sistem dari dalam.”
Adarra menyentuh pelipisnya. Cahaya biru tipis menyala sesaat di bawah kulit.
“Malver memberiku kesempatan. Aku memiliki otak yang bagus dan mudah menyusun teori. Bibit berharga lebih sulit dihilangkan.”
Ia menurunkan tangan.
“Karena itu, aku akan terus berada di sini. Agar aku bisa selamat, ada Cynthia dan beberapa dari kalian yang akan segera menemukan pasangan.”
Adarra melangkah mendekati Cynthia. Dalam cahaya tipis yang tersisa, kehadirannya kini terlihat setara dengan mereka.
“Sudah ada gambaran tentang siapa yang akan kau pilih?”
Lalu ia memutar tubuh menghadap yang lain.
“Mulai sekarang, pikirkan tentang bersetubuh, ya, Leah? Itu satu-satunya metrik kemenangan di sini.”
Cynthia menyimak seluruh penjelasan itu. Selain terkejut oleh informasi mengenai penculik dan berbagai semesta, ia baru memahami bahwa Adarra—yang semula ia kira seorang perempuan—adalah seorang laki-laki.
Ketika Adarra menanyakan pilihannya, keputusan Cynthia telah jelas. Pilihannya adalah mati atau memperoleh pasangan untuk memenuhi tujuan reproduksi. Namun, di tengah keadaan itu, ia juga merasakan sedikit ketertarikan kepada Adarra—sesuatu yang belum pernah ia sangka dapat muncul terhadap siapa pun.
Cynthia menyayat sedikit lengannya. Darah mengalir dari luka tersebut, lalu terangkat seolah hidup dan berputar mengelilingi dirinya serta Adarra.
“Tentu saja, aku akan berpasangan denganmu.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Dan untuk satu orang lainnya...”
Aliran darah itu bergerak menuju sosok yang masih tak sadarkan diri. Tubuh tersebut terangkat perlahan dari tempatnya.
“Kita pilih dia saja. Kau tidak keberatan, bukan?”
“Perlu kau ketahui,” ujar Sonata kepada Adarra, “aku ditempatkan dengan lelaki sinting yang justru menyerahkan diri kepada lelaki lain.”
Ia melirik Leah yang seolah hendak menarik Antares—dan, secara tidak langsung, menarik Sonata bersama mereka.
“Bajingan itu bahkan lulus. Entah standar penculik ini terlalu rendah atau ada yang salah dengan otaknya. Kalau indikatornya hanya itu, bukankah keadaan seperti ini justru akan mempersulitnya nanti?”
Sonata mendengus.
“Kau mau pergi setelah memperoleh informasi seperti ini? Sayang sekali.”
“Spekulasimu masuk akal,” ujar Leah kepada Adarra.
Ia tidak menyangkal bahwa teori lelaki berpenampilan feminin itu dapat diterima oleh logikanya. Namun, Leah tetap memunggungi mereka dan hanya melirik dari balik bahu ketika Adarra menyarankan agar ia mulai menerima gagasan tentang hubungan seksual.
“Terima kasih telah mencemaskanku. Tapi sebaiknya kau memikirkan urusanmu sendiri.”
Tatapan Leah kemudian jatuh pada Cynthia, yang membiarkan darah mengalir dan melayang di udara.
“Kalian tampak sangat cocok.”
Itu jelas bukan pujian.
Leah memejamkan mata sejenak sebelum menanggapi Sonata.
“Nyawaku dipertaruhkan. Jangan membuang-buang waktu. Ayo pergi sekarang.”
Ia menatap Antares, meminta lelaki itu menyetujui satu hal sederhana: segera meninggalkan tempat beracun tersebut.
Antares menimbang semua yang baru didengarnya dan menyimpan hanya bagian yang dianggap perlu.
“Kalau informasi itu disampaikan sejak awal, aku bisa mempertimbangkan untuk mengikuti,” ujarnya dengan nada kalkulatif. “Namun, karena ini eksperimen, aku mengerti.”
Kebenaran tetap penting, tetapi bukan prioritas. Adarra hanyalah salah satu subjek dan sebagian penjelasannya sendiri ia sebut spekulasi. Sementara itu, grafik O₂ terus bergerak turun.
Antares menoleh bergantian kepada Leah dan Sonata. Keduanya mampu mengimbangi cara berpikirnya yang cepat.
“Jika Malver mendengar ini,” lanjutnya datar, cukup keras agar suaranya terdengar jelas, “pilih kandidat yang lebih kompatibel lain kali. Kekalahan tim terjadi karena mereka tidak sinkron, bukan karenaku.”
Ia berbalik dan mulai memimpin langkah menuju ruang merah. Fokusnya kembali pada satu tujuan: keluar dari Distrik 303.
Namun, di sela pragmatisme itu, satu pertanyaan yang jauh lebih personal mengusik benaknya.
Mengapa aku yang terpilih?
“Itu adalah risiko,” jawab Adarra kepada Sonata.
Ia memandang tim yang dipimpin Antares mulai menjauh.
“Malver sengaja memilih individu dengan potensi besar, tetapi peran yang kecil. Orang-orang yang terbiasa diabaikan akan menjadi aset yang paling sulit dikendalikan.”
Suaranya mengikuti langkah mereka menuju ruang merah.
“Tapi mungkin kalkulasinya terbalik. Barangkali masalahnya bukan kandidat tim yang tidak sinkron, Antares. Mungkin kau yang tidak kompatibel.”
Adarra tersenyum tipis.
“Jangan terpancing umpan yang tidak penting.”
Perhatiannya kembali kepada Cynthia. Darah yang tadi keluar dari lengan gadis itu masih bergerak di udara.
“Menggunakan kekuatan seperti itu akan membangkitkan dahaga,” komentar Adarra. “Namun, demonstrasi kekuatan dalam keadaan genting memang diperlukan. Aku hanya mengkhawatirkan napas kalian.”
Adarra berjalan melewati Cynthia dan menghampiri tubuh yang diangkat oleh aliran darah. Ia berjinjit, lalu menyingkirkan rambut dari wajah pucat sosok tersebut. Dalam jarak sedekat itu, tampak bahwa orang yang belum sadar itu adalah seorang gadis.
“Syaratnya masih berlaku,” kata Adarra. “Dia harus sadar.”
Ujung jarinya menyentuh pelipis gadis itu.
Udara di sekeliling mereka berderak. Percikan biru-putih merambat dari jari Adarra, menembus kulit dan bergerak menuju sistem saraf. Tubuh gadis tersebut tersentak hebat, dipaksa keluar dari ketidaksadaran.
Adarra segera menarik tangannya.
“Sekarang kita bisa menyelesaikan permainan ini.”