Reverse Mirror: When The Heaven Falls
Chapter 4

The Night Without Dawn Part I

10,029 words · ~46 min read

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Seharusnya itulah batas antara dua ritme yang selama ini terasa mutlak bagi penghuni Reverse Mirror. Namun hari itu, siang hanya tercatat pada angka-angka jam. Averion tetap tenggelam dalam malam.

Satu hari telah berlalu sejak kejadian sebelumnya. Enigma akhirnya menunjukkan diri tepat ketika batas antara Gale dan Terra semakin kabur. Eksistensi mereka bukan sekadar kemunculan makhluk yang selama ini dianggap jauh di atas dunia fana. Kehadiran itu adalah tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi apabila keadaan dibiarkan berjalan sebagaimana adanya. Dunia yang selama ini dijaga dalam sebuah keseimbangan kaku mulai runtuh, seolah ada kekuatan tak terlihat yang perlahan merobek sistem dari dalam.

Di sisi lain, Enigma bukan satu-satunya keanehan. Entitas asing—serupa, tetapi tidak sama—telah memperlihatkan kekuatan yang bukan hanya mengusik realitas, melainkan juga mempertontonkan timeline yang berbeda dari waktu yang sedang mereka jalani. Sulit untuk tidak bertanya: apakah dunia yang dikenal sekarang hanya satu dari banyak kemungkinan, atau mereka selama ini hidup di dalam bayangan sesuatu yang jauh lebih besar?

Teguran dan ancaman datang bersama intervensi itu. Mereka yang melanggar kodrat akan menerima konsekuensi. Semesta menuntut ketertiban, sementara kematian menjadi salah satu hal paling mengerikan yang dapat dimainkan oleh para pengawasnya. Tetapi justru dari sanalah pertanyaan baru tumbuh. Jika Enigma memang bertindak sebagai wakil Tuhan yang menghukum secara terang-terangan, apakah tindakan itu dengan sendirinya menjadi benar? Atau mereka sekadar menjalankan fungsi demi keseimbangan, tetap membawa kecemasan yang terasa terlalu manusiawi—takut apabila Gale dan Terra ternyata dilindungi oleh kehendak takdir yang lebih kuat daripada aturan yang mereka jaga?

Kemudian matahari berhenti memperlihatkan dirinya.

Averion tetap gelap ketika tubuh para Gale seharusnya memasuki waktu istirahat. Tidak ada cahaya yang menandai pergantian hari. Tidak ada jeda bagi ras yang secara alami hidup pada malam hari. Sebaliknya, para Terra semakin larut dalam kantuk, seakan tubuh mereka masih mematuhi jam yang tak lagi dipatuhi langit.

Gejala lain muncul bersama malam yang tidak berakhir. Penglihatan Gale maupun Terra sesekali mengabur. Kepala mereka berdenyut tanpa peringatan. Dalam satu momen, dunia yang mereka pijak dapat terkikis begitu saja dan digantikan oleh tanah kosong yang tandus. Di sana, makhluk-makhluk tanpa akal mengintai dari kejauhan, bentuknya asing, geraknya liar, seolah hanya menunggu kesempatan untuk menerkam.

Lalu pemandangan itu lenyap dan Averion kembali.

Halusinasi datang dan pergi, tetapi sensasinya terlalu nyata untuk disapu sebagai mimpi. Di semesta yang sejak awal dibangun di atas aturan, penolakan, dan kebencian yang dipaksakan, kegelapan kali ini terasa seperti sebuah peringatan. Jika tidak ada yang menghentikan keadaan ini, dunia mereka mungkin benar-benar runtuh—bukan oleh pemberontakan, bukan oleh perang yang mereka pahami, tetapi oleh kehancuran dari sesuatu yang bahkan belum dapat mereka beri nama.

Dan Enigma telah memutuskan bahwa mereka harus bertindak.

• • •

Hujan gerimis turun di atas kuburan keluarga Rosenkrantz.

Pearl dimakamkan tepat satu hari setelah kematiannya. Para hadirin menyaksikan tanah perlahan menerima peti kecil berukir lambang Rosenkrantz, sementara satu pikiran yang lebih mengganggu daripada duka beredar di antara mereka: kematian Pearl tidak terasa seperti kematian biasa. Ia menyerupai sebuah hukuman yang sengaja diberikan kepada Don Antonio karena menentang Tuhan.

Namun, bila itu benar hukuman Tuhan, mengapa hukuman tersebut perlu ditunjukkan secara terang-terangan? Jika kuasa-Nya mutlak, seharusnya Antonio bisa dihancurkan tanpa meninggalkan ruang bagi Gale maupun Terra untuk mempertanyakan keadilan-Nya. Kemunculan dan pertunjukan kuasa justru membuka kemungkinan lain yang lebih mengusik—barangkali ada sesuatu yang tidak dapat dilumpuhkan begitu saja oleh kehendak para pengawas dunia.

Mungkin itu sebabnya mereka perlu menampakkan diri. Bukan semata karena mereka mahakuasa, melainkan karena ada sesuatu yang cukup besar untuk membuat kekuasaan itu perlu dipertontonkan.

Tanah di bawah sepatu para pelayat sudah berubah menjadi lumpur tipis ketika peti kayu berukir lambang keluarga perlahan diturunkan ke liang. Di atas tutupnya tertera nama Pearl Rosenkrantz, putri tunggal Don Antonio, perempuan muda yang sehari sebelumnya masih menjadi salah satu wajah paling dikenal di Averion.

Kini ia hanya sebuah nama yang akan tertutup tanah.

Xavi Elinas berdiri di tepi liang dengan satu tangan memegang payung. Matanya tidak pernah berpindah dari peti itu.

Pearl tidak memiliki hubungan darah dengannya. Namun terlalu banyak tahun yang membuat gadis itu terasa seperti adik sendiri—seseorang yang senyum liciknya selalu membuat Xavi ingin mengubahnya menjadi senyum yang benar-benar bahagia.

Sekarang senyum itu hilang.

"Selamat jalan, Nona..."

Jemarinya mencengkeram gagang payung lebih erat.

Demi tujuan yang ingin Anda capai, anak Anda malah menjadi korbannya.

Pikiran itu terus kembali kepada Don Antonio. Setelah upacara ini selesai, Xavi sudah membulatkan satu keputusan: ia akan meninggalkan mafia.

Tidak jauh darinya, Gio berdiri dengan payung sendiri.

Ia sudah terlalu sering menghadiri pemakaman. Dalam hidup mafia, kematian bukan kejadian luar biasa. Orang-orang kepercayaan orang tua yang dahulu mengurusnya datang dan pergi, dan prosesi seperti ini selalu dilaksanakan untuk menghormati mereka.

Waktu kecil, Gio sempat heran mengapa pemakaman mafia sering sunyi. Ia terbiasa melihat kematian disertai tangis di tempat lain, tetapi di lingkungan mereka, orang-orang hanya berdiri dengan kepala tertunduk.

Lama-lama ia mengerti: tidak perlu tangis untuk mengetahui seseorang sedang berkabung.

Ia sendiri tidak tahu apa yang benar-benar terjadi di rumah sakit sampai Pearl meninggal. Setelah Dorian selesai menangani Hyde, Gio menyeret keduanya keluar dari dimensi aneh yang menelan rumah sakit. Yang ia temukan setelah itu hanyalah bangunan yang hancur, Pearl yang meregang nyawa, dan Don Antonio berdiri tidak jauh darinya.

Kalau para anggota mafia tidak hobi bergosip, Gio mungkin sudah menyimpulkan Don Antonio kehilangan akal dan membunuh putrinya sendiri.

Pandangan Gio tiba-tiba kabur.

Ia mengernyit, menaruh kepalan tangan di depan mata.

"Hah...?"

Di depan peti, sesaat ia melihat seorang lelaki tua menggandeng seorang anak laki-laki berambut hitam.

Gio berkedip.

Yang ada di sana hanya Don Antonio.

Ia mengembuskan napas pelan. Mungkin ia benar-benar kelelahan setelah datang dari kantor Organization 7 dan tidak sempat beristirahat. Tetapi kaburnya penglihatan itu terasa berbeda.

Di sisi lain liang, Antonio berdiri tanpa payung.

Hujan meresap ke mantel gelapnya, membaur dengan air yang lebih dulu membasahi wajahnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Gurat usia tampak lebih dalam di bawah mata yang menatap lurus ke peti.

Para hadirin menundukkan kepala untuk berdoa.

Antonio tidak.

Baginya, doa adalah pengakuan atas kekalahan. Pelarian bagi mereka yang menerima nasib dan percaya segala sesuatu adalah kehendak ilahi.

Kematian Pearl bukan sekadar tragedi. Ia adalah hukuman yang sengaja dijatuhkan kepada Antonio karena berani menentang Tuhan.

Ia menatap langit kelabu.

Hujan masih jatuh dingin, seolah tangan Tedros sendiri sedang mencoba membasuh sisa perlawanan di dalam dirinya.

Antonio tidak akan tunduk.

Bahkan di atas kuburan putrinya.

Matanya sempat bertemu Gio dan Xavi di seberang. Ia tidak perlu mendengar apa pun untuk mengetahui kekecewaan mereka. Namun alih-alih menjelaskan, Antonio berbalik dan pergi lebih dulu dari pemakaman.

Ia terlambat menyelamatkan Pearl.

Masih ada keinginan terakhir putrinya yang harus diwujudkan.

Dan Antonio masih percaya dirinya lebih dari mampu memusnahkan Terra.

• • •

Setelah upacara selesai, para pelayat mulai berpencar.

Xavi berjalan menjauh dengan sepatu basah, mencari tempat untuk menyendiri. Ia masuk ke gereja kecil yang masih berada di kompleks pemakaman.

Kabut hujan menempel di kaca-kaca tinggi ketika sebuah suara muncul di belakangnya.

"...Kakak."

Xavi berhenti.

Ia tahu suara itu tidak mungkin nyata.

Adiknya sudah lama meninggal bersama keluarganya ketika mafia Sylverill membantai mereka. Namun bayangan anak itu tetap berdiri di lorong gereja, mengikuti langkahnya seperti memori yang tidak mau dikubur.

Xavi mengabaikannya.

"Kakak, kapan kau pulang?"

Ia mempercepat langkah.

"Kakak, kapan kau pulang?"

Suara itu mengulang.

"Kakak, kapan kau pulang? Kakak, kapan kau pulang? Kakak, kapan kau pulang?"

Napas Xavi mendadak sesak. Itu adalah pesan terakhir adiknya sebelum seluruh rumahnya berubah menjadi tempat pembantaian.

Ia berlari ke ruang utama gereja.

"DIAM!!!"

Teriakannya memantul dari dinding ke dinding.

Suara itu akhirnya lenyap.

Xavi jatuh duduk di bangku panjang, meraup udara dengan susah payah.

"Aku tidak sesampah itu..."

Ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Ketika kembali menatap podium, gereja menghilang.

Tanah tandus membentang di segala arah.

"Aku... di mana?"

Angin panas menghantam wajahnya. Di depan, muncul dirinya sendiri ketika masih kecil.

"Xavi! Pulang, Nak! Akhirnya sepatu yang kamu inginkan sudah Ayah beli! Ayo ke sini!"

Suara itu begitu akrab sampai Xavi refleks mengejar.

Bayangan masa kecilnya berlari menuju keluarga mereka. Kehangatan yang sudah lama terkubur seakan kembali dapat disentuh.

Lalu badai pasir datang.

"Hei!"

Xavi terus mengejar, tetapi keluarga itu semakin jauh. Ketika berhasil keluar dari badai, ia berdiri di tepi pemandangan yang jauh lebih mengerikan: kawah besar dipenuhi monster berbagai bentuk dan ukuran, bergerombol seperti kawanan yang menunggu sesuatu.

Salah satu makhluk terbesar menoleh kepadanya.

Lalu menerkam.

"SIGIL OPEN! Cut that fate!"

Sayatan tajam meledak dari tangannya.

Xavi tersentak kembali ke gereja.

Podium di hadapannya telah terbelah lebar.

Keringat dingin membasahi dahi. Ia menatap kerusakan itu, tidak yakin apakah baru saja berhalusinasi atau benar-benar sempat ditarik ke tempat lain.

Pintu gereja terbuka.

Gio masuk, memandang podium yang terbelah, lalu memukul belakang kepala Xavi dengan sisi tangannya.

"Kalau kau ngamuk karena Tuan Putri kesayanganmu itu mati lantaran ayahnya yang bodoh, jangan di sini. Kau memang mau berurusan dengan gereja di situasi begini?"

Xavi bahkan tidak marah.

"Gio, apa kau tidak merasakan suatu keanehan belakangan ini?"

Gio mengangkat alis.

"Aneh maksudmu selain langit yang harusnya terang ini?"

Ia menunjuk ke atas—atap gereja, tetapi Xavi tahu maksudnya.

Lalu langit menjawab mereka.

"DEUS VULT."

Petir menghantam area kuburan.

Ledakannya cukup dekat untuk mengguncang gereja.

• • •

Di jalan utama menuju pemakaman, Kimberly Hawkins masih mencoba menahan ribuan penggemar Pearl.

"Perhatian! Saya tahu kalian semua mencintai Pearl. Tapi keluarganya punya hak untuk berduka dalam damai! Jika kalian benar-benar menghormati Pearl, mundurlah! Jangan biarkan momen ini ternoda oleh anarki!"

Ia menurunkan megafon.

Barisan polisi berdiri rapat di belakang pagar. Massa membawa spanduk, menyanyikan lagu-lagu Pearl, menangis, dan mendorong apa pun yang menghalangi mereka melihat pemakaman sang idola.

Kimberly belum tidur cukup sejak pencarian dua budak Terra. Laporan radio di bahunya pun tidak membantu: halusinasi massal menyebar di berbagai lokasi, rumah sakit masih menjadi pusat kekacauan, matahari tidak kunjung terbit, dan hujan seakan menolak berhenti.

Ia melepas kacamata dan memijat pelipis.

Ketika membuka mata, seorang gadis berambut merah muda berdiri di hadapannya.

Senyumnya terlalu cerah untuk malam yang kelam.

"—tunggu, Naomi!"

Kimberly berlari.

Kenangan masa kecil Der Himmel menyeretnya beberapa langkah sebelum rambut gadis itu berubah menjadi hitam. Senyumnya hilang. Darah mengalir dari mulut. Sebilah pisau tertanam di perutnya sendiri dan cairan hitam merembes dari tiap celah tubuh.

Naomi jatuh.

Lalu berdiri lagi.

Berjalan mendekat.

Kimberly mundur sampai kakinya terpeleset.

Petir menyambar lima meter dari tempatnya.

Kenyataan menghantam lebih keras dari ledakan itu.

Ketika ia bangkit dari lumpur, seorang pria tua sudah berdiri di antara batu-batu nisan.

Pakaian Victorian, postur tenang, kehadiran yang membuat udara terasa berbeda.

Salah satu Enigma.

The Cosmos.

Deimos.

"Struktur yang rusak ini harus diperbaiki," ujarnya. "Sudah berapa lama ya? Sejak terakhir kali aku berkunjung ke dunia palsu ini. Seratus tahun? Dua ratus tahun?"

Para anggota mafia yang belum pergi mundur perlahan.

"Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas semua tragedi ini?"

Gio dan Xavi keluar dari gereja. Dante, yang sebelumnya berdiri jauh dengan pakaian serba hitam dan payungnya, menghentikan langkah untuk pergi.

Gio menatap Enigma dari atas ke bawah.

"Jika maksudmu ada Gale yang mati hari ini, apa itu termasuk tragedi?"

Deimos hanya memandangnya.

"Betul. Kematian dari orang yang ada di balik nisan ini adalah salah satu di antara penyebab tragedi ini."

Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

"Semua struktur harus kembali pada substansinya. Atas perintah Tuhan, aku akan mengembalikan jumlah Gale dan Terra seperti yang seharusnya."

Sebuah bola energi merah menyala terbentuk di atas telapak tangannya.

Life-Force Absorption.

Jeritan pertama terdengar beberapa detik kemudian.

Kulit para Gale di sekitar pemakaman mulai mengeriput. Rambut memutih. Tubuh melemah seolah puluhan tahun berlalu sekaligus di dalam daging mereka.

Gio mengeluarkan pistol dan menembak dua kali.

Peluru menembus tubuh Deimos.

"Yang bukan pengguna Arcana, pergi dari sini!"

Beberapa mafia membangkang karena tidak suka diperintah olehnya. Yang lain melihat seorang anggota tua ambruk dan akhirnya berlari.

Sigil di tangan Gio menyala.

"Open the seals, give me back what was mine."

Besi pagar bergetar, patah, lalu melesat ke tangannya.

Xavi sempat berdiri di bawah pohon, enggan kembali ke urusan mafia. Namun matanya menemukan Kimberly di antara mereka.

Ia teringat tumpangan yang pernah diberikan wanita itu.

"Kheh... apa boleh buat."

Ia memasukkan ponsel ke saku setelah terlebih dahulu menekan panggilan.

"Lady, bisa katakan padaku di sana tidak terjadi apa-apakan?"

Nama yang muncul di layar seberang adalah Yinxia.

Tidak ada waktu untuk percakapan panjang.

Xavi kembali mendekat ke area kuburan.

"Sayang sekali kita bertemu di waktu yang tidak pas, Nona," katanya kepada Kimberly sebelum menatap Deimos. "Pastilah karena dunia sebentar lagi akan kiamat yang membuat Anda sampai turun di tempat ini."

Ia tumbuh dalam keluarga yang kental agama. Ia tahu teks tentang saat Enigma turun untuk menjaga kestabilan dunia. Tetapi setelah dua puluh tahun hidup tanpa pernah ditolong, melihat makhluk itu datang justru untuk membinasakan ciptaannya membuat satu kesimpulan terasa semakin kuat di benaknya.

Enigma itu egois.

Dante mengubah payung karbonnya menjadi tombak.

Deimos menghela napas.

"Kalian tidak berpikir bahwa melawanku akan mengubah takdir, kan?"

Bola merah itu naik lebih tinggi.

Jangkauannya melebar.

Gale tanpa Arcana berjatuhan. Tubuh mereka mengering sampai tersisa tulang, lalu hancur menjadi debu yang tertiup hujan.

"Open the seals, let The Cosmos give you an opportunity to see the truth."

Tanah pemakaman bergetar.

Gio meraih Xavi dan Dante, mencoba menyeret keduanya menjauh.

"Memang kau memberi kita pilihan selain mencoba?"

Xavi sempat membuka kedua tangan seolah hendak berdamai.

"Tentu saja tidak, kami adalah hambamu, kami tidak ada niat untuk ingkar pada diri Anda yang mul—"

Tarikan Gio memotong kalimatnya.

"Gio sialan! Kau meninggalkan wanita itu!"

Xavi melepaskan diri.

"Kau dan mulut besarmu!"

Sayapnya terbuka. Ia terbang kembali menuju Kimberly meski hujan membuat bulu-bulunya semakin berat.

Kimberly tidak mundur.

"Let the seal undone—the steel doesn’t age and neither do I."

Partikel besi merembes dari kulit, melapisi tubuhnya dengan perak. Struktur tulangnya mengeras mengikuti Arcana.

Ia tertawa pendek, lebih kepada dirinya sendiri.

Sejak kapan ia menjadi polisi yang begitu berdedikasi sampai berani berdiri melawan Tuhan?

Tangannya masih gemetar.

Ia belum siap mati.

Tidak sekarang.

"Tidak perlu merasa berutang budi," katanya ketika Xavi hampir meraihnya. Senyum tipis muncul. "Soalnya, saya belum sempat menagih biaya transportasi."

Dinding baja mendadak naik di antara mereka.

Xavi menghantamnya dengan wajah lebih dulu.

"AGH! SHIT! Hidungku!"

Ia menggedor besi.

"HOI, APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Di dalam kubah, Kimberly membentuk bilah baja sepanjang lengan dan menerjang Deimos.

The Cosmos bahkan tidak perlu bergerak.

Cosmic Force membentuk force-field tipis yang menahan serangannya. Medan itu bergerak balik dan menghantam Kimberly ke dinding besinya sendiri.

"Buang-buang waktu."

Deimos menatapnya tanpa emosi.

"You can't fight the system. Berhenti membuang waktu."

Lalu tubuhnya membelah.

Bukan ilusi.

Cosmic Force menciptakan satu tiruan sempurna.

Klon itu melesat menembus atap kubah, sementara Deimos asli tetap di hadapan Kimberly.

Di luar, Xavi memandangi dua sosok yang sama persis.

"What the... fuck!"

Ia berteriak kepada Gio dan Dante.

"GIO! DAN KAU, ANAK BARU—beware, this is getting crazy!"

Sigil di lengannya menyala.

"Seal open. Body paint."

Aura ungu membungkus tubuh Xavi. Sebuah sayatan lebar ia lemparkan ke arah klon.

"Pergi saja kalian kalau mau selamat!"

Gio dan Dante berlindung di balik lempengan besi yang dipanggil Gio dari rongsokan sekitar. Saat kulit tidak lagi terkena langsung oleh cahaya bola merah, penuaan mereka melambat.

Dante melapisi besi itu dengan karbon.

"Kita butuh rencana. Tidak mungkin selamanya bersembunyi di sini."

"No shit," gumam Gio. "Benar. Tak ada gunanya berada di sini. Setidaknya Don sudah pergi lebih dulu."

Ia mengamati lingkungan di balik perlindungan.

"Dengar. Tujuan kita jangan sampai ada lagi yang mati sia-sia. Kita masih tidak tahu mau Enigma itu apa dan berapa lama ia akan bertahan. Pilihan kita kabur membawa semua yang tersisa atau mengulur waktu sebisa mungkin. Tubuh itu tak punya fisik yang bisa diserang. Dan kalau memang ada..."

Ia menatap klon Deimos.

"Maka fisik itu tidak ada di sini."

"Aku setuju dengan rencanamu," ujar Dante, "tapi kau yakin makhluk itu akan membiarkan kita melarikan diri begitu saja?"

Tombak karbon melesat.

Deimos menghilang dari depan mereka.

Suara datang dari belakang.

"Aku akan bertanya sekali lagi. Apa dengan melarikan diri, kalian bisa lepas dari tanggung jawab yang sudah seharusnya?"

Terlalu cepat.

Bahkan Xavi hanya sempat menangkap gelombang hujan yang terbelah ketika Enigma itu berpindah ke blind spot mereka.

"Dia cepat?!"

Deimos menghantam tanah.

Gempa mini meledak dari pijakannya.

Xavi salto ke belakang.

"Apa kami terlihat tidak bertanggung jawab?"

Ia menebas lagi, menguji apakah ketajaman Arcana bisa menyentuh sesuatu yang berulang kali ditembus serangan fisik.

Gio berbalik menembak.

"Memang apa tanggung jawab kami, hah?"

Tidak ada hasil.

"Kau," katanya kepada Dante, "tetap lindungi aku dengan karbonmu."

Saat tanah kembali bergetar, Gio mendorong Dante lalu menerjang langsung ke Deimos, mencoba meraih pakaiannya alih-alih tubuhnya.

Dante melempar bola karbon yang menyebar di atas pakaian Gio sebagai pelindung dan bersiap di belakangnya.

Pertarungan itu belum memiliki akhir.

Dan jauh dari kuburan, panggilan Xavi telah menjadi tanda bahwa kekacauan di satu titik Averion sedang menjalar ke tempat lain.

• • •

Pada jam yang sama, ketika prosesi Pearl dan kekacauan di pemakaman belum benar-benar mereda, toko jam Sion seharusnya hanya dipenuhi suara detik.

Siang itu—atau malam yang menolak berakhir—suara jam kalah oleh jeritan di jalan.

Sion terbangun dengan wajah pucat.

"Suara apa itu?!"

Ia keluar kamar dengan langkah gemetar dan langsung mencari satu orang yang semalam menginap di sana.

"Lady Yinxia! Lady Yinxia! Apa kamu dengar?!"

Lolongan dari luar membuat Sion berlindung di belakang Yinxia.

"D-di luar... suaranya semakin keras."

Yinxia masih mengenakan gaun maid yang dibuatnya semalam dari bahan-bahan di lemari toko.

"Āiyā yā, tidurmu nyenyak, adik terkecil?"

Tangannya membelai kepala Sion.

"Suara di luar semakin bising, ya? Kasihan Jiāohuáng-ku jadi ketakutan."

Intonasinya tidak benar-benar ramah lagi ketika pintu depan mulai digedor.

"Mereka sudah bersikap kesetanan sejak semalam. Terlambat sedikit, mungkin kita juga akan bernasib sinting seperti itu. Bahkan aku pun belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi."

Yua, yang dititipkan di toko semalam, mengintip dari dekat meja kaca.

"Ramai."

Sion baru menyadari keberadaannya dan menjerit.

"AAAAAAAAAAAAAAA JURIGGGG!"

Yua menatapnya datar.

Sion memegang dada.

"Bentar, bentar. Lady Yinxia, kenapa Anda berpakaian seperti Leila?"

Nama itu mengingatkannya pada Terra yang dulu bercanda memakai pakaian maid di toko. Ia segera menggeleng, menyingkirkan ingatan tersebut.

"Tapi untungnya kita berada di dalam toko, jadi aman.... Tapi tunggu, bukankah itu Pastor Camus?"

Di luar, Camus berlutut di sisi seorang Gale yang mencengkeram kepalanya sendiri.

Arloji antik di pergelangan Camus masih bergerak sesuai fungsi. Ia selalu merawat benda itu dengan cermat agar usia pakainya bertahan sepanjang mungkin, tetapi hukum mekanis yang dipatuhi jarum jam tidak lagi sejalan dengan hukum alam di atas kepalanya. Penanda hari terus berjalan, sementara matahari sama sekali tidak menunjukkan niat mengambil tempatnya.

Fenomena itu yang membuat Camus meninggalkan rumah ibadah di Neriv. Ia berpamitan pada para jemaat untuk menyelidiki sesuatu yang belum ia pahami. Baginya, rumah ibadah selalu menjadi tempat kembali selama ujian fana, tetapi hari ini ketenangan yang biasa diberikan ruang suci tidak cukup. Ada orang-orang di luar yang kehilangan pegangan pada realitas, dan ia tidak bisa hanya menunggu jawaban datang sendiri.

Saat menemukan sejumlah Gale tergeletak dan menjerit di jalan, Camus tidak langsung menganggap mereka kerasukan. Ia mencoba berbicara, mengamati, dan menuntun satu per satu. Wanita di hadapannya terus mencengkeram kepala begitu kuat sampai helaian rambut ikut tercabut. Ucapannya melompat-lompat, tak pernah benar-benar menjawab pertanyaan Camus, seakan suara sang pastor hanya lewat di telinganya tanpa pernah mencapai kesadaran.

"Tenangkan dirimu. Tarik napas dalam-dalam."

Orang itu tidak menjawab dengan masuk akal.

Camus mencoba doa.

"Wahai jiwa yang tersesat dalam gulita, dengarkanlah bisikan cahaya... Jangan biarkan bayangan membisikkan dusta, jangan biarkan ketakutan menjadi tuan atas dirimu. Segala yang bersembunyi dalam kelam, sirnalah. Segala yang mencengkeram dalam diam, runtuhlah."

Ia membasuh wajah Gale itu dengan air baptis.

Tidak ada reaksi yang biasanya muncul pada gangguan spiritual.

"Bangkitlah dari mimpi buruk yang tak berbentuk, dan berjalanlah di bawah lindungan Yang Agung."

Doanya tetap gagal.

Biasanya, pada gangguan spiritual yang pernah ia tangani, doa akan menimbulkan gejolak tertentu. Ada yang semakin gelisah, menutup telinga, menggeliat, atau menunjukkan reaksi seperti sedang melawan sesuatu yang menyakitkan dari dalam. Kali ini tidak ada apa-apa. Kata-kata suci hanya melintas. Ketakutan mereka tetap berdiri di tempat yang sama.

Camus akhirnya membaringkan salah seorang pria Gale dalam posisi telentang di jalan. Ia menyusun kedua tangan pria itu di atas perut, memastikan napas masih ada, lalu menutup wadah perak berisi sisa air suci dan menyelipkannya kembali ke saku. Ia tidak menyukai kesimpulan yang mulai terbentuk: pendekatan rohani yang selama ini menjadi salah satu fondasi hidupnya sama sekali tidak menyentuh sumber masalah ini.

"Sungguh... apa yang sebenarnya sedang terjadi?"

Hymn Wylder datang tidak lama kemudian. Ia baru dari panti, memastikan anak-anak yang sudah mengantuk kembali tidur dan meninggalkan pesan agar mereka tidak keluar.

Jam seperti ini seharusnya tidak asing bagi Hymn. Anak-anak panti dan para pengurus terbiasa beraktivitas pada malam hari. Masalahnya, angka pada jam sakunya sudah menunjukkan waktu ketika tubuh mereka semestinya mulai beristirahat, sementara langit masih menipu semua orang dengan kegelapan yang sama.

Sebelum datang, Hymn sempat kembali ke panti dan memaksa anak-anak beristirahat. Sebagian protes karena menganggap malam belum selesai, tetapi kantuk akhirnya mengalahkan mereka. Ia menitipkan pesan kepada anak-anak yang lebih tua agar tidak membiarkan siapa pun keluar sampai dirinya atau Henry kembali. Di tengah kekacauan itu, jam saku peninggalan orang tuanya ikut rusak ketika ia menolong salah satu anak yang hampir tertangkap. Benda tersebut satu-satunya peninggalan yang tidak rela ia biarkan mati begitu saja—alasan lain ia berakhir tepat di depan toko jam Sion.

Jam saku warisan orang tuanya rusak. Itu alasan praktis ia menuju toko.

"Apa yang terjadi? Halusinasi? Overdosis obat? Atau ada kejadian sesuatu?"

Camus mengenalinya.

"Salam, Tuan Hymn. Bila Anda berkenan, bisa tolong lihat keadaan fisik mereka lebih dekat? Barangkali ada sesuatu yang luput dari perhatian kita."

Hymn berjongkok dan memeriksa salah seorang korban.

"Tatapan mata melebar, pupil mengecil, keringat dingin, ritme jantung tak beraturan... Mereka seperti baru melihat hantu. Atau kejadian traumatis lain."

Camus menatap langit.

"Saya sudah berusaha. Celakanya, doa tak cukup untuk membebaskan mereka. Jika menilik keadaan ini, saya pikir ini bukan sekadar ketakutan atau gangguan mistis belaka. Tanpa menemukan asal-muasalnya, kita hanya menunggu giliran untuk terjerat hal yang sama."

Pintu toko akhirnya terbuka.

Seorang Gale histeris mencoba menerobos.

Yinxia menghantam pelipisnya dengan punggung tangan sampai jatuh pingsan.

"Ini bukan posko pengungsian, Tuan-tuan. Tapi kalau untuk memeriksa jam tangan kalian, kurasa Owner bisa mempertimbangkan membuka layanan di luar jam kerja operasional."

Sion menatap baju Yinxia yang sudah berubah dari maid menjadi gaun hitam bertabur mutiara dan mawar.

"JANGAN TELANJA—oh... TAPI TETAP SAJA ITU GANTI BAJU YANG CEPAT!"

"Aku bermain sedikit dengan beberapa bahan di lemarimu," jawab Yinxia ringan. "Mereka bilang aku sudah tamat, begitu pun pemasukan negara di bidang fashion, jadi aku perlu menunjukkan diriku mencari pekerjaan lain sebagai warga taat aturan, kan?"

"Eh, memainkan bahan di lemari ku?!"

Sion hampir lebih takut pada itu daripada kerusuhan di luar.

Camus menunjukkan arloji antiknya.

"Saya masih bisa mempercayai hukum waktu pada jam tangan ini. Sayangnya, di atas sana tidak menunjukkan pemahaman yang sama. Langit seakan telah melupakan tugasnya untuk membedakan siang dan malam."

Yinxia mengangkat bahu.

"No clue. Keadaan sudah seperti ini begitu kami sampai. Pekerja kreatif sepertiku terbiasa mengacaukan ritme tidur—ekhm, pegawaiku—jadi aku tahu batas kelelahan sebelum seseorang kehilangan akal. Empat hari tanpa istirahat, paling cepat. Dan sudah berapa lama siang tidak datang?"

Ia menatap mereka satu per satu.

"Dalam satu hari terakhir, selain gempa dan... dentingan piano di seluruh kota, kita semua sepakat mendengar hal yang sama, bukan?"

"Gempa... dan suara piano," gumam Hymn.

Ia ingat suara itu setelah mendobrak kamar Violetta. Terra bisu itu nyaris bunuh diri, lalu mendadak berhenti dan diambil begitu saja oleh sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Camus bertanya tentang anak-anak panti.

Hymn menjawab dengan lebih serius.

"Tadi, saat seharusnya mereka tertidur, mereka masih semangat bermain karena langit masih gelap. Tapi setelah tertidur, mulai banyak yang tiba-tiba menangis karena mimpi buruk. Itu bukan cuma anak-anak yang keluar bersamaku. Anak kecil yang belum dibolehkan keluar di atas pukul lima juga kena."

Hymn tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat memikirkan panti. Ia memang mempercayakan anak-anak pada mereka yang lebih dewasa, tetapi pengalaman di sana memberi informasi yang kini terasa jauh lebih penting: berada di dalam bangunan tidak membuat mereka kebal. Anak-anak yang sama sekali tidak keluar pun mulai menangis karena mimpi buruk setelah tertidur. Itu berarti dugaan bahwa paparan langsung langit menjadi satu-satunya pemicu tidak cukup.

Camus ikut menimbang kemungkinan tersebut. Jika cahaya malam membawa pengaruh buruk, mereka yang bersembunyi seharusnya relatif aman. Namun jika batas realitas dan ilusi memang sedang menipis di seluruh Averion, rumah, toko, panti, bahkan tempat ibadah pun tidak menjamin apa-apa.

Ia ingin menghubungi para jemaat yang berjaga di Neriv, tetapi kebiasaannya jarang membawa ponsel kini berbalik menjadi kelemahan. Maka satu-satunya alat yang tersisa hanyalah observasi, percakapan, dan upaya menyusun benang merah dari setiap kesaksian.

Berada di dalam ruangan tidak menjamin keselamatan.

Di saat itu, Yoshitsune dan Lyod datang.

Bagi Yoshitsune, sikap acuh tak acuh bukan selalu kelemahan. Ada banyak keadaan di mana kemampuan untuk tidak bereaksi berlebihan justru membuatnya bisa melihat lebih jauh. Seringai tipis yang menjadi ciri khasnya masih sengaja ia pertahankan, terutama untuk satu orang di sampingnya yang tubuhnya sejak tadi gemetar.

Mereka sedang mencari Helvetica. Terra itu datang sendiri kepada mereka di terowongan, berbicara panjang tentang sistem, outsider, dan kebebasan, lalu meminta bantuan Lyod menghancurkan benda asing yang ditanam Yinxia di dekat jantungnya. Setelah semua itu, Helvetica lenyap begitu saja. Yoshitsune tidak tahu apakah dia pergi, ditarik oleh sesuatu, atau memang sengaja menghilang. Fenomena di kota membuat pencarian semakin tidak masuk akal, sampai toko jam menjadi bangunan terdekat yang masih bisa mereka gunakan untuk berlindung dan mengatur pikiran.

Lyod tidak pernah pandai memperlihatkan ketakutan melalui wajah. Sorot mata dan tubuhlah yang selalu membocorkan keadaan sebenarnya. Di dalam toko, detak jam memberinya sesuatu yang hampir menyerupai ketenangan. Namun begitu tubuhnya cukup stabil, kekesalan yang sejak tadi dipendam langsung tertuju pada Yoshitsune.

Mereka tengah mencari Helvetica, yang lenyap tanpa jejak setelah dibantu melepas berlian dari tubuhnya. Fenomena kota memaksa mereka mencari tempat berlindung.

Yoshitsune berjalan masuk seolah tidak melihat peringatan Yinxia.

"Wah, alam sepertinya memiliki rencana unik, ya."

Yinxia memutar payungnya. Lyod tersungkur ketika Yoshitsune mendorongnya menunduk untuk menghindari serangan pertama, dan pukulan berikutnya diterima Yoshitsune dengan lengan.

"Sudah kubilang, ini bukan tempat bagi Gale yang kehilangan akal sehat. Apa kalian datang sukarela untuk menjadi keset penyambut tamu?"

Yoshitsune menyingkirkan ujung payung dari Lyod.

"Maksud Anda keset tamu yang terbuat dari benang sutra dengan lapisan emas? Tentu saja tidak apa. Kami akan bayar sewa selama berada di sini. Tidak perlu repot mengusir, karena kami akan pergi jika keperluan selesai."

Lyod menyeka sedikit darah di kening.

"Tukang perintah."

Ia memeluk teddy bear dan kembali memprotes Yoshitsune.

"Kenapa kamu tidak belajar dari kejadian sebelumnya, huh? Sebelumnya Cordelia, kali ini Helvetica! Kamu itu bego atau terlalu baik, aniija. Mereka hanya memanfaatkan kebaikanmu."

"Kamu terlibat jauh dengan mafia saat tertarik pada Terranian berambut merah bernama Cordelia itu. Sekarang Helvetica juga. Dia datang tidak dijemput, meminta bantuan, aku bahkan mempertaruhkan sesuatu yang besar untuk menghancurkan benda asing di sekitar jantungnya—lalu sekarang dia hilang begitu saja tanpa berterima kasih."

Lyod memeluk teddy bear lebih erat. Tatapan hitamnya belum lepas dari punggung Yoshitsune.

"Masaka... jangan bilang aniija masih percaya pada Terranian itu?"

Yoshitsune tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena ia tahu pembicaraan itu tidak akan selesai hanya dengan satu kalimat. Untuk saat ini, ia memilih mendengar apa yang terjadi di ruangan dan menjaga Lyod tetap berada dalam jangkauannya.

Suara langkah lain muncul dari luar.

Seorang pria tua berpakaian seperti anggota mafia yang tidak menonjol berjalan mendekat dengan tongkat.

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya yang masih bertahan hidup di tengah kekacauan ini. Kalau boleh bertanya, apakah di sini toko jam? Jam saya rusak dan ingin diperbaiki."

Sion membuka Arcana untuk memeriksa para Gale histeris.

"Seal open, let I see."

Mata Sion berubah seperti aurora.

"INI! INI GAWAT!"

Ia menunjuk ke para korban.

"Ada sesuatu yang menutupi mata dan telinga mereka. Ini halusinasi yang disebabkan oleh sesuatu, tapi kita belum tahu apa. Jangan sentuh mereka."

Lalu pandangannya menyapu pria tua tadi.

"Aura-nya... lain."

Pria itu menyerahkan jam saku berkarat.

"Ah iya, Nona. Tolong benarkan jam ini. Jam ini lumayan penting buat saya."

Yinxia mendadak mengangkat tangan.

"Xiao Sion, jangan periksa jamnya dulu."

Ponselnya berdering.

Xavi.

Ia mengangkatnya dan mendengar suara hujan, teriakan, serta penjelasan terburu-buru dari pemuda itu mengenai sosok yang muncul di pemakaman. Panggilan terputus sebelum bisa menjadi percakapan utuh.

Yinxia menyimpan ponsel.

Kecurigaannya kini mengerucut pada pria di hadapan mereka.

Ia berpaling kepada Camus.

"Pendeta Camus yang terhormat, bisakah Anda mengajarkan pada kami apa yang telah Anda pelajari? Misalnya... tentang Enigma."

Pria tua itu tertawa kecil.

"Jikalau memang saya adalah Enigma, maka... apakah kalian tahu kenapa Enigma turun ke dunia?"

Wujudnya berubah.

Sion melongo.

"Bentar, bentar! Aku pikir itu cuma mitos!"

Camus berdiri lebih tegap.

Sosok itu memperkenalkan dirinya tanpa upacara berlebihan.

Pioneer.

Camus tidak benar-benar asing dengan istilah itu. Ia telah membaca cukup banyak teks tua untuk mengetahui bahwa Enigma bukan sebatas mitos yang dibuat untuk menakut-nakuti anak-anak. Sebagian kitab menggambarkan mereka sebagai perwujudan kehendak ilahi, sebagian lain menyebutnya pengamat yang berdiri di luar hukum dunia. Semua deskripsi berbeda, tetapi mengarah pada satu pokok yang sama: mereka ada untuk menjaga keseimbangan dua dunia yang diciptakan saling bertolak belakang.

"Enigma tidak terikat oleh hukum fana seperti kita," kata Camus. "Setiap langkah mereka bukan kebetulan, setiap diam mereka bukan kehampaan. Tetapi jika Anda benar-benar turun ke muka bumi pada saat ini, itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa keseimbangan yang seharusnya Anda jaga sedang terombang-ambing."

Tatapannya tetap tenang pada Pioneer.

"Kehancuran tidak datang tanpa sebab. Jika dunia berada di ambang akhir, pasti ada tangan—terlihat maupun tersembunyi—yang mendorongnya menuju jurang. Namun ketika Engkau bertanya siapa yang bertanggung jawab, saya justru ingin tahu: Engkau datang sebagai pengingat atau sebagai penghakim? Jika takdir sudah ditetapkan, peran kami hanya menjalani? Atau masih ada jalan yang tersembunyi di balik bayang-bayang yang Engkau jaga?"

Salah satu Enigma.

"Kehancuran dunia sudah dekat," katanya. "Siapakah yang akan bertanggung jawab atas kehancuran ini? Walaupun saya tahu jawaban dari semua kekacauan ini, itu bukan sesuatu yang bisa saya ubah. Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa hilang."

Hymn mengernyit.

"Pertanyaanmu seperti sedang menghakimi semua yang ada di sini. Apa maksudmu kita bertanggung jawab atas kehancuran yang kau sebut?"

Camus melangkah maju.

Sion menunjuk jam di tangan Pioneer.

"Aku mau memperbaikinya. Tapi ada syarat. Beri kami penjelasan mengapa dunia ini mau hancur dan siapa yang bertanggung jawab. Baru aku mau memperbaiki jam-mu. Toko jam lain pasti sedang jadi gila selain aku."

Pioneer membelakangi mereka.

"Baiklah. Anggap ini pertukaran."

Tongkatnya mengetuk lantai.

"I, The Pioneer, one of Enigma who create everything, I give you an order: Open the Seal and make this room into the thing I want."

Suara jeritan di luar mendadak hilang.

Kericuhan di luar tidak menghilang karena warga tiba-tiba sembuh. Pioneer hanya mengubah hubungan ruang toko dengan dunia di sekitarnya. Jeritan yang sebelumnya menghantam kaca seketika terputus. Tidak ada celah untuk keluar, tetapi para Gale di luar masih ada—hanya tidak lagi dapat menyentuh mereka.

Di tengah perubahan itu, kehadiran Tedros terasa jauh lebih ganjil karena ia tidak datang dengan mekanisme yang sama. Ia tidak perlu membobol batas yang Pioneer ciptakan. Sang anak hanya sudah berada di sana, seolah ruang yang terisolasi tersebut tidak pernah memiliki hak untuk menolaknya.

"Mereka yang mengabaikan hukum dunia ini dan menghilangkan hakikat kebencian antara dua makhluk yang seharusnya saling membenci."

Tongkatnya menunjuk Yoshitsune.

Lalu Sion.

"Mereka yang membela Terra dan menyayangi Terra telah menghapus kebencian yang menyebabkan keseimbangan dunia. Apakah kalian akan memberikan mereka dengan sukarela, atau melindungi mereka?"

Sion hampir tersedak.

"Oy, oy, alasan kiamat macam apa ini? Nggak masuk akal! Kamu bilang aku membela Terra-ku? Menyayangi Leila? Mending kamu cuci muka di wastafel sana! Kalau gue peduli Leila, gue nggak akan gadai dia di kantor pemerintah dan gue akan jual toko ini! Gue lebih peduli toko peninggalan Nona Alice daripada Terra bernama Leila itu!"

Di sela ketegangan itu, seorang anak berambut emas tiba-tiba sudah berada di dalam toko. Tidak ada pintu yang terbuka, tidak ada langkah yang sempat mereka dengar. Satu saat ruang di dekat Camus kosong; saat berikutnya Tedros menarik ujung jubah sang pastor lalu memeluk kaki Hymn dengan riang.

Hymn sempat refleks mengelus kepalanya.

"Anak kecil...?"

Lalu ia mengenali sensasi yang sama seperti saat Violetta menghilang.

Tubuhnya menegang.

Tedros hanya terkikik.

Ia tidak perlu menjelaskan bahwa dialah otak di balik perintah kepada para Enigma: mengacaukan tatanan yang melenceng, mengembalikan keseimbangan, dan memancing perhatian Nullvian.

Keberadaannya cukup membuat Pioneer berada di bawah tekanan.

Itulah yang membuat situasi ini lebih berat baginya. Pioneer adalah salah satu yang paling sering meragukan bagaimana kasih sayang Tuhan seharusnya diterapkan kepada ciptaan. Dalam keadaan lain, keraguan itu membuatnya lebih lembut. Namun dunia palsu sedang mendekati titik yang dianggap berbahaya, dan Tedros—otak dari intervensi ini—berada beberapa langkah darinya dengan wajah seorang anak yang tampak tidak berdosa.

Pioneer tahu tugas yang harus dikerjakan: sebab-akibat yang mengikis kodrat dunia harus diputus sebelum Axiom yang tersembunyi benar-benar terbangun. Mengetahui tugas dan sanggup melakukannya, ternyata dua hal yang berbeda.

Namun dunia mendekati akhir.

Keraguan tidak lagi dianggap kemewahan.

Camus menatap Yoshitsune dan Sion.

"Mereka yang mengingkarinya bukan selalu pembangkang. Mungkin hanya tersesat dalam ketidaktahuan. Maka, adilkah menuntut jawaban dari mereka yang bahkan tidak pernah diajak memahami pertanyaannya?"

Camus sendiri tidak bisa menghindari refleksi pada tindakannya. Di pelelangan, ia pernah berusaha mendapatkan Cordelia. Bukan karena memandang Terra itu setara dengan Gale, dan bukan pula karena hasrat menyelamatkan dalam pengertian sederhana. Ia ingin mengisolasi perempuan itu dari dunia luar—menjauhkannya dari orang-orang yang menurutnya dapat jatuh ke dalam kemaksiatan karena daya tarik dan perilakunya.

Ia juga pernah berusaha meredam kebencian saat berada di dekat Terra milik Altaf dan Lucien. Baginya, menahan diri dari sifat buruk adalah ujian rohani. Jika lunturnya kebencian kini dianggap dosa terhadap struktur dunia, mungkin dirinya pun memiliki andil. Namun Pioneer tidak menunjuknya.

Pertanyaan itu terus berdiri dalam kepalanya: apa yang sebenarnya membedakan mereka?

Yinxia melipat tangan.

"Dari kejatuhan Overrealm sampai halusinasi massal, entitas atas tidak pernah berkata apa-apa. Tetapi begitu kodrat yang kalian tetapkan mulai berbelok, kalian berpikir benang kusutnya berasal dari sini. Tuduhan ini terlalu luas."

Hymn menatap Tedros yang masih di dekat kakinya.

Hymn menatap Tedros yang masih bergelantung pada kakinya. Anak itu mengingatkannya pada sosok yang hadir ketika Violetta lenyap dari panti—senyum sedih sebelum semua yang terjadi berubah terlalu cepat.

"Kasih sayang itu sesuatu yang dalam. Sesuatu yang murni," lanjut Hymn. "Apa Anda, sebagai makhluk tertinggi, memahaminya dengan cara yang sama seperti kami? Atau kalian cuma melihat satu kebaikan kecil dan langsung menganggapnya kasih sayang? Apa pihak tertinggi tidak bisa membedakan rasa kasihan dengan kasih sayang?"

Ia menarik napas, menahan sebagian ingatan yang berusaha naik.

"Anda pasti tahu bagaimana orang-orang selain yang Anda tunjuk berhubungan dengan Terra. Tetapi hukuman tetap dijatuhkan pada kami. Kalau bicara keseimbangan, bukankah sejak dulu Gale juga saling membunuh? Bukankah kita sudah lama menginjak jasad sesama sendiri?"

Kilasan rumah terbakar, ruang musik yang dilahap api, sentuhan orang asing, dan darah segar muncul seperti serpihan di kepalanya.

"Gale mati dari tahun ke tahun dan kalian tidak bergeming. Jadi kenapa baru sekarang?"

Pioneer menoleh kepada Camus.

"Tersesat dalam ketidaktahuan? Bukankah sebagai makhluk fana kalian jauh lebih mengetahui hal itu daripada sosok sepertiku? Jika kalian saja tidak mengetahui, bukankah itu berarti kalian bisa melanggarnya tanpa sadar?"

Hymn tersenyum tipis.

"Hm. Jika ada sesuatu yang lebih diketahui makhluk fana, lantas kenapa Anda bisa disebut higher being?"

Pioneer mengabaikan sindiran itu.

"Saya hanya bilang mereka salah satunya. Bukan berarti tidak ada yang lain. Saya ingin satu jawaban: apa itu Terra bagi kalian? Jawab dari sudut pandang kalian. Bukan sejarah."

Yoshitsune akhirnya bicara.

"Terra bagiku sama saja seperti Gale. Makhluk hidup yang sudah tercipta di dunia ini dan pantas hidup. Aku tidak membenci mereka karena tidak semua dari mereka jahat. Sama seperti Galeian sendiri, tidak semua dari kita benar-benar suci dan baik."

Lyod menyusul.

"Terranian bagiku adalah makhluk lain yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi dunia dan bergerak pada porosnya sendiri. Sama seperti Matahari dan Bulan, Galeian dan Terranian ada untuk saling melengkapi dan menyeimbangkan. Mereka bergerak pada waktu masing-masing, tapi bukankah kalau akhirnya bersatu bisa memunculkan fenomena indah seperti gerhana?"

Hymn mengangkat bahu.

"Terra bagiku hanya mengganggu. Godfather bodoh kami memaksa aku butuh teman lalu membeli budak, yang akhirnya malah harus diberi makan atau uangnya sia-sia. Ujungnya dia menghilang. Aku berharap dia belajar beres-beres sedikit, malah dibelikan Terra yang jelas tidak menguntungkanku. Itu cukup? Atau Anda sebenarnya tidak peduli kebenaran dan hanya ingin seseorang untuk disalahkan?"

Camus menundukkan kepala sejenak.

"Kami adalah makhluk fana, Wahai Enigma. Ketidaktahuan adalah kodrat kami. Bukan berarti kami menolak mencari tahu, tetapi ada kalanya dunia tidak memberi jawaban dengan mudah."

Ia mengakui sesuatu yang selama ini tidak banyak ia katakan.

"Pada suatu waktu, saya sempat mempertimbangkan membeli seorang Terra. Niat itu akhirnya layu. Saya melihatnya sebagai perempuan yang perlu dijauhkan dari dunia luar—pemantik yang bisa menyulut api kemaksiatan. Bagaimana nasibnya sekarang saya tidak tahu. Yang pasti, takdir membelenggunya di bawah bayang-bayang tuan mafia yang menjadikan mawar biru sebagai panjinya."

Cordelia.

Camus melanjutkan lebih rendah.

"Kejujuran bak nyala lentera di tengah gulita, menyingkap yang terselubung tanpa menggoyahkan takdir. Tiada niat hamba meragukan kebijaksanaan-Mu, Wahai Enigma. Saya hanya ingin menyampaikan seuntai pemikiran—barangkali dapat meredakan prasangka-Mu bahwa kebencian telah benar-benar terlelap dari jiwa kami. Jika berkenan, sudikah Engkau meluangkan telinga untuk mendengar bisikan hamba yang fana ini?"

Pioneer menjawab dengan Arcana.

"I, Pioneer, give you order: Open the Seal, and let the liar cursed until deceased."

Udara menjadi dingin.

Garis ungu seperti sisik ular muncul di tangan setiap orang.

"Saya ingin mendengar kejujuran. Jika ada kebohongan, kutukan itu akan berjalan hingga kalian mengatakan kebenaran."

Sion melihat tanda di lengannya.

"Hah? Aku kira kau kejam, rupanya baik, ya."

Ekspresinya malah seperti kecewa.

"Oy, oy, kamu Enigma kan? Itu pertanyaan gampang banget. Bahkan jujur, ku pernah ngompol lihat film hantu saking seremnya. Ini? Nggak. Kukira akan seseram film horror."

Pioneer bertanya lagi soal Leila. Jika takdir berbeda dan Sion membelinya lebih murah, apakah ia akan tetap membiarkannya tinggal?

Sion menjawab tanpa ragu.

"Tentu saja gue mau Terra murah! Terra murah lain kejual semua dan cuma seekor Leila doang yang ada. Yang lain udah dapat Terra pada ngusilin gue, naikin harga Leila terus makanya gue last pick! Kalau gue dapat Leila murah dan first pick sah secara lelang, tambah satu lagi dong!"

Ia menyeringai.

"Kukira Enigma tahu. Rupanya nggak memperhatikan nasib malang anak imut ini, ya."

Pioneer terdiam beberapa detik.

"A greedy one, huh..."

Yinxia tertawa kecil.

"Sungguh menyentuh sanubari. Aku juga mungkin butuh pengakuan dosa. Sayangnya aku tidak berniat merendahkan diri. Pada dasarnya aku tidak pernah menyembah siapa pun."

Ia menjawab pertanyaan tentang Terra dengan caranya sendiri.

"Aku menganggapnya menarik. Kebencian turun-temurun berdasarkan sejarah dan insting? Aku tidak pernah tunduk pada hal semacam itu. Perasaan adalah hal autentik; motif dan goresannya sendiri. Fleksibel seperti seni."

Gunting perak muncul dari lengannya.

Yinxia menarik Yua dan menaruh bilahnya menyilang di leher gadis itu.

"Kedatangan Terra hanya mengantarkanku pada pembenaran bahwa aku bisa memanfaatkan mereka untuk agendaku secara legal tanpa batas moral dan hukum. Anda sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, kan?"

Yua diam, lebih tertarik mengamati orang-orang dewasa yang semakin aneh.

Yinxia menatap Pioneer.

"Mencampurkan dua konsep yang bertentangan lalu berharap tidak ada hal yang terjadi? Siapa yang harus bertanggung jawab pada siapa, entitas atas?"

Camus bergerak.

"Nona Yinxia, urungkan niat Anda. Membunuh bukan satu-satunya jalan. Jika Terra terus dibinasakan, mereka akan lenyap. Dan saat itu kebencian yang seharusnya kekal pun kehilangan maknanya."

Yinxia terkekeh.

"Qǐng kuān xīn. Aku tidak berniat melakukan itu sekarang."

Ia melepaskan Yua tanpa luka.

Pioneer menghela napas.

"Sejujurnya jika kau membunuhnya, kau akan semakin dekat dengan kehancuran dunia. Dan kalau itu terjadi, 'dia' pun sedih. Lagipula, alasanku kemari hanya satu: membunuh mereka yang sudah harus mencapai akhirnya."

Camus menangkap satu kata.

"'Dia'...? Apakah Engkau berbicara tentang—"

Pioneer sudah berdiri di depan Sion.

"I, The Pioneer, give you order: Open the Seal and let this girl cursed to death."

Tongkat menyentuh tubuh Sion.

Kutukan ungu merayap cepat seperti ular di bawah kulit.

Sion menjerit dan berpegangan pada meja.

"AGHHH!"

Pioneer mengambil kembali jamnya.

"Orang sepertimu tidak layak membenarkan jam kesayanganku."

Sion terengah.

"Sa-sayangnya gue juga nggak sudi memperbaiki jam tangan milik lo."

Ia menoleh kepada Yinxia.

"Yinxia... to-toko ini jadi milikmu."

Tangannya meraih cutter dari meja.

Hymn membelalak.

"Nona, hentikan!"

Sion mengacungkan pisau.

"Se-seperti yang ku katakan... kamu ini Enigma yang terlalu baik. Biar ku percepat... apa makna dari death itu."

Cutter menembus perutnya.

Sion jatuh.

Darah mengalir cepat ke lantai toko yang selama ini ia jaga sebagai peninggalan Nona Alice.

Tidak ada yang dapat memastikan kematiannya pada saat itu. Sumber rasa sakit dari kutukan belum berhenti, luka sendiri terus mengucurkan darah, dan kesadarannya mulai turun.

Namun senyumnya sempat muncul.

Satu minggu terakhir, ia tidak lagi merasa sendirian sepenuhnya.

Leila telah mengajarinya seperti apa rasanya punya teman.

Hymn menjatuhkan diri di sisi Sion, melepas jaket dan menekan luka tanpa mencabut cutter.

"Dia harus dibawa ke rumah sakit! Persetan dengan itu!"

Ia membentak Camus.

"Kau masih mau bicara dengan 'Tuhan' yang seenaknya meracuni makhluknya sendiri tanpa dasar?!"

Camus sempat berlutut, merapikan posisi Sion dengan hati-hati, wajahnya sulit dibaca.

"Kau turun ke sini untuk mengukuhkan sebuah hukuman," katanya kepada Pioneer. "Namun sebelum kau sempat menggoreskan kepastian, ia telah lebih dulu menuliskan penutupnya sendiri. Apakah ini menandakan tugasmu telah usai... atau ada sesuatu yang luput dari seharusnya?"

Hymn mendadak melihat sosok hitam besar berdiri di belakang Pioneer.

Makhluk itu menyeringai dan mengulurkan tangan ke arah Sion.

Wajah Hymn memucat.

"Menjauh! Menjauh kataku, brengsek!"

Pisau lipat terlepas dari lengannya dan menebas udara kosong.

Bayangan itu menghilang.

Pisau Hymn jatuh di sisi lain ruangan.

Halusinasi sudah menembus ruang yang dibuat Enigma.

Yoshitsune membuka Arcana.

"Dategumi no mamori shimouro yo. Keiyaku no moto Yoshitsune ga meijiru, open the seal."

Kartu berputar di belakangnya lalu pecah menjadi senapan.

Lyod membuka segelnya sendiri.

Lyod juga akhirnya memberi jawabannya sendiri, sesuatu yang sejak tadi ia susun dari balik punggung Yoshitsune.

"Terranian bagiku adalah makhluk lain yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi dunia dan bergerak pada porosnya sendiri. Sama seperti matahari dan bulan. Galeian dan Terranian bergerak pada waktu berbeda, tapi kalau keduanya bertemu bukankah bisa muncul sesuatu seperti gerhana?"

Tubuhnya masih gemetar. Ia tidak sepenuhnya tahu apakah analogi itu benar, tetapi itulah jawaban yang paling jujur dimilikinya. Kemudian, ketika Pioneer mulai benar-benar mengeksekusi Sion, Lyod berhenti berdebat dan beralih pada naluri bertahan hidup.

"Dategumi mamori shimouro yo, wakagashira Lyod ga meijiru, open the seal."

Suhu di sekelilingnya naik untuk melawan dingin Pioneer. Perbedaan temperatur melahirkan kabut tebal yang menelan bagian dalam toko.

"Aniue, ini kesempatan kita untuk pergi."

Namun tidak ada pintu keluar yang benar-benar terbuka.

Yinxia bangkit dari sisi Sion.

Senyumnya sudah hilang.

"Hǎo ba, nà jiù rú cǐ. Begini cara kerja kalian. Kalian telah gagal menjaga keseimbangan dunia. Alih-alih datang sebagai pahlawan, kalian melimpahkan semua tanggung jawab pada Averion yang masih berdiri. Semua ini di balik kata-kata manis tentang kasih sayang pada makhluk-Nya?"

Ia menatap Pioneer seperti berlian yang sudah kehilangan kilau.

"Aku mengharap sesuatu yang lebih berkelas daripada kemunafikan belaka."

Sigil mekar di telapak tangannya.

"Open the seal, Unbreakable diamonds of the empress's reign."

Gunting perak memanjang menjadi pedang berlian.

Yinxia menebas Pioneer secara melintang.

Serangan berhenti pada barrier tak terlihat.

Pioneer menatap mereka satu per satu.

"Camus, pendeta murni yang mengikuti ajaran-Ku, bukankah kau lebih tahu tentang ajaran yang telah kau punya? Pendapat kalian tidak jelek... tapi itu tidak sesuai dengan dunia ini."

Tongkatnya mengarah kepada Lyod.

"I, The Pioneer, order you: let the cursed pierce his body."

Kutukan menjalar.

Lyod merasakan tombak-tombak tak terlihat menembus tubuhnya.

Pioneer berbalik kepada Yinxia.

"I, The Pioneer, order you: protect me from anything that harm me."

Barrier menguat.

Lalu, dengan suara yang lebih kosong daripada sebelumnya, ia mengakui sesuatu yang tidak mereka sangka.

"Aku memang munafik. Namun aku tidak memiliki pilihan lain. Demi keseimbangan dunia, mereka yang sudah harus mencapai 'akhir' mereka harus dilenyapkan."

Tedros masih ada di sana.

Mengamati.

Tidak perlu berpindah seperti makhluk fana, tidak perlu mengambil jalan apa pun di antara satu intervensi dan berikutnya.

Dan konflik di toko jam, sama seperti pertarungan di kuburan, belum menemukan penyelesaian.

• • •

Di tempat lain, Genevieve Ravencourt tidak berada di Haravos.

Gin sedang berada di atas kapal untuk berlibur, jauh dari pusat kekacauan yang sedang melanda kota.

Ketidakhadirannya tidak menghentikan malam.

• • •

Lampu merah dan biru di sebuah nightclub terus berputar.

Selama matahari tidak terbit, tidak ada alasan bagi tempat itu untuk tutup.

Rindou Hinomaru duduk di sofa dengan segelas whisky dan sebatang rokok yang baru pertama kali benar-benar ia coba. Isapan pertama membuatnya batuk keras. Isapan berikutnya mulai terasa lebih mudah.

Ruangan penuh sesak oleh orang-orang yang menari dan saling bersentuhan. Musik elektronik menghantam dada, terlalu keras untuk menyisakan ruang bagi pikiran. Anehnya, suasana tersebut justru terasa familier. Rindou tumbuh di lingkungan yang tidak jauh berbeda—distrik lampu merah dan rumah bordil yang kemudian ia tinggalkan. Pada malam seperti ini, kebisingan terasa lebih aman daripada rumah yang terlalu sunyi.

Ia sengaja keluar dari zona nyamannya dan meninggalkan tanggung jawab. Ada kegelisahan yang tidak bisa ia beri nama. Frederic, Terra yang sehari sebelumnya menjadi tempat pelampiasan amarahnya, masih menempel di pikirannya.

Rindou bahkan sempat membuka kembali percakapan mereka sebelum memblokir nomor Fred. Ia mengingat cara dirinya memperlakukan Terra itu begitu baik, memberi perhatian, membuatnya merasa aman, sampai kesetiaan itu perlahan terbentuk. Pada suatu titik, ia memang ingin Fred bergantung kepadanya seorang. Setelah mendapatkan yang diinginkan, ia memutuskan mencampakkan semuanya dan menyerahkan Fred kembali kepada Andrea.

Jika Frederic benar-benar sudah tidak menarik, rasa hampa ini seharusnya tidak ada.

Ia datang untuk melupakan.

Frederic.

Salah seorang wanita mengenali keraguan amatiran pada caranya menahan tubuh. Mereka menggoda, membisikkan sesuatu yang membuat Rindou tersenyum miring karena tidak mau terlihat gugup. Ia menarik pergelangan salah satu dari mereka dan membawanya ke atas meja. Gelas-gelas tersibak, beberapa jatuh dan pecah.

Asap rokok diembuskan terlalu dekat sampai wanita itu batuk, tetapi malah tertawa. Sorotan mata dari meja lain tidak membuat Rindou berhenti. Ia memilih larut dalam kedekatan fisik yang tidak menuntut kejujuran apa pun.

Namun justru di tengah situasi yang semestinya mampu menghapus pikiran, bayangan Frederic kembali berada di bawahnya. Pikiran dan hati seolah bertengkar: berhenti sekarang, atau lanjutkan dan buktikan bahwa tidak ada yang perlu disesali.

Rindou membenci betapa mudah satu Terra naif mengacaukan suasana hatinya.

Di tengah sentuhan orang lain, wajah Frederic terus muncul di pikirannya.

Ia membencinya.

Seharusnya begitu.

• • •

"...Maaf, aku mau coba pergi duluan."

Frederic keluar dari mobil Andrea sebelum sempat dihentikan.

Sepanjang perjalanan, Felicia nyaris tidak berhenti mengomel. Andrea sebenarnya setuju dengan satu hal: Frederic memang bodoh. Ia tidak tahu persis apa yang Rin lakukan selama menjadi majikan Fred sampai Terra itu lebih memilih bergantung kepadanya daripada memikirkan kebebasan. Andrea sendiri memperlakukan Felicia sedikit lebih baik daripada standar dunia mereka, tetapi hubungan Rin dan Fred jelas sudah melewati bentuk kepemilikan biasa.

Andrea pertama kali bertemu Rin di nightclub yang sama. Waktu itu Rin masih memburu identitas ayahnya. Karena lahir di distrik lampu merah, asumsi paling sederhana adalah sang ayah hanyalah salah satu hidung belang yang pernah berkunjung. Setelah masuk Organization VII, Rin hampir tidak pernah kembali. Justru karena itu Andrea memilih tempat tersebut sekarang: ketika kepala kacau, seseorang sering kembali ke lokasi yang terasa familier.

"Kakak sendiri yang bilang jangan percaya lelaki di luar sana, mereka semua hidung belang!" suara Felicia sempat memenuhi mobil. "Lihat keadaanmu sendiri! Kakak sering heran sama orang yang simping karakter game, sekarang kakak sudah di tahap tag DEAD DOVE begini siapa yang mau tanggung jawab?!"

Andrea memotong, "Jangan teriak-teriak di dalam mobil, bocah!"

Felicia langsung membalas, "Aku gak mau dengar input dari yang semalaman menjerit keenakan karena dicekik!"

Andrea seketika kehilangan jawaban.

Beberapa saat setelahnya, Felicia yang lebih tenang menunjuk leher sang master. "Sir Andrea, concealernya luntur."

Andrea mengumpat, mengambil concealer, dan menutupi bekas kemerahan di lehernya. Ia masih tidak mau membahas apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Gio malam sebelumnya.

Kemudian Fred membuka pintu dan pergi begitu saja.

Jaket dan topi tidak banyak menyembunyikan tanduknya. Memar dan lecet di wajah menjadi bukti perlakuan Rindou sehari sebelumnya. Aroma parfum Rindou masih melekat pada jaket yang ia pakai.

Fred sudah menunda pencarian cukup lama untuk membiarkan Andrea merawat sebagian lukanya.

Sekarang ia tidak mau menunggu.

"HAH?! TUNG—"

Andrea mengerang, melempar concealer ke kompartemen mobil dan menyeret Felicia ikut keluar.

Felicia masih kesal sejak perjalanan.

Sekarang mereka menerobos nightclub yang terlalu ramai. Andrea menggenggam tangan Felicia erat-erat supaya tidak terpisah.

Fred sudah lebih dulu menemukan Rindou.

Ia berdiri di antara kerumunan, membeku melihat Gale itu bersama wanita lain.

Pembohong.

Namun Fred masih memaksa satu keyakinan bertahan: Rindou sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Andrea sendiri pernah berkata ada sesuatu yang aneh dengan perubahan drastis itu.

Fred mendekat.

"Rindou. Kau harus pulang."

Andrea baru sampai di belakangnya.

"Woi, anak tolol! Jangan ganggu orang kalau lagi begini!"

Rindou tidak menggubris.

Ia sengaja melanjutkan beberapa detik, lalu berdiri dan berjalan ke arah Fred.

Sebelum Andrea sempat menarik Terra itu menjauh, Rindou menjambak rambutnya dan menghantamkan kepala Fred ke meja.

Kaca pecah.

Nyeri menjalar dari dahi Fred, tetapi bagian yang paling menyakitkan bukan luka baru itu. Sorakan di sekeliling membuat sesuatu dari masa kecilnya ikut kembali. Sejak orang tua mereka meninggal, Fred selalu percaya bahwa dirinya harus menjadi orang yang dapat diandalkan Felicia. Ia menggandeng tangan adiknya ke mana-mana, melindunginya dari anak-anak bandel, memikirkan bagaimana memastikan Felicia hidup normal meski dirinya sendiri terus mundur dari dunia.

Ia pernah marah ketika mengetahui Felicia bekerja sebagai peretas. Waktu itu Fred masih ingin percaya kakak yang baik adalah orang yang menjaga adiknya dari semua hal berbahaya. Baru setelah Overrealm runtuh ia menyadari, dunia lama mereka pun tidak pernah benar-benar lembut kepada mereka.

Salah satu pengurus pernah memarahinya karena terlalu cengeng sampai Fred belajar memendam emosi. Teman sekolah menertawakannya ketika ia gagap di panggung; sejak itu berbicara di depan orang lain selalu menjadi tekanan. Cita-citanya perlahan ditinggalkan. Dunia virtual lebih mudah. Di sana ia bisa membangun cerita dan protagonis yang tidak perlu takut dinilai saat membuka mulut.

Lalu Rindou datang dan melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan orang lain: menunggu sampai Fred selesai bicara. Tidak menghakimi air matanya. Memuji pekerjaan kecil. Memberi sentuhan yang mampu meredam kegelisahan. Bahkan ciuman pertama yang ia simpan sebagai bukti bahwa mungkin seseorang benar-benar memilihnya.

Itulah sebabnya Fred masih menolak menerima bahwa semua itu hanyalah permainan.

Darah turun dari dahi Frederic.

Kerumunan bersorak.

Tidak ada yang bersimpati pada Terra tanpa tanda kepemilikan yang jelas.

Rindou membungkuk ke telinganya.

"Masih sanggup bicara lagi, Terra?"

Lalu matanya beralih kepada Felicia di balik Andrea.

"Sejujurnya aku belum puas. Aku mau main-main sebentar dengan adikmu dulu. Mood-ku terlanjur rusak, nih."

Felicia menggenggam pakaian Andrea.

Takut.

Halusinasi datang di saat yang sama. Rindou yang berjalan mendekat berubah menjadi makhluk besar bertaring, air liur menetes, kuku-kukunya panjang hendak meraih.

"Ibu..."

Bisikan Felicia hampir tidak terdengar.

Andrea berdiri di depannya.

Andrea sendiri mulai merasakan sesuatu yang salah. Rin memang bermulut kurang ajar, berisik, seenaknya, dan terbiasa membuatnya kesal sejak pertama bergabung. Tetapi selama Andrea mengenalnya, Rin hampir tidak pernah menggunakan kekerasan tanpa misi yang mengharuskannya. Sosok yang sekarang berdiri di depan mereka tidak terasa seperti anggota tim yang sama.

Ia tetap tidak memiliki rasa sayang kepada Fred—naluri kebencian terhadap Terra terlalu alami untuk pura-pura dilupakan. Namun beberapa menit lalu ia masih membersihkan luka anak itu. Sekarang melihat Rin hampir membunuhnya di depan khalayak membuat dahinya mengerut.

Ketika Felicia mencengkeram bajunya dan berbisik memanggil ibu, Andrea refleks maju satu langkah. Ia baru menyadari bahwa gadis yang biasanya tidak takut mengoceh apa pun ternyata masih bisa benar-benar ketakutan.

"Kalau kau mau main-main dengan fetish Terramu, sana cari Terra lain. Aku bayar untuk yang ini. Kalau sampai rusak, gajimu tak akan kubayar sampai harga budak ini lunas."

Fred bangkit lebih dulu.

Di matanya, Rindou bukan lagi orang yang ia cintai.

Sosok monster sedang memakai wajah Rindou sebagai topeng.

Tinju Fred menghantam pipi Gale itu.

Sorakan semakin keras.

Rindou menyentuh darah di sudut bibir.

"Baiklah. Akan kubunuh kau terlebih dulu."

Ia mengangkat kepalan.

Lalu berhenti.

Seorang pria pirang berdiri di antara kerumunan.

Ingatan yang sempat direnggut dari Rindou mendadak kembali: rumah sakit, bola mata raksasa, refleksi di cermin, sosok Tedros, semua rangkaian yang sebelumnya seperti hilang dari kepalanya.

Pemandangan di klub berubah sekejap menjadi monster-monster bermata merah.

Kemudian kembali.

Yang tersisa di hadapannya adalah Frederic yang hampir ambruk dengan darah memenuhi wajah.

Rindou melepaskan kerahnya.

"Apa yang sedang gue lakukan...?"

Tangannya mencengkeram wajah Fred untuk menahan tubuhnya tetap tegak.

"I'm so, so fucking sorry—please stay with me, Fred. I swear it wasn't me!"

Rindou mengusir para wanita di sofa.

"Get lost!"

Ia hendak membopong Fred.

Andrea menarik bahunya keras.

Permintaan maaf itu memantik ingatan lain di kepalanya.

Maaf, maafkan aku, Anita! Bangunlah!

Andrea... Andrea maafkan aku... jangan menjauh...

"...Brengsek."

Ia menggertakkan gigi.

"YOU get lost! KAU itu bajingan, tahu tidak?!"

Satu tepukan tangan menghentikan musik.

"Attention, please."

Sigil timbangan mengambang lalu memudar di depan seorang pria pirang lain yang kini menjadi pusat perhatian ruangan.

"Ladies and gentlemen, sebagai permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, semua minuman dan segala fasilitas VIP untuk malam ini gratis!"

Sorakan berubah arah seketika. Orang-orang berhamburan ke bar.

Eden tersenyum, lalu menatap Rindou.

"Pergi sana dan rawat pacarmu. Kau tidak mau mencium pecahan beling, kan?"

Ia mendekati Andrea dan Felicia, mengambil kunci mobil dari saku Andrea dengan gerakan terlalu luwes untuk orang asing, lalu melemparkannya kepada Felicia.

"Aku punya kepentingan pribadi dengan Bos kalian. Aku berjanji akan mengantarnya pulang setelah kami selesai."

Felicia menatap Andrea. Sang master memberi isyarat agar ia pergi.

Eden mengedipkan mata.

"Jangan beritahu Sergio apa pun tentang aku."

Andrea membeku.

Nama itu hanya diketahui sedikit orang.

Pisau lipat langsung terarah ke leher Eden.

"Sebutkan siapa kau dan tujuanmu, bajingan Sylverill. Dan jangan sok akrab denganku."

Di sisi lain, Rindou menatap Eden lama.

Ia mengenali suara itu.

Wajah dalam pantulan cermin.

Ingatan masa kecil.

Ayahnya.

Ayahnya masih hidup.

Banyak pertanyaan mendesak keluar, tetapi Eden hanya menyuruhnya pergi bersama Fred. Rindou akhirnya menurut. Ia membopong Frederic keluar, menoleh berkali-kali karena takut pertemuan itu hanya halusinasi dan akan lenyap ketika ia berkedip.

Felicia mengikuti, menggunakan lengan hoodie untuk menahan darah dari kepala kakaknya.

"Tak apa. Kakak akan baik-baik saja, oke?"

Andrea tetap di dalam bersama Eden, berhadapan dengan seseorang yang mengetahui nama "Sergio" dan terlalu banyak rahasia lama. Pintu klub menutup, memisahkan percakapan mereka dari Rindou, Frederic, dan Felicia yang sudah lebih dulu pergi.

• • •

Di penjara pemerintah, empat Terra berada di dalam satu sel.

Borgol di kaki mereka bukan sekadar logam. Tarikan terlalu keras dapat memicu sengatan listrik mematikan, dan sistem yang sama menekan penggunaan Arcana.

Jack Liston membuka mata dengan tubuh kaku.

Jerlan sudah lebih dulu sadar, duduk bersandar pada dinding sambil memijat pelipis. Kacamata hitamnya bertengger di atas kepala, sementara pusing dan kantuk membuat sorot matanya lebih berat dari biasanya.

"Bermain-main dan bersikap selayaknya pahlawan memang terlihat keren, kan, Jack?"

Jack tersenyum tipis.

"Aku ingin jadi keren setidaknya untuk terakhir kalinya. Ternyata tidak sesuai dan di sinilah aku yang selamat. Bagaimana menurutmu?"

Jerlan mendengus.

"Kau selalu keren di mataku. Tapi jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi. Aku serius."

Pandangan Jerlan lalu jatuh kepada seorang perempuan yang masih tidak sadar.

Ia menajamkan mata.

"Leila?"

Jerlan tidak langsung mempercayai penglihatannya. Sejak keluar dari rumah sakit, pandangannya berkali-kali menampilkan tanah tandus dan monster yang kemudian hilang begitu ia mengedip. Ia sempat mengira wajah di sudut sel itu hanya kelanjutan gejala yang sama.

Leila adalah bagian dari kehidupan yang terasa sudah terkubur bersama Overrealm—teman masa kecil, salah satu sosok yang seharusnya tidak mungkin muncul kembali setelah dunia mereka runtuh. Karena itu saat gadis tersebut membuka mata dan mengira mereka sudah mati, Jerlan tidak menemukan kalimat cerdas untuk menanggapi.

Perempuan itu terbangun beberapa saat kemudian.

Ia memandang Jack.

Lalu Jerlan.

Mata Leila membesar.

"Apa kita sudah mati?"

Jerlan hampir tertawa tetapi ekspresinya justru melunak.

Leila mencoba mendekat, rantai menahannya.

"Bila saya dirantai, nampaknya... ini merupakan kenyataan. Syukurlah Anda masih hidup, Jerlan-sama."

"Jangan ke sini," kata Jerlan cepat. "Biar aku saja."

Ia menyeret tubuh perlahan supaya borgol tidak memicu sengatan, lalu merangkul Leila.

Bukan hanya pelukan singkat. Jerlan membiarkan wajahnya tenggelam di bahu Leila dan menghirup aroma rambut yang mengembalikan potongan-potongan memori lama—masa ketika keduanya hanya anak-anak, ketika beban tentang ras, perbudakan, dan akhir dunia belum berada di pundak mereka. Untuk sesaat, keberadaan Leila terasa seperti satu-satunya bukti bahwa tidak semua hal baik ikut mati bersama Overrealm.

"Aku kira gak akan ada sedikit pun hal baik yang bakal terjadi," ucapnya lagi, lebih pelan.

Leila, yang hampir tidak pernah membiarkan emosi keluar, justru menangis. Semua kematian yang disaksikannya seperti menemukan jalan melalui air mata: teman-teman, orang-orang yang membantu pelariannya, sampai Raito yang mengorbankan diri agar Leila bisa hidup.

"Saya melihat Tuan Raito meninggal," katanya. "Dia meninggal supaya saya bisa melarikan diri. Saya pikir semuanya berakhir. Tapi Anda di sini. Sekali ini saja... saya bersyukur pada takdir."

Jerlan mendengarkan tanpa memotong. Ia mengangguk setiap kali Leila kesulitan meneruskan. Ia tidak mencoba memperbaiki rasa kehilangan itu dengan janji yang tidak bisa dipenuhi.

"Pak tua itu pasti sangat bangga karena kau masih hidup. Jangan menyalahkan dirimu atas perjuangannya. Dia melakukannya untuk melihatmu bahagia."

Satu tangannya menyelipkan rambut Leila ke belakang telinga. Senyum Jerlan yang biasanya penuh kesombongan dan olok-olok melunak menjadi sesuatu yang jarang sekali muncul.

"Aku gak nyangka gadis pendiam yang suka memendam perasaan seperti kamu bisa bertahan sampai sini. Aku bersyukur."

Air mata Leila turun tanpa ia sadari.

Jack menonton mereka.

"Cari kamar kalian."

"Bung, ayolah."

Jerlan memelototinya, pipinya sedikit memerah.

Suara rantai lain terdengar.

Ayane membuka mata dengan tangan terikat ke dinding.

"E... eeh? Serius? Uuungh... siapa pun itu, tolong garukkan kepalaku. Rasanya gatal."

Jack menggeser tubuh mendekat dan mengusap kepalanya.

Ayane memprotes.

"Aku menghargai usahamu, tapi yang kubutuhkan garukan, bukan usapan anak kecil begini."

"Bawel."

Jack akhirnya menggaruk seadanya.

"Aku Jack."

"Aku Hana," jawab Ayane, menggunakan nama itu. "Apa kau bisa membuka rantai di kedua tanganku?"

"Kalau saya bisa melakukannya, saya sudah membuka borgol kalian semua," kata Leila.

Ia mencoba Arcana dan gagal.

"Nampaknya borgol ini juga meredam kekuatan Arcana kita."

Jack memijat pangkal hidung.

"Sudah berapa lama kita ditahan?"

"Seharian," jawabnya ragu.

Perut mereka kosong. Mulut kering.

"Ini kah akhirnya?" Jack tertawa pendek. "Kapan kita dapat makanan?"

Leila menggeleng.

"Para Gale memperlakukan kita seperti bukan manusia. Terakhir kali saya diberi makan burung saat berada di jeruji besi."

Lalu langkah sepatu datang dari koridor.

Tidak tergesa.

Aroma parfum mahal dan wine masuk lebih dulu sebelum sosok Raaghib Tamih berhenti di depan jeruji.

Setiap ketukan sepatu Raaghib terdengar teratur di koridor sempit. Ia datang seperti seseorang yang sengaja merancang momen kemunculannya: setelan mahal, jubah hitam dengan mawar merah, segelas wine yang bergoyang ringan di tangannya. Kontras antara kemewahan itu dengan sel penuh tubuh lelah membuat batas kuasa antara Gale dan Terra terasa jauh lebih tebal.

Raaghib memandang para tahanan satu per satu. Sebagian masih ketakutan. Sebagian berusaha terlihat tidak peduli. Ada pula yang berpegangan pada orang yang baru mereka temukan kembali.

"Kalian beruntung," katanya nyaris hangat. "Saya datang bukan untuk menghakimi dan bukan untuk menindas. Saya datang menawarkan sesuatu yang akhir-akhir ini kalian impikan—keselamatan."

Ia berjongkok agar sejajar dengan salah satu tahanan.

"Saya tahu Averion tidak adil kepada kalian. Kebencian kepada Terra sudah mendarah daging. Tetapi bagaimana kalau semua itu bisa diubah? Bagaimana kalau saya menawarkan jalan agar kalian bisa hidup tanpa diperbudak, tanpa diburu, tanpa takut? Kalian bisa diterima seperti Gale pada umumnya."

Raaghib berdiri lagi dan memutar cairan merah dalam gelas.

"Tentu saja semua ada harganya. Saya menawarkan sebuah kesepakatan emas. Jalan agar kalian tetap bisa hidup. Jadi, siapa yang ingin diselamatkan?"

Jerlan bergerak refleks di depan Leila.

Raaghib tersenyum.

Jerlan langsung menangkap maksudnya.

"Maksudmu, kau berniat mengubah kami jadi Gale? Jelaskan padaku, harga apa yang harus dibayar."

Leila menatapnya.

"Dijadikan Gale? Apa maksud Anda, Jerlan-sama?"

Raaghib memutar wine.

"Saya melakukan ini untuk menciptakan perdamaian. Jika Terra terus melawan, tidak akan ada yang tersisa untuk diselamatkan. Ini satu-satunya jalan keluar."

Ia berhenti.

"Tidak akan ada anestesi dalam prosesnya. Ini evolusi kalian. Rasa sakit adalah bagian dari perubahan. Tanpa penderitaan, kalian tidak akan menjadi lebih kuat."

Ia tidak memberi mereka ilusi pilihan yang luas. Penolakan berarti tiang gantungan di alun-alun pada pagi berikutnya. Penerimaan berarti tubuh dibongkar dan dibentuk ulang tanpa pembiusan.

Lalu senyum Raaghib berubah lebih tajam.

"Ada satu masalah kecil. Hanya tiga dari kalian yang akan selamat."

Keheningan yang muncul setelahnya adalah bagian yang benar-benar ia nikmati. Bukan karena ia tidak dapat memaksa mereka sejak awal, tetapi karena ia ingin melihat kapan kebanggaan masing-masing runtuh oleh keputusan yang mereka buat sendiri.

Jack mengangkat kepala.

"Kehidupan palsu bukan kehidupan yang pantas, Tuan Besar. Kalian para Gale bisa bangga membeli dan menginjak harga diri kami, tapi tawaran itu sama saja meludahi kebanggaanmu sendiri sebagai Gale. Jangan bicara penindasan kalau tawaranmu juga merendahkan ras kami."

Ia meludah ke dekat sepatu Raaghib.

"Aku lebih bangga terpuruk sebagai Terra daripada jadi Gale yang sama seperti kalian."

Ayane justru tersenyum tipis.

"...Aku menerima tawaranmu."

Tidak seorang pun tahu motivasi di baliknya. Bagi Ayane, tubuh Gale hanya penyamaran. Serigala berbulu domba. Jalan masuk untuk membalas dendam kepada ras yang ia benci.

"Jadi seberapa sakit transformasinya?" tanyanya. "Cukup untuk membuatku berteriak siang malam?"

Leila berdiri semampunya.

"Saya menolak. Mengubah jati diri kita agar Gale mengakui kita sama saja membuat kita menjadi Terra yang tidak menerima dirinya sendiri. Saya memilih mati daripada menjadi ras busuk kalian."

Ia menoleh kepada Jack dan Jerlan.

"Saya tetap mencintai jati diri saya. Orang yang mencintai jati dirinya adalah hard boiled. Tuan Raito mengajari saya arti mempertahankan diri sendiri."

Jack mendengus kepada Raaghib.

"Aneh sekali. Kau punya kuasa atas kami, tapi bicara sebagai pebisnis seolah peduli keputusan Terra. Kalau memang mau kedamaian, kenapa sejak kami pingsan tidak langsung kau lakukan tindakan konyolmu? Sebenarnya kau ingin terlihat terhormat atau apa, Pak Tua?"

Raaghib tertawa pelan.

"Itulah kesalahan Terra. Selalu mencari makna di balik sesuatu yang sudah jelas. Apa kau pikir aku tidak bisa memaksakan kehendak sejak awal? Tentu bisa. Tapi di mana letak seninya? Kalau kalian hanya pingsan dan bangun sebagai sesuatu yang berbeda, di mana kebanggaan melihat kalian sendiri yang akhirnya menyerah?"

Ia mengangkat gelas.

Keheningan jatuh.

"Pilih siapa yang akan mati—atau semuanya mati di gantungan besok pagi."

Jerlan tidak menunggu terlalu lama.

"Mereka semua akan jadi Gale, Sir. Akulah yang akan tetap jadi Terra. Kau boleh menggantungku."

Leila menoleh tajam.

"Apa yang Anda katakan, Tuan Jerlan? Bila Anda mati, saya juga akan mati."

Raaghib memandang keduanya seperti drama yang tidak menghibur.

Keributan dari sel lain mengalihkan perhatiannya. Para tahanan berteriak, memohon, menghujat.

Raaghib berjalan ke sel paling bising.

Para Terra di sel lain mulai memohon, menghujat, dan bernegosiasi setelah mendengar pilihannya. Raaghib berhenti di depan salah satu perempuan yang tatapannya tetap penuh perlawanan—Altair Vega.

Ia tidak menawarkan kesepakatan. Energi yang tidak terlihat masuk ke tubuh Altair. Pembuluh darahnya membengkak, jantungnya berpacu, kepalanya terasa seperti dibakar dari dalam. Beberapa detik kemudian kepalanya pecah di depan tahanan lain.

Jeritan memenuhi koridor. Ada yang muntah. Ada yang mundur sampai punggung menabrak tembok. Raaghib sendiri tidak menunjukkan kemarahan maupun kegembiraan.

"Sekarang kalian mengerti? Bukan kalian yang menentukan aturan. Saya menawarkan kesempatan, bukan perundingan. Dan berkat pengorbanan gadis ini, kalian tetap bisa hidup sebagai Gale."

Bagi Raaghib, tubuh yang mati pun tidak akan dibuang. Jaringan, tulang, dan materi biologisnya masih dapat diurai, dipelajari, dan dipakai sebagai komposisi transformasi yang lain. Kematian hanyalah bentuk sumber daya yang berbeda.

Ia kembali ke sel Jack, Jerlan, Leila, dan Ayane.

Jerlan mengulang tawarannya.

Raaghib menatapnya.

"Kamu sepertinya akan tetap hidup. Aku tidak menyukai hal yang berbau dramatis."

Raaghib menganggap pengorbanan Jerlan terlalu dramatis untuk seleranya. "Kamu yang memilih mati sebagai Terra karena menolak menjadi Gale? Alasan yang sangat rasis. Padahal kalian tidak lebih dari makhluk ilegal yang datang ke negeri orang lalu bertindak rasis di atasnya. Kamu siap menerima kematian sebagai Terra?" Justru Leila yang sekarang ia pandang; energi yang sama mulai diarahkan kepada gadis itu tanpa tanda yang mudah disadari.

Leila menundukkan kepala, menerima keputusan tersebut dengan ketenangan yang hampir mengerikan.

"Terima kasih telah memutus rantai penderitaan saya dari takdir."

Ingatan tentang kematian orang tua, Raito, dan orang-orang lain datang satu per satu. Untuk pertama kalinya, Leila membayangkan akhir bukan sebagai tragedi lain yang harus ia saksikan, melainkan kemungkinan berhenti menyaksikan.

Ia menoleh kepada Jerlan dan tersenyum tipis.

"Tuan Jerlan, maaf. Nampaknya takdir masih baik kepada Anda. Berjanjilah pada saya. Hiduplah."

Jerlan langsung menarik rantainya sekuat yang berani ia lakukan.

"Tunggu! Jangan dia! Biar aku saja! Kumohon! Akan kulakukan apa pun yang kau inginkan!"

Itu bukan niat menjadi pahlawan, melainkan respons paling sederhana dari seseorang yang baru saja mendapatkan kembali orang yang ia cintai dan sekarang dipaksa melihatnya direnggut lagi.

Jack menatap keduanya dengan rahang mengeras. Ia tidak mampu meniru cara mereka memohon, tetapi justru itu yang ingin dilemparkannya ke wajah Raaghib.

"Kita Terra punya kebanggaan saling menyayangi. Dan kau bahkan muak melihat itu? Lucu. Sejak Overrealm jatuh, harusnya kita semua sudah mati. Jadi apa sekarang kalian juga takut sama kematian?"

Lalu matanya beralih kepada Leila.

Leila menunduk.

Jerlan membelalak.

Jack menggertakkan gigi.

Ia tertawa tanpa benar-benar merasa lucu.

"Sejak Overrealm jatuh, seharusnya kita sudah mati. Jadi biar kuterangkan satu hal... kalian takut akan kematian?!"

Raaghib masih berdiri di luar jeruji, memegang seluruh keputusan di tangannya.

Leila masih bernapas. Jerlan masih memohon. Ayane masih menunggu peluangnya. Jack masih menatap dengan kebencian yang tak surut.

Tidak ada tiang gantungan yang terlihat dari dalam sel itu. Belum.

Yang ada hanyalah waktu, rantai, dan pilihan yang belum selesai ketika dunia di luar penjara terus kehilangan keseimbangannya.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.